Pelajaran dari secangkir espresso:
Satu
Bahwa ada kalanya hidup itu teramat pahit, tapi sesuatu yang sangat biasanya tak berlangsung selamanya.
Dua
Bahwa kepahitan yang teramat kadang memang harus ada, agar kita terbangun dari tidur dan tetap terjaga.
Tiga
Bahwa tanpa rasa pahit, rasa manis tak terasa nikmatnya.
Empat
Bahwa yang awalnya hangat, kemudian akan menjadi dingin. Nikmati dan sesap sajalah selama masih hangat, dan jadikan sebagai pengingat: betapa nyamannya rasa hangat itu. Lalu hangatkan lagi. Nyalakan lagi apinya, pemanasnya.
Lima
Bahwa yang kecil tak harus dianggap remeh. Kadang ia istimewa karena kecil. Di tubuhnya yang mungil ia mungkin menyimpan lebih banyak kekuatan dibanding yang besar.
Enam
Bahwa sebenarnya kita tak harus punya banyak untuk menikmati hidup. Sedikit, tapi berkualitas. Itu lebih penting dari yang banyak tapi malah merusak. Gula, susu yang berlimpah dalam segelas besar kopi malah memuakkan, bukan?
Tujuh
Bahwa kesederhanaan itu kekal. Selalu ada tanpa terlihat “murahan”.
Delapan
Bahwa kita perlu memiliki sesuatu untuk memulai dan menjalani hari. Yang selalu ada, yang selalu setia, selalu menemani.
Sembilan
Bahwa setiap orang punya tujuan tertentu saat membeli sesuatu. Ada yang memang butuh, ada yang karena ingin terlihat keren.
Sepuluh
Bahwa sebenarnya apa yang bisa dinikmati di tempat-tempat yang “asyik”, juga bisa dinikmati di rumah. Orang kadang ingin mencari suasana baru saja, bukan kenikmatan yang sama.
Selamat menjemput sore. – View on Path.












