TUKANG SATE
INI TENTANG SEORANG TUKANG SATE YANG KEPANASAN DI BAWA TERIK MATAHARI NAMUN TETAP SABAR MENGIPASI SATENYA.
hello vonnie
ojovivo
Lint Roller? I Barely Know Her
Alisa U Zemlji Chuda
almost home

Product Placement
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available

Kiana Khansmith
i don't do bad sauce passes

roma★
styofa doing anything

tannertan36

ellievsbear

Discoholic 🪩

Andulka
trying on a metaphor
Claire Keane

PR's Tumblrdome
dirt enthusiast
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Japan

seen from United States
seen from China

seen from Maldives
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Israel
seen from Canada

seen from Italy
seen from United States
seen from France

seen from Estonia

seen from Türkiye
seen from Japan
seen from Türkiye
seen from Spain
@boliboliku
TUKANG SATE
INI TENTANG SEORANG TUKANG SATE YANG KEPANASAN DI BAWA TERIK MATAHARI NAMUN TETAP SABAR MENGIPASI SATENYA.
REALITA
Di bawah pemimpin yg hebat....
anak buah bodoh sekalipun bisa di bodoh-bodohi dan dimanfaatkan
Dan anak buah yg hebat sekalipun tidak akan ada gunanya......
Karena Sotta dan tidak bisa di manfaatkan
Husss...husss.... Pergi bikin rugi2 saja
*MENGENDALIKAN ATAU DIKENDALIKAN PIKIRAN?
Ada begitu banyak orang yang mengalami kesulitan tidur di malam hari, dan mereka bukan tipe kelelawar. Karena tipe kelelawar adalah tipe orang yang memang pola tidurnya berganti, dimana malam menjadi siang dan siang menjadi malam. Mereka yang bukan tipe kelelawar dan sulit tidur di malam hari adalah mereka yang pada dasarnya samadengan komputer PC, dimana layarnya sudah off akan tetapi CPU (mesin komputer) masih tetap ON. Otaknya masih berada dalam kondisi aktivitas yang tinggi.
Fakta menunjukkan bahwa otak dan tubuh kita tetap aktif saat kita tidur, hanya saja tidak dalam kondisi aktivitas tinggi. Temuan terbaru menunjukkan bahwa tidur berperan dalam menghilangkan racun di otak yang menumpuk saat kita terjaga. Saat kita tidur, bagian otak yang bernama thalamus bertindak sebagai penyampai informasi dari indra ke korteks serebral (selubung otak yang menafsirkan dan memproses informasi dari memori jangka pendek hingga jangka panjang) agar menjadi tenang, membiarkan kita mengabaikan dunia luar. Namun selama tidur REM (bermimpi), thalamus menjadi aktif, mengirimkan gambar, suara, dan sensasi lain ke korteks yang mengisi mimpi kita. Amygdala yang merupakan struktur berbentuk almond yang terlibat dalam pemrosesan emosi, juga menjadi semakin aktif selama tidur REM.
Dengan kata lain, saat kita tidur, otak kita tidak lagi disibukkan oleh berbagai informasi dari luar diri kita. Otak masih aktif, tetapi tidak dalam kondisi aktivitas tinggi. Namun tiba-tiba, muncullah layar film di mental seseorang dan seperti halnya cuplikan film, muncul juga berbagai kisah-kisah yang terpampang jelas di layar film. Tanpa sadar ia menonton berbagai kisah yang dibuatnya sendiri tanpa bisa dikontrol. Inilah yang membuat otak yang seharusnya tidak lagi melakukan aktivitas tinggi, tiba-tiba harus bekerja ekstra di malam hari. Dan keadaan ini membuat seseorang tidak bisa tidur di malam hari. Ia ingin tidur, tetapi berbagai pikiran muncul dan terus membuatnya tersadar dengan menonton berbagai pikiran tersebut di layar mentalnya.
Inilah kondisi ketika seseorang tidak lagi menjadi pengontrol pikirannya, melainkan ia telah dikontrol oleh pikirannya sendiri. Penting untuk dipahami bahwa setiap kali kita memikirkan sesuatu, maka akan diiringi oleh perasaan yang sesuai dengan yang dipikirkan. Saat pikiran konstruktif maka hadir perasaan konstruktif. Begitu juga sebaliknya, ketika pikiran destruktif maka hadir perasaan destruktif. Perasaan adalah bahasa tubuh dan menjadikan tubuh kita bergerak sesuai dengan perasaan yang dirasakan. Saat perasaan destruktif yang lebih sering membanjiri tubuh seseorang, maka saat itupula tubuhnya telah memiliki pikiran sendiri, karena bergerak otomatis yang sesuai dengan perasaan destruktif yang dirasakan.
Dan karena emosi/perasaan yang ada pada tubuh telah menjadikan tubuh bergerak otomatis dengan menghadirkan sensasi perasaan destruktif seperti cemas, kesepian, stres, marah, merasa bersalah, hingga depresi, maka otak pun akan dibajak dengan menghadirkan berbagai pikiran yang juga akhirnya muncul secara otomatis. Jadi jika sebelumnya kita yang secara sadar memikirkan sesuatu, tapi kemudian perasaan dan pikiran muncul tidak lagi atas kontrol sadar. Itulah sebabnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Pikiran, jika tak dikendalikan, akan mengendalikan Anda.” Dengan kata lain, kita mesti terus berlatih untuk secara sadar hanya memikirkan dan merasakan perasaan konstruktif di tengah-tengah lebatnya peristiwa yang mungkin saja tidak meng-enakkan hati.
*PENDERITAAN DAN KEBAHAGIAAN ABADI*
Manusia terdiri atas dua substansi, yaitu tubuh lahiriah dan jiwa; tubuh kasar dan tubuh halus; tubuh kasat mata dan jiwa yang tak kasat mata. Tubuh lahiriah adalah tubuh yang nampak di dunia ini secara kasat mata. Sedangkan sisi batin biasa juga disebut dengan jiwa. Kesenangan dan penyakit tubuh lahiriah bergantung pada kesejahteraan, kesehatan, dan harmoninya dengan alam.
Berbeda dengan tubuh lahiriah, kebahagiaan dan penderitaan jiwa kita tergantung kepada dikendalikan oleh dunia atau justru mengendalikan diri. Martin Seligman menyebut salah satu jenis kebahagiaan yang paling rendah levelnya, yaitu kebahagiaan materi (kesenangan dunia). Sebenarnya ini bukanlah kebahagiaan karena sifatnya hanya sementara. Saat mendapatkan sesuatu, maka merasa senang. Akhirnya ia kecanduan untuk selalu memperoleh sesuatu. Kesenangannya bergantung sepenuhnya pada hal-hal di luar dirinya.
Kesenangan tipe inilah yang sesungguhnya merupakan penderitaan. Ia pada dasarnya menderita karena ia tak lagi menguasai dirinya sendiri. Ia justru dikuasai oleh sesuatu di luar dirinya. Ia menderita namun tertutupi secara sesaat oleh pengalihan sesaat berupa memperoleh sesuatu. Akhirnya, untuk menutupi penderitaannya, ia pun selalu ingin meraih sesuatu yang bersifat menyenangkan dirinya. Ujung dari semua ini adalah penderitaan abadi.
Jika penderitaan abadi terjadi karena jiwa semata bersandar kepada sesuatu yang bersifat lahiriah; maka kebahagiaan jiwa terjadi ketika ia bersandar kepada sesuatu yang juga bersifat batiniah. Saat tubuh halus (jiwa) melatih dirinya dari ketergantungan dan bersandar hanya kepada sesuatu yang lahiriah; maka saat itulah menjadi mudah mengendalikan dirinya. Pilihan yang dibuat bukan lagi karena ada sesuatu yang menggoda, namun ia memilih karena ia secara sadar tahu bahwa sesuatu itu benar dan baik.
Ia memilih karena percaya ada Sang Maha Agung menyuruhnya untuk melakukan hal baik dan benar. Ia sepenuhnya mampu mengontrol dirinya tetap berada dalam kondisi ini. Jika ia galau, maka ia tahu bahwa ada sesuatu di luar dirinya yang berusaha menarik perhatiannya. Dan oleh karena itu, ia melatih diri untuk mengendalikan dirinya agar tidak menjadi galau.
Inilah kebahagiaan yang diperoleh karena melatih diri untuk berkarakter. Melatih diri untuk menyandarkan diri hanya kepada Sang Maha Agung yang tak kasat mata. Dan karena ia melatih diri untuk bersandar hanya kepada-Nya, maka tak ada lagi ruang bagi dirinya untuk dikendalikan oleh dunia (lahiriah). Ujung dari semua ini adalah kebahagiaan abadi
*MENGAPA SULIT MENGUBAH DIRI?*
Banyak orang ingin mengubah dirinya, ingin mengubah kebiasaan hidupnya, ingin mengubah karakter buruknya. Tapi rasanya lumayan sulit. Apa yang menyebabkan seseorang sulit merubah dirinya? Itu karena tubuh telah mengingat perilaku berulang dengan sangat baik sehingga yang bertanggung jawab bukan lagi pikiran sadar. Tubuh atau bawah sadar telah merekam semua itu dengan sangat baik sehingga membutuhkan sedikit atau tanpa usaha sadar. Tubuh memegang kendali atas pikiran sadar dan menentukan sebagian besar tindakan seseorang yang tidak disadari dan terprogram.
Setiap orang memiliki niat sadar untuk mengubah kebiasaan buruknya, tapi kemudian tanpa disadari ia akhirnya berada di belakang kemudi dan bawah sadar mengambil alih kemudi tersebut. Ia akhirnya kembali berada di alam mental yang telah lama akrab sebelumnya. Tubuhnya memaksa dirinya untuk kembali merasakan suasana hati yang telah terbiasa selama ini. Suatu keadaan yang sudah terpola dalam waktu yang cukup lama. Pikiran sadar memikirkan perubahan, tapi perasaan yang telah lama akrab justru anti perubahan.
Lantas bagaimana cara mudah mengubah diri?
Kita mesti kembali melihat CEO yang ada pada diri kita. CEO itu adalah prefrontal korteks, bagian otak yang berada tepat di belakang dahi. Prefrontal korteks adalah pusat pengaturan diri. Semua hal baru yang akan dipelajari akan terlebih dahulu masuk melalui prefrontal korteks. Sebagai CEO yang memutuskan apa yang baik dan benar untuk kita pelajari, prefrontal korteks bekerja sebagai pengendali dan pengatur semua informasi. CEO otak kita ini juga bertugas melakukan distribusi pekerjaan ke bagian-bagian otak yang lain.
Saat kita dengan sengaja memaksakan kehendak kita melalui penggunaan prefrontal korteks, kita dapat mencapai jenis ketenangan dan kontrol yang diperlukan untuk keluar dari siklus respons neurologis dan kimia yang mendominasi dan mendikte sebagian besar kepribadian kita, pilihan yang kita pilih, dan reaksi yang kita buat. Jika tidak, kita akan berada di bawah pengaruh faktor-faktor di lingkungan kita, kebutuhan atau reaksi tubuh kita, dan ingatan masa lalu kita.
Dan ini berarti kita mesti berpikir dan melampaui apa yang kita rasakan secara emosional. Alih-alih didikte lingkungan terhadap tubuh kita, kita harus bisa memikirkan dan merasakan dengan emosi intens melebihi perasaan yang selama ini mengontrol kita secara otomatis. Kita harus benar-benar berpikir, berinovasi, dan mencipta agar jalur sirkuit baru tercipta di otak kita. Jangan sampai kita hanya menyalakan ingatan sinaptik di area lain otak kita dari masa lalu genetik atau pribadi kita dan memicu reaksi kimia berulang yang sama yang membuat kita hidup dalam kebiasaan lama.
*TERLALU MATERIALISTIS*
Materialistis berarti bersifat kebendaan, atau memiliki paham materialis (orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi). Dengan mengutip Wikipedia, paham materialis atau materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Dengan kata lain, satu-satunya yang ada (eksistensi) atau satu-satunya kebenaran adalah apa yang disaksikan secara empiris. Dalam tataran kehidupan, seseorang disebut materialistis adalah mereka yang sikap, keyakinan, dan nilai-nilai hidupnya menekankan atau mementingkan kepemilikan barang- barang material atau kekayaan material di atas nilai-nilai hidup lainnya. Memandang kebahagiaan dan kesuksesan hanya dari memperoleh materi semata.
Terlepas dari pemahaman di atas, mari kita lihat proses hadirnya perasaan pada diri kita. Saat kita melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu, dan karenanya terpikirkan oleh pikiran kita, maka selain membuat neurotransmiter, otak kita juga membuat bahan kimia lain - protein kecil yang disebut neuropeptida yang mengirimkan pesan ke tubuh kita. Tubuh kita kemudian bereaksi dengan memiliki perasaan. Otak kemudian memperhatikan bahwa tubuh memiliki perasaan, sehingga otak menghasilkan pikiran lain yang sama persis dengan perasaan itu yang akan menghasilkan lebih banyak pesan kimia yang sama yang memungkinkan kita berpikir seperti yang baru saja kita rasakan. Jadi berpikir menciptakan perasaan, dan kemudian perasaan menciptakan pemikiran yang setara dengan perasaan itu. Ini adalah lingkaran yang bagi kebanyakan orang, dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Dan karena otak bertindak berdasarkan perasaan tubuh dengan menghasilkan pikiran yang sama yang akan menghasilkan emosi yang sama, menjadi jelas bahwa pikiran yang berlebihan mengikat otak kita ke dalam pola sirkuit saraf yang tetap.
Ketika lingkaran pemikiran dan perasaan dan kemudian perasaan dan pemikiran ini telah beroperasi cukup lama, tubuh kita mengingat emosi yang telah diberi sinyal oleh otak untuk dirasakan oleh tubuh kita. Siklus menjadi begitu mapan dan mendarah daging sehingga menciptakan keadaan yang akrab, yang didasarkan pada informasi lama dan berasal dari apa yang diserap oleh indra kita. Pada konteks ini, apa yang dirasakan secara internal adalah hasil dari serapan indra. Atau berasal dari kenyataan eksternal. Apa yang dilihat, didengar, dan dialami menjadi sangat nyata di dalam diri. Sehingga semua perasaan yang dirasakan, lebih dominan disebabkan oleh kenyataan eksternal. Inilah keadaan ketika kenyataan eksternal lebih nyata dibandingkan kenyataan internal. Semua perasaannya dipengaruhi oleh berbagai peristiwa eksternal. Keadaan inilah yang disebut “terlalu materialistis”.
Studi terbaru dalam ilmu saraf menunjukkan bahwa kita dapat mengubah otak kita hanya dengan berpikir. Maka pertanyaan penting untuk ditanyakan kepada diri sendiri adalah apa yang sebenarnya kita habiskan untuk melatih mental, memikirkan, dan akhirnya mendemonstrasikan? Apakah pikiran yang sering muncul lebih banyak karena serapan indra dari kenyataan eksternal (dari apa yang dilihat, didengar, dan dialami sehari-hari), ataukah kita memiliki pemikiran yang jernih dari belenggu alam materi?
Sang Maha Sempurna adalah satu-satunya Wujud yang tidak terlingkupi oleh alam materi. Bahkan Dia yang melingkupi alam materi. Dan karenanya, pikiran kita tentang Sang Maha Sempurna adalah tentang Keagungan, Kemuliaan, Kesucian, dan Keindahan-Nya. Dan pemikiran ini murni bebas dari belenggu materi. Pada konteks ini ada pikiran dan perasaan tentang harapan, kebergantungan mutlak, rasa syukur, merasa cukup, kesabaran, ketaatan, kasih sayang, kepedulian, perasaan berlimpah, dan segala hal yang tidak berkaitan dengan materi. Keadaan mental ini bisa hadir tanpa dipengaruhi kenyataan eksternal yang serba materi. Inilah kenyataan internal yang bisa kita ciptakan sendiri tanpa mesti bergantung pada indra kita, sehingga kenyataan internal mestilah lebih nyata dibandingkan kenyataan eksternal. Dan jika “terlalu materialistis” membuat seseorang akhirnya mengalami emosi-emosi destruktif, maka kenyataan internal membuat kita mengalami emosi-emosi konstruktif.
50 posts!
*SETIAP SAAT MEMBENTUK DIRI SENDIRI*
Tidak peduli pikiran apapun yang kita pikirkan, baik itu terkait dengan perasaan marah, sedih, inspirasi, gembira, atau bahkan gairah seksual, kita mengubah tubuh kita sendiri; kita juga membentuk diri (jiwa) kita sendiri. Semua yang kita pikirkan, apakah itu "Saya tidak bisa", "Saya bisa", "Saya tidak cukup baik", atau "Saya mencintaimu", memiliki efek terukur yang sama di dalam otak dan seluruh sistem tubuh. Makanya, suka atau tidak suka, sekali pikiran muncul di otak, selebihnya adalah sejarah.
Seperti yang pernah dikupas pada “cemilan otak” yang lalu, bahwa prinsip transformasi diri, yaitu yang kembali kepada jiwa hanyalah apa yang berasal dari jiwa; berupa niat, motivasi, hasrat, dan keyakinan. Artinya semua yang dipikirkan dan diyakini akan membentuk siapa diri kita. Dengan mengutip buku Change Limiting Beliefs, “Masih teringat dalam benak saya, ketika sang reporter mewawancarai seorang tim ahli tentang persoalan satelit yang bergeser keluar dari orbitnya. Sang ahli itu berkata bahwa untuk memindahkan kembali Satelit Palapa ke orbitnya membutuhkan waktu beberapa hari karena untuk bergeser sejauh dua derajat saja satelit Palapa membutuhkan waktu satu hari. Jadi, pada waktu itu, perlu beberapa hari agar satelit Palapa kembali pada posisi orbitnya. Sang reporter cukup kaget mendengar penjelasan sang ahli. Sang ahli pun berkata bahwa dua derajat itu mungkin terasa cukup dekat jika mengacu pada titik busurnya tetapi jika di tarik dua garis lurus dengan jarak dua derajat, maka pada posisi di luar angkasa, dua derajat itu akan menjadi sangat jauh. Jadi, walaupun jarak pindah orbitnya itu hanya sekian derajat saja tapi karena perbedaan derajat ini berada pada titik garis yang sangat jauh, maka jaraknya pun akan terlihat semakin besar.”
Jika kita menggambarkan titik start yang paling awal adalah saat kita lahir ke dunia ini, maka penting bagi kita untuk meyadari bahwa tak ada satupun yang melekat pada diri kita saat itu. Kita terlahir dalam keadaan kosong. Maksudnya, tak ada satupun keahlian yang kita bawa sewaktu lahir. Kita tidak lahir dengan membawa kebiasaan buruk atau kebiasaan baik. Kita pun tak lahir dengan membawa keyakinan yang menghambat diri termasuk keyakinan yang memberdayakan diri. Tidak ada yang melekat pada diri kita. Tidak ada suatu hal yang bersifat otomatis yang melekat pada diri kita saat lahir. Semua hal yang menjadi keyakinan kita merupakan hasil dari proses pembelajaran kita semenjak lahir. Sehingga apapun yang kita pikirkan dan rasakan, yang akan membentuk jati diri kita.
Saat memikirkan sesuatu, tubuh kita sedang mengalami sejumlah perubahan dinamis. Tiba-tiba pankreas dan kelenjar adrenal kita sudah sibuk mengeluarkan beberapa hormon baru. Seperti badai petir yang tiba-tiba, berbagai area otak kita baru saja melonjak dengan arus listrik yang meningkat, melepaskan sekumpulan zat kimia saraf yang terlalu banyak untuk disebutkan. Limpa dan kelenjar timus kita mengirimkan email massal ke sistem kekebalan kita untuk membuat beberapa modifikasi. Beberapa cairan lambung yang berbeda mulai mengalir. Hati kita mulai memproses enzim yang tidak ada beberapa saat sebelumnya. Detak jantung kita berfluktuasi, paru-paru kita mengubah volume sekuncupnya, dan aliran darah ke kapiler di tangan dan kaki kita berubah. Semua dari hanya memikirkan satu pikiran.
Semua perubahan pada pikiran, perasaan, dan tubuh juga membentuk kebiasaan kita. Umpan balik emosional yang kita peroleh dari lingkungan, dan dengan cara kita berpikir dan memandang sesuatu, tidak hanya mengubah struktur otak dan tubuh kita, tetapi juga mengubah diri (jiwa) kita. Pada dasarnya kita ber-transformasi setiap saat. Diri kita saat ini sesungguhnya berbeda dengan diri kita sedetik sebelumnya. Ini karena semua yang kita pikirkan, baik sadar maupun tidak sadar, akan selalu mengubah perasaan, tubuh, dan diri (jiwa) kita. Begitu pula dengan puasa yang kita lakukan akan menentukan siapa diri kita, yang bergantung pada niat dan pikiran kita tentang puasa. Maka sangat penting bagi kita untuk secara sadar mengarahkan pikiran dan perasaan kita pada hal-hal yang konstruktif. Karena sesuai dengan prinsip dua derajat di atas, hal kecil apapun yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan, akan menjadi pembeda yang sangat besar di kemudian hari.
AMAL DARI LANGIT
Pada hakekatnya manusia tercipta dan cara berbuat amal itu hamya dengan memberikan bantuan pikiran dan tenaga dan memghasilkan sesuatu yang bisa saling memberi dan menerima (barter)
Awal terciptanya manusia tidak mengenal UANG yang menjadi senjata para orang yg berduiit untuk beramal terlepas duit itu didapatkan secara halal ataupun haram
Maka janganlah berkecil hati bagi orang2; yang belum bisa berbagi dan beramal secara finansial karena UANG awalnya tidak datang dari langit, namun hidup dengan pikiran dan tenaga (saling membantu) mampu membuat orang disekeling kita senyum dan terbantukan itu lah sesungguhnya Amal dari langit
*CARA MELEPASKAN BEBAN JIWA*
Setiap hari dan entah berapa lama, seseorang seringkali memegang sesuatu di dalam pikiran dan hatinya. Bisa berupa percakapan dengan seseorang, perdebatan dengan lawan debat, rasa rindu kepada orang tertentu, suatu pekerjaan yang belum tuntas, masalah yang mengganggu, atau suatu benda yang diinginkan. Dengan begitu banyaknya yang dipegang oleh pikiran dan perasaan, maka beban jiwa sungguh terasa berat. Begitu beratnya seolah membawa begitu banyak barang dalam pegangan tangan yang terbatas.
Inilah yang bisa membuat seseorang sulit tidur, nafsu makan berkurang, mudah capek, gelisah, cemas, stres, hingga depresi. Dampak lainnya adalah kesehatan yang mudah terganggu karena perasaan yang hadir lebih dominan bersifat destruktif. Bahkan hal kecil seperti alergi akan mudah timbul yang disebabkan oleh emosi destruktif, dan bukan karena faktor makanan atau cuaca tertentu (makanan atau cuaca tertentu hanya merupakan pemicu saja).
Apapun yang telah dipegang oleh pikiran dan perasaan, cenderung sulit untuk dilepas. Ini karena kita dengan pikiran dan perasaan kita sendiri adalah satu. Jika itu terjadi pada orang lain, akan mudah bagi kita untuk menasehatinya agar melepaskan segala beban jiwa. Tetapi karena yang mengalami adalah pikiran dan perasaan kita sendiri, sehingga lumayan sulit untuk melepaskannya. Akan terasa seperti ada sesuatu yang berbeda jika kita berusaha melepaskannya. Rasa marah, dendam, sakit hati, ambisi akan sesuatu, hasrat akan suatu benda, perasaan akan kenangan masa lalu, atau kecemasan akan masa depan, semuanya sungguh terasa sulit untuk dilepaskan begitu saja dari pikiran dan hati. Ironisnya, kebanyakan orang justru lebih memilih membawa beban jiwa yang begitu berat dibandingkan melepaskannya.
Kemana pun kaki melangkah, di tempat manapun berada, di waktu kapanpun, beban jiwa ini selalu mengikuti. Karena beban ini selalu ada bersama pikiran dan perasaan, seolah tak ada lagi pikiran dan perasaan lain kecuali hanya beban itu semata. Oleh sebab itu, ringankan jiwa (diri) kita dengan melepaskannya. Bahkan tubuh kita pun akan terasa ringan saat beban jiwa dilepaskan. Dampaknya pun berupa kesembuhan dan kesehatan, perasaan lega, dan berbagai efek positif lainnya.
Cara melepaskan segala beban jiwa dilakukan melalui dua jalur. Pertama, berusaha menciptakan kondisi yang diinginkan sehingga masalah menjadi tuntas. Setiap kekusutan masalah, pasti ada solusinya. Dengan berusaha menciptakan keadaan yang diinginkan, maka perlahan-lahan segala kesulitan bisa teratasi. Kunci utama dalam melakukan cara ini adalah kesabaran. Karena tidak ada satupun yang bisa terjadi pada diri kita kecuali atas pertolongannya, maka mintalah pertolongan Sang Maha Sempurna dengan bersabar dalam berusaha mewujudkan hal-hal yang diinginkan; bersabar dalam mengubah keadaan yang bisa diubah.
Bersamaan dengan jalur pertama, kitapun mesti melakukan jalur kedua, yaitu menemukan ketenangan pikiran dan perasaan, dimana semua beban jiwa yang menumpuk pada pikiran dan perasaan dilepaskan. Adalah shalat yang didirikan secara khusyuk merupakan cara ampuh dalam melepaskan segala beban jiwa. Kekhusyukkan saat shalat berarti kita berada dalam ketenangan dan relaksasi benak, dan disaat yang sama tenggelam ke dalam Kebesaran Sang Maha Sempurna. Keadaan mental seperti ini akan membentuk jalur saraf di otak dan tubuh kita. Dan jalur saraf ini akan berangsur-angsur mendominan dan akhirnya memutuskan berbagai jalur saraf yang terkait dengan berbagai beban yang dipegang selama ini. Otak yang terkait dengan proses ini akan berubah secara fisik. Bagian-bagian otak yang memproses keadaan mental ini membesar, dan bagian otak yang terkait dengan kegelisahan, stres, dan berbagai beban akan mengecil.
Pada hakikatnya, kita sebagai manusia adalah manifestasi dari Nama-nama Sang Maha Sempurna. Artinya, ketenangan, kedamaian, kenyamanan, dan kebahagiaan batin telah ada pada diri kita. Kita hanya perlu mengaksesnya dengan mendirikan shalat secara khusyuk. Jika selama ini, terlalu banyak waktu dihabiskan untuk menciptakan jalur saraf yang penuh beban jiwa, maka sudah saatnya kita mengakses Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan, dan Keindahan Sang Maha Sempurna melalui shalat yang khusyuk.
*MENGAPA MESTI SHALAT?*
Suka atau tidak suka, kita selalu dipengaruhi oleh berbagai gangguan dan rangsangan yang berasal dari luar diri kita. Segalanya berlangsung sangat cepat dan ada begitu banyak gangguan dan rangsangan yang menghampiri kelima indra kita. Semua itu menarik perhatian kita baik secara sadar maupun tidak. Mata kita menyerap informasi 100 juta bit per detik, telinga menyerap informasi 30 ribu bit per detik, dan indra peraba (kulit dan lidah) menyerap 100 juta bit per detik. Itu semua terjadi tanpa kita sadari, karena informasi yang kita sadari hanya sekitar 40-120 bit per detik atau 5-9 hal per detik.
Dengan begitu banyak informasi yang kita serap secara sadar maupun tidak sadar, maka bisa dibayangkan betapa stresnya pikiran dan tubuh kita. Kalau semua informasi yang diserap adalah hal-hal yang membahagiakan, maka sudah pasti pikiran dan tubuh kita akan tenang, rileks, nyaman, dan bahagia. Namun jika yang diserap adalah kebanyakan masalah-masalah yang menguras energi kita, maka stres-lah yang terjadi.
Saat kita shalat, maka syarat utamanya adalah khusyuk agar benak kita benar-benar tetap tenang walau ada begitu banyak gangguan dan rangsangan eksternal; agar benak kita lebih tenang dan bersih, serta terasa lebih nyaman di benak, tubuh, dan kehidupan kita. Saat kita shalat, kita melatih diri untuk melepaskan pikiran dan tubuh kita dari segala keadaan eksternal, melepaskan diri dari berbagai gangguan dan rangsangan eksternal. Kita berada di kondisi ketenangan dan melatih benak untuk lebih fokus dan minim gangguan. Karena selain gangguan dan rangsangan eksternal, gangguan yang seringkali juga muncul adalah dari tubuh kita sendiri dengan menghadirkan begitu banyak gejolak emosional, dan dari pikiran kita yang seringkali melanglang buana.
Shalat berarti kita melakukan hubungan dengan Sang Maha Sempurna. Kita melakukan koneksi pikiran dan perasaan kepada-Nya melalui pemaknaan kita akan Kebesaran, Keagungan, Keindahan, dan Kesempurnaan Sang Maha Agung. Makin intens pemaknaan kita, maka pikiran dan perasaan kita makin terserap kepada-Nya. Bukankah Sang Maha Sempurna adalah sesuai prasangkaan kita? “Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”, demikian yang disampaikan hadits Qudsi.
Dalam kondisi ini, maka walau terdapat begitu banyak pikiran dan gejolak emosi yang muncul, maka secara alamiah kita akan menemukan ketenangan. Karena kita tidak lagi terpaku pada pikiran dan gejolak emosi yang muncul, melainkan kita berada dalam perspektif yang lebih tinggi, yaitu perspektif Kebesaran, Keagungan, dan Kemuliaan Sang Maha Sempurna. Pemaknaan kita akan Sang Maha Sempurna inilah yang menjadi tumpuan fokus pikiran dan hati kita. Dan bukan pada suatu objek tertentu.
Karena ketenangan, kedamaian, kenyamanan, dan kebahagiaan adalah salah satu pencapaian yang ingin kita temukan pada diri kita, maka jalan terbaik adalah masuk ke dalam diri sendiri. Belajar untuk tetap tenang walau ada begitu banyak gangguan dan rangsangan. Inilah mengapa shalat yang khusyuk merupakan kemestian bagi kita. Tentu saja, karena shalat adalah juga mikraj ruhani, maka perjalanan ruhani kita tidak hanya berhenti pada ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan semata; melainkan terus akan berjalan hingga mencapai level hamba yang hina di hadapan Kemuliaan-Nya. Bukankah Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik hamba?
*WARNA-WARNI EMOSI*
Jika emosi tidak ada pada manusia, maka dapat dipastikan ia tak dapat merasakan berbagai perasaan; entah itu marah, kecewa, jengkel, benci, senang, memahami, semangat, atau bahagia. Robot secanggih apapun tidak akan pernah bisa punya perasaan. Karena yang menggerakkan kita adalah perasaan (emosi), sedangkan robot digerakkan oleh stimulus (adanya pemicu)
Ada dua cara merasakan warna-warni emosi. Cara pertama adalah emosi hadir karena pengaruh dari luar diri (eksternal). Emosi jenis ini murni dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada diri seseorang. Saat suasana sesuai harapan, maka merasa senang. Begitu terjadi sebaliknya, maka merasa menderita. Itulah sebabnya, kesenangan lawannya adalah penderitaan. Keadaan ini sebenarnya mirip robot, karena perasaan berganti-ganti disebabkan oleh stimulus.
Cara kedua, emosi dirasakan karena secara sadar memilih melakoni sesuatu secara tepat dan benar. Sehingga emosi yang lahir atas dasar kesadaran diri. Jikapun menghadapi “penderitaan”, maka tidak dirasakan sebagai penderitaan, namun merupakan pilihan sadar yang akhirnya berujung bahagia. Saat seseorang takut luar biasa akibat adanya hantu (stimulus eksternal), maka dengan membiarkan perasaan takut menguasai dirinya, akan membuatnya semakin menderita. Ia merasa senang jika tak lagi merasa ada hantu.
Namun jika ia secara sadar mengendalikan rasa takutnya, maka “penderitaan” yang dipilihnya akan membuatnya berjuang atas pilihan sadar, sehingga akhirnya kita justru menikmati rasa rakut dan akhirnya merasa tenang. Itulah sebabnya, kebahagiaan identik dengan pengendalian emosi (diri).
Demam panggung, menghadapi masalah, menghadapi kerumitan hubungan, semuanya adalah keadaan eksternal yang kita hadapi. Orang yang menderita adalah orang yang kalah dengan stimulus eksternal. Membiarkan perasaannya sedih dan menderita karena menghadapi semua itu. Namun ketika kita sadar bahwa inilah pilihan yang kita ambil, maka semua kepedihan akan berbuah kebahagiaan. Karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.
*MENGUBAH SOSOK JIWA*
Suatu ketika mereka berdua, tokoh sufi Rabiah dan Hasan al-Bashri, berdiskusi di bawah pohon membahas hal-hal spiritual di tepi danau tak jauh dari sebuah pasar yang ramai. Hasan al-Bashri terpikat dengan kecantikan Rabiah, sehingga tiba waktunya untuk shalat, Hasan al-Bashri membentangkan sajadah dan meletakkannya di atas air. Sambil berdiri di atas sajadah yang ajaibnya mampu mengambang. Hasan al-Bashri dengan santai mengundang Rabiah untuk bergabung dengannya, berharap membuatnya terkesan. Namun, Rabiah menggelar sajadahnya, bertengger di atasnya, melayang di atas Hasan al-Bashri, dan mengundangnya untuk bergabung dengannya.
Dia menggoda Hasan al-Bashri, “Bukankah ini yang kau inginkan, agar orang-orang di pasar melihat kita dan terpana dengan kemampuan kita?” Rabiah pun melanjutkan, “Hasan al-Bashri, apa yang kau lakukan itu bisa dilakukan seekor ikan. Apa yang kulakukan, bisa dilakukan ngengat. Kau lupa bahwa panggilan hidup kita lebih sulit dan lebih penting: berusaha untuk mengubah sosok kita.”
Pada diri manusia terdapat proses berpikir atau menalar. Al-idrak dalam bahasa Arab. Kata al-idrak berarti naik tangga atau sampai. Berbeda dengan hewan, menalar ini hanya ada pada manusia. Dalam terminologi modern menalar ini adalah suatu kesadaran. Manusia dengan berbagai potensinya bisa bergerak menaiki anak tangga dan sampai pada suatu tujuan. Ada proses sadar yang bergerak terus-menerus menuju kesempurnaan yang hakiki dan menempatkan manusia pada tempat yang mulia. Tetapi, hal ini tidak akan terjadi jika manusia hanya fokus pada motif-motif egois, atau berupaya menutup diri dari fitrah sucinya sebagai manusia.
Pada diri manusia ada kecenderungan-kecenderungan yang bersifat suci dan altruis. Kecenderungan-kecenderungan rohani inilah yang sesungguhnya merupakan fitrah pada manusia sehingga menempatkan manusia pada kemuliaan yang lebih tinggi di hadapan makhluk yang lain. Ada kesadaran kita untuk senantiasa bergerak terus-menerus dari satu anak tangga menuju satu anak tangga kesadaran berikutnya, sehingga hal ini membuat kita berubah menjadi sosok yang lebih mulia. Inilah fitrah kita sebagai manusia. Senantiasa ada dorongan untuk menemukan kesempurnaan yang hakiki. Kecenderungan inilah yang membuat kesadaran manusia terus mengalami metamorphosis dan transformasi pertumbuhan kesadaran diri dengan “Menjadikan manusia sebagai makhluk yang mengetahui, rasional, dan memahami alam indrawi”, kata Ibn Sina. Artinya, mengetahui alam indrawi sebagaimana yang sebenarnya, agar kita menjadi tahu tentang diri kita sendiri, dan tahu tentang alam rasional yang tersembunyi di alam indrawi yang berada di luar dirinya”. Dengan kata lain, saat kesadaran diri kita terus bergerak naik menyempurna, maka akhirnya kita akan bisa mengetahui rahasia alam-alam lain dibalik alam duniawi. Sosok jiwa pun ikut berubah menjadi lebih mulia dan suci.
MANUSIA SEBAGAI ARENA KONFLIK
Jika kita menonton film bergenre laga atau drama yang mengangkat kepribadian manusia, maka seringkali manusia digambarkan sebagai makhluk yang pada dasarnya jahat. Bahkan ketika mengupas manusia dari sisi ambisinya akan uang, manusia selalu dinilai seperti serigala yang haus uang dan kekuasaan. Makanya manusia dinilai sebagai hewan buas dalam berbagai ambisinya, khususnya ambisinya di dunia politik. Thomas Hobbes, seorang filsuf politik Inggris, memandang manusia sebagai materialistis dan pesimistis, dimana motivasi manusia hanya demi kepentingan pribadinya. Pernyataannya yang terkenal berbunyi, “Manusia adalah serigala bagi manusia lain”.
Hobbes menolak pondasi-pondasi pasti etika dan memilih jalan sinisme dan menerima relativisme etika. Karenanya, stabilitas suatu negara hanya dapat dijamin melalui otoritas berdaulat yang kepadanya para warga negara menyerahkan hak-hak mereka; mengingat manusia adalah serigala pemangsa sesama, dan manusia secara fitrah adalah berdosa dan asalnya tidak suci. Ia menjadi antidemokrasi dan menjadi pendukung kuat sistem monarki absolut.
Berbeda dan bertentangan secara diametris dengan Thomas Hobbes, Jean-Jacques Rousseau memandang manusia sebagai makhluk merdeka, namun ia hidup dalam perbudakan di mana-mana. Manusia juga dipandang sama dalam hak-hak. Menurut Rousseau, manusia secara fitrah tidaklah berdosa, melainkan sebagai manusia yang sopan, berperilaku baik, berpikiran merdeka, dan mencintai perdamaian, tetapi masyarakatlah yang merusaknya. Makanya manusia menjadi turun derajatnya ketika ia menjadi anggota masyarakat sipil dan melepaskan kemerdekaan sendiri. Seorang manusia mandiri tidak akan pernah memilih untuk menyerang orang lain dan melancarkan peperangan terhadap siapapun. Juga cenderung menjauh dari bahaya dan pada dasarnya ramah dan pemalu. Kebiasaan dan pengalaman yang diperoleh dari masyarakatlah, yang membuat manusia menjadi jahat.
Jadi menurut Rousseau, manusia memiliki fitrah suci dan menganggap masyarakat sipil sebagai perusaknya. Bahkan menganggap bahwa fitrah suci manusia kebal dari jenis cacat dan pelatihan serta pendidikan sebagai perusak fitrah. Masyarakat dan pemerintah inilah yang menodai fitrah manusia. Sebaliknya Hobbes memandang fitrah manusia dengan begitu pesimistis dan menganggap perlunya sebuah pemerintahan yang sangat kuat untuk menghalangi umat manusia dari saling menyerang.
Jika Hobbes dan Rousseau hanya menyimpulkan satu sisi manusia yang saling bertolak belakang, maka Al-Qur’an menyampaikan kepada kita sebuah riwayat, (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30). Dalam keberatan malaikat terdapat indikasi bahwa manusia adalah makhluk yang etikanya buruk. Dan Sang Maha Sempurna tidak menampik keberatan ini, namun disaat yang sama berfirman bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.
Artinya manusia secara jasmaniah memiliki bawaan yang cenderung bersifat hewani dan berperilaku berdasarkan kepentingan egois. Namun pernyataan umum yang disampaikan kepada malaikat itu merupakan fakta bahwa Sang Maha Sempurna juga mengetahui sisi lain dari koin eksistensi manusia. Sisi inilah yang tersembunyi dari pandangan malaikat, dan merupakah fitrah kemanusiaan manusia. Karenanya, manusia adalah kedua-duanya. Satu makhluk yang memiliki dua sisi. Dan disaat yang sama, manusia bukanlah semata-mata hanya satu sisi saja, baik sisi “ini”maupun sisi “itu”.
Pandangan Al-Qur’an ini bersifat realistis dan optimistis. Dan ini diaminkan oleh neurosains bahwa manusia memiliki kecenderungan emosional yang bersifat egoistis, namun juga memiliki otak besar yang tahu benar dan salah. Walaupun memiliki kesamaan dengan hewan yang memiliki atribut-atribut cinta diri, butuh makan-minum, menjauhkan diri dari bahaya, dan reproduksi, akan tetapi manusia tidak berhenti sampai di situ. Karena kita memiliki kapasitas untuk melampaui sisi hewani dan mencapai kesempurnaan-kesempurnaan spiritual.
Dua sisi manusia ini tergambarkan dalam Al-Qur’an, (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS 15:28-29). Yakni manusia memiliki dua unsur pembentuk dirinya: langit dan bumi. Manusia memiliki asalnya di bumi dan tangannya terentang menuju langit. Manusia merupakan garis penghubung antara hewan dan malaikat. Dan sekaligus membedakan manusia dari malaikat maupun hewan.
Karena kondisi manusia yang memiliki dikotomi eksistensial, maka akibatnya, manusia selalu mengalami peperangan terbesar pada dirinya. Seluruh peperangan terbesar dalam sejarah sesungguhnya merupakan gaung-gaung dari peperangan batiniah tersebut. Hewan hanya membunuh ketika harus makan, dan tidak pernah membunuh hanya untuk kepentingan atau bersenang-senang. Namun manusia bisa lebih rendah daripada hewan. Dalam neurosains, kondisi ini terjadi ketika dorongan emosional telah menguasai otak berpikir.
Prefrontal korteks adalah bagian otak yang bisa memutuskan apa yang harus dilakukan dengan pertimbangan benar atau salah. Bagian otak ini juga membantu kita untuk menyadari keadaan diri kita sendiri. Bahwa ada pertempuran melawan diri sendiri, dimana yang dimaksud “diri sendiri” adalah hasrat dan insting hewani. Pertempuran ini bermakna menempatkan dan menundukkan semua hasrat dan insting hawa nafsu di bawah akal sehat dan menggunakannya untuk mengabdi kepada Sang Maha Sempurna dan menyempurnakan diri ke arah kesempurnaan transendental. Inilah tugas kita sebagai manusia dalam menjalani kehidupan di dunia dengan berbagai peran, baik sebagai anak, orang tua, suami, istri, teman, pekerja, atasan, bawahan, hingga kehidupan sosial. Semuanya dalam rangka menundukkan “diri” agar mengabdi kepada-Nya.
*KESUKSESAN YANG TIDAK MEMBAHAGIAKAN*
Peningkatan krisis kebahagiaan berbanding lurus dengan tingkat kekayaan dan kemakmuran. Artinya semakin kaya tapi semakin tidak bahagia. Bahkan sangat sedikit orang-orang sukses yang bahagia. Mengapa bisa demikian? David Myers yang meneliti mengenai kekayaan dan kesuksesan dalam hubungannya dengan perasaan bahagia, mengungkapkan, bagaimana salah seorang mahasiswinya menggambarkan penderitaannya setelah delapan tahun hidup dengan ibunya dan ayah tirinya yang kaya tetapi suka melecehkannya.
Kepada David Myers, mahasiswi itu mengungkapkan, “Tidak perlu aku katakan bahwa situasinya tidak menyenangkan. Memang, ia (ayah tiri mahasiswi) mengendarai BMW dan baru saja membelikan untuknya Mercedes. Mereka memberi aku Mazda 626. Ia berbelanja di Bloomingdale dan memberikan untuknya jam Gucci. Dalam setahun, ia memberiku kapal pesiar. Setelah itu, ia membelikanku papan selancar angin sendiri. Rumahku punya 2 VCR dan 3 televisi Hitachi. Apakah semuanya itu membuatku bahagia? Sama sekali tidak. Aku ingin menukarkan semua kekayaan keluargaku untuk kehidupan keluarga yang penuh damai dan cinta kasih.”
Banyak orang bergerak dengan motivasi yang bersifat materialistis atau mentalitas destruktif. Mula-mula, mereka mendapatkan diri tidak memiliki yang diinginkan, dan dengan keadaan yang terpuruk itu, muncullah sekian impian untuk menggapainya. Baik dengan alasan kemiskinan keluarga (khususnya pada seorang suami yang merasa harus membiayai kehidupan istri dan anaknya) ataupun ingin membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang telah mengejek dirinya lantaran miskinnya dan tidak berguna.
Alasan-alasan di atas yang membuat kebanyakan orang bergerak dalam meraih kekayaan dan kesuksesan tidaklah salah. Namun, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang akan dilakukan setelah mendapatkan semuanya? Biasanya, itu semua berujung pada pencarian kesenangan dan memuaskan keinginan-keinginan. Jadi, pada awalnya hanya sekedar memenuhi kebutuhan keluarga atau ingin membuktikan keberhasilan diri pada orang lain, tapi berakhir pada sikap “just for fun”.
Secara biologis, manusia bisa memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan hewan/binatang. Hanya postur organ tubuh saja yang memiliki perbedaan. Namun, fungsi organ tubuh manusia hampir semuanya sama dengan hewan. Terdapat satu ciri khas pada manusia dan hewan, yang membedakannya dengan tumbuhan, yaitu kemampuan untuk bergerak/berpindah. Secara sederhana, dapat digambarkan dengan pertanyaan: ke mana manusia akan bergerak? Proses gerak yang dimaksud, tentunya, tidak hanya pada berpindah tempat, karena hewan pun dapat berpindah tempat. Jadi, hanya ada satu pengertian sederhana untuk defenisi gerak ini. Saya mendefenisikan gerak di sini dengan: Proses Menjadi atau Transformasi Kesadaran Diri.
Hidup ini bukan hanya sekadar makan, minum, dan memiliki tempat tinggal. Namun, lebih dari itu, setiap manusia memiliki tujuan. Untuk menggapai tujuan dibutuhkan “proses menjadi”. Artinya, untuk bisa meraih kebahagiaan sejati, maka seluruh aspek kehidupan dijalani demi terwujudnya “proses menjadi” pada diri kita. Karena pada dasarnya kehidupan adalah tempat bagi kita untuk melakukan Transformasi Kesadaran Diri. Dan ketika perjalanan kesuksesan tidak dibarengi dengan transformasi diri yang transenden, maka yang ada adalah kesuksesan yang tidak membahagiakan.
*DAYA JUANG MANUSIA*
Hidup selalu ada tantangan, dan dengan itu kita sebagai manusia mesti berjuang menghadapinya. Tujuannya bukan hanya agar kita meraih apa yang kita inginkan, akan tetapi lebih dari itu, tujuan utamanya adalah agar diri (jiwa) kita bisa terus melakukan transformasi transendental; bisa terus bergerak ke arah kesempurnaan kemanusiaan. Dan karena itu, tekad menjadi daya juang bagi kita dalam menjalani kehidupan ini.
Tekad berasal dari ekspektasi, terutama pada kemampuan untuk fokus pada tujuan jangka panjang, dan menghindari pengalih perhatian (godaan) jalan pintas dan kenikmatan instan. Karena tujuan jangka panjang itu seperti lari marathon, maka dibutuhkan energi mental yang lebih untuk bisa menyelesaikan perlombaan. Karena jika kita lari sprint pada perlombaan marathon, maka dengan mudah akan kehabisan energi tekad dan kemudian menyerah di tengah jalan.
Ekspektasi bekerja bagi energi tekad diungkapkan oleh penelitian yang dipimpin oleh Josh Clarkson. Menurut Clarkson, ekspektasi memberikan signal bagi pengalokasian energi mental sehingga memungkinkan kita untuk menggunakan lebih banyak tekad. Kata Clarkson, “Sangat mungkin bagi kita untuk mencapai ujung dari kekuatan tekad kita, dimana kita tidak memiliki kekuatan lagi untuk tetap memfokuskan diri dalam melakukan pekerjaan yang butuh fokus mental kita.” Namun Clarkson meyakini bahwa ekspektasi kita terhadap tujuan dan impian jangka panjang kita dapat meng-alokasikan lagi energi tekad kita sehingga tetap berusaha dan fokus pada tujuan.
Selain itu, keyakinan kita pun juga ternyata memainkan peran penting dari kekuatan tekad. Apa yang ditemukan oleh Veronika Job yang bekerjasama dengan Carol Dweck menunjukkan bahwa keyakinan atas tekad merupakan energi yang tak bisa habis; dapat mencegah habisnya tekad tersebut. Dan perbedaan dalam meyakini sesuatu menentukan kekuatan tekad kita. Jika kita meyakini bahwa seseorang yang kita nantikan adalah kekasih dan pujaan hati kita, maka “menunggu” tidak lagi menjadi pekerjaan yang membosankan. Dan begitu pula sebaliknya, saat keyakinan kita berubah, maka “menunggu” menjadi pekerjaan yang meletihkan dan bahkan memunculkan kemarahan.
Karena hidup ini adalah jalan kembali kepada-Nya, maka pada hakikatnya, segala perbuatan baik yang dilakukan di dunia, tujuannya hanyalah agar bisa memperoleh Ridha-Nya. Karena perbuatan baik itu sendiri adalah perintah-Nya, maka menjalaninya adalah demi untuk Ridha-Nya. Maka niat, tujuan, dan motivasi belajar, bekerja, dan segala perbuatan baik adalah mengharap Ridha-Nya. Sedangkan kekayaan, ketenaran, dan penghargaan duniawi hanyalah efek (konsekuensi logis) dari belajar, berkerja, dan berbuat baik. Sehingga jika keyakinan dan ekspektasi ini yang dipegang, maka sudah pasti kekuatan tekad kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan tidak akan pernah habis.