Memasuki minggu kedua mengajar di samakkisat wittaya schol, Sadao, Thailand. Berbagain pengalaman baru aku dapatkan tentunya. Tidak hanya pengalaman mengajar murid dengan kewarganegaraan lain. Banyak juga pandangan lain yang aku dapatkan disini, tanpa terasa cara pandangku terhadap dunia sedikit banyak berubah. Pandangan-pandangan dalam hidup yang aku lebih suka sebut sebagai pencerahan. Aku tidak bisa berkutik sama sekali ketika mereka bertanya soal usia. Kupikir bukan suatu yang berbuntut panjang apabila mereka tahu bahwa kita seumuran. Aku berharap mereka akan paham dan tetap ikhlas menerimaku sebagai guru. tapi nasib berkata lain, membocorkan umur asliku pada mereka adalah sebuah kesalahan. Kesalahan berbuntut panjang yang mungkin akan terus mempengarusi pergaulanku semala mengajar disini. Mereka tau, murid-muridku tau bahwa kami dan mereka seumuran. Pengetahuan yang merubah segalanya. Pengetahuan yang merubah seikap kereka kepadaku. Baik itu murid lelaki maupun perempuan. Sikapnya mendadak berubah menjadi lebih entil sok manis menurutku. Mungkin karena mereka berpikir aku dan Elang cocok untuk di jadikan pacar. Yah atau mungkin cuman Elang. Tidak melampaui batas memang. Sikap para murid perempuan. Tapi mengganggu. Sedangkan bagi para murid lelaki, digurui oleh seorang yang seumuran bagaikan hinaan besar baginya. Banyak diantara mereka menjadi sangat sulit diatur, lebih sulit dari sebelumnya. Perkataan yang keluar dari mulutpun lebih keras dari sebelumnya. Pernah ketika aku diminta mengajar bahasa Melayu untuk kelas 4 menengah putra. Setara dengan kelas1 SMA di Indonesia. Mereka sama sekali tidak mau menuruti setiap kata yang aku ucapkan. Mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasnya saja sangatlah susah. Belumlagi apabila diminta menjawab pertanyaan dan mengerjakan soal. Tidak mungkin bisa. Suasana kelas begitu amburadul kala itu. Para murid sangat sulit dikendalikan, membuat kelompok mengobrol di ujung kelas, memutar balik tempat duduk dan masih banyak lagi. Tidak mau menyerah, akhirnya kulantangkan suaraku dan kutantang setiap dari mereka untuk beradu panco. “Perhatian! Bilamana satu dari kalian menang adu kuat lawan ustaz. Saya pergi dari kelas! Tapi bila kalah, semua harus mengikuti pelajaran dengan baik. Kita adu panco, semua boleh tantang!” kiranya begitu kataku bila dalam bahasa Indonesia. Memang terdengar sombong dan sok kuat, tapi inilah satu-satunya solusi yang muncul di otakku pagi itu. Dan aku tidak tahan diperlakkan seenaknya. Aku gurunya dan aku yang berkuasa. Salah seorang berjalan dari ujung belakangdari menuju kehadapan kelas. Dari tempat asalnya, aku tau dialah salah satu gali di kelas ini. Gerombolan murid-murin di ujung belakang kelas. Badan tingginya yang jauh melampauiku tidak membuatku gentar sama sekali. Suasana menjadi sangat kacau dan berisik saat itu. Mereka semua senang karena sang guru kan pergi dari kelas. Sebuah meja kecil disiapkan diantara kami berdua. Lengan bahu koko pnajangku telah siap tercincing. Lengan kami bersamaan menempatkan diri diatas meja. Kugenggam tangnya dengan erat. Kedua saling menggenggam sekuat tenaga. Belum dimulai, kami masih memposisikan diri senyaman mungkin. Untuk melepas kekuatan sepenunya. Hitunga mundur dimulai. Tiga, dua, satu dan BLAR!!! kubenamkan tangan besarnya dalam sekali gebrakan. Suasana kelas yang tadinya ribut tidak karuan mendadak sunyi. Untuk kedua kalinya Kutawarkan sebuah pertandingan pada seorang yang berminat, tapi tidak satupun diantara mereka mau mengajukan diri. Aku menang! Aku yang berkuasa sekarang. Setiap anak kembali ketempat duduknya masing-masing. Sepeti yang telah disetujui sebelumnya, semua murid harus mengikuti pelajaran dengan baik. Terlihat ekspresi keterpaksaan di raut beberapa orang. Hanya orang-orang itu, dan hanya mereka. Para gali kelas. Pelajaran berlangsung tanpa ada gangguan lagi, bisa jadi caraku bukan cara yang lazim untuk dilakukan oleh seorang guru. Bahkan mungkin bukan cara yang baik. Tapi inilah caraku agar semua masih dalam kendali. Ingin rasanya kuhajar mereka satu pesatu, kugilas kepalanya dan kupukul mulurnya hingga robek. Tapi semua itu tidak mungkin aku lakukan, selalu ada akal dan hati yang selalu membelenggu nafsu. Terlebih lagi, bukan begitu cara seorang guru memperlakukan muridnya. Oleh karena itu kuputuskan untuk beradu panco pagi itu. Berasa sangat bersalah ketika aku mengingat perlakuan kurang beradabku pada guru-guru di Muallimin. Sekarang aku paham seberapa lelahnya mereka. Sekarangpun aku paham seberapa besar dedikasi mereka pada murid-muridnya. Beberapa pertanyaan terus diajukan ketika kami berada di ruang guru, dan “sudah kahwin kah?” adalah sebuah pertanyaan yang banyak kali dilontarkan kepada kami. Hampir setiap sesi perkenalan diisi dengan pertanyaan itu. Setua itukah mukaku, hingga semua orang bertanya seperti itu. Bahkan ketika aku sedang menulis sebuah jurnal di teras sekolah. Anak dari tingkat rendah mendadak duduk mendekat. Ditanyakanya soal umur dan namaku. Dengan suara bergoyang dan melengking tiba-tiba ia bernyanyi “Ustaaaaz tak ingat bini di rumah kaaaaaah....?” kuasa kutahan tawaku dihadapan anak perempuan gendut berkulit gelap itu. Kedatangan guru pembantu ibaratkan sebuah harta karun besar bagi guru-guru senior. Aku dan Elang selalu diminta untuk menjadi pengganti tiap kali para guru senior memiliki udzur. Banyak jenis pelajaran telah aku sampaikan dalam seminggu pertaman. Mulai dari bahasa Melayu, Fiqih, bahasa Inggris, Tafsir, maupun Akhlak. Sangat lelah memang, tapi aku tetap merasa senang karena telah dipergunakan secara maksimal. Dikuras habis tenaga dan pikiranya untuk memberi mafaat pada orang lain. *** “Rasanya udah kayak ustazlah disini” kataku ketika para pembina dari Muallimin datang untuk menjenguk. Dengan segera dijawab oleh salah seorang guruku. “semua orang bisa jadi ustaz, gutu TPA ustaz, guru sekolah ustaz, ulama juga ustaz. Tapi maqomnyakan berbeda. Gak bisa disamakan antara saya dengan untaz Ridwan -guru besar di sekolahku-, ustaz dedik dengan ustaz Ridwan. Gak bisa disamakan.” jawabnya halus kepadaku. Jawaban itu dengan segera membungkam mulutku, mengoyak hatiku. Kusadari pernyataan sombong telah keluar dari mulutku ini. Dibalik jawaban singkat guruku, nilai utama yang coba ia sampaikan begitu mendalam. Sangat malu aku dibuatnya. Ia menginatkanku dengan begitu halus. Menghindarkanku dari kebanggaan atas diri sendiri.