Belajar dari “Bapak” #1
Aku punya seseorang yang sudah kuanggap bapak di tempat aku menuntut ilmu. Bapak Fadjar Basuki namanya. Almarhum lebih lengkapnya. Dulu, semasa bapak masih hidup, aku seringkali berkunjung ke kediaman bapak di daerah Demangan, Yogyakarta. Orang-orang menyebut rumah bapak sebagai basecamp. Benar sekali, karena memang bapak merupakan penggagas berdirinya suatu komunitas peduli pertanian dan lingkungan di wilayah DIY.
Apakah aku termasuk relawan dalam komunitas? ya benar. Apakah aku adalah relawan yang aktif dan memiliki posisi penting? sayangnya aku hanya relawan pasif dan bukan siapa-siapa. Lalu apa yang kucari di rumah bapak? ilmu sosial; pelajaran kemanusiaan
Ini adalah hubungan yang tidak biasa antara aku dengan bapak. Aku tidak banyak mengenal anggota komunitas, tetapi merasa sangat dekat dan mengenal bapak. Ada dimensi lain yang kuciptakan antara aku dan bapak. Serasa pulang setiap mengunjungi bapak di rumah. Serasa memiliki seorang bapak yang selalu menantikan kedatanganku sebagai anaknya. Aku bahkan dulu lebih sering berkabar dengan bapak dibandingkan dengan orangtua kandungku di kampung halaman.
Selalu sama, setiap aku mengunjungi bapak, bapak akan bertanya:
“Apa yang mau ditanyakan nduk? ada masalah apa yang sedang kamu pikirkan?”, tanya bapak dengan sangat ramah bahkan sumringah.
Lalu selanjutnya yang terjadi adalah aku tanpa terbata meluapkan apapun yang sedang kurasakan, kadang rasa sedih, kecewa kadang pula menceritakan harapan-harapanku untuk Indonesia. Sedikit mengawang, namun semua bapak dengarkan dengan seksama dan serius.
Bapak tidak langsung memberikan solusi, bapak selalu mengajarkanku bercermin dari kisah-kisahnya saat menjadi relawan di masyarakat. Semisal saja aku sedang mengeluhkan mengapa begitu sulitnya menjalankan program kegiatan sosial di desa. Bapak menyampaikan bahwa, kegiatan sosial itu, bukan kegiatan yang menjadikan kita terlihat lebih pandai dari warga yang kita ajarkan, melainkan sebuah kegiatan yang memberikan kita kesempatan untuk belajar.
Belajar menjadi manusia, yang mampu mendengar, menyampaikan dan memberikan bantuan, semuanya menggunakan hati. Karena sesuatu yang disampaikan tulus dari hati, akan diterima juga dengan tulus oleh hati.
Manusia yang terbiasa jujur dan tulus dalam hidup, akan dapat membaca tulus tidaknya seseorang kepadanya.
Kita tidak boleh meremehkan hal itu bukan?










