#CeritaPenempatan : Refleksi kenapa kok mau jadi Pengajar Muda
Lama sekali tak mengupdate hastag #CeritaPenempatan ya, tenang sebenarnya akan di lanjut pasca penugasan kok. Karena 24 jam bersama anak-anak dan masyarakat ternyata gak cukup. Selalu aja ada yang dilakukan sampai lupa waktu, asik-asik pokoknya, sampe lupa kalau sedang menulis cerita penempatan. Jadi sekarang di update ya!
Selalu saja ada teman dan kerabat yang punya pertanyaan sama kepadaku, "kok mau jadi guru di pelosok sana?" Atau "kenapa mau jadi pengajar muda? Apa untungnya emang?" Pertanyaan itu banyak. Bahkan sampai pertengahan penempatan, masih ada aja yang bertanya.
Yaudah aku tulis aja sekarang, silahkan di baca, di skip juga boleh kalau gak menarik
1.Mencari Pengalaman Baru
Sejak awal aku selalu merasa wah dengan banyak hal yang menantang diriku. Lalu bertemulah dengan IM ketika acara National Leadership Camp RK tahun 2018, waktu itu presentasinya asik, ditambah lagi, akan di tempatkan di daerah tanpa listrik, tanpa jaringan, tanpa pemanas air, dan dengan kondisi sosio-geografis yang berbeda selama setahun. Ini menantang, bagiku akan menjadi pengalaman baru yang berkesan dalam hidup. Apalagi di daerah pelosok selalu kekurangan guru, terpanggilah aku untuk bergabung.
2. Volunesia
Aku perkenalkan istilah volunesia yang artinya ketika kita menjadi orang yang membantu orang lain melakukan sesuatu, artinya kita sedang meng upgrade diri kita untuk jadi lebih baik.
Berkembang dari apapun, kemampuan dasar hidup dan tentu saja dalam hal kepemimpinan diri.
Semoga saja ya!
3. Membalas Budi
Besar dengan banyak kemudahan mengakses pendidikan, merasa semuanya begitu baik, rasanya tak adil kalau kebaikan yang di dapatkan hanya berhenti di diri sendiri, akan lebih bermanfaat kalau kebaikan itu di tularkan ke orang banyak, termasuk masyarakat pelosok yang masih kesulitan mengakses pendidikan. Aku merasa perlu membalas budi, ini salah satu caranya.
4. Merawat rasa cinta
Masih teringat idealisme yang dibacakan setiap kali apel pagi "Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah pecipta alam semesta" kalimat akhir ini selalu terngiang, merefleksikan diri untuk apa dan bagaimana menjadikan kenyataan, apan yang sudah di upayakan.
Hal itu menjadi pemicu diri untuk melakukan banyak hal, mengupayakan kebaikan. Juga perenungan panjang. Akhirnya aku meyakini dengan pengabdian jalan memupuk rasa cinta itu sendiri.
5. Memperkaya sudut pandang
Sebagai orang yang berkacamata -orang jakarta- selalu menemui kebijakan publik yang di buat adalah yang paling cocok, keputusan yang baik. Sampai pada akhirnya ada sisi lain menemukan tidak semua kebijakan pusat sesuai dengan kebijakan di daerah. Ada realistas yang di paksakan ketika sampai di daerah. Bahkan banyak yang tidak ketemu antara kebijakan itu.
Bagiku ini merawat dan memperkaya sudut pandang. Tidak hanya dengan kacamata -Jakarta- saja, tapi perlu di diperluas sebagai pelaku kebijakan yang berada di daerah yang serba terbatas.
6. Memupuk interaksi sosial
Lama bersekolah di kampus, interaksi sosialku pun mengecil. Hanya terbatas kalangan mahasiswa dan pendidik. Padahal untuk paham kondisi masyarakat harus ikut berada dan tumbuh bersama masyarakat.
Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru. Untuk bertemu lebih banyak orang, interaksi harus lebih luas lagi, untuk memperkaya ilmu, tentu perlu bertemu lebih banyak orang lagi. Menjadi bagian dari masyarakat berarti menambah ilmu lebih banyak lagi.
Menjadi Pengajar Muda akan di tempatkan bersama masyarakat yang majemuk selama 1 tahun. Artinya akan hidup disana, berkativitas disana, makan dan bencengkrama disana. Tentunya ini memupuk pehamahan akar rumput pengajar muda. Semoga saja terbentuk di diriku.
7. Merawat jiwa kanak-kanak
Aku merasa aku masih anak-anak. Maka dari itu aku coba menyalurkan jiwa anak-anakku pasa porsinya.
Menjadi guru SD salah satunya. Hampir selalu bersama anak-anak sepanjang hari.
Bersama mereka sepanjang hari,
Melakukan banyak hal. Selalu tertawa dan belajar banyak hal. Menyenangkan. Melihat mereka tersenyum, membuatku membayangkan, anak-anak ini akan menjadi pemimpin di masa depan, setidaknya pemimpin dirinya sendiri.
Selain itu, dekat dengan anak-anak, juga melatih kesabaranku, setidaknya untuk nanti menjadi ayah kelak.
8. Memelihara Amal
Mengajar itu cara memperoleh pahala gratis. Kalau satu anak dapat membaca tulis karena kita bantu, apakah bukan merupakan ilmu yang bermanfaat untuk mereka? Dan apakah bukan sesuatu yang bernilai pahala?
Tapi tentu saja kita tidak boleh mengharap apapun dari manusia. Bisa jadi melihara agar mendapat pahala harus di pertanyakan ulang. Yang pasti, menjadi pengajar muda adalah bagaimana berbuat baik
Semoga sampai akhir penugasan nanti dapat banyak pelajaran. Nantikan kisah selanjutnya ya!








