Entah kepada siapa aku harus mengadukan atau menanyakan,
mengapa manusia harus memiliki perasaan?
Bukankah lebih baik apabila ia dimatikan,
karena susah sekali untuk melawan?
Kau lihat aku? Aku sudah berusaha mengubur perasaan lama berbulan-bulan,
agar jangan sampai baunya tercium dan suaranya terdengar kawan-kawan,
tapi apalah daya semua rasa sayang yang berkelindan?
Sungguh, aku juga sebenarnya enggan jatuh cinta, karena aku tahu betul,
untuk mengaminkan takdir bahagia saja, makhluk langit pasti merasa segan.
Tahukah bahwa setiap kali aku bermimpi dan siuman,
aku lebih berharap untuk tidak usah dibangunkan saja,
karena setidaknya cerita di dalamnya lebih bahagia daripada kenyataan.
Aku tahu betul bahwa membangunkan diri sendiri saat terlanjur jatuh itu bukan perkara yang mudah,
karena pada setiap rintik hujan,
pada setiap rontok dedaunan,
pada ujung jembatan,
pada arak-arak anak awan,
pada sudut-sudut bangunan,
pada jengkal tapak jalan,
yang ku ingat hanyalah namanya, suara tawanya, dan beberapa senti lengkung senyumannya.
Aku pernah dengan sombong mengaku-aku bahwa kebahagiaannya adalah kebahagiaanku, tetapi ternyata aku masih mencintainya dengan egois: aku selalu ingin menjadi satu-satunya penyebab kebahagiaannya.
Aku benar-benar tidak suka kasmaran, karena kepalaku jadi dipenuhi pertanyaan-pertanyaan dan ketidakpastian. Aku lebih suka menjadi jawaban.
Ah sudahlah, toh kau yang di sana juga tidak akan pernah menjadikanku jawaban atas segala urusanmu, bukan?
Kemudian aku tergugu di hadapan rembulan sampai ia merasa kasihan lalu menawarkanku untuk berbagi pelukan dan bertukar perasaan. Ah, buat apa? Kisah cintanya dengan matahari juga kurang lebih sama menyedihkan.
Aku tidak butuh dipeluk siapa-siapa.
(tidak pula oleh kau yang tak acuh di sana)
Jakarta, 27 Mei 2017 20.27
Air mata pertama di bulan puasa