Pandita Ratu
Gw sangat sadar bahwa selama menjadi suami bagi Pandita Ratu, banyak hal yang belum bisa gw berikan kepada dia; baik secara sadar ataupun tidak. Gw belum bisa membuat dia sepenuhnya dicintai, dihargai, dan diapresiasi. Gw berhutang hal itu kepada dia. Tidak. Ini bukan tentang sebuah keputusasaan; lebih ke penyesalan. Jika ditanya apakah ada yang bisa gw lakukan? Sekarang, tentu ada. Dulu? Gw sudah tidak bisa lagi melakukan apapun untuk mengubah masa lalu. Gw cerita sedikit tentang latar belakang gw ya. Sedari dulu, gw itu tipe anak laki-laki yang takut dengan perempuan yang ditaksir. Setiap kali melihat perempuan yang gw taksir, seluruh nyali gw itu langsung ciut. Gw tidak tahu harus berbuat apa. Kenapa gw bisa sampai sedemikian “parahnya”? Usut punya usut, semuanya karena yang terjadi di dalam rumah. Bokap gw itu adalah contoh ayah yang baik. Gw belajar banyak dari dia tentang menjadi ayah. Dia hadir di hampir semua kejadian penting di hidup gw yang mampu gw ingat. Dia memberikan yang terbaik buat anaknya: kehadirannya. Selain itu, dia juga memberi kebebasan kepada gw sebagai anak untuk mengekspresikan diri. Secara umum, bokap itu menjadi salah satu panutan gw dalam menjadi orang tua. Namun, selama gw tinggal dengan kedua orang tua gw, ada satu hal yang tak pernah bisa gw pelajari dari bokap gw. Tentang menjadi suami. Bokap gw itu payah kalau sudah soal menjadi suami. Dia meletakkan istrinya (nyokap) entah di posisi berapa di dalam hidupnya. Yang gw tangkap adalah, nyokap bahkan tidak masuk dalam 10 besar prioritas bokap. Selama gw hidup dengan mereka, gw tidak punya gambaran tentang bagaimana seharusnya menjadi suami. Gw malah belajar untuk menghindari menjadi tipe suami yang seperti apa. My dad was good father, but he was such a terrible husband. “Kekosongan” role model inilah yang gw isi dengan konsep gw sendiri. Sejak gw sudah bisa berpikir tentang pernikahan, yang tertanam di kepala gw adalah “Gw tidak akan menjadi suami seperti bokap gw tapi akan menjadi ayah yang lebih baik dari dia.” Gw tidak mau menjadi suami seperti bokap gw, tapi di saat yang sama, gw juga tidak memiliki contoh untuk bisa dipelajari. Gw buta sama sekali tentang bagaiman seharusnya memperlakukan perempuan. Kebutaan gw ini berujung pada ketakutan gw untuk memulai percakapan dengan perempuan yang menjadi taksiran gw. Gw tidak tahu bagaimana harus bertindak dan bertanduk agar lawan bicara gw (yang dalam hal ini adalah perempuan yang gw taksir), tertarik dengan isi kepala gw. Yang terbayang adalah semua ketidaktahuan itu. Gw takut tertolak. Gw takut gagal. Dan pada akhirnya, gw memilih untuk menjadi pengagum rahasia. Selama perjalanan hidup gw sebagai laki-laki yang menjalin hubungan dengan perempuan, yang gw lakukan adalah menjalani sebuah hubungan dengan logika. Iya, logika saja. Jika begini, maka harus begitu. Tidak mengherankan jika hubungan gw dengan perempuan-perempuan di masa lalu gw itu hanya bertahan seumur jagung. Gw sebenarnya sangat ingin memiliki hubungan yang awet, tapi ya balik lagi, gw tidak tahu bagaimana harus memperlakukan perempuan dan pasangan-pasangan gw di masa lalu ini tidak pernah menyampaikan mereka ingin dibagaimanakan. Gw semakin bingung. Lalu tibalah gw bertemu dengan Pandita Ratu. Perempuan yang amat sangat gw inginkan untuk menghabiskan hidup Bersama, dengan seluruh logika dan emosi gw. Ya gw masih takut seperti sebelumnya. Gw masih canggung. Di awal hubungan gw dengan Pandita Ratu, kami banyak berantem karena memang gw tidak bisa “memahami” perempuan. Gw tidak sensitif. Gw tidak bisa membuat inisiatif. Dan sejujurnya, jika Pandita Ratu tidak sedikit agresif dua belas tahun lalu, saat ini gw belum tentu menyandang gelar suami Pandita Ratu. Gw dengan masa lalu yang begitu bertemu dengan Pandita Ratu yang tidak memiliki sosok suami dan memiliki sosok suami idaman versi dia sendiri. Setelah kami menikah, Pandita Ratulah yang banyak mengajarkan gw bagaimana menjadi suami. Dari Pandita Ratulah gw belajar untuk memahami perempuan. Walaupun kadang dia tak sabar dengan perkembangan gw yang sangat lambat, dia tetap menuntun gw untuk menjadi suami seperti yang dia inginkan. “Suami yang dia inginkan.” Karena gw sendiri tidak memiliki gambaran yang baik tentang menjadi suami yang baik itu seperti apa, gw mengikuti arahan Pandita Ratu. Gw berusaha untuk menerima hasil bentukan tangan dia. Gw pasrah? Iya dan tidak, karena gw tidak punya sosok yang bisa gw jadikan contoh sehingga tidak ada salahnya juga gw mencoba untuk menjadi sosok yang diinginkan Pandita Ratu. Lambat laun, proses pembelajaran itu menjadi sebuah hal yang otomatis. Gw menjadi suami dengan blueprint yang disediakan Pandita Ratu. Tapi makin ke sini, gw merasa ada yang janggal. Ada yang kurang. Ada yang mengganjal. Gw merasa bahwa yang gw lakukan ke Pandita Ratu itu bukan menjadi suami, tapi menjadi robot. Sebuah kegiatan repetitif yang gw pelajari bukan dari seorang suami. Tahun pun berlalu, kegelisahan gw itu semakin menjadi dan tak jarang malah membuat gw menjadi jauh dari Pandita Ratu. Gw menggali lagi ke diri gw apa yang kurang. Jawabannya ternyata sederhana: Gw hanya melakukan apa yang sudah diprogram, bukan karena murni dari keinginan sendiri. Perlahan gw belajar untuk benar-benar menjadi suami bagi Pandita Ratu sesuai dengan konsep yang sudah gw pelajari bertahun-tahun sejak menikah. Gw amat sangat mencintai Pandita Ratu dan tak mau kehilangan dia hanya karena gw tidak mampu menjadi suami. Gw ingin menjadi suami bagi Pandita Ratu dengan kesadaran penuh. Hal pertama yang gw lakukan adalah dengan mempelajari lagi tentang Pandita Ratu. Mempelajari apa yang tersirat, tersurat, dan terucap. Gw ingin tahu sebenarnya Pandita Ratu itu ingin diperlakukan seperti apa. Bukan cuma apa yang terucap dari mulutnya. She lied. I lied. So I need to know the truth. Sampai sekarang gw masih belajar menjadi suami yang baik untuk Pandita Ratu. Gw masih terus berusaha mempelajari dia dari waktu ke waktu. Gw sadar bahwa ada masa di dalam hubungan kami, dia tidak menerima suami yang layak. Ada masanya di mana dia harus berjuang sendiri di dalam hubungan kami. Gw tidak mau hal itu terjadi lagi. Gw tidak ingin Pandita Ratu merasa tidak dicintai karena gw tidak mampu bertindak sebagai suami. Apakah gw berhasil? Beberapa minggu lalu gw sempat nanya ke Pandita Ratu apakah gw sudah menjadi suami yang baik buat dia, apakah dia bangga kepada gw sebagai suaminya? Dia menatap mata gw dengan teduhnya, sembari tersenyum (manis banget), dia bilang “You are the best husband, Baby. And I am so proud of you.” Gw menenggelamkan wajah gw di dadanya, menumpahkan sedikit air mata bahagia. Gw ingin merasakan seperti ini untuk seterusnya. Berkaca dari pengalaman gw sebagai anak, gw juga ingin agar anak-anak gw nantinya tahu bagaimana memperlakukan pasangan. Gw tidak ingin mereka secanggung gw dulu. Gw harus bisa menunjukkan ke Mikanshelica bahwa kita selalu bisa belajar untuk mewujudkan perasaan cinta kita kepada orang lain. Gw ingin Mikanshelica memiliki patokan yang benar tentang bagaimana memperlakukan orang-orang yang mereka sayangi dan cintai. Gw tidak akan berani mengakui diri gw sebagai suami yang baik. Masih banyak kekurangan gw di sana-sini. Masih banyak hal yang harus gw berikan kepada Pandita Ratu. Masih banyak hal yang harus gw pelajari dari Pandita Ratu. Masih banyak cinta yang masih harus gw berikan kepada Pandita Ratu. Tidak. Ini bukan sebuah cerita tentang keputusasaan. Ini sebuah cerita tentang penyesalan dan pengharapan.














