Hey Atlantis, aku menemukannya. Atau katakan saja kami bertemu. Desakannya menggebu, padahal seharusnya ia tau bahwa aku akan selalu mau untuk bertemu. Kali ini ia datang dengan membawa pertanyaan mistis. Aku mendengarkannya seperti di masa lalu, terasa cukup manis. Tapi, tahun ini memang bukan tahun yang baik untuk sebuah pertemuan atau dipertemukan atau melempar peruntungan untuk sebuah kebetulan. Mungkin tahun-tahun kami tak pernah begitu baik berjalan.
Hari itu Jakarta tak kehilangan ramainya, ditengah Pandemi yang mereka ributkan sebagai konspirasi ala kadarnya. Aku, di bangku panjang seberang jalan tepat menghadap pintu masuk Ragusa, pintu yang tak pernah kehilangan mondar-mandirnya orang-orang. Mataku menyapu sekeliling dengan gamang; dari terik matahari dibalik gedung kementrian, ojol yang mencari kembalian, tukang bakso sepi pelanggan, sampai dia yang samar-samar melambai dari ujung jalan. "Kamu lagi" ucapku dalam hati. Entah kenapa entah mengapa aku tetap mau menemui orang ini. Mungkin karena ku rasa, Tuhan, ternyata masih saja melindunginya.
Langkahmu usai tepat di hadapanku. Aku bertengadah, hidungku menangkap aroma kakao dan jeruk nipis, "Jo Malone?" Tanyaku. Kamu mengangguk, memberikan senyum terbaikmu. Kemudian duduk di sebelah kiriku. "Blue agava" ucapmu sambil membenarkan rok lilit diantara kedua kaki. Aku mengangguk. "Suka kan?" Tanyamu. Aku mengangguk lagi saat kamu menggigit bagian bawah bibirmu. Aku selalu suka aroma apa saja. Ohya. Satu-satunya hal yang tak ku suka adalah saat kamu menarikku ditengah pasar hanya untuk mengejar penjual kerupuk langgananmu yang kamu kira sudah gulung tikar.
"Maaf telat" Katamu.
Telat? Aku ingat suatu malam beberapa tahun lalu. Kamu menghidupkan lampu, membangunkanku pagi-pagi buta. "Aku telat", dua kata yang ku dengar saat aku baru setengah sadar. Insting kelelakian ku diuji; aku membuka mata, kemudian mencuci muka. Tapi siapa sangka itu hanya akal-akalanmu yang kelaparan karena semalaman begadang menterjemahkan quick korean. Marahku mulai menjadi, namun hilang tanpa arti. Rautmu minta makan, lucu.
"Aku yang telat"
"Kita ngapain hari ini?
"Entah, kamu kan yang ngajak ketemu katanya bosan karantina"
"Aku punya pertanyaan"
"Apa?"
Kamu diam memberi jeda. Matamu sibuk ke seberang sana, memperhatikan mereka yang keluar masuk Ragusa. Aku selalu tau, isi kepalamu sedang tak disini bersamaku. Bagiku kepalamu adalah tempat yang berbahaya, yang sarat akan isyarat. Terlalu ramai disana, aku menolehpun enggan rasanya sebab isinya bisa dimana saja atau apa saja. Dari yang nyata sampai mengada-ada, dari yang serius hingga sebercanda saat kamu bertanya "usia biologis ku seharusnya berapa?". Namun, aku selalu percaya, pada akhirnya, isinya tetap saja akan kembali pada kita.
Suaramu parau, "Kamu mau es krim?"
Aku tersenyum. Tahun-tahun ternyata tak berdampak apa-apa, tak membuatmu serta-merta menjadi waras dari terminologi yang itu-itu saja. Kamu tak ubahnya tetap sebuah klausul bahan kimia yang selalu membuatku menggelengkan kepala. Peribadi yang ku rawat baik dalam ingatan dari miskinnya pilihan-pilihan manusia.
Sepersekian detik aku menuju ke dalam matamu. Ada kegundahan disana, seolah ada tulisan yang tak kamu selesaikan agar bisa berpindah halaman. "Tadi kamu mau tanya apa?" Ucapku.
Lagi-lagi kamu bisu. Bertingkah sibuk memperhatikan sesuatu di belakangku. Aku menoleh mencari tau. Seorang bapak menawarkan dagangannya, keset dan perabotan rumah tangga diatas gerobaknya. Pikirku tidakkah orang tua seharusnya tak lagi bekerja apalagi ditengah Corona. Kota ini kadang terlampau membabi buta melibas apa saja yang bergerak diatasnya. Tak seperti tahun-tahun termanis kita di Jogjakarta. Semua orang ramah tak berkesudahan, hingga kamu dengan serius mengajakku berencana memiliki anak lima saat itu juga, gila! Pikirku. Mau dikasih makan apa? Tapi, tidak disini. Bahkan mimpi kadang terlalu pagi untuk harus disudahi. Menanggalkan status manusia setiap harinya bukan barang langka. Disini, nasib buruk orang lain adalah bahan bercandaan.
"Nanti kalau udah nikah mau tinggal dimana?" Katamu.
Kepalaku, spontan pergi menuju parasmu. Sepasang mata bertemu. Kamu tersenyum pelit, mengerutkan kening. "Jawab!!!" desakmu. Dua detik aku menutup mata, mencoba mengingat kembali mengapa aku rela menggenggam hati wanita gila di depanku kali ini.
"Kamu ingat? Orang-orang yang dulu meramalkan hubungan kita takkan berhasil?"
Kamu mengangguk.
"Kamu ingat mereka? Yang mengatakan bahwa kita hanya terjebak kisah cinta sesaat?"
Kamu mengangguk lagi, kemudian menambahkan "lalu?".
"Mereka apa kabar ya?" Sambungku.
Kamu menyilangkan kaki, membenarkan posisi dudukmu, dan meluruskan punggung. Apakah kamu sedang mengingat nama? Siapa saja yang mensyukuri perpisahan kita? Siapa saja yang mengamini saat aku membunuh keniscayaan, mengamuk kehilangan elegi dan tak ingin melihat parasmu kembali.
Menurutmu itu adalah rehat, tirakat yang kita ijinkan keberadaannya. Tawa kita yang terlampau berlebihan akhirnya menjadi tangis yang tak berkesudahan. Lalu lagi-lagi aku harus banyak membaca kalimat motivasi, yang menurut mereka kebijaksanaan tertinggi adalah tahu kapan harus berhenti. Menurutku semua itu basi.
Kamu membuka suara "Kayaknya...". Aku berdiri, menggulung kameja sebelah kanan dan kiri. Lisanmu berhenti, tak ku biarkan itu selesai disini. "Ke seberang yuk, es krim, mau?" Tanyaku. Kamu tersenyum, mengangguk, memberikan tepukan kecil tanpa suara.
Tangan kiri ku membuka telapak di hadapanmu, disana kamu meletakkan telapak kananmu. Dua telapak bersatu seperti di masa lalu. Aku menggenggam segalamu dengan penuh arti. Kamu berdiri, sedikit limbung, membenarkan tas selempang yang mrnggantung di bahu kiri.
Dari bangku panjang itu, hanya sekitar dua puluh langkah menuju Ragusa. Dua puluh langkah lagi aku akan mendengarkan ocehan yang tak karuan. Tangan kananmu menggamit lengan kiri ku, pada bahuku kepala mu jatuh. Kita menyebrang, kamu membisikkan sesuatu padaku.
"Kayaknya suatu hari kita harus tanya mereka, nanti kalau udah nikah lebih baik tinggal dimana".
Jauh di ujung pandanganku, kota ini memang tak pernah tidur. Udara yang likat sesekali dipenuhi suara ambulan. Namun siapa yang tahu akhirnya, kita berdua menyebrang jalan di bawah langit ibu kota bukan lagi di kota istimewa. W.S. Rendra benar, akan selalu ada kabut dalam pikiran.