“Mengapa Kita Terus Menerus Menjadi Orang Kalah?”
Mengapa di satu waktu kita terus menerus menjadi orang yang kalah?
Demikian pertanyaan (niat curhat) yang saya kirimkan melalui whatsapp kepada salah satu kakak saya. Kakak saya menjawab demikian, “Untuk menjadikan kita orang yang tetap rendah hati. Mari bersama kita ubah dalam Tuhan...”
Ah, ia memang pekerja gereja yang taat. Sungguh mengingatkan agar ndak sekali-sekali tinggi hati :’)
Saya melontarkan pertanyaan itu karena sedih dan kecewa dengan diri sendiri. Akhir-akhir ini kok rasanya hidup saya begini amat, melakukan ini itu ndak ada yang berarti, rasanya tidak direstui alam semesta ini. Sepanjang sore tadi, misalnya, saya beberapa kali dihadapkan pada sesuatu yang bikin mikir “astaga kenapa gini sih?”
Saya sedang dibonceng tukang ojek ketika kena palang parkir, lantaran bapak ojek mengekor di belakang mobil, entah tidak tahu atau tidak peduli kalau ada palang parkir di situ. Mobil bergerak maju dan saya ketiban palang. Saya bahkan terlalu syok untuk marah, sebentar kemudian turun dan bayar. Bapak ojeg cuma tanya, “sakit nggak neng?” tanpa ada maaf-maafnya sama sekali. Pelipis sampai pipi kanan lecet dan barangkali akan bengkak.
Ada juga sebuah tulisan hasil wawancara junior saya yang tetiba dimuat di website fakultas, yang kemudian mendatangkan perasaan yang nano nano entah. Ada beberapa hal yang membuat saya saya tidak setuju dari tulisan tersebut. Pertama, judul “Theresia Budiarti Utami Putri, Aktivis yang Mawapres Prodi Jurnalistik”. Apa sih aktivis itu? Kalau menurut Badan Bahasa Kemendikbud, aktivis adalah orang yang giat bekerja untuk kepentingan suatu oranisasi politik atau organisasi massa lainnya. Dia mengabdikan tenaga dan pikirannya, bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk mewujudkan cita-cita organisasi.[i] Saya juga menelusuri sumber lain untuk kata aktivis ini—di saat orang lain mengetik the meaning of pokemon, saya mengetik the meaning of activist. Cambridge dictionary mendefinisikan activist is a person who believes strongly in political or social change and takes part in activities such as public protest to try to make this happen.[ii] Di kepala saya, kata aktivis diikuti imaji sosok seperti Dhyta Caturini, Kartini Kendeng, Wanggi Hoed, Dandhy Laksono, Usman Hamid, Rinda Sirait, Rivanlee Anandar, dan lain sebagainya. Mereka aktivis apa? Silakan kepo sendiri, tapi setidaknya nama-nama itu orang yang saya dekat/kenal/tahu yang muncul kali pertama di kepala saya. Lantas apakah (sempat) aktif berkegiatan di UKM kampus—sebagaimana saya disebutkan di tulisan itu—pantas disebut aktivis? Mungkin Anda atau siapapun akan berargumen, ya boleh-boleh saja disebut aktivis. Namun mbok ya menengok konteks. Eh, perihal konteks, saya sih belum paham-paham amat relasi teks dan konteks seperti disebutkan teori wacana, mungkin yang lebih paham bisa bantu menjelaskan atau menampik.
Sebutan aktivis ini berlebihan disematkan. Di ukm persma, mengupayakan penerbitan 3 kali setahun saja saya kewalahan. Sudah sepantasnya toh saya malu sama mas Wisnu Prasetya Utomo, eks pemred Balairung yang bikin buku Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan. Juga sama mas Dhan, laki-laki feminis dan penulis idolaqu yang ternyata dulu aktif di Persma Tegalboto. Di komunitas teater, saya juga ndak bisa memanfaatkan kesempatan belajar banyak hal sebaik-baiknya. Akhirnya saya jadi penggembira saja, apalah kalau dibandingkan dengan aktor dan sutradara bertalenta, Syahan Yulizar, senior saya yang terkasih.
Juga kata siapa saya mawapres?! Hoooooooi. Maafkan aku, Rizani Hamama (mawapres Jurnalistik angkatan 2012). Bukan maksud mendaku diri sebagai mawapres, tapi saya pun ndak pernah mengeluarkan pernyataan kalau saya ini mawapres. Cuma ketika ditanya apakah mendapatkan informasi dari kampus tentang program tersebut, ya saya jawab tahu. Ini saya nukilkan saja deh tanya jawab wawancara yang dikirim via surel waktu itu. (duh nggak enak ya ternyata kalau jadi narasumber terus apa yang dimuat tidak sesuai keinginan, eh, kondisi yang sebenarnya. Lol)
Iya sih sombong amat saya nulis ‘mempersiapkan kami’. Sepanjang ingatan, saya ndak mengerjakan tugas proposal seleksi mawapres. Sempat cek email, ternyata ada. Baru ingat, waktu itu ada seseorang di posisi yang sama, bilang, “bikin lah, kan sudah diberi kepercayaan dari jurusan.” Maafkan saya, ya dosen-dosenku :( ----- apa pula itu jawaban “Hehe, siapa sih yang nggak mau?” Aing alay.
Kedua, tenggat waktu. Saya diwawancara pada November 2014. HAMPIR 2 TAHUN LALU dan baru dimuat sekarang. Okelah mungkin tulisan jenis ini bukan berita yang urgen segera tayang, tapi waktu dua tahun menurut saya juga terlalu lama hingga besar kemungkinan banyak hal sudah tidak relevan lagi. IPK, misalnya. Pun sesungguhnya saya sangat ndak suka ditanya-tanya IPK. Mungkin, karena saya ndak mau dicap anak yang nerd, kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah pulang). Saya ndak gaul-gaul amat tipikal mahasiswa dugem gitu sih tapi masih demen nongkrong dan ngobrol di sekre sampai pagi, nggak nolak juga kalau ditawarin sake, bali hai, anggur, atau bir bintang. Saya juga beberapa kali ndak mengerjakan tugas karena emang males dan lagi (sok) rebel. Jadi gimana ya, disebut aktivis, apalagi mawapres, itu overrated sekali sodara-sodara. Rahman Fauzi pasti setuju masalah ini.
Juga, jangka dua tahun itu sudah banyak mengubah saya. Kalau saya baca tulisan itu kok rasanya saya optimis sekali, sungguh bertolak belakang dengan diri saya sekarang........
Ada satu tulisan yang sangat menohok (tapi bikin saya jatuh cinta) dari sebuah blog pseudonim. Tentang ketidakberartian dan bagaimana merayakannya. Saya ndak mau berbagi tautan blog tersebut karena ndak rela kalau sampai ditutup sama pemiliknya, saya belum baca semua tulisannya. Ternyata belakangan saya sedang merenungi ketidakberartian ini. Hello world. Look how fuckin ordinary I am! Aing bukan Ann Frank, bukan Dian Sastro, bukan Jim Geovedi, bukan Fahira Idris, bukan seleb internet macam Awkarin atau Rizky Nawan, bukan siapa-siapa. Aing cuma stardust (ala-ala Before Sunrise-nya Linklater) yang suka numpang internetan pakai wifi kampus malem-malem sambil mesen nasi ayam suwir Munjul.
Belakangan saya jadi orang yang pesimis, banyak bertanya-tanya apa sih yang saya kerjakan selama ini? Kok rasanya tidak ada yang fokus atau mendalam. Saya tambah pesimis, apalagi setelah sebuah lomba yang mempertemukan saya dengan seorang juri yang saya idolakan. Komentar-komentarnya, terutama yang di balik ‘layar’, sontak meruntuhkan keyakinan saya akan semua yang saya lakukan. Jangan ditanya, saya juga heran kenapa penilaiannya jadi sangat memengaruhi saya. Mengamini omongannya, saya pikir mungkin benar saya kadang terlalu naif, utopis, dan heroik ndak jelas. Dan inilah saya sekarang, pesimis. Lakon bertajuk Dayeuh Simpe, novel Albert Camus dan Murakami, misalnya, jadi terasa sangat relevan buat saya. Suram.
Saya makin merasa jadi orang yang kalah setelah gagal lolos ikut kursus di sebuah LSM, sesuatu yang sudah saya tunggu selama dua tahun. Kesempatan terakhir selagi saya masih berstatus mahasiswa ini sirna sudah, menyisakan komtemplasi dan renungan. Mungkin saya memang ndak cocok bergiat di sana sekarang. Saya ingat sebuah perbincangan dengan mas Dandhy Laksono ketika di taksi dalam perjalanan menuju markas Watchdoc. Bahwa kematangan adalah perihal waktu. Bahwa tidak ada salahnya, bahkan sebaiknya, kita masuk ke pusaran arus utama dulu, sebelum akhirnya menapaki jalan sunyi. Agar fasenya ndak justru kebalik. Agar ndak jadi sosialis sekarang, terus di umur paruh baya capek jadi proletar berkepanjangan, lalu jadi neolib.
Mungkin saja kan, saya ndak tahu.
Ps. Tadi sore pewawancara dan penulis artikel tersebut menghubungi saya. Dia bilang, “perasaan aku dulu nulisnya nggak gitu deh, Mbaput”. Selow sih hehehe, barangkali diedit sama redaktur. Saya tidak tahu. Saya nggak ada masalah dengan badan tulisan, justru suka dengan alur yang cukup mengalir, cuma judulnya aja sih yang overrated. LOL. Oh ya, kalau dulu saya rasanya optimis banget, mungkin karena waktu membalas pertanyaan wawancara tersebut kebetulan saya lagi punya pacar. Abang pacar waktu itu lagi persis di samping saya, dia lagi seneng nemenin ke mana-mana. Nemenin liputan dari Parongpong sampai Kota Baru Parahyangan juga dijabanin. Dulu...
[i] http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk_praktis/182
[ii] http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/activist