Menghabiskan Malam Dengan Menulis
Aku rasa aku sudah terlalu jauh berjalan di jalur yang bukan jalanku. Terlalu lama aku terjebak dalam pribadi yang bukan diriku sendiri. Aku terus-menerus mencoba untuk menjadi seseorang yang lain, seseorang yang sosoknya aku idam-idamkan untuk menjadi diriku namun sebenarnya sama sekali bukan aku. Aku terlalu mengagumi sosok itu sehingga aku melupakan diriku sendiri yang sebenar-benarnya.
Aku ingin bisa seperti dulu lagi. Mencurahkan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Baik sebagai puisi maupun sekadar postingan di Tumblr atau Medium. Akhir-akhir ini memang aku merasa diriku suka sekali menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak aku sendiri yakini. Hanya semacam suatu mode bertahan hidup. Tanpa adanya perasaan antusias yang menyenangkan.
Dulu, malam hari bagiku berarti maraton serial atau menulis. Aku suka sekali menulis, dulu. Tidak mesti menjadi suatu yang aku terbitkan. Tapi aku selalu menulis. Terutama tentang orang-orang yang aku temui. Kini, malam-malam yang aku jalani sebagian besar habis untuk khayalan semu, kekhawatiran berkepanjangan, dan pekerjaan yang dipaksakan demi untuk bisa bernapas esok hari.
Menonton film dan serial pun rasa-rasanya selalu terselimuti gelisah. Kata-kata yang dahulu bisa dengan deras mengalir, kini tertumpuk dan tersendat di kepala. Menambah beban pikiran yang memang sudah sangat penuh oleh "kehidupan".
Aku suka kesepian. Aku suka kesendirian. Namun belakangan aku selalu sibuk dengan interaksi sosial yang melelahkan. Lagi-lagi demi bisa hidup. Akhirnya alih-alih menemukan waktu untuk menulis pada saat-saat kesendirianku, aku lebih sering berusaha memulihkan tenagaku dari interaksi sosial yang membuat letih itu demi bisa melanjutkan lagi interaksi yang sama keesokan harinya. Kebiasaan ini akhirnya menjadi lingkaran setan yang semakin menjauhkan diriku dari menulis.











