Sekian hari, pekan, bahkan bulan ke belakang, aku belajar untuk bisa survive menghadapi seluruh stres yang sering kali secara tiba-tiba muncul. Meskipun praktisnya aku masih sering gagal dan susah untuk bangkin ketika stres itu datang, tapi aku sekarang, aku mau coba buat kasih sedikit pengalamanku mencoba beberapa metode coping stress yang mungkin bisa kalian lakukan juga.
Coping Stress based on my experience
Menulis jurnal, mungkin biasa ya, tapi lumayan berdampak padaku, terutama ketika diri ini sangat ingin untuk meluapkan segala energi negatif yang ada.
Dulu, sebelum aku nyobain journaling, aku suka banget random marah-marah ke orang, nyebarin kata-kata negatif entah di status atau di grup-grup terdekat. Namun, lama-lama kusadari hal itu gak pernah baik dampaknya, gak baik buat diri sendiri, gak baik juga buat orang lain. Kita, yang sedang negatif, jadi makin negatif dengan mengetikkan kata-kata negatif itu di chat, ketika membacanya kita makin negatif akhirnya. Belum kalau orang yang kita bagikan itu tidak membalas apa yang kita sampaikan dengan begitu baik, makin kesel ujungnya. Eits, yang kesel gak cuman kita nyatanya, orang yang nerima pun bisa jadi kesel gara-gara ter-influence untuk merasa negatif juga.
Jadi, sebelum akhirnya tidak terkontrol, lebih baik coret-coret aja dulu di kertas, atau di notes, atau di manapun medianya, untuk kita tumpahin emosi itu ketika dia benar-benar sedang panas-panasnya. Journaling ini juga akan makin berguna ketika kita bisa menghadirkan sisi positif dari diri kita untuk menemani sisi negatif yang sedang dominan. Secara perlahan munculkan inner voice itu, dengarkan diri sendiri lebih dalam, dan coba tenangkan diri kita dengan suara-suara diri yang baik.
Mengatur napas gimana? Bernapaslah dengan tenang dan ringan. Biasanya ketika kita stres, pernapasan kita tidak teratur, seluruh pikiran kita tidak tenang berpikir, dan banyak suara-suara di dalam pikiran kita yang berputar tak karuan di otak. Yups, coba tenang dan atur napas kita sejenak.
Mengatur napas ini bisa dengan berdiam sebentar dan secara sadar mengambil nafas dalam, serta menghembuskannya perlahan-lahan. Mungkin sepele, tapi buat aku sangat bermanfaat, terutama ketika kita lagi awal-awal serangan gitu, kayak rasanya tubuh gak bisa diajak kompromi, untuk berpikir pun tak mampu. Memang solusinya bukan untuk mencari solusi, tapi berdiam dulu dan mengambil jeda sampai seluruhnya dapat kembali secara jernih dicerna.
Jangan biarkan dirimu terdiam. Do something. Entah segala hal di atas, atau apapun, yang penting jangan berdiam diri. Ciri kita sudah beraktivitas adalah ada sesuatu hal yang “sedang” kita lakukan dan tidak kosong dalam pikiran.
Kalau scroll sosmed? Itu masuk aktivitas enggak?
NO! Jujur itu bukan aktivitas menurutku, karena ketika kita scroll, sometimes kita enggak tau apa yang sedang kita lakukan sebenarnya. Kita hanya berpindah dari satu konten ke konten yang lain, menyukai satu postingan ke postingan yang lain, dan satu lagi, pikiran kita sering kali kosong saat kita melakukan hal tersebut. Jadi, bukannya merasa melakukan sesuatu, kita malah makin parah merasa tidak sedang melakukan apa-apa, yang membuat kita merasa tidak mampu bergerak. Parahnya lagi, kalau ada pikiran, “aku dah gak ngapa-ngapain, sendirian lagi”. Dah lah, jackpot untuk makin merasa tidak berharga.
Jadi, usahakan benar-benar lakukan sesuatu. Entah itu membaca, menulis, ngobrol dengan orang, bergerak merapikan kamar, membersihkan diri, merawat diri, dan lain-lain. Lakukan 1 saja hal yang kamu pikirkan di kala sedang stres itu, satu aja, dan langsung lakukan. At least, pikiran negatif itu sejenak dapat teralihkan dengan pikiran yang telah dipenuhi gerakan-gerakan dalam melakukan aktivitas tadi.
Kalau kayak gitu kita gak afirmasi pemikiran negatif kita dong?
Ehm menurutku enggak juga, sebenarnya kita hanya tidak ingin dia semakin meluap dan tak bisa kita kendalikan. Aktivitas yang kita lakukan akan sedikit meredakan panasnya, untuk kemudian bisa kita proses dengan lebih sehat. Apa baiknya berkomunikasi dengan jiwa yang sedang marah? Jinakkan dulu dia sampai bisa diajak berpikir secara jernih pula.
Okei, mungkin 3 itu sii yang mau aku share ke temen-temen, dan buat reminder ke aku pribadi utamanya.
Oh iya, 3 hal yang aku share di atas itu adalah coping yang tidak membutuhkan orang lain. Kenapa? Karena sering kali orang lain tak pernah bisa kita prediksi, kita gak bisa terus-terusan bergantung juga kan ke orang lain. Kita sudah cukup baik untuk dapat mengobati diri kita sendiri, dan semakin kita jago untuk mengobati diri kita, semakin jago juga tubuh dan jiwa kita menjadi semakin kuat ke depannya.
Kita udah cukup keren untuk bisa melewati ini semua, sekarang kuatkan diri kita untuk bisa berjuang secara mandiri dan melatih diri ini semakin kuat lagi untuk mengahadapi semuanya. Sehat-sehat kawan..