Nani Hirunkit (Sahabat Phuwin, cuma selalu dikira Dominan nya Phuwin)
Phuwin (Sahabat Nani tapi banyak yg ngira kalo dia pacar Nani)
Sky Wongravee (Kakak Phuwin)
Tw & Cw : Double Birth, Bullying, Rape, Secret Pregnant, Bleeding, Trauma, Hard Birth
Nani dan Phuwin adalah teman sekelas di salah satu sekolah swasta ternama. Mereka baru saja memasuki tingkat akhir.
Tidak ada yang mengetahui asal usul keluarga keduanya, mereka hanya tau jika Nani dan Phuwin adalah murid beasiswa biasa.
Malam itu mereka sedang menghadiri pesta ulangtahun salah satu teman sekelas, kebetulan acara tersebut diadakan padah salah satu club yang terkenal di kota itu. Nani yang memang sudah terbiasa dengan dunia malam, dan Phuwin yang seperti anak anjing kehilangan arah.
Phuwin itu seperti anak polos yang baru saja diizinkan untuk main keluar rumah.
Awalnya Nani ingin acuh, tapi tidak ketika salah satu teman mereka datang menyeret Phu menuju salah satu lorong. Nani yang hati nuraninya terasa terketuk akhirnya bangkit mengejar. Dari jauh Nani bisa melihat pria tadi membawa Phuwin memasuki salah satu kamar.
Ini jelas situasi berbahaya.
Saat akan berlari untuk mengejar, naas tubuhnya ditabrak oleh seseorang. Karna postur tubuh mereka yang jauh berbeda, Nani limbung tersungkur. Baru saja Nani akan bangkit, tapi pria kurang aja itu lebih dulu menyambar bibir ranumnya. Mengobrak abrik mulut kecil itu sampai kesela terdalam, mengabsen nya dengan teliti seakan takut jika ada yang terlewat.
Tanpa tahu malu, pria kurang ajar itu menyetubuhi Nani di lorong, beruntung jika ini adalah lorong VVIP, jadi tidak banyak yang berlalu lalang.
Tetap saja, itu adalah sex pertamanya.
Nani tidak polos karna dia memang sering bergonta-ganti pasangan, tapi dirinya tidak sembarang memberikan hole nya pada siapapun. Nani tau jika dirinya bisa mengandung, maka dari itu sebisa mungkin Nani harus bisa menjaga diri. Tapi sialnya bajingan yang teramat tampan ini dengan kurang ajarnya menodai dirinya.
Nani jelas ingat jika dirinya pelepasan 5 kali dan pria bajingan ini hanya dua kali, tapi seluruh spermanya tertampung dalam hole dan rahimnya. Nani harus bergegas bangkit untuk membersihkan diri.
Beruntung pakaiannya tidak terlepas seluruhnya. Hanya celana jeans yang turun sampai paha, kemeja yang 4 kancing atasnya sudah terlepas. Pria bajingan itu juga hanya membuka kancing dan sleting celananya.
Dengan cepat Nani segera merapikan pakaiannya kembali.
Tanpa menunggu lama, Nani segera bangkit, tanpa memperdulikan si bajingan yang tertidur dengan beralaskan karpet yang terdapat banyak bercak sperma milik Nani disembarang arah.
Tapi saat Nani akan memutar arah, Pintu kamar yang dimasuki Phuwin terbuka. Seseorang keluar dari dalam sana, pria putih dengan tubuh lemas sedang berjalan tertatih. Itu Phuwin.
Menghiraukan rasa sakit dibagian analnya, Nani segera berlari. Bersyukur dirinya sampai sebelum tubuh itu ambruk. Dengan susah payahnya, Nani membawa tubuh mereka berdua, yang baru saja menerima tindakan pelecehan diwaktu bersamaan menuju pintu keluar.
Hari masih malam, mungkin sekitar pukul 3 dini hari, Nani tidak tau tepatnya karna ponselnya mati.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu hotel.
Hotel milik keluarga Nani.
Nani adalah anak tunggal dari pasangan sensasional. Ibunya adalah Aktris termahal saat ini, dan Ayahnya adalah pengusaha sukses dibidang Pariwisata. Aset yang mereka miliki ialah, hotel mewah berbintang yang tersebar di seluruh penjuru negeri, Tempat pariwisata ternama yang mengusung konsep dunia fantasi anak-anak, itu juga tersebar di negara negara maju dan tidak pernah surut pengunjung, terakhir ratusan restoran mewah yang menjadi tempat para elit atas menghabiskan uang puluhan juta dalam sekali jamuan.
"Tuan muda, astaga. Mari saya antarkan ke kamar." Nani tersenyum kemudian mengangguk. Tapi tubuhnya limbung. Nani pingsan dengan tubuh Phuwin yang menimpa nya.
Saat membuka mata, Nani mendengar sayup-sayup suara isakan pelan. Dengan tubuh yang lemah, Nani mencoba bangkit. Diedarkan pandangannya, dan disana, disudut kamar dekat dengan pintu kamar hotel, satu orang memeluk dirinya. Wajahnya terkubur dalam lipatan paha dan belitan kedua tangan yang erat. Memaksakan diri, Nani mencoba bangkit.
"Hey, apa ada yang sakit?" Mendengar suara lembut seseorang, pria kecil itu mengangkat wajahnya. Nani tertegun, wajah manis itu berhiaskan lelehan air mata yang mana membuatnya merasa gemas. Phuwin memiliki fitur wajah yang sangat teramat mempesona, bahkan dalam keadaan menangis saja tingkat ketampanannya malah semakin meningkat pesat.
"Aku Nani. Kita berdua teman sekelas. Jangan takut, aku bakal coba terus lindungin kamu." Dengan perlahan Nani mencoba memeluk tubuh bergetar Phuwin. Tak lama pelukan itu berbalas. Phuwin menangis pilu dalam dekapan teman barunya itu.
"Aku takut. Aku takut hamil Nani." Tubuh Nani menegang, jadi mereka memiliki ketakutan yang sama besarnya?
"Jangan takut, kita akan lalui ini bersama. Aku juga mempunyai ketakutan yang sama seperti dirimu. Kemarin sepertinya kita mendapatkan perlakuan yang sama. Sama sama dilecehkan dan direndahkan." Mata Phuwin menatap Nani yang mengepalkan kedua tangannya, Phuwin melihat tekad kuat dalam tatapan berkaca sahabat barunya itu.
"Kita pasti bisa ya kan Nani?" Pertanyaan Phuwin dijawab anggukan yakin dan senyuman lembut oleh Nani.
Seakan tidak terjadi apapun, Nani dan Phuwin tetap menjalani hidup seperti biasa, bedanya pria teman sekelas yang malam itu melecehkan Phuwin sudah ditendang dengan paksa dari sekolah elit mereka. Entah siapa yang melakukan Nani tidak mau ambil pusing.
Sudah hampir dua bulan kejadian itu berlalu, dan Nani merasa tubuhnya akhir-akhir ini terasa lemas dan sering kali merasakan mual dan pusing. Ketakutan malam itu sepertinya berbuah hasil.
Saat sampai di depan kelas mereka, Nani melihat Phuwin yang sedang memuntahkan sesuatu. Bergegas si manis yang memiliki kulit berwarna putih pucat itu segera mengusap punggung dan memijat leher si pria yang kini menjadi sahabatnya.
"Pulang sekolah nanti ayo kita periksa." Nani berbisik dan Phuwin setuju dengan usulan nya.
Bagaikan disambar petir disiang bolong, apa yang disampaikan dokter membuat kedua pemuda itu menegang. Bagaimana tidak, mereka berdua dinyatakan hamil dengan usia kandungan sama, 7 Minggu.
Nani ingin menggugurkannya tapi dirinya takut. Lain dengan Phu yang malah terlihat senang karna akan menjadi seorang ayah.
"Ayo kita jaga mereka Nani. Selama ada Nani, Phu akan baik-baik saja kan?" Nani mengangguk, menggenggam tangan Phuwin dengan erat, seakan meyakinkan Phuwin dan dirinya, jika mereka bisa melaluinya bersama.
Kedekatan Nani dan Phuwin disalah artikan oleh banyak orang, mereka beranggapan kalau kedua pria itu sedang menjalin kasih.
Makanya semenjak rumor pasangan kekasih itu meluas, keduanya menjadi sering mendapatkan pembullyan. Mereka dituduh menyelewengkan dana beasiswa.
Seharusnya mereka berdua hanya fokus pada kegiatan menuntut ilmu untuk terus mempertahankan prestasi mereka, tapi keduanya malah memadu kasih. Semua orang tau jika Nani dan Phuwin itu masuk kedalam golongan siswa yang menerima beasiswa.
Dari situ Nani mengusulkan jika mereka harus tinggal bersama.
Akhirnya Hotel terakhir kali menjadi pilihan mereka. Posisinya sangat strategis karena tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Orang tua Nani berada diluar negeri, sehingga membuat Nani tinggal sendirian di kota ini.
Nani menolak dengan keras untuk ikut pindah karna terlalu menyukai suasana negara tempat dirinya dilahirkan ini.
Dengan mengancam semua orang kepercayaan Ayahnya, berita pelecehan dan kehamilan Nani masih tampak rahasia dan belum sampai pada kedua telinga orang tuanya. Jika sudah bocor Nani tidak akan mungkin masih bisa berada di samping Phuwin.
Waktu berjalan begitu cepat. Usia kehamilan semakin bertambah, mereka sepakat menutupinya dengan korset.
Ukuran Perut Phuwin tidak sebesar milik Nani.
Diusia kehamilan 28 Minggu ini Nani harus memakai 2 lapis korset, sedangkan Phuwin hanya perlu satu saja.
Tidak ada yang curiga dengan kehamilan keduanya.
Tingkat pembullyan juga semakin sering mereka terima, beruntung mereka tidak melakukan kekerasan fisik. Mereka hanya berani dengan mengolok-olok, penyekapan, penyiraman dan penindasan. Mereka seakan paham jika menyakiti fisik hidup mereka akan hancur.
Seperti sekarang, Nani dan Phuwin sedang terkurung didalam ruang janitor. Jam sekolah baru saja usai, dengan cepat Nani menelfon bodyguard nya untuk segera menyelamatkan dirinya dan Phuwin.
"Tuan muda mundur sedikit, saya akan mendobrak pintunya." Setelah menarik Phuwin untuk ikut menjauh dari pintu, Nani melihat pintu kayu itu mulai bergetar denga diikuti suara tendangan kuat, setelah tiga kali, akhirnya pintu terbuka.
Leo mengamati tuan mudanya dengan seksama, aman tidak ada luka sama sekali.
"Perlukah Saya untuk melapor kepada Tuan besar dan Nyonya, Tuan muda?" Nani menggeleng, dengan menarik lengan Phuwin, Mereka mulai melangkah keluar.
Hari ini rasanya Nani sangat ingin makan ramen.
Diperjalanan, ponsel Phuwin bergetar. Satu telpon masuk dan segera diangkat dengan cepat oleh Phuwin.
"Hallo Phu, gimana kabarnya?" Phuwin mendengus, jika diceritakan tentu saja tidak baik-baik saja.
"Aku oke kok Abang, Ada apa?" Phuwin malas berbasa basi.
Sedangkan seseorang itu tertawa diseberang sana.
"Abang akan pulang, tapi Abang ada urusan penting jadi nggak bisa ketemu kamu. Kamu nggak apa-apa kan?" Memutar bola matanya, Phuwin akhirnya menjawab.
"Terserah, kau pergi saja tidak pamit padaku. Harusnya Abang paham kalau aku itu masih marah. Tapi jangan khawatir, aku aman bersama temanku, kami tinggal berdua." Penjelasan Phuwin membuat kening si penelpon berkerut.
"Kamu tinggal bersama siapa? Jangan gegabah." Phuwin ingin marah, jika tanpa Nani mungkin dirinya sudah hancur, tapi kakak kesayangannya ini malah mencurigai sahabatnya itu.
"Tenang saja dia orang yang sangatttttt baik sekaliiii, sudah dulu kami sudah sampai ditempat makan. Abang jangan lupa makan makanan yang bergizi, dan vitamin mu yang seabrek itu juga harus kau minum. Mengerti?" Phuwin memang akan menjadi cerewet saat bersama orang-orang terkasih nya, Nani tentu menjadi salah satunya selain keluarganya.
"Baiklah, Hubungi Abang jika kamu dapat masalah atau perlu bantuan. Jangan sungkan untuk merepotkan Abang mu ini ya adik kecil. Makan yang banyak, dan terakhir tolong sampaikan salam dan terimakasih ku pada teman mu itu. Yasudah Abang tutup kalau begitu. I love you adik kecil." Senyum manis tersungging di bibir Phuwin. Pipinya terasa memerah karna ucapan cinta yang diucapkan kakak kesayangannya itu.
"Love you too Abang." Dan panggilan diputus oleh si penelpon, seakan memang masih menunggu balasan ucapan cinta dari adiknya tadi.
"Aku baru tau kalau kau memiliki kakak." Nani berjalan pelan disebelah Phuwin, mereka sedang masuk kedalam restoran jepang favorit Phuwin. Mereka seakan serempak menginginkan Ramen.
"Ahh maaf, karna memang dia jarang ada disini makanya aku lupa menceritakan soalnya padamu. Jangan marah okeeee." Nani hanya mengangguk saja.
Nani sudah tau jika Phuwin adalah putra dari seorang perancang busana papan atas, ayahnya pemilik perusahaan otomotif yang produknya sangat digandrungi khalayak muda. Selain merancang busana, ibu Beomgyu juga seorang pewaris saham tunggal dari sekolah elit yang ditempati mereka. Benar sekolah itu milik ibunya Phuwin, dan Ayah Nani adalah sah satu pemegang saham disana.
"Ayo pilih dan segera pulang, sepertinya akan turun hujan."
Musim penghujan sepertinya sudah mulai menyapa, sedari kemarin insensitasnya mulai teratur. Nani hanya bisa berharap saat melahirkan nanti tidak dalam keadaan Hujan, sebab dirinya takut guntur dan petir.
Usia kehamilan mereka sudah memasuki masa masa risiko tahap akhir, tinggal menghitung Minggu bahkan hari sebelum bayi mereka lahir. Nani tidak tau mereka akan melahirkan secara bersamaan atau malah tidak, karna kan jika usia kandungannya sama, belum tentu kelahirannya juga bisa sama.
"Aaaa begah banget rasanya. Nani, Phu malas sekolah." Sedari tadi Phuwin mengeluh dan merengek tidak ingin pergi sekolah, Phu juga merasa jika perutnya sesekali mengencang dan bayinya akan bergerak aktif, membuat Phuwin merasa tidak nyaman karna terasa sakit.
Tapi Nani meyakinkan Phuwin kalo itu mungkin karna efek stres menghadapi ujian hari terakhir. Benar mereka sedang melakukan Ujian untuk menentukan lulus tidaknya mereka pada jenjang ini.
"Kita harus sekolah, Hari ini hari terakhir ujian. Semangat. Setelah ini kita bisa fokus mempersiapkan mental untuk kelahiran bayi kita." Dengan lemas dan raut wajah lesu Phuwin akhirnya mengangguk.
Mereka sepakat berangkat menggunakan Taksi.
Jam ujian berjalan lancar, tinggal satu mata pelajaran kemudian semua selesai.
Phuwin bergerak gelisah, perutnya terus terasa sakit sejak tadi. Rasa sakitnya terasa berbeda, seperti ada dorongan yang membuat dirinya ingin sekali mengejan. Tapi tentu Phuwin tidak boleh melakukan itu.
Dengan mencengkram perut buncit yang dilapisi korset, Phuwin mencoba kembali untuk fokus mengerjakan soalnya.
Jika Phuwin sudah merasakan kontraksi, Nani sedang merasakan rasa mual. Entah kenapa tubuhnya seakan lemas hari ini. Nani juga terus merasakan keram pada bagian bawah perutnya.
Jika Phuwin tetap bisa memakai seragam dengan size yang sama seperti biasanya, berbeda dengan Nani yang harus menaikan size seragamnya.
Awalnya Nani mengenakan ukuran M tapi sekarang dirinya mengenakan ukuran XL. Padahal sudah dibalut tiga lapis korset, tapi tetap saja masih terlihat buncit jika Nani memaksakan untuk memakai seragam lamanya.
Nani juga jadi lebih sering duduk dengan bungkuk untuk sedikit menyamarkan kehamilannya.
Wajar saja perut Nani terlihat lebih besar karna dirinya mengandung anak kembar 3. Berbeda dengan Phu yang hanya memiliki satu bayi.
Sambil mengerjakan soal, sesekali Nani akan mengelus perutnya dengan lembut, seakan berbisik untuk memerintahkan para bayinya tetap tenang dan diam didalam sana. Seakan mengerti, rasa keram itu berangsur menghilang.
Bel berbunyi dan kertas soal beserta lembar jawab harus segera diserahkan pada guru pengawas. Nani berbalik, melihat Phuwin yang hanya duduk. Kertas soal dan lembar jawaban masih ada dikedua tangannya. Dengan segera Nani datang menghampiri dan membawa dua kertas tadi untuk diserahkan pada guru pengawas.
Setelah diserahkan, Nani kembali menghampiri Phuwin yang tampak kesakitan.
"Kenapa?" Nani bertanya pelan, sebab masih ada guru pengawas yang sedang memasukkan semua kertasnya kedalam dua amplop coklat yang berbeda. Saat pengawas itu pergi, Phuwin mulai bicara.
"Sepertinya bayinya akan lahir. Sakit sekali. Dibawa sana rasa tekanan membuat aku tidak nyaman dan sangat ingin mengejan. Ayo kita pulang Nani." Nani mengangguk dan segera membantu Phuwin untuk bangkit.
Baru setengah perjalanan, tapi mereka dicegat oleh beberapa orang, 4 pria dan 2 wanita. Mereka menyeret Nnai dan Phuwin. Membawa mereka berdua kedalam ruang janitor. Nani bahkan sampai menjatuhkan tas selempang nya karna mencoba memberontak dari tarikan mereka.
Sedangkan Phuwin hanya bisa pasrah. Rasa ingin mengejan itu kembali hadir, membuat dirinya meringis dan hanya bisa pasrah.
Seperti biasa mereka dikurung disana. Ruang Janitor. Beruntung ruang janitor sekolah mereka berukuran sedikit besar dan bersih. Ada matras olahraga juga disana.
Maka Nani segera membawa Phuwin untuk merebahkan dirinya disana. Lampu ruangan menyala meskipun ini siang hari, soalnya ruang janitor tidak memiliki pencahayaan sama sekali. Ruang ini juga tidak memiliki fentilasi udara. Beruntung ruangan ini luas sehingga tidak terasa sesak dan pengap.
"Euhhh. Sakit,,,," Phuwin mengerang. Tangannya mencengkram perut dengan kencang. Menyalurkan rasa sakit yang dideritanya, seakan berharap jika melakukan hal itu rasa sakit akan sedikit berkurang.
Nani mulai mengecek satu persatu laci dan lemari disana. Beruntung dirinya menemukan 3 selimut, dan kotak P3K yang isinya lengkap, bahkan ada gunting steril juga didalamnya. Nani juga menemukan 2 kain putih yang bisa digunakan untuk membungkus bayi saat lahir nanti.
"Sakit sekali Nani,,, uhhh,, AWWWWWWW." Phuwin berteriak membuat Nani segera kembali menghampirinya.
"Aku akan buka celana seragam mu ya, aku harus memastikan terlebih dahulu pembukaannya." Phuwin mengangguk frustasi, dia sudah mulai terisak.
"Yaa, cepatlah aku sudah tidak kuat menahan ejanan. Ahhhh." Phuwin kembali mendesah. Kontraksinya seakan tidak berhenti.
Dengan kesusahan Nani membantu melepaskan celana seragam Phuwin, tentu saja juga dengan dalaman dan kancing kemejanya sekolah. Nani juga berniat akan membuka korset Phuwin juga agar sahabatnya itu jauh lebih nyaman.
Setelah selesai, Nani melebarkan kaki Phuwin selebar mungkin. Ternyata sudah hampir bukaan penuh. Nani takjub Phu bisa menahannya sangat baik, jika itu dirinya mungkin Nani sudah ketahuan.
"Hampir penuh Phu, saat ketuban pecah mungkin kamu bisa mulai mendorong." Nani mengusap perut keras Phuwin dengan lembut. Tendangan tendangan kecil bisa Nani rasakan.
"Ahhhhh,,,, ituh sudah. Ouhhh,, Sudah pecah. ARGHHHHHHHH." Phuwin mulai mengejan.
Ejanan pertama tidak terlihat apapun.
Kepala bayi masih terlalu jauh dari jalur kelahirannya. Tapi entah mengapa melihat Phuwin yang mulai mengejan, membuat Nani menjadi tidak nyaman. Seakan tubuhnya ingin melakukan hal yang sama juga.
Disela-sela Ejanan Phuwin, Nani menarik seragam sekolahnya yang masih rapih masuk kedalam celananya. Menariknya dan menyingkapnya keatas, serta mulai membuka lapisan korset pertama. Dirinya merasa sesak tiba-tiba.
"HEUNGGHHHHH,,,,, Ahhh ini sakit sekaliiii,,,, HEUNGGHHHH." Phuwin terus mengejan, Nani terus mengawasi sambil terus membuka korset yang dikenakannya.
"Sakit Nii, aku gak kuat." Phuwin menangis sesenggukan. Nani menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. Membiarkan dua korset masih membelit perutnya.
"Kau bisa, kau hebat sudah bertahan sejauh ini. Saat bayinya lahir rasa sakit itu akan hilang. Ada aku disini yang akan membantumu sampai bayi lahir. Ayo mengejan lagi." Dengan menggenggam tangan Nani erat, Phuwin kembali mengejan kuat.
"ARGHHHHHHHH,,,, AYO KELUAR BAYIIIII,,, ARGHHHHHHHH."
Ejanan yang diberikan Phuwin tidak bisa membuat kepala bayi keluar, dia hanya menyembul dan kembali masuk saat ejanan berhenti.
"Tarik nafas dan mengejan kuat, kepala bayinya akan kembali masuk kalau kamu tidak mengejan dengan kuat. Ayo kamu pasti bisa." Nani terus memberikan support untuk sahabatnya.
"EUGHHHHNNNNNNNN,,,, ARGHHHHHHHH, HUHH HUH HUH,,,, SAKITTTTTT." Saat Phuwin mengejan, Nani juga refleks ikut mengejan.
Tapi seakan kembali tersadar Nani berhenti melakukan ejanannya.
Kepala bayi Phuwin berhasil keluar sedikit, setidaknya tidak kembali masuk.
"Sudah keluar sedikit, ayo kau bisa Phu." Mendengar Nani mengatakan jika kepala bayinya tidak kembali masuk membuat Phuwin mengangguk dan kembali menarik napas.
"Awwwwwwwwww, ARGHHHHHHHH." Ejanan kuat diberikan membuat kepala bayi semakin turun. Tinggal sedikit lagi kepalanya akan keluar sepenuhnya.
"Sedikit lagi Phu, ayo kau bisa." Phuwin menggeleng lemah. Keringat membasahi kening dan sebagian rambut sampai ke punggung. Dirinya sudah tak kuat.
"Gak bisa, ini sakit. Heunggh." Ejanan lemah diberikan Phuwin, kepala bayi belum bisa keluar seutuhnya.
Tidak kehabisan ide, Nani membawa jemari Phuwin untuk menyentuh kepala bayi yang sudah sebagian keluar itu.
"Kau bisa merasakannya kan? Sedikit lagi bayi akan terlahir. Kau kuat, kau pasti bisa." tindakan Nani membuat Phuwin kembali semangat.
Perjuangannya sudah sejauh ini, tidak mungkin untuk menyerah.
Sambil memegang kepala bayinya, Phuwin mencoba mengejan kuat. Tubuhnya terangkat untuk memberikan dorongan yang semakin maksimal.
"HEUNGGHHHHHHHHHHH." Ejanan panjang itu berhasil membawa kepala bayi terlahir seluruhnya.
Tinggal badan dan kaki bayinya.
"Dia sudah disini Nani. Dia sudah setengah jalan." Phuwin menangis haru, perjuangannya tidak sia-sia.
Nani tersenyum, tangannya mengecek posisi kepala bayi, takutnya terdapat lilitan tali pusat yang bisa membahayakan keselamatan bayi dan Phuwin sendiri.
"Bagus Phu, kamu hebat. Tidak ada lilitan jadi saat terasa kontraksi kamu bisa kembali mengejan." Dengan cekatan Nani mencoba merenggangkan jalur lahir Phuwin.
Ada sedikit robekan pada hole nya. Mungkin sobek saat kepala bayi keluar sepenuhnya.
"Aku akan bantu melebarkan jalur lahirnya, jadi saat kontraksi mengejan dengan kuat, mengerti?" Anggukan menjadi jawaban pertanyaan Nani.
"HEUNGGHHHHH,,,,, AHHHHHHHH,,, BABY NYA DATANG,,,, AAAAAAAA NANIIIII." Jeritan itu berhasil membawa tubuh bayi lahir seluruhnya.
Phuwin menangis bersamaan dengan tangisan bayi nya yang nyaring. Bayi itu perempuan, cantik dan bersih. Hanya ada sedikit noda darah menguasai kulit putihnya.
Dibaringkan bayi itu diatas kain putih dan dada Phuwin. Nani bernafas lega, tinggal plasentanya maka mereka bisa keluar dari sini.
Seakan teringat, Phuwin mencari keberadaan tas miliknya. Oh ada didekat pintu, lumayan agak jauh dari posisi matras.
"Nii bisa tolong ambilkan tas milikku? Aku harus menghubungi kakak ku untuk membantu kita keluar dari sini." Nani mengangguk.
Dengan bertumpu pada meja, Nani Mecoba bangkit. Satu desahan lolos begitu saja.
Mendengar Nani mendesah membuat Phuwin khawatir.
"Kamu kontraksi juga Nii?" Phuwin takut jika iya.
Berbeda dengan Nani yang paham soal melahirkan dan membantu melahirkan, Phuwin tidak bisa melakukan semua itu. Phuwin takut kalau Nani melahirkan sekarang nanti dirinya tidak bisa melakukan apapun.
"Tidak Phu." Nani berjalan mendekati pintu, saat tangannya sudah menyentuh tas, lampu padam. Membuat semua ruangan gelap gulita.
Nani tidak bisa melihat apapun.
Dengan insting, dirinya mulai berjalan lurus, tapi sayang Nani tersandung kaki meja. Membuat Nani jatuh tersungkur. Perutnya yang masih terlapisi korset dan seragam sekolah menghantam lantai putih ruang janitor.
"ARGHHHHHHHH." Nani mengerang kesakitan. Tapi Nani tetap terus bergerak, dengan cara merangkak.
Nani merasakan ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhnya, jemarinya mencoba untuk meraba. Nani menyentuhnya dengan tangan gemetar. Licin dan lengket, didekatkan lengannya pada indera penciumannya. Bau amis darah langsung tercium.
Nani mengalami pendarahan.
Setelahnya rasa sakit kembali datang. Dengan kekuatan yang tak seberapa, Nani kembali merangkak menuju Phuwin. Menyerahkan tas hitam itu pada pemiliknya.
"Shhhh,,, ini Phu. Cepat,,,, ah minta bantuan." Suara Nani bergetar, dirinya takut untuk melahirkan secara normal. Ada 3 bayi yang harus dirinya lahirkan.
Ini tidak masuk dalam rencananya. Seharusnya Nani melahirkan dengan cara Cesar bukan Normal seperti ini. Phuwin merogoh tasnya dengan cepat, mengobrak abrik mencari benda pipih pintar miliknya. Saat sudah menemukannya, Phuwin segera menekan tombol darurat 1. Itu adalah nomor kontak Kakak kesayangannya.
Dering terdengar, Phuwin sedikit gelisah. Rasa ingin mengejan kembali datang.
"Haloo,, ada apa Phu?" Sapaan terdengar disana.
Phuwin segera memijit ikon loud speaker agar masih bisa mendengar suara kakaknya. Phuwin harus segera kembali mengejan.
"Abang tolong, hahh,,, EUNGHHHHHHHHHHH." Phuwin kembali mengejan. Mendengar suara ejanan membuat si penerima telpon diseberang sana panik.
"Kamu kenapa dek? Kamu dimana? Cepat beritahu Abang." Panik itu bukan hanya dirasakan seseorang diseberang sana, Nani juga ikut panik, meskipun kondisinya tidak baik-baik saja. Nani akan membuat Phuwin melahirkan plasentanya.
"Mengejan Phu, aku akan coba bantu tarik. Kalau plasentanya tidak segera keluar takutnya malah terjadi pendarahan." Mendengar seseorang yang bersama adiknya berbicara, membuat si pria dewasa itu semakin panik.
"Apa tadi? Plasenta? PHUWIN, KAMU MELAHIRKAN? CEPAT BERIKAN LOKASI MU SEKARANG." Seseorang itu berteriak panik. Nani mengambil alih pembicaraan.
"Hei, tolong kirim ambulance ke sekolah kami secepat mungkin, kami ada didalam ruang janitor lantai dasar. Letaknya bersebelahan dengan toilet laki-laki. Cepatlah kalau bisa." Tanpa bertanya si pria dewasa segera menyuruh supirnya berhenti.
Memerintahkannya untuk memanggil Ambulance.
Sedangkan si pria tadi terus mendengarkan percakapan adik bungsunya bersama sang teman.
Sayup sayup terdengar tangis bayi dan erangan kesakitan.
"Sedikit lagi Phu. Mengejan lah" Phuwin mengejan, Nani menariknya, sehingga plasenta terlahir utuh.
"Putar arah ke sekolah Phuwin, Pak CEPAT!!!!." Posisi dirinya saat ini memang tidak terlalu jauh dari sekolah adiknya.
Mungkin butuh 5 menit dengan kecepatan penuh.
"Hufhhhhhh. Huh huh huh,,,, Arhhhhggg." Nani terengah-engah. Rasa sakit
kontraksinya mulai konsisten dirasakan.
Perutnya juga terasa keras dan tegang. Entah kesialan apaan lagi, suara guntur mulai terdengar, membuat Nani berteriak ketakutan sambil menutup kedua telinganya.
"TIDAK, JANGAN HUJAN KUMOHON. DADDY NII TAKUT. TOLONG NII MOMMY. LEO TOLONG." Nani terus berteriak, rasa sakitnya tertutup oleh rasa takut akan trauma miliknya.
Nani hampir mati saat guntur dan hujan turun. Saat itu dirinya sedang bermain di taman. Maid sedang kembali kerumah yang letaknya tidak jauh dari taman komplek perumahan elit itu. Hujan deras datang membuat Nani terkejut sehingga membuat dirinya terjatuh dari atas perosotan.
Kakinya patah, kepala terbentur lantai tembok dan darah segar mulai menggenang. Kilatan petir saling bersahutan seakan menunggu ajalnya datang. Nani sudah pasrah, tapi untungnya Maid segera menyelamatkannya.
Hari itu Nani trauma dengan yang namanya hujan dan guntur.
Pria itu berlari menuju lokasi yang dijelaskan oleh teman adiknya, dia sampai lebih cepat 1 menit dari perkiraan waktu tempuhnya.
Tanpa takut pakaiannya basah, pria itu menerobos hujan dan terus berlari.
Saat tiba didepan pintu yang dimaksud, dia berteriak. Menyuruh adik dan temannya untuk menjauh dari pintu.
Satu kali dobrakan dan pintu itu berhasil terbuka lebar. Bau amis darah, tangisan bayi dan rintihan kesakitan mulai memasuki indera milik pria itu. Tentu saja itu membuat Nani mendongak.
Nani hafal betul siapa pria yang berdiri diambang pintu dengan keadaan kacau dan basah kuyup. Dia adalah pria kurang ajar yang memperkosanya 9 bulan lalu. Tak jauh berbeda, pria itu juga kaget menemukan seseorang yang selama 9 bulan ini selalu menghantui pikirannya, pemuda yang selama 2 bulan ini selalu dirinya cari sampai ke penjuru kota sekalipun. Dan akhirnya takdir berpihak padanya. Mereka dipertemukan.
"Awwww." Nani kembali meringis, lengannya mencengkram perut buncit yang sudah mengeras seperti batu, ada bercak darah diatas seragamnya, tercetak akibat remasan dari tangan yang tadi mengecek lelehan darah yang keluar dari jalur kelahiran.
"Ya Tuhan!!." Pria itu berlari mendekat.
Mengecek keadaan Nani dengan lengan gemetar. Pria yang tanpa sengaja dirinya setubuhi itu hamil dan akan melahirkan. Bagaimana ini? Pria itu bahkan lupa dengan keadaan adiknya. Pusat dunianya seakan ada pada Nani yang sedang mencoba untuk mengejan.
"Jangan mengejan dulu. Namaku Sky, Aku akan cek pembukaannya. Pegang tanganku, jika sakit remas saja, atau jika perlu kau bisa gigit bahuku." Dengan cekatan Pria yang bernama Sky itu menggunting celana yang Nani kenakan. Akan sangat lama jika dibuka secara manual.
Saat sudah tak ada kain yang menutupi, Sky tertegun. Pendarahannya parah, sedangkan pembukaan baru dua centi meter.
"Sakithh." Nani menangis sambil mencoba memeluk lengan pria dewasa didepannya. Menyalurkan rasa sakit dan takutnya secara bersamaan. Dirinya takut gagal. Ada tiga nyawa yang harus Nani lahirkan.
"Apakah Ambulance nya masih lama Abang?" Phuwin bertanya. Dirinya sedang menyusui bayi mungil miliknya. Seakan tersadar, Sky mulai melirik Adiknya. Matanya terpejam. Harus mengatakan apa dirinya pada ibu dan ayahnya, nanti? Belum lagi Sky juga harus menjelaskan soal Nani yang akan melahirkan anaknya.
"Hikss, sakit. EUGHH,, mual." Nani ingin muntah, rasanya mulutnya terasa pahit sekali. Mengerti dengan tanda yang diberikan Nani, Sky menadahkan satu tangannya untuk menampung muntahan Nani. Tapi Nani menggeleng, Nani lebih memilih membekap mulutnya sendiri, menahan muntahan agar tidak keluar.
"Tak apa, muntahkan saja, itu bisa dicuci nanti. Atau kamu bisa muntah di bajuku." Sky membawa Nani dalam pangkuannya, memeluk tubuh Nani dengan erat. Nani yang memang sudah tak kuat menahan mual tentu saja memuntahkan muntahannya pada dada bidang Sky.
"Uhuk uhuk." Nani terbatuk-batuk setelahnya, dengan lembut Sky menepuk nepuk punggungnya, Nani kembali meringis dan kemudian menangis. "Sakithh.. Huhh Sesakh" Rintihannya lemah.
Seakan tersadar masih ada Korset yang membalut perut pria yang akan melahirkan anaknya itu, Sky dengan satu tangan mencoba untuk melepaskannya. Meskipun kesulitan tapi Sky berhasil melepaskan kedua korset itu.
Setelah korset terlepas, Sky bisa melihat perut buncit itu dengan jelas sekarang. Diusapnya lembur perut buncit itu, membuat Nani sedikit meringis.
"Maaf." Sky berucap lembut.
Nani sudah tak memiliki tenaga. Tubuhnya lemas dalam dekapan hangat Sky.
"Ambulance akan segera datang, tahan sebentar ya. Aku disini akan menemanimu melahirkan anak kita." Sky berucap penuh kelembutan. Biasanya Sky hanya seperti itu pada Phuwin dan ibu mereka saja. Tapi lihat, pada Nani juga Sky melakukan hal yang sama.
Maklum saja Sky sudah mulai mencintai Nani saat pelepasan pertamanya. Nani terlihat cantik dibawah kungkungan nya malam itu.
"Bayi jangan terlalu membuat Papa sakit oke, keluar dengan perlahan, Ayah akan menemani kalian." Lengan lebar Sky mengusap perut Nani yang terasa keras seperti batu itu. Dielusnya dengan lembut sehingga membuat Nani lebih rileks.
Nnai menjadi mengantuk. Melihat Nani yang kelelahan dan seperti mengantuk, Sky berbisik pelan.
"Tidurlah sebentar, aku akan menjagamu dan anak kita."
Tak lama Nani mulai terlelap.
Pembukaan nya masih jauh dari kata lengkap, Pendarahannya juga sepertinya sudah berhenti. Jadi Sky membiarkan Nani untuk istirahat, Nani sudah membantu adiknya melahirkan, akan butuh tenaga besar saat melahirkan nanti. Jadi Nani pasti butuh energi.
"Namanya Nani Hirunkit. Dia teman pertama dan teman terbaik yang aku miliki. Malam itu kami berdua mengalami pemerkosaan, aku tak menyangka orang yang memperkosa Nani itu adalah kakak ku sendiri. Kau tau Bang? Nani hampir saja menggugurkan bayi kalian saat dia tau kalau sedang mengandung 3 bayi sekaligus. Tapi Nani berubah fikiran. Akhirnya kami berdua saling menjaga satu sama lain. Nani lebih sering menjaga aku dari orang-orang jahat yang selalu mencoba menyakiti kami. Nani juga yang selalu menenangkan aku saat aku kalut, dan Nani pula yang membantu aku melahirkan ditengah rasa sakitnya akibat pendarahan yang terjadi karna tersandung kaki meja. Nani adalah super hero untukku." Phuwin berhenti bercerita, matanya berkaca-kaca.
"Aku senang karna Bayi yang Nani kandung adalah darah daging kakakku, yang berarti adalah keponakanku. Tapi kenapa kau kabur? Kenapa tidak mencari Nani? Kami berdua mengalami banyak penderitaan. Nani selalu mengalah saat dirinya ingin sesuatu, tapi akan melakukan apapun saat aku ingin sesuatu. Haya Leo, Bodyguard Nani yang bisa kita andalkan, tapi Leo sebulan lalu kecelakaan dan meninggal dunia. Kami belajar banyak hal, tapi hanya Nani yang paham dan menguasainya. Aku bahkan sempat tidak ingin membantu Nani melahirkan karna takut. Beruntung sekali ada Abang disini." Sky mengencangkan pelukannya pada Nani.
Memberikan banyak kecupan pada puncuk kepala si manis. "Abang nggak kabur, pagi itu Nani udah nggak ada. Abang udah coba cari, cek CCTV kemana dia pergi tapi nggak berhasil. Abang seminggu itu selalu cari tapi nihil. Abang cinta banget sama Nani dek, Abang gak pernah bisa lupain malam itu. Setelah seminggu, Papa nyuruh Abang pulang, dan ambil alih perusahaan. Tapi Dua bulan ini Abang balik lagi buat terus cari Nani. Semua udah coba Abang lakuin tapi nggak ada hasil. Abang gak tau namanya siapa, alamatnya dimana, yang Abang punya itu cuma ingatan wajah cantiknya. Mencari dengan ciri-ciri juga percuma saja, tidak mendapatkan hasil. Abang bahkan juga sudah menyewa jasa lukis orang, tapi tidak berhasil. Entahlah mungkin ini takdir atau apa, Akhirnya Abang bisa menemukannya." Sky mengusap punggung Nani yang menggigil.
Menenangkan si manis agar kembali tidur dengan nyenyak. Sirene Ambulance berbunyi nyaring.
Sekolah sudah sepi karna jam mengajar sudah berlalu 3 jam yang lalu. Itu juga menandakan bahwa mereka berdua sudah terjebak didalam sana selama 3 jam.
Dengan bergegas para petugas medis segera membantu Phuwin dan bayinya bangkit untuk segera dipindahkan pada tandu. Saat para petugas akan membawa Nani, Sky menolak dengan tegas.
"Aku saja, karna aku suaminya." Phuwin terbelalak, suami? Cih dasar posesif. Belum menikah saja sudah mengaku sebagai suaminya.
Phuwin menatap Nani dengan pandangan kasihan.
"Hidupmu akan jauh penuh drama setelah ini Nii, semoga kau kuat menghadapi manusia menyebalkan itu."
Nani dibaringkan diatas brangkar yang tersedia didalam ambulance, sedangkan Sky tentu saja duduk disamping si manis, sambil terus menggenggam lengan Nani dengan lembut, memberitahukan bahwa dirinya tetap ada dan akan menemani sampai akhir.
Phuwin sendiri dia ditemani satu petugas medis mengunakan mobil pribadi milik Sky. Tidak ada cukup ruang untuk membawa dua pasien dalam satu mobil Ambulance.
Ditengah perjalan Nani terbangun akibat rasa sakit yang didera nya. Pembukaan sudah bertambah lebar, itu juga membuat pendarahannya kembali terjadi.
"ARGHHHHHHHH." Nani mengerang kesakitan. Tangannya mencengkram apapun yang ada disekelilingnya. Sky sedikit meringis merasakan sakit akibat cengkraman kuat yang Nani berikan.
Petugas medis segera memeriksa. Dengan cekatan melebarkan kaki Nani agar bisa melihat dengan jelas jalur kelahirannya. Petugas juga sesekali menekan perut buncit Nnai untuk memeriksa apakah tekanan akan memperparah pendarahan atau tidak, dan ternyata iya.
Darah segar semakin banyak keluar saat perut buncit itu ditekan.
"Heunggh." Haechan melenguh saat ada jari jemari yang masuk kedalam jalur kelahiran, petugas wanita itu sedang mengecek sudah sebesar apa jalur itu terbuka.
"Pembukaan 4." Jari jemarinya dikeluarkan saat sudah melaporkan apa yang baru saja dirinya periksa. Setelah itu menutup jalur yang masih terus mengeluarkan darah dengan tisu medis. Mencoba menghalau agar tidak ada terlalu banyak darah yang kembali keluar.
Merasakan tekanan itu Nani kembali menangis."Sakitttt,,,, hiks." Sky tidak bisa berbuat banyak. Dirinya hanya bisa memberikan kecupan kecupan kecil pada jari jemari Nani yang menggenggam tangannya dengan kuat.
"Kamu kuat Nani. Bertahanlah sebentar lagi ya sayang." Entah keberanian dari mana, Sky reflek mengucapkan kata sayang yang dilontarkan untuk Nani. Tapi Nani tidak menolak panggilan itu, malah dirinya merasa senang karna diakui.
Selama perjalanan Nani terus menerus mengerang dan menangis. Rasa sakit itu tidak pernah hilang, malah semakin bertambah saja. Pembukaan juga berjalan begitu cepat. Padahal ini adalah kehamilan dan kelahiran pertama, tapi prosesnya secepat kilat.
Rasa ingin mendorong semakin kuat, tentu saja pembukaan sudah cukup lebar, 8 centi meter. Ketubannya juga sudah pecah. Tapi petugas selalu melarang Nani untuk mengejan. Jika seperti ini sudah sangat mustahil untuk melakukan operasi Caesar.
"Tapi aku ingin operasi, aku tidak akan sanggup melahirkan 3 bayi." Nani merengek. Tenaganya tidak sebesar itu.
"Kamu pasti bisa, kamu kuat sayang." Sky terus menyemangati Nani. Nani terus merancau jika kepala bayinya terus mendorong.
"Sudah di ujung,,, aku ingin mendorong,,, ughhhhh,,, HEUNGGHH." Melihat Nani mengejan, petugas itu segera memposisikan diri, dan benar kelapa bayi mulai keluar sedikit dan kembali masuk saat ejanan berhenti.
"Teruslah mengejan, bayi pertama kalian sepertinya sudah tak sabar ingin bertemu." Menarik nafas, Nani kembali mengejan. Sky terus berdoa, dirinya takut. Dirinya tidak ingin kehilangan Naninya lagi.
"Kau bisa sayang, kau kuat." Suara Sky bergetar. Nani ingin tertawa karna melihat pria dewasa itu yang sedang menahan air mata, tapi rasa sakit dan ingin mengejan tidak memperbolehkannya.
"HEUNGGHHHHHHHHHHH." Ejanan kuat dan panjang berhasil melahirkan bayi seutuhnya, tidak hanya kepala saja, tubuh bayi meluncur dengan mulus.
Bayi itu dipenuhi noda darah. Tangisan pertama terdengar lemah. "Kau hebat Nani."
Sky bangkit memeluk tubuh Nani yang masih berbaring diatas brangkar. Pria dewasa itu menangis haru. Bayinya telah lahir. Anak pertamanya terlahir sehat.
"Laki-laki tuan." Petugas itu membaringkan bayi yang sudah sedikit bersih pada dada Nani.
"Kecil sekali. Halo kakak." Nani menyapa anak pertamanya. Sky juga melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian pintu belakang ambulance terbuka, menandakan mereka telah tiba di rumah sakit. Brangkar diturunkan dengan hati-hati, kemudian didorong cepat menuju kamar operasi.
Saat Nani akan dibawa masuk, Sky diperintahkan untuk menunggu diluar, tapi Nani menginginkan Sky tetap disampingnya, dan akhirnya mereka berdua masuk kedalam ruangan.
"Operasi saja ya Nani." Dokter Jimmy, berkata.
Sebab dirinya juga tidak ingin mengambil resiko.
Pasiennya masih berusia muda, dan akan beresiko jika harus melahirkan kembar 3 secara normal. Kalau dilihat dari catatan medis selama pemeriksaan dengan dokter Jimmy, ukuran dua bayi yang lain itu lebih besar dari bayi pertama yang sudah lahir.
Nani mengangguk, dirinya juga tidak ingin mengambil resiko. Mendapat anggukan, dokter Jimmy segera mempersiapkan peralatan bersama beberapa rekannya.
Nani memilih anastesi setengah badan. Dirinya masih ingin mendengar tangisan bayi saat mereka lahir. Sky berdiri dibelakang Nani, kain sudah dibentangkan sehingga pandang Nani dan Sky sudah tertutup. Sesekali Sky akan mengecup kening, pipi, mata, dan bahkan bibir Nani untuk menghilangkan kegugupan.
Sky gugup, tapi Nani terlihat santai. Nani menggenggam tangan Sky dengan lembut.
"Kenapa malah jadi kamu yang takut Ayah?"
Nani hanya ingin menggoda Sky dengan panggilan yang dirinya berikan itu, tapi itu malah membuat Sky menangis sesenggukan.
"Loh kok Ayahnya nangis. Nih anak tengahnya ganteng banget, matanya mirip banget Papanya." Bayi dengan bobot tubuh lebih besar dari si sulung dibaringkan diatas dada Nani. Bayi itu berkedip tapi tidak menangis. Bayi ini sangat tenang.
"Jangan menangis Ayah, kamu kalah dengan anakmu yang hebat ini. Ya nak, Ayah cengeng sekali kan ya." Nani membelai pipi tembam si tengah dengan sayang. Dikecupnya pipi putih mulus itu dengan lembut.
Sky yang merasa diejek oleh Nani dan anak tengahnya, bukannya merasa tersinggung, malah semakin kencang menangis.
"Ini, adalah tangisan haru tau,, hiks kau tega sekali mengejekku seperti itu, hiks, Nani." Tawa pecah didalam Ruangan operasi itu, membuat si tengah yang baru lahir terusik dan menangis.
"Ehhh, maafkan Ayah sayang, maaf yaa." Sky panik melihat anaknya menangis. Tubuhnya berubah menjadi ungu.
Sky takut karna tangisannya tadi, anaknya malah kenapa kenapa.
"Tak apa, ini normal. Ini fase Purple Crying." Kemudian dokter Jimmy menyelimuti tubuh bayi itu dengan selimut kecil.
"Usap-usap punggungnya agar cepat tenang." Meskipun butuh waktu lama, akhirnya si tengah kembali tenang.
Sky mengecup bibir Nani cepat, sungguh dirinya ingin kembali menangis.
"Jangan menangis lagi." Melihat pelototan Nani, Sky hanya bisa mengangguk lesu mengiyakan. Setelah si tengah tenang, tubuh berisinya diangkat untuk segera dibersihkan.
Dokter Jimmy juga sudah kembali pada tugasnya, membantu melahirkan bayi bungsu mereka. Jemari lentik Nani mengusap air mata yang menggenang dipelupuk mata beriris hitam legam itu.
"Tersenyumlah, sambut anak bungsu kita dengan senyuman manis dan penuh cinta." Sky mengangguk, kemudian mengecup seluruh permukaan wajah manis Nani.
"Nah lihat, si bungsu ini tampan dan terlihat paling besar dari kedua kakaknya." Dokter Jimmy kembali menaruh bayi bungsu diatas dada Papa nya. Bayi itu manangis keras.
Tapi kemudian tangisan terhenti saat Nani dan Sky menyambut kehadirannya dengan senyuman yang teramat manis. Bayi itu seakan tau bawa kehadirannya disambut dengan sangat baik.
"Lihat dia tersenyum. Si bungsu ini memiliki fitur wajah yang mirip dengan Ku, seperti Copy Paste." Benar, fitur wajah si bungsu sangat mirip dengan Sky, anak Sky banget. Jika si Sulung sangat mirip Nani, si tengah memiliki perpaduan keduanya, maka si bungsu adalah Sky kecil.
"Wah semuanya jagoan ya Nii, tapi kayaknya si sulung bakal kamu banget nih. Ayah dan adik-adik pasti akan protektif sekali pada si sulung." Sky tertawa dan kemudian mengangguk. Anak sulung mereka sudah pasti pria special sama seperti Papa nya.
"Jadi udah siapin nama buat mereka?" Nani bertanya pada Sky, yang ditanya tampak berpikir sebentar, kemudian mengangguk.
"Neona, Noah , Smyle"
Nani terdiam, terus tersenyum.
"Si sulung akan iri karena diberikan nama wanita." Sky tertawa, tapi memangnya kenapa? Toh si sulung memang terlihat sangat cantik dan manis.
"Setelah ini ayo kita menikah." Sky sudah bertekad, dirinya tidak ingin kehilangan lagi. Bukannya menjawab, Nani malah terdiam.
"Kenapa? Kamu nggak mau?" Baru saja Nani akan menjawab, ucapannya diinterupsi oleh dokter Jimmy.
"Pasien sudah selesai dibersihkan, sekarang pasien akan diantarkan keruangan rawat inap." Tak lama, brangkar didorong menuju ruang rawat inap yang telah Sky pesan.
Didalam ruangan sudah ada ranjang lain, Phuwin dan bayinya berada didalam ruangan yang sama dengan Nani nanti.
"Hai Nii, bagaimana keadaanmu?" Phuwin khawatir, sebab dirinya mendapatkan informasi dari perawat kalau saat Nani sampai bayi pertama sudah lahir.
"Aku Baik, Triples juga sehat kau tidak usah khawatir Phu. Oh iya siapa namanya?" Nani penasaran Phuwin akan memberikan nama apa pada anaknya.
"Brielle" Phuwin menjawab dengan nada lucu, seakan nama itu memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.
"Nama yang cantik. Triples juga sudah memiliki nama, Ayahnya yang memberikan mereka nama." Nani tersenyum cerah. Tapi percakapan itu diinterupsi dengan kedatangan banyak orang.
Disana Nani melihat kedua orangtuanya sedang berjalan cemas. Sepertinya mereka baru saja tiba.
"Anak nakal, aku menunggu lama agar kau bercerita pada Daddy tapi kau tetap bungkam, bahkan sampai saat cucuku akan lahir kau pun tak memberitahu. Kau harus mendapatkan hukuman." Juno menggeram kesal, tentu saja putra semata wayangnya merahasiakan semuanya sendirian.
Juno tau semuanya, tapi dirinya tetap menunggu sang anak bercerita, tapi tak pernah sama sekali . Saat berkirim kabar pun putranya tak pernah menyinggung apapun, selalu berkata kalau dirinya baik-baik saja.
"Oh jadi ini yang telah membuat anakku menjadi Papa muda? Cih bosan sekali aku jika harus bertemu lagi dengan si Samuel. Kenapa harus anak Samuel sih Nak?" Juno dan Samuel, keduanya adalah sahabat karib sejak Taman kanak-kanak, mereka tidak menyangka bahwa kedua anak mereka akan terlibat suatu kejadian yang membuat mereka akan semakin terikat.
"Bagus Bang, Ayah bangga sama kamu. Sekali jos, langsung 3." Samuel berjalan mendekat, menepuk punggung anak sulung nya bangga.
"Sialan kau, dasar si kantung hormon. Tak heran anakmu juga mengikuti jejakmu." Samuel merasa tak terima.
"Itu juga salah mu, kau memerintahkan asisten ku mencampurkan obat perangsang dalam air milikku, tapi naas malah putra pertamaku yang meminumnya. Ini sepertinya Karma insta ya Jun, hahaha." Samuel tertawa, sedangkan Juno menggeram marah.
Tapi jika difikirkan lagi, ucapan Samuel ternyata ada benarnya juga.
"Maafkan Daddy ya sayang." Akhirnya Juno memeluk tubuh anaknya dengan sayang.
"Besok kalian akan menikah." Anne yang tadi hanya menyaksikan suaminya dan teman kecilnya berdebat akhirnya angkat suara.
"Putra nakal ku itu harus segera bertanggung jawab, enak saja menanam benih tapi tidak bertanggung jawab. Aku tau kau akan membawa menantu dan ketiga cucuku Jun, makanya akan ku pastikan putra cantikmu itu tidak bisa pergi." Anne tersenyum sinis menatap Juno yang terlihat kesal.
"Suami istri sama saja. Turuti saja sayang, terus setelahnya kita membuat anak yang lain." Jean istri dari Juno akhirnya bersuara setelah sedari tadi hanya diam.
Nani memutar kedua bola matanya jengah. Ibunya selalu memberikan ancaman seperti itu setiap saat, tapi apa buktinya? Tidak pernah ada anak lain selain dirinya. Mungkin setelah ini mereka akan benar-benar membuat adik untuknya.
"Tidak boleh, anak kalian hanya aku seorang." Nani merajuk, itu membuat Juno kelimpungan. Putranya itu akan mendiamkan dirinya dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan.
"Cih, sudah menjadi Papa tapi masih merajuk, sana kau dengan calon suamimu saja. Ini suamiku." Drama baru lagi, Jean memang sangat senang sekali menggoda anak semata wayangnya itu. Dirinya sangat suka melihat ekspresi marah Nani, apalagi kalau sampai anaknya itu menangis.
"Tch!! Suami mu yang menyentuh ku sedari tadi, kenapa aku yang dimarahi sih." Mata Nani sudah mulai berkaca-kaca, Jean tentu saja semakin bersemangat untuk membuat anaknya menangis, tapi karna Sky tidak tega jika harus melihat Nani menangis, setelah calon suaminya itu tadi berjuang nyawa untuk melahirkan ketiga putranya, maka Sky segera memeluk tubuh kecil Nani.
"Mommy hanya bercanda, jangan menangis nanti sesak." Dalam dekapan Sky, Nani mengangguk kecil. Nani juga merasa nyaman, sebab Sky tidak hanya mendekap, tetapi juga mengusap punggung dan belakang kepalanya. Nani juga bisa merasakan kecupan-kecupan kecil yang Sky bubuhkan dipuncak kepalanya, bahkan Sky juga sempat mencium pipi dan daun telinganya.
Tuhan jika ini mimpi, tolong jangan pernah bangunkan aku dari mimpi indah ini, selamanya.
Tak lama Nani kemudian tertidur lelap dalam dekapan Sky, calon suaminya dan ayah dari anak-anaknya.
Yuhuuuu Cerita ke-2 udah rilis nihhh
Gimana buat yang ini? Suka gakkk?
Yokk jangan lupa kritik saran, komen, qrt, reply apapun itu biar aku semangat buat update