"Doa yang Kupanjatkan untuk Seseorang"
Ada seseorang yang namanya tak pernah kusebut di depan orang lain, namun selalu hadir dalam setiap doa yang kupanjatkan diam-diam. Bukan karena aku ingin memaksanya menjadi milikku, tetapi karena aku ingin ia selalu berada dalam lindungan Tuhan.
Setiap kali aku berdoa, aku menyebut namanya dalam hati. Aku memohon agar langkahnya selalu ringan, senyumnya tidak pernah pudar, dan hidupnya dipenuhi kebahagiaan, meski mungkin kebahagiaan itu tidak bersamaku. Doa untuk seseorang memang berbeda rasanya. Ada harapan yang diselipkan, cinta yang disamarkan, dan kerinduan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Doa itu menjadi jembatan antara aku dan dia, meski jarak memisahkan, meski keadaan belum mempertemukan.
Aku tahu, mungkin Tuhan punya rencana lain. Bisa jadi doa ini tidak menjadikannya dekat denganku, tetapi justru mendekatkannya kepada kebaikan. Bisa jadi doa ini tidak menjadikannya “kita”, tetapi membuatnya lebih bahagia dengan jalannya sendiri. Dan aku rela, sebab cinta yang tulus tidak selalu tentang memiliki, melainkan tentang menginginkan yang terbaik bagi orang yang kita sayangi, walau tanpa nama kita di sisinya.
Maka biarlah doa ini terus kupanjatkan, tanpa ia tahu dan tanpa ia dengar. Aku percaya, setiap doa yang tulus akan sampai, dan Tuhan akan menjaganya jauh lebih baik daripada aku mampu menjaganya. Doa yang kupanjatkan untuk seseorang bukan sekadar permintaan, tetapi juga sebuah ketenangan bahwa di dunia ini, aku pernah mencintai dengan cara paling sederhana: mendoakannya dalam diam












