Dia, Si yang selalu berputar dalam pikiran kelabu.
Malam, rindu, senyap, tak sunyi namun seolah sepi.
lagi - lagi si sialan kembali merasukin pikiran yang seolah tak mau berpaling, entah sudah berapa lama ia terperangkap dalam pikiranku, entah sudah kesekian kalinya ia menetap.
terkadang sebal aku dibuatnya karena harus menahan emosi ketika harus teringat tentangnya. mengingatnya adalah sebuah kesalahan menurutku, mengingatnya sama halnya dengan merobek - robek bekas luka operasiku.
tepat dua bulan lalu aku mengalami kecelakaan yang cukup parah dan mengakibatkan perlunya dilakukan tindakan yang cukup serius terhadap salah satu kakiku. kaki kiriku mengalami cidera yang cukup parah.
berawal pada malam itu, kabut yang cukup tebal menyelimuti perjalanan kami, perjalanan terakhir kami berdua sebagai sepasang kekasih. hubungan yang telah kami rajut beberapa tahun seolah sirna, tak lagi ada harganya.
perjalanan yang awalnya baik - baik saja, tanpa sedikit pun kesedihan berencana untuk hinggap. malam itu hanya milik kami berdua, prediksi kami saat itu bahagia enggan pergi dan akan hinggap sampai tak terbatas waktu, seperti tak terhingga. namun, prediksi hanyalah prediksi. ternyata prediksi kami salah.
ternyata kebahagiaan kami hanya sampai tiga perempat hari itu saja, tepat pukul 21.00 mobil yang kami kendarai mulai memasuki jalanan gelap yang semakin terjal, kabut semakin menyelimuti langit, menemani perjalanan malam kami. teringat sedikit pemberitahuan warga sekitar yang sudah memberi kami warning bahwa melewati jalan tersebut sangatlah tidak dianjurkan.
sedikit cekcok diawal mengawali kejadian malam itu. aku yang kurang berkenan untuk melanjutkan perjalanan tersebut mulai khawatir, perjalanan yang tadinya menyenangkan mulai menjadi mencekam dan akhirnya kejadian malam itu terjadi, kejadian yang seharunya bisa terhindarkan.
kebencianku terhadapnya timbul seketika kubuka mataku tiga hari kemudian, di RS Dr. Kariadi Semarang. rasa sakit semakin menjadi ketika ku tahu bahwa ia tak pernah menungguiku bahkan menanyakan keberadaanku setelah kejadian itu. dimana tanggung jawabnya setelah mengakibatkan semua kejadian ini, setelah menjadi segala penyebab rasa sakit ini.
dia menghilang, tak berkabar atau menanyakan kabarku. tak pernah ia lakukan, sempat aku menunggu sampai akhirnya tak lagi kutunggu hingga hari ini. Tepat dua bulan berlalu dari kejadian tersebut.
Semalam akhirnya kudapati sebuah surat yang tak pernah aku tunggu, sebuah kenyataan yang paling kuhindari. Tertera namanya, jelas. Tertulis pada judulnya SURAT KETERANGAN KEMATIAN.










