Cek Toko Sebelah : Belanja di ‘Toko Serba Ada’
“Eh tau gak dia jadinya kuliah di mana?”
“Di ****** (ceritanya sensor). Ambil psikologi.”
“Heh? Kok psikologi? Emang dia sukanya psikologi?”
“Ya nggak tau juga. Katanya sih yang penting kuliah, punya gelar sarjana dulu. Jurusan apa aja bebas, yang penting ada gelar. Toh ujung-ujungnya juga jaga toko punya nyokapnya. Tau kan lu, toko bajunya yang di Tanah Abang itu. Gede loh tokonya.”
Tenang-tenang, cuplikan dialog di atas bukan cuplikan dialog dari film yang baru aja saya tonton dan akan saya buat review nya sebentar lagi. Cuplikan dialog di atas adalah transkrip (cie transkrip) pembicaraan saya dengan salah seorang teman beberapa waktu yang lalu. Doi lagi cerita tentang salah seorang temennya yang ternyata adalah saudara sepupu jauh saya. (agak kayak FTV tapi ini beneran, I swear!) Kuliah mahal-mahal dan lama-lama tapi ujung-ujungnya nerusin bisnis keluarga. Jaga toko. Horang kayah.
Nah, fenomena seperti inilah yang ditangkap dengan jeli oleh Pak Ernest Prakasa (gak dipanggil ‘Koh’ karena konon katanya doi gak suka dipanggil demikian, gak dipanggil ‘Kakak’ karena doi lagi gak belanja di Mangga Dua, gak dipanggil ‘Om’ juga karena nanti malah disangka mau minta telolet). Isu sosial berbalut budaya etnis Cina inilah yang akhirnya jadi benang merah film keduanya, Cek Toko Sebelah.
Cerita film ini berpusat pada Koh Afuk, bapak beranak dua—masing-masing bernama Erwin dan Yohan—yang punya usaha toko kelontong. Istrinya, Cik Lili udah lama meninggal, dan Koh Afuk sekarang juga sakit-sakitan. Karena tau mungkin udah waktunya untuk pensiun, Koh Afuk memutuskan untuk mewariskan tokonya ke Erwin, anak bungsunya yang lulusan Sydney dan sebentar lagi akan kerja di Singapura. Yohan yang anak sulung kecewa, karena dia pengen banget nerusin toko, tapi gak dipercaya sama papanya sendiri. Sedangkan Erwin yang dipercaya sama papanya, justru gak mau dapet warisan toko. Ya iyalah, kuliah mahal-mahal, punya karier cemerlang, di-promote keluar negeri pula, tapi ujung-ujungnya malah nerusin toko, bo cuan lah.
Tone drama di film CTS ini agak ditambah dan lebih banyak daripada Ngenest, filmnya Pak Ernest yang sebelumnya. Tapi biar begitu, ini bukan drama yang ngebosenin dan norak, karena semua konfliknya bener-bener relate dengan kehidupan sehari-hari. Bagian serius di dramanya juga berkolaborasi dengan cukup baik sama komedinya. Jokes-jokes nya lengkap, mulai dari jokes garing nan receh ala becandaan om-om sampai jokes kekinian zaman sekarang, dan semuanya lucu. Iyalah ya namanya juga joke. Kalo gak lucu berarti itu joke motor. Atau joke mobil. Oke ini gak lucu beneran.
Kolaborasi antara drama dan komedi yang baik itu didukung dengan aktor dan stand up comedian yang bisa pas banget dengan karakter yang mereka perankan. Even karakter minor yang tampilnya sebentar pun bisa menghibur dengan porsi masing-masing. Paling ngakak di bagian geng capsa, they remind me to pray before do everything hahahaha, adegan pas KoHan-MbakYu nabrak supir taksi (bisa ditonton sendiri kenapa), juga pas Koh Afuk babbling in Hokkien accent, ngakak abis.
Kesan mendalam juga saya rasakan di chemistry Yohan-Ayu juga Koh Afuk-Cik Lili (walaupun yang ini sebentar dan cuma flashback doang, oke spoiler). Setiap liat kedua pasangan itu selalu bikin saya senyum-senyum haru, maybe it’s because I can see a reflection of my dad and mom from them, I think. Reminds me to cherish everything in my life too, especially my family. Karena harta yang paling berharga adalah keluarga, kata Bu Sonya. Don’t take it for granted.
Oh iya, pendeskripsian karakter juga kondisi dari tokoh utamanya (terutama hubungan antara Koh Afuk-Cik Lili-Yohan-Ayu) ini detail banget dan bikin saya berkali-kali bergumam ‘oh iya juga yah’ atau ‘oh ternyata begitu’. Contohnya, Ayu yang kurang disuka sama Koh Afuk ternyata malah mewarisi sifat sabar dan kuatnya Cik Lili. Ayu juga seolah diciptakan hanya untuk Yohan, cie elah. (Dion Wiyoko and Adinia Wirasti are too cute, minta dipelukin banget dua-duanya hahaha, terutama Adinia Wirasti yang kalo minjem istilah musik, dia yang biasanya ‘main di kunci mayor’ sekarang tampil di ‘kunci minor’. Meski begitu ‘kunci minor’ pun tetep bisa menyumbang suara yang merdu. Walau perannya kecil, tapi tetep bisa ngasih kesan dan vibe yang manis, semanis nastar-nastar buatannya.)
Tapi sayangnya, perpindahan antara komedi dan dramanya agak kurang smooth. Baru pengen sedih, udah dibikin ngakak lagi, padahal kalau seandainya dikasih jeda sedikit sebelum masuk ke komedi lagi, mungkin akan lebih dapet feel dramanya. Juga penyelesaian konfliknya yang emang lucu sih, tapi kesannya agak maksa dan a bit weird, but that’s okay. Mungkin Pak Ernest ingin konsisten dengan jati diri karya-karyanya yang punya sense of comedy yang kuat, detail, dan memorable, jadi konflik juga harus diselesaikan dengan cara yang lucu pula. Karena hidup kadang harus ditertawakan, bro, begitu kata dia. Bravo Pak Ernest! Setelah Ngenest, film ini kembali mengingatkan saya kenapa duluuuuuuuuuu banget (biar kesannya karyanya udah banyak hahaha) saya memutuskan untuk suka dengan karya-karyamu. Saya yang sejak kecil dididik oleh keluarga untuk diam dan gak boleh ngomong sembarangan tentang etnis saya di depan orang banyak sekarang malah dikejutkan dengan karya-karyamu yang dengan lantang menyuarakan kegelisahan itu. At the first time I heard your jokes about ‘ada enci-enci di dalem mesin ATM’ and that ‘leging macan tutul’ thing, I was like, “Gila ini orang berani banget, gak takut dikeroyok massa apa yah?” Tapi ajaibnya semua itu bisa diterima dengan baik sama banyak orang, termasuk film ini yang gak menutup kemungkinan akan masuk ke Top 10 film dengan penonton terbanyak, I guess.
Jadi intinya, film ini ibarat toko beneran yang menjual banyak barang-barang dan pernak-pernik. Ada konflik antar keluarga, hubungan sama pacar juga suami atau istri, kebersamaan dengan sahabat, dinamika di dunia kerja, sampai isu pelecehan seksual yang umum terjadi tapi gak ada yang berani bersuara juga ditawarkan di toko ini. ‘Interior’ toko dipercantik dengan komedi, drama, bahkan soundtrack yang pas dengan situasi toko. Semuanya terserah pembeli, mau beli apa dan nikmatin yang mana, karena saya yakin setiap pembeli pasti punya kebutuhan masing-masing dan kesan yang beda-beda setelah berkunjung ke toko ini, dan gak menutup kemungkinan setiap pembeli yang udah berkunjung akan datang lagi dan membeli hal yang beda. Misalnya, hari ini dia dateng buat ketawa-tawa karena komedinya, siapa tau besok dia dateng lagi buat nangis-nangis karena kangen keluarganya, or something like that. This movie is really worth to watch, oh iya, jangan langsung keluar pas credit masih jalan, ada sesuatu yang membuat kita makin engaged dengan film ini dan bukti juga bahwa film ini bener-bener digarap dengan cinta dari lubuk hati yang terdalam, cieelah. Dan semoga film ini bisa membawa senyuman dan harapan baru untuk setiap orang yang terlibat di dalamnya, baik itu kru, pemain, maupun semua penontonnya. Cheers!