Day 7 - Film Favorit
Kalau kangkung satu ikat dijual 2 ribuan di pasar. Berapa harga pokok produksi? Berapa keuntungan yang diperoleh produsennya --dalam hal ini petani?
Saya tidak mengerti apakah pembentukan harga di dunia bisnis berjalan linear dengan teori ekonomi? Sebagai orang awam, saya pikir realita tidak berjalan se-teoritis itu.
Tiga bulan lalu, algoritma youtube membawa saya menemukan film "Negeri di Bawah Kabut,". Tentang duka-suka keluarga Arifin (12th) sebagai anak petani kecil yang seolah menjadi sampel kehidupan petani di Indonesia.
Hasil panen tak menentu. Brokoli misalnya, harga jual per 1 Kg dari petani dipatok Rp2.500,- sementara seledri Rp6.000,- per kilogram. Sawi 1 kilo diterima pasar dengan harga Rp1. 600 per kilogram. Mereka adalah produsen. Tetapi tidak memiliki kekuatan menentukan harga. Hidup apa adanya dari waktu ke waktu.
Di sisi lain, kalau harga dari petani sudah mahal, sampai konsumen juga lebih mahal lagi.
Namun bagi mereka yang bermodal besar, margin keuntungan bisa lebih dari cukup untuk memenuhi lebih dari kebutuhan. Tapi jumlah petani yang sudah bisa hidup sejahtera ini cuma berapa persen, sih?
Kesulitan berlanjut ketika dihadapkan pada cuaca labil. Kalender Jawa yang digunakan secara turun temurun sebagai patokan bercocok-tanam, seringkali meleset. Hujan saat kemarau makin sering terjadi. Akibatnya bisa merusak tanaman sebelum siap panen.
Tidak sejahtera ini efeknya berantai. Diceritakan anak-anak petani masih banyak yang kesulitan melanjutkan pendidikan. Lagi-lagi secara teoritis, sekolah itu gratis. Namun, biaya yang menyertainya masih terasa membebani. Sepatu, seragam, buku tulis...
Bagi orang kota yang nggak mikir panjang buat beli kuota, masih terasa mudah. Namun bagi petani yang hasil panen terjual tak seberapa bagaimana?
Menikmati film selama +/- 100 menit sambil hati rasanya diiris-iris. Shalahudin Siregar benar-benar membawa kita pada kenyataan pahit keluarga petani sayuran di lereng gunung Merbabu (mohon koreksi jika salah) . Meskipun produksi film ini berselang 10 tahun dari penayangan di kanal youtube, kualitas gambarnya benar-benar bagus.
Apa kabar Arifin 10 tahun setelah pembuatan film ini? Seharusnya ia sudah beranjak dewasa. Apakah 10 tahun sesudahnya, kehidupan berjalan menjadi lebih baik bagi petani di sana?
https://youtu.be/kRFx__WMp40




















