Sangat berbeda sekali hubungan kita dengan orang tua saat kita masih anak-anak (remaja) dan dewasa. Saat masih anak-anak kita melihat orangtua kita sebagai sosok yang melindungi, kuat, dan rela berkorban untuk memberikan sesuatu kepada anaknya, sampai dewasa pun sama.
Hanya saja, saat kita dewasa apalagi setelah menikah, kita akan melihat orangtua kita dari sisi yang lebih jauh, lebih dalam lagi. Orangtua pun mulai terbuka untuk bercerita tentang keluh kesahnya, kekhawatirannya, dan kondisi fisiknya yang mulai menurun.
Dan kita sebagai anak pun muncul sebuah rasa, untuk memberikan yang terbaik buat orangtua dan berusaha bagaimanapun caranya agar orangtua kita bahagia, sehat, selalu berada didekatnya dan terus tersenyum melihat kita. Jadi semakin sayang, dan menjadi takut untuk berpisah bila saat-Nya telah tiba.
Sebelum tidur saya dan istri biasanya menyempatkan waktu buat ngobrol dulu (kalau ngga ada party mobile legend wkwk). Obrolan apapun itu, mulai dari kejadian hari ini, pekerjaan di kantor, postingan sosmed sampe kadang informasi artis saya hapal karena info dari istri wkwk dan macem-macemnya.
Hal yang akhir-akhir ini kami lakukan adalah bersaing main game beatstars, siapa yang paling tinggi score nya di puji, yang paling cupu di bully haha. Kadang kalau capek di bully ya sudah ketawa-ketawa sambil WWE haha. Bontang-banting sana-sini.
Quality time sebelum tidur menurut kami sangat penting, karena itu salah satu waktu dimana kami benar-benar berdua, dan bagian paling fundamental dalam rumah tangga kami.
Alasan kenapa hati kita sekarang masih baik-baik saja sampai hari ini. Salah satunya karena Tuhan menutup telinga kita. Telinga yang Dia lindungi dari segala macam su'udzon orang lain, dari ghibahan orang lain.
Tidak saya pungkiri circle dunia pekerjaan adalah circle yang paling menakutkan, dengan sebuah "kata yang dilontarkan" cukup untuk membuat kita mengelus dada, barangkali bukan kita yang menjadi objek penghibahan, tetapi rasanya apa yang mereka katakan sangat berlebihan dan lebih buruknya belum tentu semua itu benar adanya.
Kenapa banyak orang yang terlihat baik, ternyata tidak sebaik itu. Kenapa banyak orang yang terlihat polos, nyatanya tidak sepolos itu? Karena kita semuanya ini memiliki kekurangan, kesalahan, aib! yang sekalipun kita mencoba menutupinya kalau bukan karena Allah swt semuanya akan terbongkar.
Mulai saat ini, jagalah mulut kita, kalaupun ingin berkomentar cukup di batin saja, jaga aib orang lain, in sya Allah Allah akan menjaga aib kita, kalaupun hari ini kita masih terlihat baik di mata orang lain, bersyukurlah, dan banggalah pada dirimu sendiri yang sudah sekuat tenaga menjaga mulut dan hati.
Sudah kurang lebih 9 bulan usia pernikahan kami, usia yang masih sangat muda, yang masih terus berproses untuk saling memahami satu sama lain. Belum pantas pun untuk kami berbagi tips ataupun wejangan bagi teman-teman yang barangkali ingin menikah, tetapi dalam perjalanan kami ada pertanyaan yang kami sediri mencoba untuk menemukan jawabannya.
Jauh sebelum kami memutuskan untuk menikah, informasi akan pernikahan sesama anak pertama sudah sering kami dengarkan,
"Kalau nikah sama-sama anak pertama akan sering berantem terus, karena tipikal anak pertama itu keras, kalau anak pertama itu egois, dan masih banyak hal "yang belum tentu" kebenarannya.
Kami berdua adalah anak pertama, dan jawaban atas pertanyaan tersebut mulai kami rasakan dan alami bersama. Atas informasi yang kami konsumsi sebelum menikah tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya salah.
Sering kami berselisih paham, mulai dari hal kecil sampai hal besar, tetapi sering kali selisih paham yang terjadi berasal dari hal-hal kecil. Kami pun sering berkunjung bersilaturahmi sesama teman yang sudah menikah, bahkan kepada orang-orang yang umur pernikahannya jauh di atas kami,
bahwa perselisihan itu tidak mengenal anak pertama, tetapi setiap pasangan memang akan dicoba dengan sedikit api dalam rumah tangganya.
Karakteristik saya dan istri sebagai anak pertama pun berbeda tetapi bila ditarik benang merahnya kami pun memiliki rasa dan tujuan yang sama, rasa bertanggungjawab atas keluarga, semangat untuk membahagiakan pasangan dan juga berpikir jangka panjang mau dibawa kemana kehidupan kami berdua ini.
Dalam perjalananya pun tidak mudah, butuh kesadaran dalam diri kami masing-masing bahwa rumah tangga bukan dibangun atas satu orang saja melainkan keduanya. Bukan hanya satu orang saja yang ingin dibahagiakan tapi keduanya, dan tanamkan dan niatkan didalam diri, pernikahan ini untuk menyempurnakan dan beribadah kepada Allah swt.
Dan setiap rintangan yang dilalui dalam perjalanan ini, ingatlah bahwa dia adalah kamu, dan kamu adalah dia, bersama-sama lalui setiap cobaan apapun kondisinya, kami harus terus bersama.
Agak aneh ya? biasanya kita belajar bagaimana cara menabung, ini malah bagaimana belajar belanja. Sound weird right??
Kita lebih akrab dengan "hemat pangkal kaya" dan "Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit". Tidak ada salahnya tentang nasihat tersebut tetapi belajar belanja pun juga penting untuk kita ketahui.
Contohnya : Sering kita dengar orang-orang yang salah beli rumah, cuman karena rumah tersebut dijual murah, puyengnya minta ampun, mau jual lagi ga segampang itu, belum lagi cicilan dan bunga yang terus berjalan. Atau pembelian barang yang pengambilan keputusannya hanya pake pertimbangan "Yang mana yang murah?" ujung-ujungnya malah beli lagi karena cepet rusak. Jadi boros yang mana?
Dari sini sudah nangkep kan maksud saya. Sayang aja kan uang yang udah kita tabung, giliran belanja, duitnya ga kepake buat produk yang ngasih manfaat maksimal. Seperti jam tangan diatas harganya memang tidak seberapa tapi menurut saya jam ini sudah memberikan pengalaman yang saat ini maksimal. Dari segi harga worth it, dari segi penampilan dapet, dari segi mobilitas juga enak karena ringan banget.
Ga semua barang bagus itu mahal tapi kebanyakan barang yang bagus memang mahal, karena pointnya adalah bukan tentang barang yang mahal tetapi pertimbangan Life time value -seberapa lama barang itu bisa kamu gunakan, dan Cost Per Use -biaya per pemakaian yang bisa kamu bayar sepanjang kamu memakainya. Kalau awet dan berfungsi dalam jangka waktu yang lama. Kamu sudah untung banget, dan itu hal terbaik yang sudah kamu lakukan dengan uang kamu.
Disini saya ingin merekomendasi chanel youtube yang dari dulu sampe sekarang masih saya nonton. Selain menjadi hiburan, ada efek "bergeraknya" sehingga aktivitas nonton pun tidak sampai disitu saja tetapi mendorong kita untuk berbuat sesuatu.
Ini adalah preferensi saya pribadi, barangkali teman-teman pun punya selera atau tipe chanel yang lain silahkan, dan semoga bisa menambah khazanah -ciaaah- per'youtube'an klean semua.
Pandji Pragiwaksono (https://www.youtube.com/c/PandjiPragiwaksono44) Konten yang lucu, narasi yang "menggugah", hingga kisah practical yang bang pandji sampaikan membuat kita berpikir bagaimana menjadi apa yang kita inginkan, membuat kita pengen sungguh-sungguh juga mengejar cita-cita kita. Karena tidak hanya standup beliau saja yang menghibur tetapi bagaimana cara beliau sampai pada titik tersebut dihadirkan dalam video-video yang menginsprasi. That's why i put him in the first place hehe.
Iqbal Hariadi (https://www.youtube.com/c/IqbalHariadi/featured) Melihat konten creator yang bertumbuh sembari menikmati karya-karya nya, dia adalah mas @iqbalhariadi . Salah satu pelopor kitabisa.com, karya-karya mas iqbal sudah saya nikmati sejak beliau ngepodcast menggunakan handphone asus zenfone nya wkwk, hingga sekarang kitabisa.com seperti ini, dan beliau pun sudah memiliki chanel youtube yang menginspirasi anak muda, ada sambatnya juga, ada kekhawatiran nya juga, yang kemudian beliau berbagi kepada kita bagaimana menghadapinya.
2 chanel tersebut yang bener-bener berdampak pada pola pikir, sudut pandang, cara saya melihat tantangan, dan membentuk karakter saya seperti ini. Semoga bermanfaat buat teman-teman dan mampu menggugah api semangatnya lagi ! Yosssh!!!
Barangkali sudah tidak asing lagi di telinga kita apa itu flexing. Yap - pamer. Why people flexin'? mostly for attention. Saya, kamu, dia, dan kita semua selama menggunakan social media bisa banget untuk flexing.
Flexing pun selain untuk memamerkan, bisa juga digunakan untuk "membuat panas" orang lain, memicu gosip, memicu omongan orang, di mention ditjen pajak, bahkan juga bisa membahayakan diri sendiri. Bagi saya pribadi lebih menikmati flexing dengan cara yang elegan, maksudnya ya ga norak, seperti makan di tempat mahal posting, tapi waktu makan di kaki lima ngga, jalan-jalan ke luar kota di posting, tapi pulang dikampung halaman malah ngga ada yang tahu. Apalagi kalau instastory udah kayak titik-titik yang musti di isi jawabannya :D, auto skip dan senyapkan hehe.
Tapi disisi lain juga kita pun menjadi tidak nyaman ketika melihat pencapaian orang lain, honestly. Itu sebabnya beberapa orang sengaja saya senyapkan because of that, norak, dan tidak cocok aja muncul di timeline. Apakah sebelum memosting sesuatu terbersit dalam benak kita tentang perasaan orang lain? perasaan teman? perasaan saudara? perasaan orang tua?
Karena pertanyaan tersebut saya sangat berhati-hati kalau ingin memposting sesuatu, karena banyak teman dan keluarga yang harus dijaga perasaannya karena hubungan yang kita bangun tidak ingin menjadi rusak hanya karena postingan di social media. apa saya benar? belum tentu. Itu pilihan kita masing-masing.