Day 01: Things we carry.
Dalam sekejap detik kedua tatapan itu bersinggungan, sebuah kesadaran tumbuh begitu cepatnya. Kilat redup yang tertoreh di sepasang netra hijau lumut membuat bibir lain menekuk kurva—pilu. Dia sadar sesuatu waktu itu pula; pandangan kakaknya tidak pernah teduh—melainkan hanya mengalami desaturasi yang hiperbolis. “Kakak, kau selalu membawanya,” tutur Laura tiba-tiba, dia tidak lagi tahan menyimpan kenyataan yang ada sepenuhnya sendiri. Willem mengangkat alis kanannya dan memandangi gadis yang telah mendapat gelar adik itu dengan tatapan tanya. “Apa maksudmu?” Laura ingin menjerit ‘tidak usah pura-pura bodoh!’, tapi lidahnya kelu. Jelita berambut pirang itu hanya memandangi sorot tatapan kakaknya dengan lemah. “Intan Adaninggar,” Bibirnya menuturkan sebuah nama dengan tidak fasih dan aksen Belanda-Belgia yang kental. “kakak selalu membawa memori tentangnya, kan?” Willem terdiam—hingga kepul kopinya nihil, pertanyaan sederhana adiknya tidak kunjung menerima jawaban.
















