Doa yang terus di langitkan, ikhtiar yang terus di bumikan, tawakal yang terus di imani..tidak akan pernah salah alamat
Akan selalu di dengar, akan selalu di lihat, akan selalu di pantau selama Allah sebagai satu-satunya tujuan
Sabar yaah

seen from United Kingdom

seen from Lithuania
seen from United States
seen from Netherlands
seen from France
seen from Germany
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from Germany
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from United States
seen from China
seen from United States
Doa yang terus di langitkan, ikhtiar yang terus di bumikan, tawakal yang terus di imani..tidak akan pernah salah alamat
Akan selalu di dengar, akan selalu di lihat, akan selalu di pantau selama Allah sebagai satu-satunya tujuan
Sabar yaah
Bahagia versiku, sederhana saja. Bisa duduk dan saling mengobrol dan kadang saling bengong, bahagia. Bisa baca buku sambil rebahan, bahagia. Bisa do or give something ke seseorang, bahagia. Bisa nanem cabe sampe berbuah, bahagia. Bisa antar jemput adek sekolah, bahagia. seharian dirumah ngerjain rajutan, bahagia.
Loh, kok sederhana banget? Pernah sih kepikiran untuk mencoba membahagiakan diri ketika stress melanda, beli ini, beli itu, konsumtif, tapi tau ngga...kebahagiaan itu cuma sebatas toko-jalan-rumah. Sampai di kamar, bongkar-bongkar belanjaan, stress lagi hehe.
Jadi mulai saat itu, aku nemu definisi bahagia versiku. Sederhana tapi banyak pilihan...
@deafaa
INIKAH CINTA?
Matahari mulai bersembunyi dibalik gunung batu di seberang jalan, semburatnya perlahan mulai menghilang seiring berhentinya kumandang adzan.
Aku masih sibuk dengan semangkuk makaroni kuah merah lengkap dengan isian daging sayap ayam. Teh hangat dengan isian daun mint ditemani pula sepiring apel dan jeruk. Tidak mau sunyi, aku padukan suara AC yang bergemuruh dengan sholawat dari syekh mishary.
Alhamdulillah, semua anggota badan mendapat haknya dalam sekali duduk.
Kecuali satu, hatiku. Hati ini terlalu lama mengumpulkan sedikit demi sedikit rasa rindu. Hari demi hari rindu dikumpulkan. Ditabung. Dikemas. Sedemikian rapi. Sampai nanti masanya, jarak terlipat, dan waktu tergulung.
Kepadanya lah rindu itu akan tercurah, kepada seorang yang telah menjadi kekasih halal. Hari demi hari berganti, dan rasa rindu itu semakin menjadi. Tapi apa daya, tangan tak sampai. Maka, dengan berdoa kepada Nya lah, rindu ini sedikit terobati
Bagian 1 : Keputusan
Roda kehidupan terus berputar disebabkan adanya keputusan keputusan dari para makhluk hidup. Salah satunya manusia.
Manusia dengan berbagai kompleksitas masalah dalam hidupnya, menjadikan harus memilih keputusan di setiap harinya. Jika manusia tidak mengambil keputusan, maka manusia tak lebih dari seonggok tulang yang dibungkus daging. Bahkan sesederhana makan minum pun tidak lepas dari keputusan.
Maka, dengan nikmat akal pikiran yang sudah Allah berikan, sudah selayaknya, keputusan diambil dengan penuh tanggung jawab. Apalagi berkaitan dengan hal hal yang nantinya berpengaruh untuk seumur hidup
-Makkah dengan hawa dinginya
Sekarang, doanya tidak seperti dulu,
Hanya meminta, Semoga Allah ridho atas semua hal yang kami lakukan dan keberkahan selalu bisa cecap, dan Sisanya kami alirkan dalam diam dan air mata
Lampu merah adalah waktu istirahat tersingkat namun nikmat. Walopun kerap kesal saat bertemu dengannya dikala sedang berkejaran dengan waktu, tapi nyatanya lampu merah mampu jadi jeda terbaik yang mengizinkan kita utk rehat sejenak dari rentetan peran.
Duduk diam, hanya fokus menyaksikan lalu lalang kendaraan, mendengar suara motor yang menderu dan sesekali mengamati tingkatan lampu merah yang berganti orange.
Saat orange berganti hijau, saat itu pula peran peran itu kembali ke pundak, menahan semua rasa, menata diri, dan tarik nafas dalam
Selamat menjalankan peran bagi kita, semoga keberkahan selalu meliputi segala peranmu.
Terhadap apapun kamu boleh memeluk, tapi jangan erat-erat biar kamu tidak sakit suatu hari nanti.
Seringkali kita memeluk seolah semua yang tersedia adalah hak milik kita yang akan abadi selamanya.
Terhadap orang baik di sekeliling, terhadap rumah nyaman yang menaungi, terhadap gawai sebagai alat komunikasimu, bahkan terhadap kaktus kesayangan..kamu boleh beri perhatian. Tapi, cukup pertengahan saja. Biar kamu tidak sakit. Biar tidak ada lubang di hatimu. Biar kamu bahagia
Deret doa yang dulu tersebar, satu persatu mulai tersatukan. Mulai terlihat baris dan polanya. Pun sudah mulai tersusun, satu persatu membuat untaian. Untaian panjang yang selalu di semogakan. Dengan iringan aamiin hingga nanti tiba di akhir pengharapan kembali pulang ke hangatnya dekapan pemiliknya