Sebelum seseorang menikah, tentu banyak ekspektasi-ekspektasi yang dibuat. Entah mengenai harapan bahwa rumah tangga akan berjalan lurus-lurus saja, suami yang selalu membuat istri bahagia, istri yang tersenyum sembari mengelap keringat suami usai kerja, penghasilan yang mumpuni untuk membiayai anak sekolah, dan masih banyak lagi. Padahal dibalik ekspektasi-ekspektasi tersebut, banyak hal tak terduga akan terjadi. Cek-cok perkara penghasilan suami, bingung menyekolahkan anak dimana, dan perbedaan pendapat lainnya. Salah satu poin utama dalam hubungan yang menurut sudut pandang Saya menjadi tolak ukur dalam hubungan berumah tangga: yakni, Penerimaan. Bagaimana kamu bisa menerima kekurangan disamping kelebihannya. Menerima bahwa akan ada ujian hidup yang lebih besar datang menerpa. Menerima bahwa ego tak melulu harus dilampiaskan. Menerima bahwa jatuh bangun akan dilalui bersama. Saling bergandengan tangan jika satu hendak tersungkur. Menerima dia yang sejak awal kamu izinkan menggenggam tangan ayah tuk menjadikanmu teman seumur hidupnya. Tentu memegang janji, tak semudah kisah happy ending dongeng putri aurora. Mungkin, diriku masih belajar membayangkan bagaimana aku bisa menerimamu dengan lapang dada. Bagaimana aku bisa menjadikan kurangmu dan kurangku kekuatan untuk berhijrah. Bagaimana aku bisa mengolah lebihku agar terus berkembang. Bagaimana aku bisa mendukung lebihmu agar kamu terus mendaki. Aku akan berusaha mengusap tangismu yang selalu kamu sembunyikan. Mengecup lukamu yang kamu diamkan. Semoga kamu dan aku mewujudkan impian tuk saling menerima