Kubiarkan waktu berjalan perlahan,
Setiap luka, setiap tawa,
Adalah bagian dari perjalanan,
Yang tak bisa kuabaikan begitu saja.
Di balik keraguan dan langkah yang masih tampak semu,
Ada jiwa yang terus tumbuh,
Mencari makna di tiap bergulirnya waktu,
Menemukan indahnya hati yang utuh.
Tak ada tuntutan untuk sempurna,
Kujalani langkah demi langkah,
Merangkul diri apa adanya,
Menuju jalan yang terarah.
Kuberi ruang pada impian yang terlupa,
Kusambut hari dengan harapan baru,
Menyadari bahwa datangnya rasa bahagia,
Seiring dengan langkahku yang terus maju.
Sabtu, 12 Oktober 2024
Mungkin, ada hal yang tidak terlalu disesali saat menjadi dewasa. Terutama dalam masalah romansa.
Topik apa lagi yang mudah diceritakan selain tentang percintaan? Yang tidak perlu pikir panjang, mungkin mencurahkan isi hati, atau tangan yang tergerak otomatis karena selalu ada cerita manusia yang berbeda dan tidak biasa.
Ketika menjadi dewasa, tidak ada rasa yang perlu ditutupi. Nyatakan saja. Toh, sudah terlalu jelas tanda-tandanya. Bedanya, akankah mereka berdua bersama? Bukannya karena tidak saling suka, sesederhana, karena timeline hidup yang tidak sama.
Miris bukan?
Padahal, tidak lagi ada yang perlu ditanya. Toh, apa yang diinginkan sudah ada pada dirinya. Apa yang dilakukan dan dipikirkan sudah tertuju pada orang yang sama.
Maka, semua kisah tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan akan selalu berputar-putar hingga pada satu ujungnya. Pernikahan.
Sebelum itu, rasanya sulit untuk menerka-nerka apa maksudnya, tetap terbatas akan pengorbanan maupun kasih sayang, bahkan sering dihantui rasa bersalah. Entah dari agama maupun norma sekitarnya.
Namun, rasa itu selalu menjadi misteri. Antara percaya dan tidak, apakah bisa merasakan sesuatu yang dikatakan “cinta”. Jika terlalu jauh, maka standar “suka”, pun, lebih dari cukup.
Sampai, di satu titik, di satu moment, kepada seseorang laki-laki yang ia selalu memiliki ingatan pendek padanya. Tidak pernah “melihat” bahkan kadang tak sadar akan keberadaannya. Ia akhirnya merasakan hal yang berbeda.
Ia kemudian menertawakannya. Awalnya ini bercanda. Berawal dari permainan kata teman-teman yang memasang-masangkan dirinya dan laki-laki tersebut. Namun, lama-kelamaan rasa ini menjadi nyata.
Kesal rasanya. Tapi, apa mau dikata? Pernah merasa tidak suka ketika memiliki rasa suka? Ya. Begitulah kata² yang tepat.
Laki-laki ini sederhana. Tak banyak bicara. Namun, bahasa cinta mereka sama.
Mungkin, bahasa cinta tidak begitu terasa dampaknya. Tapi, layaknya kisah web series ala², sutradara tak kasat mata seperti menyatukan mereka. Atau memang karena rasa ingin dekat satu sama lain selalu ada.
Bisa jadi, hanya si perempuan yang merasa bahwa perhatian kecil tertuju padanya, beberapa pandangan tak sengaja terasa, dan cerita detil tentangnya terucap dengan mudah dari bibir yang bahkan tak sanggup ia tatap lama-lama.
Entah ada maksud si laki-laki untuk suka dan mendekati ataupun tidak. Pelaku utamanya adalah satu teman mereka yang memulai, lalu berakhir menjadi hiburan tongkorongan tiap kali ada kesempatan mereka bertatap muka.
Karena, membutuhkan energi lebih untuk mengelak skenario teman-teman yang telah dibuat sedemikian rupa. Si perempuan dan si laki² ini, berusaha menerima dengan lapang dada. Walaupun kebanyakan kata² tersebut di luar kamus mereka berdua. Spontanitas tidak menghalangi kekompakan teman² mereka. "Ceng²an" yang dilemparkan selalu mampu membuat si laki² salah tingkah dan juga membuat pipi si perempuan layaknya udang rebus.
"Za, za," si pelaku utama dari munculnya "ceng²an" ini sengaja membuat Maza menyimak kata² selanjutnya, "ini Sajad mau sama kamu, nih." Jelas. ini bukan pernyataan murni dari Sajad. Bahkan, Sajad terkejut akan apa yang Dita katakan barusan.
Maza yang baru saja ingin beranjakpun mengurungkan diri sekali lagi, tertarik akan apa jawaban Sajad selanjutnya, "Gue masih lama ..."
Maza paham apa yang dimaksud Sajad. Jangan tanya bagaimana tingkat kepahaman Dita.
"Tuh, tuh ... Gimana, Za? Lo mau nungguin Sajad, ngga?" Tanpa jeda sedetikpun. Sekarang, Dita persis seperti mak comblang profesional dadakan.
Maza dengan segudang pengalaman percintaannya dahulupun, spontan menjawab, "Yah ... Boleh, lah ... gue pertimbagin." Dengan nada setengah bercanda sambil melengos pergi.
Rasanya ingin menolak, namun khawatir kualat. Jodoh tidak ada yang tahu datang dari arah mana. Tapi, kalau mengiyakan, rasanya itu bukan sebuah pertanyaan murni, karena masih dibumbui hiburan dan ceng-ceng-an. Jadi, Maza rasa itu jawaban yang cukup bijak.
Walaupun yang menjadi biang keladinya adalah Dita, teman tongkrongan mereka yang lain juga tidak ingin kalah dalam memainkan peran "kompor" ini.
Pernah suatu ketika Sajad dipanggil Riko, salah satu anggota tongkrongan mereka.
“Jad, ini Maza suka sama lo!” Fitnah Riko. Yah, mungkin setengah fitnah. Karena, bisa jadi setengahnya benar.
Sajad membalas, “Kamu terlalu baik untukku, Za.”
Maza yang tidak mau kalah menimpali, “Ah, jawaban kayak gitu, biasanya jawaban penolakan, tuh. Iya, ngga, Ko?” Riko mengangguk kencang.
Maza puas. Ia lihat Sajad kalah telak dalam permainan ini.
Prinsip yang Maza dapatkan baru-baru ini adalah: Ketika dibully atau dijadikan bahan ceng-ceng-an. Daripada energi dialokasikan untuk mengelak-yang sudah pasti akan kalah karena melawan sejuta anak tongkrongan lebih baik ikut menjadikan dirinya sendiri juga objek.
Seseorang tidak akan menderita jika ia tidak menganggap diri nya menderita.
Pengalaman “dipasang-pasangkan” secara paksa ini bukan kali pertamanya dirasakan Maza dan Sajad. Yah, Sajad dengan “pasangan”nya dulu, begitu pula dengan Maza. Namun, kali ini rasanya seperti terlalu memungkinkan untuk mereka bersama. Bisa jadi, hanya satu musuhnya: waktu masing-masing yang berbeda.
Mungkin, rasa yang Maza rasakan pun tidak seyakin itu. Karena, jika diukur dari segi agama-parameter utama Maza dalam memandang kaum adam-Sajad mungkin tidak begitu kaku dalam pelaksanaan agamanya. Kadang, terkesan agak longgar, bahkan terlalu longgar.
Tapi, Maza “berkaca”, ia juga masih tidak begitu baik. Kalau boleh ia nilai sendiri, kepemahaman agama mereka berdua masih dalam satu server yang sama.
Yang membuatnya kadang tidak habis pikir akan “ulah” Sajad: Terlalu peka dan memiliki cara sendiri agar Maza selalu terlindungi. Baik secara fisik maupun kata-kata. Kepakaannya pun tidak berlebihan yang menjadikannya mudah terbawa perasaan alias baperan dan posesif
Mereka tahu bahwa permainan pasang-pasangan ini tidak hanya peran dari teman-teman mereka saja. Kadang, Maza dengan sadar sengaja memasang-masangkan mereka. Tapi, Sajad selalu berhasil mendapatkan saat yang tepat untuk menerima, menolak halus, kadang menolak secara spontan, tetapi teman-temannya tahu bahwa sebenarnya ia menerima, bahkan Sajad pernah membalasnya dengan kata-kata puitis yang sanggup membuat Maza meleleh. Walaupun, Maza tahu itu hanya untuk hiburan di depan teman-temannya. Tapi, ia kadang mempercayai bahwa kata² itu juga tulus dari hati Sajad.
Maza tidak tahu atau tidak berniat ingin tahu akan kebenaran "permainan" yang di awali Dita. Sampai, apa yang menggerakkan Dita hingga idenya kali ini pun jatuh untuk bertanya pada Sajad, “Coy, menurut lu, Maza potensial untuk lu sukain, ngga?”
“Potensial.” jawab Sajad jujur. Tanpa embel². Rasanya itu adalah jawaban yang ingin ia keluarkan dari dadanya.
Tidak berhenti di situ, Dita langsung menanyakan Maza di tempat yang sama, di depan Sajad pula.
Awkward moment tidak dapat dihindari ketika Maza menjawab dengan jawaban jujur yang sama. Detak jantung dan frekuensi pernapasan Maza pun berlomba-lomba mendapatkan gelar "siapa cepat". Tubuhnya mulai merasakan sensasi tidak nyaman namun lubuk hatinya merasakan kehangatan yang selalu Maza sukai. Merasa disayangi dan dicintai.
Hormon endorfin mengalir di pembuluh darah mereka berdua. Sebuah pernyataan sederhana yang memberi tanda bahwa candaan dan hiburan ini memiliki arti lebih dari sekedar “ceng-cengan” belaka.
Entah siapa yang memiliki rasa “itu” pertama, tapi,mereka berdua tahu bahwa rasa itu terbalaskan.
Bagaimana tidak? Siapa perempuan yang sanggup menahan perasaan ketika selalu diperlakukan istimewa? Mulai dari mengingat apa yang disukai Maza, hafal di luar kepala apa keseharian yang Maza, sampai berhasil membuat Maza menceritakan kisah kelamnya. Semua sukses Sajad lakukan dalam kurun waktu yang tidak lama.
Belum lagi ketika bahasa cinta mereka berbicara. Tiba-tiba Sajad berada di dekatnya. Menyenggol Maza dengan benda apapun di sekelilingnya. Bahkan menutupi muka Maza dengan jaket Sajad sendiri. Aroma tubuh bercampur parfum khas Sajad, sukses memasuki memori limbik Maza.
Ketika teman tongkrongan mereka menonton bersama, entah kenapa mereka selalu bersebelahan. Yang semakin membuat Maza kagum adalah Sajad tidak pernah menyentuhnya walaupun bahasa cinta mereka sama. Sentuhan.
Kadang, secara tidak sengaja, mereka bersentuhan langsung. Seperti saat Maza pernah secara tidak sengaja menabrak dada bidang Sajad. Ingin rasanya Maza mengecam dirinya sendiri, tetapi malu mengakui bahwa hal tersebut bisa jadi sesuatu yang ia syukuri.
Atau, saat mereka tidak sengaja berada di posisi depan dan belakang saat berjalan menyusuri gelapnya malam paska acara bersama anak tongkrongan, Sajad selalu meminta Maza mengulurkan benda yang ada dalam jangkauannya. Entah tas, payung, agar Sajad tetap bisa melindungi dan menggenggam Maza, walaupun secara tidak langsung. Bagi Sajad, kulit Maza terlalu berharga apabila tersentuh olehnya.
Memang, rasanya selalu ada magnet di dekat Maza, sehingga apa yang kebanyakan Sajad lakukan saat berkumpul dengan anak tongkrongan adalah: menggoda Maza, mengisenginya, mengobrol ngalor ngidur bersamanya, meminjam HPnya, hingga bisa mengkorek-korek isinya.
Maza pun tidak mau kalah, sadar tidak sadar, Sajad adalah orang yang selalu ia cari pertama, Maza selalu kagum pada perhatian-perhatian kecil yang diberikan Sajad padanya. Di saat teman-teman yang lain tidak menyadarinya.
Maza juga selalu merasa Sajad menyayangi dan melindunginya. Sesederhana ketika mereka menyusuri jalan dan ada kendaraan yang kan lewat-bahkan jaraknya tidak terlalu dekat-Sajad refleks menarik tas selempang Maza, mencegah agar Maza baik-baik saja.
Maza kembali mengonfirmasi rasa yang ada padanya. Karena, ia berhasil merasakan cemburu. Cemburu yang sederhana. Ketika Sajad dekat dengan Dita di suatu kondisi. Tidak. Tidak setiap saat kecemburuan itu muncul. Entah kenapa saat itu suasananya mendukung untuk melahirkan rasa cemburu yang berharga dari diri Maza.
Pertanyaannya, mau sampai kapan? Walaupun masih belia, orang tua Maza sudah memiliki banyak calon untuk disadingkan dengannya di pelaminan. Namun, Maza tidak terlalu tertarik dengan tawaran orang tuanya. Sedangkan Sajad? Ia merasa belum bisa bertanggung jawab penuh sebagai kepala keluarga.
Walaupun mereka sudah tahu, ketika orang tua Maza sudah sampai pada titik nadir menyegerakan pernikahan dan Sajad masih belum bisa mengambil langkah yang jauh, mereka tidak akan lagi bisa saling berbagi rasa.
Walaupun mereka juga sudah tahu, hubungan mereka yang berada dalam “komedi putar” ini lama-kelamaan akan mencelakai diri sendiri dan pasangan mereka.
Memori yang terlalu melekat antara Maza dan Sajad bisa jadi akan mengalahkan memori yang seharusnya dibangun bersama pasangan masing-masing kelak.
Pasangan mereka akan merasa tersakiti apabila memori lama itu masih muncul. Apalagi jika sampai mempengaruhi dan berdampak besar kepada kehidupan mereka sendiri.
“Andaikan kita ditemukan di waktu yang tepat, mungkin kita bisa bersama sekarang.”
kita boleh suka kepada siapa saja, sah sah saja
kita juga boleh tidak suka kepada siapa saja, itu hak mu.
suka tanpa sayang bisa kok,
kalo cinta tanpa sayang? hmm.
orang yang kita sayang punya tempat spesial dihati kita
tidak sembarangan orang kita labeli dialah "orang yang kita sayang"
seperti orang tua mu, salah satu orang yang kamu sayang.
selain itu, posisi ini biasanya diisi oleh sahabat yang kamu sayangi.
setelah itu....
siapa?
oh, pasangan.
namun sah kah, jika kita menyayangi seseorang yang bukan (pasangan) siapa - siapanya kita?
"Mencintai seseorang secara mendalam memberimu keberanian. Dicintai secara mendalam oleh seseorang memberimu kekuatan."
-anonim
"Cinta yang berlebihan pasti akan membuatmu kecewa. Janganlah kamu membencinya, karena dari sana kamu belajar untuk tidak mengecewakan orang lain."
-anonim
menyayangi dia yang bukan siapa - siapa, berarti kamu mengambil resiko siap patah hati sebelum jatuh cinta.
Aku cukup kesepian akhir-akhir ini. Kawanku Marni, satu-satunya kawanku disini punya pacar baru (lagi). Kali ini bukan satpam atau supir si Bos kami lagi yang jadi pacarnya tapi anak pejabat di suatu daerah yang akupun tak tahu dimana itu.
Marni bilang kalau dia ketemu pacarnya yang sekarang lewat bertukar gambar online. Apa semudah itu pikirku? Mas Yanto, satpam komplek yang kujumpai tiap hari saja tak kunjung luluh dengan tatapanku. Tapi Marni, dia dan pacarnya hanya bertukar gambar? Ini tak adil pikirku. Kalau cuma begitu saja aku mah bisa sahutku. Dia menyuruhku donlot aplikasi Finder. “Nanti Finder yang cari jodoh buat kamu. Kamu nanti juga bisa milih sendiri,” kata Marni dengan ucapannya yang sok yes itu.
Aku pikir Marni ini cukup gila, apa dia salah satu penduduk di zaman Robot berkuasa di muka bumi sehingga untuk masalah jodoh saja manusia mengandalkan mesin. Bukan dengan menggunakan tatapan muka langsung atau menilai secara lebih dekat kesehariannya, tutur kata, dan tingkah lakunya.
Sontak Marni menegurku: “Kamu ini kok primitif sekali Yem. Sekarang ini semua serba enak, kamu mau yang mana tinggal pilih kayak makan ikan di warteg itu loh kan ya pilih-pilih. Kalau kamu ga suka, ya jangan diambil.”
Kesukaanku memang makanan Warteg: tahu, tempe dan sayur bayam kalau habis gajian ya tambah brengkesan pindang. Mana makanan yang lebih enak dari itu pikirku. Tapi aku tak terima kalah lagi dari Marni soal pria. Kali ini aku mau menentukan nasibku juga kataku menyanggupi saran Marni untuk donlot Finder.
Diajari Marni yang sebenarnya juga gaptek kayak aku, aku mulai memahami cara main Finder. Geser ke kiri, geser ke kanan seperti lagu potong bebek angsa. Banyak wajah rupawan kujumpai di aplikasi Finder. Ada yang matanya belok, ada yang sipit, ada yang manis kayak teh, dan ada yang putih kayak tembok.
“Aku kok ga suka semua ya Mar?”
“Kamu ini rewel kok Yem. Ada pilihan banyak gini kok masih bingung aja kamu? Kamu itu maunya yang kayak apa?”
“Aku maunya simple, Mar. Pilihan banyak juga belum tentu ada yang milih aku?”
“Kamu ini pesimis dikit donk!”
“Optimis tah maksudmu? Aku ini cuma pembantu Mar. Kamu juga. Bisa punya pilihan apa kita?”
“Uda diem dulu. Ini loh ada yang geser kanan kamu.”
“Artinya apa Mar?”
“Ya kamu bisa ngobrol sama Masnya...Atau mau aku bantu ngomong dulu?”
“Ya uda aku juga ga paham, kamu dulu aja...,” kataku sambil mengintip pembicaraan Marni di kolom chat FInder.
Tahu tidak kenapa perempuan dengan mudah berpaling?
Sejatinya ia membutuhkan kepastian dari sebuah hubungan. Bukan berarti ia tak setia, hanya saja ia condong menggunakan hati dan perasaannya. Sehingga terkadang ia hanya berpikir mengenai sebuah komitmen dan pembuktian. Menunggu bagi seorang perempuan begitu melelahkan apalagi jika tidak disertai dengan sebuah kepastian. Maka dari itu, teruntuk para lelaki, jagalah perempuanmu. Ikatlah ia dengan ikatan yang sah dan juga hubungan yg baik. Jangan engkau biarkan ia ragu dan berpaling. Boosterlah perasaannya dengan kenyamanan hingga tidak terlintas dibenaknya untuk goyah. Padahal perempuan jika sudah terpaut pada satu sosok ia akan mengabaikan yg lain siapapun itu. Namun terkadang para lelaki lengah, setelah mendapat perempuan itu, justru dengan mudahnya ia santai. Maka pada dasarnya pepatah mengatakan bahwa laki-laki berjuangnya di awal, sementara perempuan berjuang di sampai akhir.
Prinsip ku tetap (tidak akan berpacaran) - dari choco_i (on Wattpad) https://my.w.tt/u1RnxLkBYab sudah cukup dengan rasa sakit, sekarang aku memiliki prinsip. Prinsipku tetap. Tidak akan pernah Berpacaran. . . caranya dengan menghindar, mencegah, dan mengobati. menghindar dan mencegah yaa...itu berarti, aku tidak boleh menyukai seseorang? bisakah..? tapi, diaa... bagaimana ini...
Seorang temanku bercerita mengenai kisah cintanya yang berakhir. Sebuah makna tersirat pada hubungan yang tidak memiliki nama. Hubungan yang mereka ‘jalani’ tanpa tahu kemana ‘kan bertepi. Hingga sampai pada hari di mana semuanya harus berakhir, ketika salah satu dari mereka tertarik dengan orang lain.
Resiko yang cukup besarpun diambil ketika rasa tidak bisa lagi kalian paksa. Ketika berpisah adalah satu-satunya alasan untuk bisa bahagia, meski tidak harus bersama. Beberapa orang harus berpisah dengan yang mereka cintai, yang mereka pikir orang tersebut juga mencintai mereka. Akhirnya mereka percaya pada kalimat ‘cinta tidak harus memiliki’ yang sebetulnya itu hanyalah kalimat penenang untuk hati yang mulai remang.
Cinta adalah rasa yang paling egois. Keinginan untuk memiliki begitu amat besar. Jadi, ketika seseorang yang bilangnya mencintaimu, tapi tidak berusaha untuk memilikimu artinya cintanya tidak cukup besar untuk dirimu. Dia hanya menyukaimu tapi tidak mencintaimu.
Temanku menceritakan alasan dasar mereka tidak bisa bersama namun tetap ingin bersama dalam hubungan tanpa nama. Pada Tuhan yang sebenarnya satu namun tempat berdoa mereka yang berbeda. Ironis bukan, ketika salah satu dari mereka tidak ada yang dapat berkorban meski mereka selalu berkata saling mencintai.
Apakah itu benar cinta? Atau hanyalah perasaan nyaman karena sudah sering bersama?.