Tulisan ini terinspirasi dari film Ketika Mas Gagah Pergi yang berasal dari cerpen karya Mbak Helvy Tiana Rossa. Ada yang belum nonton? Kalau belum, saya sarankan untuk segera menonton film itu karena saya recommended.
Ketika Mas Gagah Pergi menceritakan tentang perjalanan, hijrah seorang pemuda bernama Gagah dari kehidupan gemerlapnya ke kehidupan Islaminya. Digambarkan betapa sulitnya hijrah tersebut apalagi untuk beristiqomah di dalamnya karena hijrah bukan hanya saja berasal dari kemauan tetapi juga berusaha menghadapi tantangannya. Tantangan yang didapat oleh Mas Gagah berupa ketidaksetujuan hijrahnya dari keluarga terdekat, teman-teman, kekasih hati bahkan harus rela meninggalkan profesinya sebagai model.
Terkadang, kita sudah sering memiliki niat untuk hijrah, berproses untuk menjadi lebih baik. Namun, bayangan akan tanggapan lingkungan sekitar dirasa terlalu menakutkan. Penolakan, cacian, cemoohan adalah bayang-bayang yang sebenarnya belum terjadi. Iyap, bayang-bayang yang belum tentu terjadi.
Terkadang kita lupa ada Allah Sang Pembolak-balik Hati hambaNya. Terkadang kita lupa bukan hanya kita sendiri yang berjuang di jalan dakwah. Terkadang kita lupa ada utusan-utusanNya yang siap mendampingi kita di muka bumi ini. Terkadang kita lupa bersama kesulitan itu ada kemudahan. Terkadang kita lupa sepahit-pahitnya perjuangan adalah sendah-indahnya istiqomah.
Mas Gagah mengajarkan kita bagaimana menghadapi penolakan lingkungan dengan cinta, kasih, dan keramahan. Ia mencontohkan kesabaran dalam perjuangan. Hingga pada nantinya tembok penolakan itu satu persatu runtuh digusur oleh cinta dan karuniaNya.
Film Ketika Mas Gagah Pergi berdurasi 90 menit dan hampir setengah dari durasi tersebut saya menitikkan air mata. Saya terharu dengan kelembutan, keramahan, kesabaran, dan cinta Mas Gagah dalam berhijrah. Seperti saat adegan Mas Gagah saat bersalaman dengan sang kekasih hati setelah menetapkan diri untuk berhijrah. Keterkejutan jelas terpampang di wajah perempuan tersebut juga di wajah Gita (sang adik) dan Mama Mas Gagah. Mas Gagah bersalaman dengan menelungkupkan kedua tangan tanpa bersentuhan dengan perempuan tersebut. MasyaAllah. Adegan itu mengingatkan saya pada masa-masa orientasi kampus. Saat saya pertama kali menghadapi lingkungan yang heterogen dengan berbagai macam agama di dalamnya karena dari SD hingga SMA saya berada di sekolah Islam. Saya menangkap wajah yang terkejut, tak enak hati, bahkan meledek saat bersalaman dengan menelungkupkan kedua tangan. Rasanya hati langsung berdenyut, “bismillah, Fir. Belum apa-apa. Bismillah kuat. Bismillah bisa.” Sedih rasanya saat diajak tos dengan kawan laki-laki yang juga muslim dan saya menolak, “yaelah, sombong banget, sih.” Padahal, kami sesama muslim. Padahal, belum ada teman saya yang non-muslim yang sefrontal itu.
Adegan tersebut juga mengingatkan saya pada saat mencoba mempraktikkan gaya salaman itu terhadap saudara-saudara saya di masa liburan awal SMA. “Jadi, begini ya salamannya anak pesantren?” ucapan itu diikuti oleh tawa cemoohan. Sampai sekarang, saya masih kalah pada keadaan yang satu ini.
Atau pada saat saya bertemu dengan bos ayah saya. Saya mempraktikkan hal yang sama. “Wah, begitu ya salamannya. Ini juga kenapa pakai bajunya hitam-hitam? Kayak Al-Kaeda saja, hahaha.” Kebetulan memang pada hari itu saya sedang berbusana warna gelap.
MasyaAllah, ketika mengingat kejadian-kejadian itu. Masa-masa indah dalam perjuangan. Malu sendiri diri ini mengingat perjuangan yang belum seberapa dibanding saudara kita di Palestina. Malu sendiri diri ini yang acap kali lalai dalam beristiqomah. Malu sendiri diri ini ketika takut memulai suatu kebaikan. Malu sendiri diri ini ketika lebih takut dengan reaksi penolakan sekitar dibandingkan reaksi murka Sang Ilahi.
Maka, Bismillah kita berhijrah dan beristiqomah dengan kelembutan, keramahan, dan cinta seperti apa yang Mas Gagah contohkan. Jangan lupakan karunia dan kasih Sang Ilahi yang Maha Membolak-balikkan Hati hambaNya. Dalam berhijrah, sepahit-pahitnya perjuangan adalah seindah-indahnya istiqomah.