Kunang-kunang
Saya cinta setengah mati sama kunang-kunang.
Kenapa?
Tanpa sengaja, sebetulnya.
Waktu itu saya berkunjung ke rumah pacar saya nun jauh di desa. Sekitar 40 kilo dari kota Yogya. Kami berangkat siang, dan pulang kembali ke Yogya lepas maghrib. Di sebuah persimpangan, pacar saya bertanya: lewat kota atau lewat desa? Karena saya asalnya dari ibukota (diucapkan tanpa rasa bangga), maka saya minta lewat desa, dan dia membelokkan motornya ke kiri.
Suasana waktu itu dingin dan gelap. Habis hujan, jalanan agak sepi, sebelah kanan dan kiri saya sawah. Masih jarang rumah. Saat motor sedang berjalan perlahan, mata saya terpaku pada kelap kelip seperti bintang, tapi berwarna kuning, dan bintang kuning itu adanya di bawah, di sawah, bukan di langit.
Spontan saya minta pacar saya untuk berhenti sejenak, persis di tepi sawah. Saya tertegun. Bintang kuning itu kunang-kunang namanya. Puluhan, atau ratusan jumlahnya. Mengapung di atas padi. Kelap kelip, kelap kelip. Sayapnya berpendaran, bagaikan lentera-lentera mini yang dibawa oleh para kurcaci. Subhanallah. Maha suci Allah yang menciptakan makhluk seindah kunang-kunang di muka bumi ini. Saya terus memandangi kunang-kunang itu. Lama sekali. Sampai imajinasi saya berlompatan sesuka hati. Sampai pacar saya waktu itu bertanya beberapa kali: Udah belum? Dan saya terus saya menjawab: Sebentar lagi. Sampai waktu benar-benar malam, dan pacar saya yang khawatir memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Besok kita lihat lagi, katanya.
Maka, sejak itu saya jatuh cinta pada kunang-kunang. Cinta pada pandangan pertama, tepatnya. Saya cinta sama sayapnya, sama cahayanya, sama kemampuannya membangkitkan ilusi bahwa ada bintang di bawah, bukan di atas, bukan di langit.
Tahun 2006 saya pulang ke Jakarta. Sering saya mencari di sana. Tapi tidak ada. Kunang-kunang di Jakarta seolah menghilang ditelan gemerlap lampu warna warni. Eksistensinya kalah. Mungkin akhirnya kunang-kunang memutuskan untuk mengalah, entah pergi kemana, sejauh sayapnya melangkah.
Sekitar tahun 2007 s.d sekarang pun saya masih merasakan kerinduan yang teramat sangat pada cinta pada pandangan pertama saya itu. Meskipun rentang waktu itu saya sudah berada di Yogya kembali, dan meskipun saya berdiri di tempat yang sama seperti dulu waktu saya pertama kali melihat kunang-kunang, ia tetap tak saya temukan.












