Pertanyaan yang paling sering diulang saat usiamu dianggap sudah matang. Entah tolak ukur siapa, kesepakatan bersama. Mungkin.
Semenjak putus empat tahun lalu, rasanya setengah hatiku terkunci. Meski banyak yang datang silih berganti tapi rasanya belum ada yang pas dan mampu mengganti. Tidak tau mengapa, padahal rasa-rasanya juga tidak secinta itu. Hahaha.. aku hanya tidak terbiasa punya pacar saja mgkn. Kalau dihitung memang hanya satu kali itu aku punya pacar 🤣
Bukan aku tidak mau mencoba, aku sudah mencoba lagi. Sekali. Orang yang kuanggap mampu menggenapkan hati setelah aku putus, memilih untuk pergi, salahku memang, aku memang belum benar2 siap mengisi hati lagi. Saat itu, Aku putuskan untuk beralih fokus hingga melewatkan banyak hati. Lalu sampailah pada titik ini, 25 tahun. Seketika tersadar bahwa semua yang menanti juga punya titik henti.
Sempat merasa down, tapi kutanya lagi pada diri. Kenapa? Merasa kalah cepat? Merasa terlambat? Bukankah menikah bukan persoalan siapa cepat dan siapa lambat?
Kita hanya silau perkara ini itu yang belum dimiliki. Padahal kita sendiri tau apa yang kita jalani adalah jalan yang paling pas. Kita hanya takut tidak sama dengan jalan kebanyakan orang bukan?
Tidak berarti tidak ingin menggenap. Siapa yang senang menjalani hidup sendiri? Siapa yang tidak ingin ditemani minum kopi? Berbagi segala penatnya hati. Ya meski semua itu bisa saja dilakukan dengan teman, perkara mudah. Tapi apa iya tidak bosan berbagi dengan yang tidak sehati?
Kenapa masih sendiri? Memang sendiri itu beban ya? Atau aib? Yang harus diratapi dan disesali? Kan enggak. Kita hanya dikasih persiapan lebih panjang aja, dikasih waktu berdoa lebih lama. Menyenangkan bukan bermain teka-teki, meraba-raba apa yang sebenarnya disuratkan Tuhan untuk kita jalani.
Setiap dari kita ingin cepat dapat jodoh, ingin karir bagus, ingin punya ank yg sholeh sholehah ganteng cantik lucu, ingin mapan diusia muda. Tapi apa iya semua jalan yang dilalui setiap org sama? Kan Allah menguji setiap hambanya.
Jadi.. kalau ditanya kenapa masih sendiri, coba sedikit diubah yang lebih solutif pertanyaannya. Misal, gimana kalau km kukenalkan dengan anak ustadku. Hahaha..