Di suatu hari, dia datang menanyakan kabar dan canda. Basa-basi terhitung beberapa menit, lantas to the point pada tujuan yang selama ini ia simpan. Canggung iya, gugup pasti. Diskusi sana-sini lalu memberanikan diri.
"Nanti mau kenalan sama keluarga lo, boleh gak?"
Deg! Seketika mematung, tidak bisa berkata apapun. Bingung mau jawab apa.
"Gue sehat, sangat sehat dan sadar! Kenapa sih? Gak mau diseriusin?"
"Eh. Ngomong apa sih lu? Pasti dibajak! Udah ya hahaha gue udah mempan dibecandain gini. Gak lucu kali (emot tawa)"
"Bismillah, gue Anon alias Anonim. Gue bermaksud baik ingin mengenal lo lebih baik dengan proses yang baik di waktu yang baik pula. Dan sekarang gue minta persetujuan lo buat melanjutkan diskusi ini. Izinkan saya datang ke rumah kamu, mengenal ibu bapakmu, keluargamu, meminta restu dan ridhonya."
Lamaaa kali mikirnya karna syok!
Tiba-tiba bulir di matanya terjatuh, satu, dua, hingga beberapa. Bagaimana tidak, sosok yang selama ini ia kagumi adalah dia yang datang mengutarakan tujuan baiknya. Bertahun-tahun rasa itu ia tahan hanya untuk memastikan kelak hatinya tak salah mencinta. Ia ingin cinta yang sebenar-benar cinta, yang datang pertama dan menjadi pelabuhan terakhirnya. Tidak dinodai oleh singgahan semata.
"Heh! Lo masih bangun kan? Masa jam segini udah tidur sih? Gue butuh kepastian. Jangan sampai gue... Eh lu gak lagi dalam proses khitbah kan?
".....(bingung belum balas chat nya)"
"Ah gua lupa memastikan lo gak lagi dipinang orang! Tapi gue udah nanya temen-temen lo katanya lo kosong hehehe"
"Jangan diginiin dong, ih gue deg-degan, parah lu ya! Haha"
"Hahaha, sorry gue bingung mau balas apa, masih mikir aja sih ini beneran lo apa bukan, haha. Bismillah, kalo emang ada niat baik dari panjenengan, silahkan ngobrol langsung aja sama bapak dan ibu ya haha duh kok masih gak percaya sih, ini bukan acara jebakan batman, kena deh, atau spontan uhuy kaaan? Hahahaha"
"Wkwkwk. Masih aja ye lagi obrolan serius gini malah pikiran lo absurd banget! Gue serius. Nanti lusa mau nelpon ke bapak dan ibu ya buat kelanjutannya."
"Oke. Kita sama-sama kuatin tahajud dan istikharahnya. Biar Allah yang atur semuanya."
"InsyaAllah, semoga Allah mudahkan proses ini"
"Aamiin yaa robbal 'alamiin"
"Salam buat ibu dan bapak"
"Salam juga buat ibu dan bapak ya. Wassalamu'alaikum"
(Cerita diatas baru fiktif belaka. Semoga Allah himpun setiap kata, kalimat, paragraf, menjadi sebuah cerita nyata. Ngayal di hari jumat mah jadi doa. Hahaha parah sih tun. Hasil dari kegabutan yg hqq)
Bandung, 29 Desember 2017