Our parents have very strong emotions
They are very protective of us
They were our life
They gave up their life for us
What are we giving to our parents?
“If you dont earn your parents dua, nothing good will come up your life.”
-NAK-

seen from United States

seen from Germany

seen from Germany
seen from China

seen from Malaysia
seen from Indonesia

seen from Brazil
seen from Saudi Arabia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Germany
seen from United States
seen from Maldives
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from China
Our parents have very strong emotions
They are very protective of us
They were our life
They gave up their life for us
What are we giving to our parents?
“If you dont earn your parents dua, nothing good will come up your life.”
-NAK-
Karena Haram, Mereka Tak Mau Datang
Budi Ashari, Lc
Sangat gemar buku. Ahli ilmu. Hadir di majlis-majlis ilmu. Mendatangkan buku-buku ke Andalus. Membuka lembaga-lembaga pendidikan dan perpustakaan-perpustakaan umum. Rela mengeluarkan 1000 dinar hanya untuk satu buku yang harus dimilikinya. Hingga ia menjadi seorang ahli ilmu besar. Dan digelari: ‘Asyiq Al Kutub (Pecinta buku).
Begitulah kebiasaan mulia yang dilakukan oleh Al Hakam putra Abdurahman An Nashir (penguasa hebat Andalus selama 50 tahun). Al Hakam kelak melanjutkan kepemimpinan ayahnya setelah ayahnya wafat tahun 350 H/961M. Ia berhasil melanjutkan kehebatan ayahnya. Ia menempuh jalan yang ditempuh oleh ayahnya. Ia sehebat ayahnya. 15 tahun ia memimpin Andalus dengan sangat luar biasa. Seperti ayahnya.
Di masa kepemimpinannya, ia meluaskan masjid raya Cordova Al Jami’ Al Kabir. Karena masjid raya ini adalah merupakan simbol kebesaran Islam di ibukota Andalus. Dan merupakan pusat kegiatan masyarakat dan salah satu pusat ilmu terbesar di dunia di samping Baghdad.
Singkat kisah, perluasan itu pun selesai. Dan tentu, masjid raya menjadi semakin megah dan mampu menampung lebih banyak muslimin yang datang untuk kebaikan. Yang terbayang oleh Al Hakam pasti kenyamanan masyarakat akan bertambah, mereka semakin senang dan nyaman untuk pergi ke masjid.
Tetapi nyatanya tidak. Ada yang mengejutkan Al Hakam. Masyarakat justru terlihat tidak mau datang ke masjid setelah perluasannya. Hal ini membuat Al Hakam sangat kaget dan mencoba mencari informasi penyebab masyarakat malah menjauh dari masjid setelah dibuat lebih lebar dan nyaman. Aneh.....
Al Hakam memanggil para staf ahlinya. “Apa sebabnya?” tanya Al Hakam keheranan.
Para staf ahlinya mengabarkan, “Telah tersebar di masyarakat bahwa anda meluaskan masjid raya dengan harta haram!”
Bak petir, berita itu menyambar menyayat hati Al Hakam.
Maka ia segera memanggil para ulama dan tokoh masyarakat se antero Cordova. Mereka dikumpulkan oleh Al Hakam.
Setelah mereka semua kumpul, Al Hakam bersumpah demi Allah bahwa tidak ada sedikit pun harta haram yang digunakan untuk membangun masjid raya. Sama sekali tidak. Kemudian ia menjelaskan sumber pendanaannya, yaitu seperlima ghanimah-ghanimah yang telah dimasukkan ke Baitul Mal.
Setelah pertemuan itu, masyarakat kembali berduyun-duyun datang dan menikmati suguhan ilmu dan ruhiyah di masjid raya kebanggaan muslimin itu. (Lihat: Al Andalus At Tarikh Al Mushowwar h. 207)
DR. Thoriq As Suwaidan penulis buku tersebut memberikan komentar singkat tetapi menusuk hingga dasar hati kita semua,“Itulah Taqwa. Yang melahirkan rasa sensitif untuk berhati-hati tidak mengambil kecuali yang halal, pada segala sesuatu. Apakah ini akan kembali di masyarakat kita? Dan bisa berbuat banyak dalam kehidupan kita?”
Melihat kisah di atas, lisan menjadi kelu tak mampu berkata-kata. Jari menjadi kaku seketika sulit digerakkan untuk sekadar menuliskan kesan. Hati berdegup keras membandingkan.
Allah Akbar!!
Sebuah masyarakat besar sepakat untuk tidak mengambil kecuali yang halal. Sepakat untuk menjauhi yang haram. Bahkan itu fasilitas untuk mereka sekalipun. Bahkan itu ditawarkan oleh para pemimpin negeri mereka sekalipun.
Masyarakat yang memaksa pemimpinnya untuk berhati-hati. Masyarakat yang mengawal pemimpinnya untuk bertindak yang halal saja. Masyarakat yang tidak takut kekurangan dengan rizki yang halal. Masyarakat yang tidak bisa dibeli oleh harta para penguasa dan pengusaha.
Ya. Masyarakat yang memiliki izzah. Masyarakat yang punya Allah.
Hanya mengambil yang halal!
Dan itulah salah satu kunci yang akan membuat Allah membagi izzah Nya untuk kita semua.
Membersihkan dan menjauh dari yang haram!
Dan itulah generasi yang akan terjauh dari kehinaan dan kerendahan yang disebabkan oleh dunia.
Tak ada berbagai alasan dan dalih yang disebar merata di masyarakat untuk mengambil yang haram. Karena mereka tak hanya punya ilmu. Tapi juga punya iman. Mereka tak hanya punya keyakinan tapi juga punya keberanian. Berani untuk menyampaikan keyakinan dan berjalan di atas jalurnya.
Saat itulah, keluarga-keluarga muslim berlomba melahirkan generasi sebanyak dan sehebat mungkin. Saat itulah, hampir tak ada orangtua yang khawatir peradaban kafir mempengaruhi anak-anak mereka. Saat itulah, yang ada adalah mempengaruhi dan mengarahkan dunia.
Inilah kisah izzah muslimin. Dan masih banyak sekali kisah-kisah semisal ini.
Generasi penuh izzah.
Bukan generasi imma’ah
Anak Kita : Anugerah, Amanah atau Fitnah?
Tabiat Anak dalam Keluarga Menurut Al Qur'an
Belum lama ini ramai menjadi perbincangan tentang faham childfree, di mana banyak pasangan muda sekarang memutuskan untuk tidak mempunyai anak atau keturunan.
Sedangkan dalam perspektif ajaran Islam, memiliki keturunan setelah menikah adalah sunnah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Anas bin malik radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang pengasih dan punya banyak keturunan karena aku sangat berbangga karena sebab kalian dengan banyaknya pengikutku.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i dengan sanad hasan)
Liberalisasi Parenting (?)
Dua tahun lalu (2019), saya terjebak beradu argumen di WhatsApp chat dengan seorang teman. Intinya, dia menyanggah apa yang sedang saya pelajari di perkuliahan parenting (yang periode kuliahnya cukup lama). Katanya, apa yang saya pelajari di sana gak sesuai dengan parenting Nabawiyah. Dan saya pun balik menyanggahnya, wqwq.
Mungkin tulisan saya ini gak ada yang membaca. Tapi bentar deh, saya pengen tanya, wqwq. Siapa yang punya buku PROPHETIC PARENTING-nya DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid atau TARBIYATUL AULAD dan sudah khatam membacanya? Siapa? Hayo, sudah khatam atau belum? Wqwq. Saya punya buku PROPHETIC PARENTING itu sejak 2015 dan sampai sekarang belum khatam membacanya, alias baru sampai 3/4 aja! Itu pun bagian yang sudah dibaca entah meluap ke mana dan butuh di-refresh lagi. Heuhue..... Mestinya kita bertanya, mengapa buku best seller di Timur Tengah (insyaAllah best seller juga di Indonesia) itu belum bisa (atau mungkin gak bisa) kita khatamkan?
Menurut saya, kebanyakan buku parenting itu kurang aplikatif sebab gak membahas hal-hal teknis. Jadi sifatnya mentah. Dan banyak yang terjemahan. Ada yang dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, ada yang dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, ada juga yang dari bahasa Arab ke Inggris lalu ke Indonesia. Jadi bagi kita terkesan gak asyik dan hilanglah ghirah untuk mengkhatamkannya. Bagi saya pribadi, bukan karena gak asyik, tapi karena banyak tantangan dan ujian pengasuhan dan pendidikan anak yang belum terjawab di kedua buku itu. Kenapa? Karena setiap anak itu unik, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan membawa ujiannya masing-masing bagi orang tuanya. Apalagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Ye kan?
Saya sudah seringkali mendengar dan membaca pertanyaan-pertanyaan seputar permasalahan anak, dan jawabannya tergantung kepada siapa kita bertanya. Dan jawaban tersebut gak akan relevan atau gak akan cocok diaplikasikan ke semua orang tua, sebab ada faktor-faktor yang membuat kebutuhan tiap orang tua berbeda.
Saya percaya bahwa Rasulullah SAW. adalah psikolog ulung, tapi banyak juga tantangan-tantangan pengasuhan dan pendidikan anak yang solusinya belum bisa kita temukan di buku-buku parenting Islami/Nabawiyah. Belum lagi persoalan perawatan balita di 1000 hari pertama kehidupan! Hahaha! (Yuk, cus, mampir ke Instagram-nya para dokter anak! Sekalian juga borong buku-bukunya dokter Meta Hanindita, wqwq). Jadi wajar kalo saya menyanggah argumen teman saya di WhatsApp chat, wqwq.
Tersebab itulah saya juga memperluas bacaan saya, gak membatasi hanya dari ideologi Islam saja, entah dari buku maupun dari konten-konten di media sosial. Tapi ini bukanlah perkara mudah, karena saya terlebih dahulu harus ‘tuntas’ dalam bab dan perkara aqidah agar bisa mem-filter ideologi lain. Hampir setiap buku parenting (non-islami) memuat gagasan dan pesan LIBERALISASI PARENTING. Bagi kita yang belum punya pondasi aqidah yang kuat, gak bisa asal main “ambil baiknya, buang buruknya”. Bagaimana mungkin orang yang belum tahu atau belum paham bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah? Saya pun sampai sekarang masih belajar tentang aqidah, salah satunya dengan terus belajar Islamic Worldview (pemikiran Islam).
Sekarang ilmu parenting mudah didapat, banyak ‘berserakan’ di dunia maya. Tergantung kita, mau belajar atau tidak, mau meluangkan waktu atau tidak. Bagi yang sedang rajin-rajinnya belajar ilmu parenting, ketahuilah bahwa aliran/model parenting itu ada banyak. Dan praktiknya gak seindah teori, haha! Bukankah kita sering mengatakan, “Teorinya gampang, tapi praktek dan realitanya beda!”? Maka banyakin doa juga. Serahkan pada pemilik anak kita, yakni Allah. Kita mah cuma dititipin aja. Ye kan?
Selamat belajar! Kalo bingung selama belajar, ya wajar. Sebab tujuan belajar memang untuk menambah kebingungan, wqwq. Bingung adalah proses belajar dan pertanda bahwa kita (sedang) belajar. Kalo otak sudah ‘overload’ atau dilanda tsunami ilmu, berhentilah sejenak dan sadarilah bahwa TIDAK ADA ORANG TUA YANG SEMPURNA. Kalo hari ini belum, suatu saat nanti akan ada masanya dimana kita berkata “Tidak, gaya parenting ini gak cocok buatku.” atau “Tidak, model parenting ini gak sesuai dengan nilai dan prinsip yang aku pegang.” atau “Alhamdulillah, inilah cara mendidik anak yang pas buatku.”.
Kalo ada yang ingin mengkritik ataupun memberi nasehat terhadap tulisan ini, sangat dipersilakan. #SayaMasihBelajar
Jember | Rabu, 10 November 2021
(Saya, yang bahkan belum berumah tangga, xixixixi)
*Tulisan ini sebenarnya sudah lama banget pengen saya post, tapi gak pernah jadi, hehe.
#Repost From maskana.id • • • • • • Teladan.. . Tentunya akan berbeda antara buah hati yang terbiasa melihat orang tuanya shalat tepat waktu dengan buah hati yang melihat orang tuanya sibuk di depan tv ketika adzan berkumandang. . Tentu akan berbeda pula buah hati yang terbiasa melihat orang tuanya sering bersedekah dengan buah hati yang melihat orang tua nya sibuk berbelanja, membeli ini dan itu. . Jadi tinggal bagaimana kita sebagai orang tua, ingin mencetak buah hati yang seperti apa? Karena kita adalah teladan baginya. . Ingin menjadikan mereka yang bersemangat melakukan kebaikan atau buah hati yang sibuk dengan urusan dunia. . Semoga Allah mudahkan kita membersamai buah hati agar tumbuh menjadi anak shalih shalihah. Aamiin.. 😊 ... ❤MuslimAqiqah❤ Jasa Aqiqah Amanah dan Terpercaya. ✅✅ ... Kunjungi Website Kami 🌐 www.MuslimAqiqah,com ... 🔁 Share jika bermanfaat 🔖 Simpan untuk dibaca nanti . Terimakasih 🙏 ... #parentingnabawiyah #parentinganakislami #parentinganak #parenting #AyahBunda #mendidikanak #orangtua #anaksholeh #shalihshalihah #teladan #mendidik #muslimaqiqah #aqiqahtangerang #aqiqahtangerangselatan #aqiqahtangerangkab #aqiqahciledug #aqiqahkarawaci #aqiqahpasarkemis #aqiqahtangsel #paketaqiqahtangerang #paketaqiqahtangsel #paketaqiqahciledug (di Muslim Aqiqah) https://www.instagram.com/p/CM15b6LsgmO/?igshid=1fhci6k5uzzhz
Rabu, 29 Jumadil Awal 1442 H Rabu, 13 - 01 - 2021 M Rapost @qofhata Hak muslim atas muslim lainnya ------------------ Sahih al-Bukhori:1164 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ. Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin. Pesan : 1. Hak muslim atas muslim lainnya, yang berarti setiap muslim wajib melakukan 5 hal ini untuk saudaranya yang muslim. 2. Kewajiban menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin. #quranquotes #quotesgram #ParentingNabawiyah #yayasanwakafalkaffahbinjai #asolstais_elkaffah #qofhata https://www.instagram.com/p/CKB6zcZDmXL/?igshid=15serb838niaj