I just made amazing #keto #garlicbread !!! Omg! Soooo good! #pcossurvivor #pcosweightloss https://www.instagram.com/p/Bx8F2wjA6nC/?igshid=wyoekn05hwmj

seen from United States

seen from United States
seen from Japan
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Brazil

seen from Netherlands
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Ireland
seen from United States
I just made amazing #keto #garlicbread !!! Omg! Soooo good! #pcossurvivor #pcosweightloss https://www.instagram.com/p/Bx8F2wjA6nC/?igshid=wyoekn05hwmj
Havent posted about my weight loss journey in awhile. During medical complications I stopped working out at the gym and this week was able to return. I incorporated more routines at home and I'm feeling great about myself. Happened by the mirror today for a full body shot and just floored myself again to see the growth in me. I am so much happier and loving life. I cant stop now and I wont. 😁❤ #weightlossjourney #mentalhealthjourney #pcoswarrior #pcosfighter #pcossurvivor #pcosweightloss #iambeautiful #IAmWorthy #selflove #beautiful https://www.instagram.com/p/Bx5p8_YlK07/?igshid=n75mfa8cm1xm
First time working out in a couple weeks. I've head some health complications that prevented me from being very active. Taking it easy coming back into it, but my motivation cant be out down. I've got goals and I plan on keeping at them. #pcoswarrior #pcosfighter #pcossurvivor #pcosweightloss #weightlossjourney #workingout #healthjourney #selflove #bodypositivity #beautiful #iambeautiful #IAmWorthy (at Sandy Creek, North Carolina) https://www.instagram.com/p/BxaonNEgFqE/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=caf3sol6uqsc
An irrevocable part of any healing is mindset. The core belief about our abilities to change, to get better, to overcome any difficulties is crucial for the wellness journey to even take off. I have experienced it many times and I swear by it. The gratitude. This emotion changes everything. It can shift our mind to reach its undiscovered potential. It can push us to deeds we have never considered before. Thanks to gratitude one can discover the true meaning of our existence. It transforms what we already have into more than enough, it provides us with the abundant outlook on life. Everyday gratitude practice will open our eyes to plentiful opportunities which gather upon our feet to be taken on. Gratitude brings peace and tranquility to our modern and hectic life. It enables us to slow down and look around. It encourages everyone to stop and stare, appreciate the beauty of how ordinary turns into something extraordinary. Once we exercise our minds to be on the lookout for positivity on every step, we will stumble upon new possibilities which have already been there before our eyes but we were unable to pick up on them. No wonder. In today’s fast-paced world we tend to focus mostly on our wants created by mass media. Wants disguised as strive for perfectionism, beauty and luxury. We have been brainwashed into labelling these images as our wants. What we indeed should focus on are our needs from within. Truly, ask yourself what it is that I truly need to be whole and complete? That is why, gratitude is our number one tool to tender the need for loving ourselves, accepting ourselves and taking care of ourselves. Please, trust me on this one. Once you learn how to love yourself, just like you would a small child or your best friend, the abundance this world has to offer will flow directly towards you. #pcoslifestyle #pcossurvivor #hormoneimbalance #gratitude #gratitudejournal #mindfulness #mindset #healing #healingenergy #wellness #wellnessjourney #abundance #abundantlife #abundancementality #lawofattraction #loa #positivity #loveyourself #takecareofyourself #selfcare (at Warsaw, Poland) https://www.instagram.com/pcossurvivor_/p/Bv9k51SB87d/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=i33bs191qsjm
#PCOSLifeStyles #PCOSLivesMatters #PCOSWoman #PCOSWarrior #PCOSSurvivor #PCOSStruggle #PCOSJourney #PCOSAWARENESS #PCOSChronicles #PCOSSucks #PCOS
One day it will be all just a dream #PCOSLifeStyles #PCOSLivesMatters #PCOSAWARENESS #PCOSJourney #FuckYouPCOS #PCOSSurvivor #PCOSStruggle #PCOSChronicles #PCOS #PCOSWoman #PCOSStrength #PCOSWarrior
#PCOSLifeStyles #PCOSChronicles #PCOSSurvivor #PCOSStruggle #PCOSStrength #PCOS #PCOSSucks #PCOSAWARENESS #PCOSLivesMatters #PCOSWoman #PCOSWarrior #PCOSJourney
My PCOS Story: Intro #1
Sudah lama sejak saya terakhir menulis di blog ini. Hidup sudah begitu banyak berubah. Dari yang dulunya pecicilan, ngumpul sama teman di markas Media Aesculapius sampai sore lanjut makan malam bersama teman terus sambung karaoke, saat ini saya jauh lebih idle. Setelah menyelesaikan program internsip, resmi menjadi dokter umum, dan menikah, keseharian saya dirasa jauh lebih humble.
Ya, saya saat ini sudah menikah dan sedang berusaha membangun keluarga kecil yang homey dan bahagia. #acik
Rencana menikah tersebut telah kami bicarakan semenjak bulan pertama berpacaran, alias bulan Januari. Tanggal pernikahan kita perkirakan jatuh tempo bulan Januari tahun depannya, the latest. Bulan Februari pun saya mulai menelusuri berbagai hal terkait pernikahan, namun ada satu hal yang mengganjal.
Pregnancy and kids. Ya, saya bukan seseorang yang dikenal memiliki naluri keibuan alamiah alias lebih cenderung begajulan (dibanding motherly). Saya dahulu memiliki cita-cita menikah ketika tahun kedua residensi, imbasnya anak akan lahir ketika mendekati tahun-tahun akhir alias chief. Akan tetapi, rencana Tuhan berbeda dari apa yang sudah saya persiapkan matang matang. Saya akan menikah ketika masih berstatus sebagai dokter umum biasa.
Sebagai pribadi yang sangat mobile dan rutin ambil side job, saya sadar bahwa kehamilan akan mengubah segalanya. Saya pun mengalami dilema pribadi masalah hal yang satu ini. Hingga akhirnya saya disadarkan akan satu hal.
Saya dari dulu mengalami masalah dalam keteraturan jadwal haid.
Well, nggak dari dulu juga sih. Setelah menarche usia 10 tahun, siklus haid saya cukup normal. Saking normalnya, saya bahkan tidak rutin mencatat jadwal haid di kalender dan semacamnya. Namun, hal tersebut hanya bertahan hingga saya berusia 15 tahun.
Ketika saya berusia 15 tahun, saya mulai mengalami peningkatan berat badan yang signifikan. Dalam satu tahun pertama saya tinggal di Jakarta, BB naik sekitar 5-7 kg. Dalam tiga tahun pertama, BB sudah naik 15 kg. Puncaknya, BB saya naik 20 kg dari yang seharusnya. Lantas, imbasnya? Sejak BB naik itu pula siklus haid menjadi tidak teratur. Dari yang awalnya sebulan sekali menjadi 2-3 bulan sekali. Jumlah perdarahan pun berkurang. Dari awalnya ganti pembalut tiga kali sehari, menjadi dua kali saja, itu pun sedikit sekali di pembalut yang kedua. Akan tetapi, karena emang dasarnya acuh tak acuh, ya saya biarkan saja.
Seiring waktu berjalan, setelah satu tahun konstan di berat badan yang angkanya kepala 7, saya mulai health conscious dan menurunkan berat badan secara berprogres. Alhasil, dalam satu tahun saya berhasil mengurangi hingga 10-15 kg. Siklus haid pun berangsur-angsur teratur, tapi masih kacau balau.
Harusnya sih saya biasa biasa saja, emang perbedaan hormonal, mungkin? Pikir saya saat itu. Hingga rencana menikah ini mulai diperbincangkan awal Januari 2015.
Saya sadar penuh bahwa agar suatu konsepsi (pembuahan sel telur dan sperma) terjadi, siklus haid yang normal adalah modal semi-wajib. Akan tetapi, selain ketidakteraturan siklus, saya sesungguhnya tidak memiliki keluhan lain. Ketika berkonsultasi dengan teman, saya diingatkan bahwa siklus haid tidak teratur selama tiga kali berturut-turut sudah merupakan indikasi untuk konsultasi ke dokter obsgyn. Lalu saya ingat, bulan itu (Maret 2015) saya sudah kosong (tidak haid) selama dua bulan. Bulatlah tekad saya untuk konsultasi.
Untuk memilih dokter, saya tidak ambil pusing. Saya tahu bahwa konsultasi dengan dokter obsgyn subspesialis endokrin adalah pilihan yang terbaik. Mereka lah yang menangani fertilitas, masalah hormonal, dan haid tidak teratur. Berbekal reputasi yang saya ketahui dari dosen atau konsulen dari almamater saya (FKUI), saya memilih Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K). Beliau memang dikenal sebagai dosen berprestasi dan memiliki track record yang amat bagus dalam menangani bayi tabung serta masalah haid. Karena malas jauh-jauh, saya pilih tempat praktek langsung di Klinik Yasmin, RSCM Kencana, karena dari semasa koas saya ingat pernah menemui beliau, dan beliau standby di klinik tersebut.
Sebelum saya konsul, saya sempatkan bertanya kepada salah seorang dokter obsgyn yang dulu merupakan chief resident saya selama koas, dr. Dwi Rahmawaty, SpOG (saat ini bekerja di RSIA Tambak). Saya masih memiliki kontak beliau di HP. Meskipun saya yakin beliau tidak ingat dengan saya (siapa juga sih yang ingat sama koas cemen didikannya dulu xD), saya beranikan diri untuk SMS beliau.
Saya ceritakanlah problem saya di atas kepada beliau. Tidak dinyanya, saya mendapat SMS balasan! Bunyinya kira-kira seperti ini.
“Halo. Untuk masalah fertilitas pada wanita usia produktif, yang paling sering itu PCOS ya. Biasanya coba cek FSH/LH dulu. Amannya sih di USG dulu dilihat ada kelainan lain atau tidak.”
JENG JENG! Runtuhlah seluruh ketidakacuhan saya selama ini. PCOS adalah akronim dari Polycystic Ovarian Syndrome, bahasa gampilnya sindroma ovarium polikistik. Dinamakan begitu karena pada wanita pengidap PCOS dapat ditemukan kista-kista kecil di ovariumnya, namun seyogyanya, inti permasalahan dari penyakit ini adalah hormonal imbalance.
Saya langsung denial, ga percaya (meskipun memang masih dugaan siang bolong). Karena memang stigma PCOS-susah-hamil sudah ditanamkan ke saya semenjak masa koas. Saya pun berkonsultasi dengan pacar (sekarang suami) yang memang saat itu statusnya lagi ujian untuk masuk residensi obsgyn.
Suami saya sedikit banyaknya tidak percaya dengan ungkapan dokter tersebut. Ia menyatakan, orang yang mengidap PCOS biasanya mengalami beberapa gejala lain, misalnya hiperkolesterolemia, hirsutisme (kondisi meningkatnya pertumbuhan rambut normal pada wanita karena tingginya hormon ‘pria’), abnormal oil control di wajah (jadi rata-rata orangnya jerawatan, haha, stigma abis), sampai kelainan fungsi hormon tiroid.
Dari seluruh tanda-tanda yang ia sebut, bisa dibilang, di saya hal-hal tersebut nihil. I felt that I was perfectly okay. Kecuali satu, yaitu ciri fisik yang cenderung obesitas (tapi jatuhnya di saya itu sebagai riwayat, karena bulan Maret itu IMT saya sudah normal).
Dengan kondisi semi-denial, pergilah saya ke RSCM Kencana untuk membuat jadwal dengan dr. Budi Wiweko. Prosedur untuk booking-nya cukup gampang (karena rumah saya memang dekat dengan RSCM Kencana). Servis mereka ketika booking bisa dibilang cukup oke.
1. Perawat akan memberikan jadwal dokter untuk kita pilih.
2. Kita akan diminta mengisi formulir rawat jalan, mirip formulir pasien.
3. Pasien diberikan kartu kontrol khusus untuk ke poliklinik
4. Jadwal praktek akan dikonfirmasi lebih lanjut dalam kurun 24 jam sebelum waktu berkunjung, melalui SMS.
Setelah booking, keesokan harinya saya langsung dijadwalkan untuk bertemu dr. Budi Wiweko! Cerita selama kontrol dan seterusnya akan dilanjutkan di bagian berikutnya. Stay tuned. ;)