“Aku mungkin tidak setegak tugu itu, tapi aku masih berdiri—dan itu sudah cukup untuk hari ini.”
Pagi di kota ini terasa seperti halaman buku yang belum dilipat. Aku berjalan pelan, membawa diri yang setengah selesai, lalu berhenti di depan Tugu Pahlawan yang berdiri tegak seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar usang.
Di sekitarnya, sejarah berbisik tanpa suara.Tentang orang-orang yang pernah memilih berani, ketika hidup belum tentu memberi mereka pilihan.
Aku?
Aku hanya berdiri, dengan pikiran yang lebih sering ragu daripada yakin. Di tanganku, sebungkus nasi pecel. Sederhana. Hangat. Sayur yang direbus, sambal kacang yang tidak pernah benar-benar sama rasanya di setiap tempat.
Seperti hidupku yang juga tidak pernah punya resep pasti. Aku duduk di pinggir trotoar, mengunyah pelan, seakan setiap suapan mencoba menjawab pertanyaan yang tidak pernah berani aku ucapkan. Apa aku sedang berjalan ke arah yang benar?Atau hanya bergerak agar terlihat tidak diam?
Di hadapanku, tugu itu tidak pernah goyah.Ia tidak ragu.Tidak berubah pikiran di tengah jalan.Ia hanya berdiri… dan tetap berarti.
Sedangkan aku,kadang bahkan sulit berdiri di atas keputusan sendiri.
Lucunya, di antara riuh kendaraan dan langkah orang-orang yang terburu,aku menemukan jeda kecil.
Di antara pecel yang sederhana dan tugu yang megah, aku merasa seperti titik kecil yang sedang belajar memahami garisnya sendiri. Mungkin aku belum sehebat mereka yang diabadikan dalam batu. Mungkin aku masih sebatas cerita yang belum selesai ditulis.
Tapi pagi itu mengajarkanku sesuatu: bahwa tidak semua perjuangan harus terlihat besar. Kadang, cukup dengan terus berjalan, terus bertahan, dan tetap mencoba jujur pada diri sendiri.
Dan selama aku masih bisa duduk, makan, dan bertanya seperti ini, mungkin aku belum benar-benar tersesat.
@gramabiru | aku, nasi pecel dan tugu pahlawan.















