Hari ini, langit sedang memintal kelam. Ia sengaja menjatuhkan rinai, membasahi daratan yang tandus. Namun ia lupa, ada pula tangis yang ikut terjun bersamanya.
Aku berdiri di atas tanah basah, menggenggam setangkai kembang yang memiliki banyak rupa. Warna-warni kelopak indahnya tak pula mengikis duka yang sedang merajalela di tiap pundak manusia.
Berpuluh kepala menunduk, menahan setetes bening dari pelupuk mata. Bibirnya bergetar menghantarkan rapal-rapal yang ia bisa.
Hari ini, di langit yang memintal kelam, aku menghadiri sebuah pemakaman. Pemakaman yang menjadi akhir dari perjalan logika dan perasaan. Hanya memuat lubang dalam yang ditimbun oleh sesal. Tangisan itu bersautan, menjadi bukti bahwa keabadian hanya sebuah guyonan semata.
Sumber gambar: pinterest
Satu-satu persatu tungkai itu menjauh dari upacara pemakaman. Bergantian mengucapkan belasungkawa atas rasa bersalah yang sudah telat datangnya.
Hanya ada aku yang meratapi kesendirian dalam diam, bersama nisan yang kukenal. Kau terbaring begitu tenang, seolah liang lahat adalah akhir dari latar yang kau impikan. Sudah banyak ketidakadilan serta kepercayaan yang terinjak, kau bawa bersama di dalam peti matimu. Kau jadikan ganjalan kepala di pembaringan.
Kau tidur dengan sangat nyenyak. Membiarkan luka-luka dalam likumu terbungkus kafan. Yang putih jadi kucal, itu yang kulihat. Mati adalah pilihanmu, agar jiwamu tetap hidup dalam segumpal bintang.
Waktuku sudah habis. Aku pamit, aku pergi, meninggalkanmu di bawah gundukan yang sepi.
Beristirahatlah dengan tenang, mendiang jiwaku yang lapuk. Yang sudah hancur ditikam busuknya prasangka dunia. Pergilah, cicipi nirwana yang sedang terbuka gerbangnya menantimu pulang. Sudah banyak lapisan kecewamu yang menjadi alas kakiku. Biarkan aku membawa selembar harapan untuk membungkus bintang itu kepadamu, sebagai bukti pengabdian laraku.
30/01/24













