Pembajakan Pesawat di Adisucipto
Pembajakan Pesawat MNA
TEPAT tanggal 5 April tahun 1972 lalu, koran-koran di Indonesia menuliskan berita tentang pembajakan pesawat terbang. Benar, pada tanggal 4 April 1972 terjadi drama pembajakan pesawat terbang maskapai penerbangannya, MNA atau Merpati Nusantara Airline MZ-171 PK-MVM MERAUKE. Psawat jenis Vickers Viscount ini dibajak saat dalam penerbangan dari Surabaya tujuan Jakarta. Pelakunya adalah seorang desertir yang bernama Hermawan. Pesawat yang mengangkut 36 penumpang ini, membawa pula 7 awak kabin dan dipiloti oleh Kapten Hindiarto Sugondo dan Co-Pilot Kapten Muhammad Soleh. Kapten Hindiarto sebenarnya pula adalah anggota AURI (TNI Angkatan Udara) yang berdinas di DAUM (Djawatan Angkutan Udara Militer).Pesawat ini kemudian mendarat di Adisutjipto Yogyakarta. Kepada pemerintah, pembajak minta uang tebusan sebesar Rp25 juta, uang yang bukan cetakan baru dan nomor uang diacak. Selain itu pembajak juga minta disediakan penerbangan ke negara lain. Menteri Perhubungan (pada waktu itu) Frans Seda menegaskan tidak akan mentolelir aksi pembajakan tersebut. Frans Seda juga memerintahkan agar diupayakan pembajak dapat ditangkap hidup-hidup. Namun jika membahakan penumpang boleh saja dibunuh. Negosiasi dengan pembajak pun terus dilakukan dan akhirnya tuntutan turun, dari Rp25 juta menjadi Rp5 juta. Meski demikian untuk mendapatkan uang tunai sebesar yang diminta itu tidaklah mudah. Ada langkah yang yang sedang berjalan. Ada perwira muda polisi dari Seksi I (kini Polresta Yogyakarta -- Ngupasan) berusaha keras untuk menangani kasus ini. Perwira muda ini bernama Bambang Widodo Umar, berpangkat Letnan II Polisi. Akhirnya, Bambang Widodo Umar menyerahkan revolvernya kepada Kapten Hindiarto. Dan dalam satu kesempatan kritis Kapten Hindiarto berhasil menyarangkan peluru revolver ke dada pembajak.Untuk memastikan tembakan itu mematikan, Kapten Hindiarto mengulangi tembakannya ke tubuh Hermawan. Pembajakan selesai. Setelah pembajak dilumpuhkan, penumpang dan awaw segera dievakuasi dan disusul masuknya regu dari Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Tjepat) ke kabin pesawat. Namun, ketegangan kembali muncul, karena granat yang digunakan untuk mengancam, ternyata pen atau penguncinya sudah dilepas. Hanya karena tertindih jaket. Kopasgat yang kemudian masuk ke kabin, menemukan granat yang sudah terbuka pen penguncinya. Untuk mengamankan memang pengunci harus dikembalikan lagi. Pada saat yang kritis, salah satu anggota Kopasgat ini teringat kalau pada celananya ada peniti. Ia kemudian megambil peniti tersebut untuk menggantikan pen pengunci dan granat pun tak jadi meledak. Pada tahun 1980-an sempat wawancara dengan anggota Kopasgat tersebut di kantornya, Adisucipto. Namun, benar-benar sekarang lupa, siapa anggota Kopasgat tersebut. Oh, iya, Kapten Hindiarto, Kapten Muhammad Soleh dan Lettu Pol Bambang Widodo Umar, sempat diundang ke Jakarta untuk mendapatkan penghargaan. Namun, "konon" Lettu Pol Bambang Widodo Umar batal menerima penghargaan, pasalnya, petinggi menyalahkan sang perwira muda ini karena menyerahkan senjatanya kepada orang lain. Peristiwa pembajakan ini, merupakan yang pertama di Indonesia. (****)












