Aku sebut ini pertemuan, yang bukan tanpa rencana karena ada andil manusia dan mungkin acc semesta. Kamu dengan dirimu yang entah seperti apa sesungguhnya, aku dengan diriku yang apa adanya walau kau belum tahu sebenarnya. Pertemuan, berarti memperkenalkan diri kembali, memulai dari awal lagi, memahami pribadi baru yang berbeda tanpa tendensi. Aku mempersilahkanmu tuan, melihat ruang otak, masalalu, juga mungkin cerita hatiku. Untuk sekedar menyamakan aliran, semoga bisa beriringan. Aku bukan kamu, dan kamu bukan aku. Berbeda bukan tak bisa satu, namun ada takut yang melengkapi ruang pikirku. Soal jarak yang tak begitu saja tiada. Aku mencoba berunding dengan segala divisi dalam diriku, merapatkan visi dan menyamakan arti. Aku tidak sedang bercanda dengan mempersilahkanmu masuk tuan. Ada diri tak sempurna berbentuk aku yang disusun dari beberapa kegagalan, dibumbui sakit yang sudah mendapatkan penawarnya. Mungkin juga kau tuan, benteng pertahanan yang tampak tegang bukan tanpa alasan. Menerobosnya aku tak mau, tak sopan. Anggaplah aku prajurit yang kalah perang, butuh perlindungan bukan perlawanan, aku tanpa senjata, tak bahaya, semoga kau percaya. Kita sedang berunding rupanya, menyusun strategi untuk dapatkan informasi diri. Tak usah kau repot mengirimkan sandi morse, aku lebih percaya teknologi. Cukup kau dengan wujudmu saja hadir disini, dihadapku, apa kau mampu? Tuhan, kau sediakan berbagai macam maskapai bukan tanpa alasan. Mungkin agar kami mudah untuk saling menjamah. Namun sesungguhnya Tuhan, rencanaMu lah yang berbalut misteri. Karena Kau penyusun cerita, izinkan aku bertanya, meminta bocoran macam contekan sepertinya boleh juga. Aku barter dengan kepasrahan dan keberserahan, boleh begitu saja Tuhan? Dear Tuan, aku berpesan padamu, bukan soal cepat, namun jadilah tepat satu sama lain, agar tak ada lagi alasan kau tak menetap.