Menjadi dua, Tak lagi satu.
Lagi-lagi, patah hati selalu jadi titik balik.
Satu tahun mungkin bukan waktu yang lama, tapi seperti yang pernah ku sampaikan padanya, bahwa dalam satu tahun ini banyak yang terjadi.
Dari mulai sembuh dari luka lama, kemudian merasa hidup diatas kaki sendiri (bahkan menopang yang lain), sampai berbagi masa depan.
Sudah merasa seperti menjadi satu rangkaian gerbong kereta yang satu tujuan, tapi ternyata harus berbeda arah. Seperti kereta, mengganti rangkaian gerbong untuk tujuan lainnya tidak semudah itu, ada tempat dan waktunya.
Ini bukan kereta, ini perasaan.
"Mungkin sama-sama butuh waktu"
Atau mungkin tidak satu waktu, dan itu bukan salah siapa-siapa.
Ternyata setelah dikaji dengan bijak, tidak ada gunanya merasa menjadi korban: toh segalanya kita lakukan dengan suka(dan sangat)rela. Tidak bijak juga membenci, mencaci, apalagi harus menyumpahi karena setiap manusia itu diciptakan seimbang baik dan buruknya.
Tapi lagi-lagi, memasuki kehidupan seseorang yang sudah kita anggap rumah: masuk dengan permisi, keluar juga dengan permisi; itu penting. Bukan masalah ego, bukan juga tentang siapa yang salah, tapi bentuk saling tanggung jawab, bahwa dimulai dengan diskusi untuk menentukan masa depan, ditutup juga dengan diskusi untuk menentukan jalan kedepan.
Mengacu ke prinsip hidupku:
Bahwa menjadi baik itu satu-satunya pilihan, jika mengharapkan kebaikan yang hakiki.
Menyadari bahwa setiap jiwa ada kebaikan yang telah diporsikan untuk kebaikan lainnya dan jiwa baik lainnya akan menerima kita. Maka kunci dari hidup dan mati tenang itu: menjadi baik.
Tapi sayang, kita hanya manusia.
Semoga di kehidupan selanjutnya, aku adalah orang yang lebih baik dan bisa menerima kebaikanmu, dan kamu, adalah orang yang lebih baik dan bisa menerima kebaikanku.
Aamiin-kan paling serius.
Aamiin yaa Rabbal aalamiin.
Bandung, 22 Mei 2023
-dari aku, teman kepalamu. Untuk kamu, teman hatiku.