Setiap dari kita memiliki harapan yang baik untuk diri kita sendiri. Untuk masa depan yang akan kita jalani. Harapan-harapan yang belum tentu sama antara milik kita & milik mereka. Harapan baik kita pagi ini bisa jadi adalah keburukan yang mereka hindari kemarin siang, juga mungkin sebaliknya. Seperti kesulitan yang kita keluhkan sore kemarin bisa jadi hal terbaik yang menjadi harapan orang lain yang Tuhan hadiahkan lebih dulu untuk kita. Di dalam segala keterbatasan yang kita miliki, semuanya bisa saja terjadi, jika kita meyakini. Mengenai hidup. Hidup yang kita ingini adalah hidup sedari muda yang serba mudah, lancar, tercukupi ini itu, dsb, dst. Sedang nyatanya hidup kita sekarang adalah hidup yang serba galau, banyak masalah, ingin ini itu belum mampu, dan dengan berbagai keterbatasan lain yang kita keluhkan sehari-hari. Sebagai mahluk yang tumbuh dan berkembang, kesulitan yang muncul ke permukaan bisa jadi adalah sebab yang mengakibatkan hidup kita menjadi baik di masa mendatang. Seperti halnya pepohonan di musim kemarau. Dari batangnya yang tumbuh lebat daun-daun hijau bahkan bunga yang mulai kuncup, mereka harus menggugurkannya. Membuat daun-daun lebat itu mengering bersama bunga-bunga yang juga dipaksa layu. Berharap angin membawa daun-daun berguguran terpisah dari rantingnya yang mulai kering kerontang. Ya, kesulitan yang mereka harus alami adalah sebab dari akibat pepohonan itu tetap hidup untuk kemudian menumbuhkan daun baru yang lebih lebat di musim kemarau berikutnya. Kita juga sama bukan? Jika menggugurkan seluruh daun adalah kesulitan terbaik yang bisa dilakukan demi kehidupan, begitulah kita yang kadang harus menghadapi kesulitan supaya kita tetap hidup bahkan lebih baik. Ada harga yang harus kita bayar untuk mendapatkan kebaikan, tidak semerta-merta jatuh dari langit. Ada energi yang harus kita gunakan agar harapan kita yang kemarin menjadi nyata besok lusa. Seperti konsep energi yang sesuai teori fisika bahwa energi akan mampu mengubah kedudukan suatu hal/benda. Ada energi yang mau tidak mau kita keluarkan untuk membuat hidup kita besok lebih baik daripada hari ini, sadar atau tidak. Kita yang hari ini sarjana adalah kedudukan yang diubah dari lulusan SMA oleh energi yang kita keluarkan selama proses tes masuk berlangsung. Kita yang hari ini pekerja adalah kedudukan yang diubah dari sarjana pengangguran oleh energi yang kita keluarkan untuk membuat cv, menghafal profil perusahaan, menghitung penjumlahan angka di tabel kreplin dan kesulitan-kesulitan lain yang kita selalu keluhkan. Kita yang hari ini adalah suami/istri seseorang adalah kedudukan yang diubah dari jomblo kesepian oleh energi yang kita keluarkan sebagai modal untuk membuatnya nyaman, bahagia sampai ia membukakan pintu sebelum kita bertemu orang tuanya di masa itu. Dan masih banyak kesulitan-kesulitan lain yang memerlukan energi kita untuk berubah kedudukannya menjadi hal yang baik. Siklus alami yang mungkin tidak sepenuhnya kita mengerti kenapa mesti begitu. Sehingga pada akhirnya, untuk harapan baik yang kita inginkan terjadi di hari esok, ada kesulitan yang harus kita proses dengan segenap energi yang kita miliki. Bukan dihindari apalagi pura-pura tidak mengerti. Kesulitan adalah kebaikan yang belum kita olah. Benar tidaknya kamu mungkin tidak sepakat. Biar saja tak mengapa. Karena di awal kita telah sepakat soal kebaikan bagi ku dan kebaikan bagi mu mungkin saja berbeda. Mungkin juga tulisan ini tidak benar seperti semestinya karena ditulis dalam keadaan yang tidak mudah. Satu hal yang pasti, kita hanya perlu membuktikannya bersama. Bahwa harapan yang baik akan menjadi kebaikan yang nyata jika kita mau bekerja mewujudkannya. Sampai di situ bagian kita, sisanya biarkan Tuhan bekerja untuk kit(aku) yang bermasalah prosesnya menjadi manusia dewasa. Bandung, 170220 #ralaksmana