J E D A Jeda itu mencipta jarak, mengintonasikan waktu dan tentu melafalkan nada rindu. Ini tentang lantunan Jeda, “Jeda antara Doa dan Pengijabahannya”
Doa mampu membungkus segala cita dan cinta. Bukankah harapan dari doa adalah atas keterkabulannya? Tentu rindu bukan, rindu untuk mengenggam segala angan. Dan dalam rindu ketercapaian terdapat jeda, jeda yang akan melantunkan ritme pencapiannya. Jeda akan melukis panjang, pendek, dan sedangnya rayuan-rayuan doa dari Sang Hamba kepada Tuhannya. Ketika Allah memberikan jeda yang pendek atas pengijabahanya doamu, bukankah kau bahagia? Merasa bahwa Allah benar-benar mendengarkan doamu. Namun ketika doamu tak kunjung dikabulkan-Nya, akankah engkau tetap merayu atas segala keagungan-Nya? Jika Tuhanmu memberikan bukan seperti yang kau inginkan, masihkah engkau akan bersimpuh?
Broken, hopeless, negative thingking, life is not fear?
Hey... jangan merebut peran Tuhan!. Menyatakan bahwa jika aku menjadi ini aku akan begini, jika aku mendapatkan itu aku akan begitu, seolah-olah menetapkan bahwa semua impianmu adalah yang terbaik bagimu, mengatur hidup yang seharusnya begini dan begitu, berambisi untuk merangkai kehidupan sendiri, lantas ketika Tuhan tak memberi atas segala keserakahan inginmu, apakah engkau masih berlaku menjadi hamba yang baik? Sedangkan Tuhan yang seringkali perannya kita recoki, Kemahaan-Nya sama sekali tak terganggu. tetap menjadi Tuhan Yang Maha Baik.
Cobalah sejenak mengingat lembaran kisah Nabi Zakaria ‘alaihi assalam. Adalah Nabi Zakaria yang mendambakan buah hati dari awal pernikahanya, namun hingga memasuki usia senja keinginan beliau belum juga terpenuhi. Dan bagaimana Ia mengisi jeda antara harapan dan kenyataan? “Ketika Zakaria menyeru Tuhannya dengan seruan lemah lembut” (QS. Maryam : 3) Zakaria tak pernah putus asa dalam berdoa, tak pernah merasa kecewa kepada Tuhannya, ia terus melemah lembutkan suaranya untuk meminta, Merayu Tuhannya dengan keindahan bahasa, penuh dengan kerinduan dan ketawadhuan. “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban” (QS. Maryam : 4). Lihatlah Nabi Zakaria yang mengisi jeda dengan segala keyakinannya bahwa Allah pun akan memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendakinya. Sering kali kita ini tak beradab dalam berdoa ooh bukan kita, mungkin aku Menyebut asmanya, mengagungkan segala keterpujianNya dan lantas mendikte-Nya agar kabulkan rentetan permintaan. Tidakkah kita malu pada Nabi Zakaria? Ia memanggil Tuhannya dengan seruan paling mesra, diakuinya bahwa ia adalah hamba yang lemah dan penuh keterbatasan sebagai manusia itulah mengapa ia memohon pada kekuasaan Tuhannya. “Dan tidaklah pernah aku, didalam berdoa kepada-Mu ya Tuhanku, merasakan kecewa” (QS. Maryam : 4) Seseorang yang sudah tua dan begitu lamanya mendamba keturunan dari awal pernikahannya hingga ia telah senja mengatakan bahwa, “ia tak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Nya”. Bagaimana bisa sesorang yang telah berpuluh-puluh tahun meminta dengan penuh kepatuhan tetap bisa mengatakan ia tak pernah kecewa ketika Tuhannya belum jua mengabulkan permohonanya. Hanya dengan keimanan lah yang dapat melakukan ini.
Nabi Zakaria ‘allaihi assalam telah mengajari kita bahwa jeda antara doa dan pengijabahannya adalah percintaan antara hamba dengan Tuhannya Adanya jeda bukan berarti mengabaikan doa, justru Dia cintai rayuan hambanya.
Percayalah bahwa semua jawaban dari doa adala “iya” : 1. Iya, Aku beri sekarang 2. Iya, nanti dulu 3. Iya, Aku punya yang lebih baik bagimu
“Berikanlah makna terindah pada segala kepatahan, termasuk dalam patah mimpi dan patah hati” Allah itu Maha Romantis














