Review, Rukustik #4 : Afternoon Talk
Langsung saja meluncur ke Hegarmanah setelah hujan sedikit reda. Jujur, karena baru pertama kali, lihat peta bingung mau lewat mana, jadinya lewat jalan Ciumbuleuit sekiranya akan lebih dekat, walaupun rutenya sedikit berkelak-kelok tidak melalui jalan utama. Padahal kalo tahu sebelumnya bisa cepat lewat Cihaempelas sepertinya. Sempat satu kali salah jalan, daripada cari-cari tidak jelas, jalan keluarnya bertanya ke warga setempat. Akhirnya ketemu juga tempatnya.
Ya Kineruku, tempat yang dicari. Setiba disana sudah cukup ramai terlihat didekat area parkiran. Event yang berlangsung ternyata bukan didepan atau didalam, malah dibelakang. Saya kira di backyard-nya, malah di teras belakang, padahal seruan di backyard seperti event pada saat di Lou Belle Shop, Setabudi. Mungkin karena melihat kondisi yang tidak memungkinkan, waspada hujan.
Sebelum Afternoon Talk main, ada Rayhan Sudrajat terlebih dahulu sebagai Openic Act yang terpampang dipamflet. Saya kira saya sudah telat pada waktu itu soalnya saya datang lebih dari satu jam dari jadwal acara, ternyata saya datang pas acara akan dibuka. Performa yang memukau dari Rayhan sebagai pembuka acara tersebut, beberapa nomor dari Albumnya dan dua lagu cover, The Beatles dan Peterpan. Ending pada saat lagu Cover The Beatles yang menjadi kesan pada saat itu menurut saya, tumpukan layer sound gitar yang bertumpuk dengan di loop, tapi sedikit kurang terdengar suara gesekan dari Bow-nya pada saat itu, tapi keseluruhan mantap, salut boy!
Nah akhirnya yang ditunggu-tunggu main juga, Afternoon Talk. Sebenarnya saya baru dengar single-nya saja, yang dipost di Soundcloud dan Reverbnation, berjudul "Love Letter". Biasanya kalo saya sudah pada tahap, "Wah karyanya unik euy" saya penasaran untuk membuktikan Live-nya seperti apa. Kebetulan mereka sedang tour Jawa, pada saat saya mendengarkan salah satu karya mereka yang membawa saya pada acara ini. Jika ada yang belum tahu siapa Afternoon Talk, bertanya "Siapa sih Afternoon Talk?" yang saya tahu dan menurut dari berbagai sumber, Afternoon Talk adalah Salah satu kelompok musik asal Bandar Lampung, merupakan salah satu band di luar Jawa dan Bali yang mulai mendapat publikasi nasional dan internasional.
Dalam industri musik Indonesia, sangat jarang terdengar kemunculan band-band di luar Jawa dan Bali. Padahal pergerakan musik di sana juga menggeliat dan hidup. Banyak band berkualitas, namun karena kurang publikasi hanya dikenal di daerah masing-masing. Band yang terbentuk pada 2010 dan beranggotakan Sofia, Osa dan Ridwan itu sudah pernah diliput antara lain oleh majalah Hai, Nylon Indonesia, dan SEA Indie — sebuah label musik asal Thailand yang berkonsentrasi pada musik indie pop Asia Tenggara.
Melalui musik mereka yang hangat dengan penggunaan instrumen akustik dari gitar dan ukulele, musik Afternoon Talk layak mendapat perhatian. Lagu mereka selalu terdengar intim dan personal. Menyimak musik Afternoon Talk seperti mendengar tuturan cerita seorang teman. Gaya bernyanyi sang vokalis, Sofia di beberapa lagu seperti gaya orang mendongeng. Bahkan di lagu “Love Letter” ia berteriak resah. Menyanyikan perasaan sedih dengan riang dan tanpa beban mungkin bukan opsi yang kebanyakan orang pilih untuk menumpahkan atau melepasakan suasana hati yang tidak baik. Kesedihan atau mungkin biasa disebut dengan ‘galau’ merupakan suatu perasaan yang lebih dekat dengan suasana muram, serasa beban dipundak yang sudah diemban menjadi semakin berat dan tinggal menunggu waktu untuk dihempaskan atau dilepaskan. Kebanyakan orang lebih merasa nyaman untuk ‘mendekatkan’ diri dengan musik bernuansa muram seperti post-rock atau triphop karena merasa jenis musik tersebut lebih memiliki keterikatan dengan perasaan tersebut, terutama dari segi nuansa. Namun sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi trio folk-pop asal Lampung yang menamakan dirinya Afternoon Talk. Perasaan sedih yang dinyanyikan memang tersirat secara harfiah dari tiap bait lirik yang dinyanyikan oleh Sofia Sekar Arum, namun yang membedakan adalah notasi dan aransemen musik yang sengaja diracik agar tidak terdengar depresi atau sedih. Tidak percaya? Silakan dengar track yang berjudul “Love Letter” yang menceritakan tentang surat cinta salah alamat. Pada part terakhir Sofia terdengar seperti berpura-pura menangis dan menafikan perasaan dia yang sebenarnya jengah untuk terus sendiri, tepatnya pada bait “But oh my God, I Know that it was not for me, I’m just sick of being single you know..”. Lagu galau yang sangat manis dan menyenangkan untuk didengar. Saya mendapati seorang anak kecil yang kebetulan lewat didepan rumah menari-nari girang ketika saya memutar lagu ini. Sofia hanya terdengar muram pada track “Please Tell Me How To Turn Back The Time” itupun dengan kadar yang pas dan tidak berlebihan dengan lirik yang terbilang naif dan lugu. Sekilas intro pada “The Ship Will Bring You Home” mengingatkan saya dengan lagu “Yellow Submarine” milik The Beatles, sebuah track terakhir yang menutup sajian manis milik Afternoon Talk yang berproporsi pas.
Saya juga suka dengan cara bernyanyi Sofia yang seperti bertutur atau bercerita ditingkahi oleh pola aransemen catchy dan riang merupakan formula dari musik Afternon Talk. Kita tidak perlu memutar hingga dua kali sampai mengerenyitkan dahi untuk bisa memahami dan menikmati musik yang mereka suguhkan, cukup dengan duduk sembari menikmati teh atau kopi dan camilan kesukaan. Untuk membuktikan musik bagus nan catchy tidak melulu harus berasal dari Pulau Jawa. Afternoon Talk seakan mengajarkan kepada kita bahwa kesedihan tidak selamanya harus disikapi secara muram dan berlebihan. Biarkan perasaan tersebut berlalu dan tumpahkan dengan riang.
Setelah beberapa lagu pembuka dari Afternoon Talk, tiba-tiba saya bertemu dengan Amri dan Alief. Ternyata Amri yang masih libur kuliah dan Alief yang sedang menunggu penempatan. Wah goodluck bro!.
Saya juga pada saat itu tidak terlalu hafal urutan lagunya karena mereka belum mengeluarkan EP pada saat itu. Saya rasa kurang lebih sejam, acara pun berakhir. Hikmat sekali pada sore itu, crowd yang hangat dan ramai, acara yang berkesan dan lagi-lagi menginspirasi, apalagi vokalisnya lincah, cute, atraktif, humoris, dan saya suka hehehe karena cantik itu relatif.
Acarapun selesai, kita (Saya, Amri, dan Alief) segera menuju kedalam melihat dan membaca koleksi buku yang ada, dan membahas sedikit tentang cover album yang ada ditempat khusus koleksi kaset dan dvd film, sambil saya menunggu hujan reda pada saat itu untuk kembali pulang.