—benang merah, kita
aku memutuskan benang yang paling membuatku hidup. dengan sungguh aku bulatkan keputusan ini sembari meremah takdir, berharap keajaiban terjadi disela-sela kematianku. mungkin terdengar egois tapi begitulah caraku melibatkan nomor darurat abadi dalam kemustahilan hidupku.
sebenar-benarnya cinta, dia tidak akan mendua, bukan? atau paling tidak dia tidak akan berpikir menyakitiku dengan sengaja. manusia jelas diciptakan dengan sebaik-baiknya, lengkap dengan pikiran yang sehat, seharusnya kamu paling tahu apa yang akan melukaiku.
namun, entah apa yang ada dipikiranmu setiap kali kau melakukannya, aku yang dengan kesadaran penuh ini selalu kau buat bertanya-tanya. apakah benar cinta itu memang harus semenyakitkan ini? apakah hanya untuk merasa dicintai aku harus merasakan perihnya dulu?
sementara disisi bagian hatiku, tak pernah mampu membalas hal yang sama. laut hatiku terlalu tenang untuk membalas badai yang kau ciptakan. terlalu dalam hanya untuk membawamu kepada luka-luka yang tak pernah aku bicarakan. sudahlah, memar-memar yang bernanah ini pun tak tampak jelas bagimu saat kau marah.
aku menyerah. bahkan aku mempersiapkan diri hanya untuk menyerah. untuk membubuhi titik pada kisah kita, aku benar-benar harus meyakinkan diriku. semua berperang dalam otakku. memoar tentang suka dan sedih berperang ingin menguasai tempat pada hatiku. tetap saja, seorang gadis kecil di dalam diriku meminta penuh kesedihan agar aku mengakhiri ini.
setelah aku berpikir panjang, memang aku sudah berusaha. mungkin jika garis takdir itu benar adanya dan jika memang kita adalah sepasang keping yang utuh, semoga dipertemukan dengan cara yang lebih baik tanpa harus banyak saling menanggung derita. semoga kita benar-benar selesai dengan lukanya masing-masing. tidak lagi mengharapkan seseorang akan mengerti dan menyembuhkannya.
sisanya kuserahkan pada Yang Maha Cinta. putarlah semesta ini untuk mengarahkan pada yang terbaik untuk siapapun dan apapun. serta kuharap dunia selalu baik padamu.















