Pengalaman Nonton Bola di GBK
Assalamualaikum ww, gaes. Long time no tulas-tulis nih. Haha. Jadi ceritanya sekarang mau cerita (pada diriku di masa depan) soal pengalaman nonton bola LIVE! For the first time in my life. Ecailah.
Pengalaman ini berlangsung Ahad, 14 Januari 2018 silam. Waktu itu pertandingan persahabatan timnas kontra Islandia yang notabene peserta world cup dengan peringkat FIFA nan jauh lebih tinggi dari Indonesia pastinya. Haha. Jadi mayoritas penonton tentunya sudah mawas diri.
Sebetulnya saya mah ngga pernah daftar jadi penggemar sepak bola. Berhubung orang-orang terdekat saya masa kini penggila bola, jadilah satu dua hal tentang bola telanjur familiar. Dan niat nonton bola kali ini juga bukan karena excitement terhadap pertandingannya, atau stadion baru, atau peresmian Presiden Jokowinya. Buat saya faktornya kebersamaan yang priceless. Since kemarin kami nontonnya bertujuh! Hahaha..
Dimulai dari pembelian tiket di aplikasi BukaLapak.com sebagai mitra yang akhirnya dipilih PSSI dalam menyediakan tiket. Cara pemesanannya sangat user friendly yang orang agak jadul pun bisa lah insyaAllah. Tinggal cari gambar orang main bola di halaman depan aplikasi atau masuk ke menu event. Di sana ada opsi pilih tiket yang kalau di-klik akan berubah jadi layout posisi kursi GBK beserta harga untuk masing-masing zona. Ada tanda plus dan minus yang mengapit angka 0 yang tinggal dipencet untuk menyesuaikan jumlah tiket yang akan dipesan.
Aturannya, sekali pemesanan bisa membeli 5 tiket. Kemungkinan supaya nanti waktu antre di lokasinya ngga kepanjangan. Namun ada hipotesis sistem ini digunakan untuk menghindari calo. Jadilah kami yang saat itu dipenuhi keraguan memilih main aman daripada dituding sistem. Kami memesan menggunakan 2 akun bukalapak dengan masing-masing pesan 4 dan 3 tiket.
Setelah dipilih kategori dan jumlah tiketnya, lanjutkan pemesanan dengan mengisi data diri dan nomor identitas yang berlaku (boleh KTP, SIM, atau paspor). Cukup 1 identitas pemesan, tidak perlu semua peserta. Lalu pilih opsi pembayaran, dan setelah dibayar akan ada e-tiket yang dikirim ke alamat email terdaftar.
Ada beberapa peraturan yang dicantumkan di etiket dan marilah kita kritisi sedikit:
Jadi ternyataah, meskipun di sini ngga dicantumkan, e-tiket ini hanyalah tanda bukti yang nantinya HARUS DITUKAR di tenda putih-putih di lokasi. Katanya sih sejak pagi sudah bisa ditukar kalau mau menghindari antrean dan berangkat lebih santay. Jadi meskipun di etiket nanti ada kode-kode pemesanannya, kode itu mirip kode e-tiket pesawat terbang non-check in online. Penonton tetap harus menukarkan dengan tiket fisik sebagai boarding pass-nya.
Layaknya check in di counter, kita perlu menunjukkan e-tiket beserta kartu identitas sesuai yang tercantum (di e-tiketnya ngga ada nomor identitas, tapi sistem pemesanannya punya). Sesuai poin 1 dan 2 ya. Cumins, “dapat” di poin 2 itu boleh diartikan “tidak wajib”, hanya jaga-jaga semisal smartphone kamu error atau lowbatt, ada hardcopy-nya kan..
Poin 3 dan 4 intinya kalau ngga mau rugi, tiket yang sudah dibeli bisa dijual ke orang lain kok. Cuma penukaran e-tiket hanya bisa menggunakan identitas pemesan yang tertera. Kata satpam sih, boleh foto identitasnya diwhatsappin juga. Jadi, in my opinion, kesempatan menjadi calo masih terbuka lebar ya gaes. Hahaha.
Poin 5-12 adalah syarat yang perlu dipenuhi agar menjaga keamanan dan kenyamanan penonton, keselamatan tim kesebelasan dan awak media, serta keuntungan panitia. Alhamdulillah di dalam stadion nantinya tidak ada yang merokok atau mendadak sakau. Yeey. Tidak ada baku tembak dan baku hantam dengan sentaj maupun sentum. Tidak ada penonton yang melempar botol (boleh bawa air minum kemasan dalam plastik), dan tidak ada kafilah yang berlalu (sebab tiada anu yang menggonggong).
Sisanya? Gittew deh. Mari lanjut saja ke...
Sekali lagi, NUKER TIKET is a must! Dan bersiaplah untuk thawaf a.k.a keliling GBK terutama kalau gagal paham dengan arah mata angin. Carilah informasi di internet kalau-kalau tiap pertandingan lokasinya berubah. Kalau pada hari kemarin, pintu utara (yang seberang TVRI) adalah pintu masuk dengan tenda pembelian tiket on the spot, sementara penukaran tiket online ada di pintu timur (sisi polda metro). Pembelian dan penukaran tiket ini berlangsung di tenda-tenda darurat warna putih yang dipisah berdasarkan kelas/kategori kursinya. Siap-siap saja, tiket tribun nan ekonomis antreannya bakal paling panjang sekalian.. Sementara kelancarjayaan ada di antrean tiket VIP dengan harga 15x lipat. Lol.
Kalau selama tuker tiketnya sih gitu aja. Tunjukkan e-tiket dan kartu identitas sesuai yang tertera, nanti discan-scan, dihitung jumlah tiketnya, discan-scan lagi. Macam ini nih, tapi kurang jelas kelihatannya ya :p
Di sekitar area GBK banyak penjual pernak-pernik timnas. Mulai dari jersey grade ORI, jaket parasut, syal, stiker untuk pipi, dan kawan-kawannya. Harganya bervariasi, yang jelas mungkin akan lebih mahal dari toko online dan sulit ditawar. Hehe.
Nah, yang agak kurang nyaman sebetulnya adalah kondisi hujan. Orang-orang pada antre harus rela basah. Ada juga sih penjual jas hujan ponco plastik, cuma berhubung hujan pasti datang keroyokan sudah barang tentu setiap insan tiada dapat sepenuhnya menghindar. Mungkin tipsnya pakai jaket antibasah saja ke GBKnya, bawa jas hujan/payung sendiri, dan bawa handuk kecil di tas. Yang lebih kurang nyaman lagi terutama buat teteh-teteh berkaus kaki, adalah genangan air becheknya gaes. Walaupun dijanjikan drainase stadion baru yang baik, ternyata imbasnya belum sampai ke parkiran. Atau malah lebih tepatnya, yang sukses tanpa becek persis di lapangan rumputnya aja gaeeesss. Yes yes yes.
Nonton bertujuh, apalagi bukan dari satu tempat berangkat yang sama memang lezat dan sedap. Jadi ada rasa galau apakah hendak menanti teman yang belum datang, atau mulai mengantre karena barisan sudah cukup panjang. Pintu masuk ke area stadionnya ini ternyata cuma dibuka dua. Padahal dari tukar tiket di pintu timur, kami jalan berputar ke arah pintu selatan, berharap tidak seramai antrean masuk di pintu utara dan tidak banjir bandang semata kaki seperti di pintu timur (meski antreannya lebih sedikit). Apa daya ternyata tidak ada pintu lain jadi kami kembali menelusuri GBK sampai di pintu utara lagi.
Dua foto di atas adalah ilustrasi antrean dan nasib kami saat hujan: antara berteduh dan berlari-larian, wkwkwk. Di tenda putih itu ada x-ray sebagai saringan keamanan pertama. Ternyata belum dicek tiketnya, jadi kalau tunggu teman no problemo masuk area stadion dulu. Oh ya, tadi belum cerita tiketnya. Ada klue kursi kita di sana. Zona berapa, Gate berapa, Row berapa, dan nomor kursi berapa. Tulisannya lumayan cilik di sisi kanan bawah, tapi masih terbaca. Tinggal diikutin aja, pintu utara ini zona 9-10. Ke arah barat itu 11-12 lalu 1-2, sementara ke timur 8-7 dan seterusnya sampai nyambung deh nomor zonanya.
Sambil tunggu personel lengkap, kami sempat diminta salah satu stasiun TV untuk diwawancara. Mungkin karena bergerombol jadi menarik perhatian. Sayangnya kami tidak terlalu tertarik berlama-lama di luar stadion :D Kami lebih tertarik belanja kebab Palestine street food di tenant mobil sekitaran situ. Ada food truck yang lain tapi jauh bok. Nah, yang menarique nih, nanti di dalam stadion kami ketemu bendera Palestina sebagai bendera terbanyak ke dua, lebih banyak dari bendera Islandia (yang bukan di layar ya). Wiw :)
Setelah personel lengkap, kami mencari zona yang sesuai lantas bergegas ke gate yang dituju. Eits, ternyata ada saringan berikutnya! Rokok, botol minum, dan kawan-kawan yang sempat lolos di pemeriksaan sebelumnya semakin tercyduk di sini. Tahu ngga yang menarique lagi? Antrean perempuan beda (karena digrepe grepe a.k.a diperiksa oleh polwan) dan didahulukan! Yey. Untungnya nontonnya ngga perempuan sendirian, bisa-bisa garing sendiri seperti mbak yang ini. Ehehe. Maaf ya mbak, ngga sengaja kefoto..
Itu ceritanya si mbak lagi lihat ke arah gate yang dijaga 2 lelaki. Jadi kebayang ya, begitu ketemu zona, naik tangga, ketemu gate-nya deh. dan waktu masuk ada tulisan baris di lantainya, tinggal dicari nomor kursi yang sesuai. Kedua orang itu berjaga sebagai saringan ketiga. Mengecek barang bawaan penonton sekali lagi, kemudian memberi informasi arahan kursi sesuai di tiket.
Di sekitar gate ada toilet untuk laki-laki dan perempuan. Kalau buat perempuan ada 4 wastafel dan 2 bilik kamar mandi. Laki-laki biasanya sih ada urinoir ya..Ngga sempat ngintip :p Dan karena kemarin waktu pertandingan di awal magrib, jangan heran kalau selepas azan di selasar gate menjelma jadi lautan jamaah salat. Yeay.
Daaan, inilah bagian dalam GBK dari kursi penonton! dung-dung-dung-dung-dung! Stadion yang mulanya berkapasitas 90ribu penonton (tapi konon pernah dipenuhi 150ribu orang di zaman baheula) kini menyusut jumlah kursinya menjadi 70ribuan saja. 75-77ribu mungkin ya. Karena menurut informasi kemarin ada 35.220 orang yang nonton dan tampaknya memang hampir separo kursi yang terisi. Weladalah padahal di luar tadi antrenya sudah lumayan panjang ya. Apa kabarnya kalau penuh?
Proses mobilisasinya memang ngga terlalu lama sih, karena kabarnya stadion ini sudah dirancang supaya bisa kosong dalam 15 menit kalau ada kondisi darurat. Kursinya bisa terlipat kalau sedang ngga digunakan. Lampunya terang. Mendukung deh. Hehe. First impression-nya cukup baik dan bikin percaya kalau stadion ini patut diperhitungkan setidaknya di kelas Asia.
Selain peresmian GBK baru oleh Presiden Jokowi, ada pembacaan pemain line up kedua tim dengan tampilan foto masing-masing di layar, iring-iringan para pemain masuk lapangan bersama para anak yang gemas, dan yang pastinya paling seru adalah agenda menyanyikan lagu Indonesia Raya berjamaah. U-huw. Bohong banget sih kalau orang berhati lemah (lembut.red) ngga terharu..
Daaan, kemudian lagi asyik nontonin penonton lain tahu-tahu kick off. Sebetulnya bagi sebagian orang mungkin lebih asyik nonton di TV ya, wajahnya jelas, bolanya jelas, ada komentator, dan yang pasti ngga perlu antre dan bayar tiket. Tapi entah bagaimana saya cukup yakin hadirin GBK ngga akan kapok nonton secara langsung lagi di stadion. Mereka beramai-ramai membawa banyak atribut, bendera, gendang, terompet, tak lain dan tak bukan untuk menyemangati tim kesayangan mereka. Jauh-jauh dari kota lain, bahkan provinsi lain, seolah enggan berhenti menunjukkan dukungannya.
Lagu nasional, yel-yel penyemangat, sorak sorai, tepuk tangan, dan formasi gelombang satu stadion silih berganti diserukan. Hanya, terasa ada perbedaan semangat penonton di masing-masing sisi gawang. Di babak pertama, gawang Islandia berada di sisi selatan. Maka, penonton di sisi sanalah yang heboh dan demikian bersemangat, terutama saat timnas mulai menyerang. Babak kedua, suporter selatan lebih adem ayem (untuk tidak menyebutnya mulai loyo, wkwkwk). Tak lagi riuh genderang ditabuh. Hanya sesekali melonjak saat-saat gawang kritis atau sesekali yang lain bertepuk tangan a la viking.
Ada pemandangan cantik ketika di penghujung babak dua para penonton kompak menyalakan flashlight dari ponsel pintar masing-masing. Ibarat taburan bintang, cantiiik sekali. Meskipun lampu stadion tentunya tidak dipadamkan. Saya memilih untuk menikmati kebersamaan goyang-goyang ponsel itu daripada mengabadikannya. Hehe, mungkin ada yang lain yang punya..
Dua hal lain yang menarik perhatianku adalah kalangan reporter dan adik-adik ball boy. Para reporter dengan jas hujan warna-warninya bergerumul di sisi batas lapangan belakang gawang Islandia. Pun ketika pindah gawang pun mereka ikut. Gawang timnas sepi peminat, mungkin mereka pikir saat menyerang para pemain bola tampak lebih seksi daripada saat bertahan. Sementara adik-adik ball boy paling sibuk adalah 3 orang sisi gawang, mungkin itu sebabnya mereka berdiri tanpa diberi kursi. Di pinggir lapangan, kedua ball boy lebih banyak duduk jarang kebagian limpahan bola.
Pertandingan berakhir dengan skor 1-4 untuk kemenangan Islandia, dengan hattrick dari striker bernomor punggung 10, Albert blablabla-son (semua pemain Islandia punya akhiran -son di belakang namanya).
Sebagian besar pemain Indonesia mengawal peluit panjang wasit dengan tetap bersujud syukur. Sementara tim pemenang kemudian berkumpul dibelakang 1 genderang besar, memimpin para penonton untuk tepuk tangan viking dengan sahih.
Para penonton berhamburan dari kursi. Ada yang buru-buru menuju parkiran sebelum macet, ada juga yang turun mendekati lapangan, berharap pemain timnas berkeliling lapangan yang sayangnya tidak. Ada juga yang celingak-celinguk mencari artis atau selebritis yang kebetulan nonton. Benar saja, ternyata tak jauh dari kami Bung Valent “jebret” dan beberapa rekan presenter NET Soccer turut menyaksikan jalannya pertandingan.
Mungkin sekitar 15-20 menit, penonton dipersilakan berfoto, kadang-kadang lampu stadion diredupkan. Di sela-sela waktu itu juga, mbak pembaca skor dan pergantian pemain mengumumkan pembagian hadiah. Dua orang penonton dipilih secara acak, kebetulan dari Bogor dan Bekasi. Diberi pertanyaan, lalu atas keberhasilannya diberi hadiah. Lupa hadiahnya apa, hehe, kurang merhatiin. Nah, kemudian dimintalah penonton yang masih di dalam stadion untuk meninggalkan lokasi karena petugas harus beres-beres sebelum malam semakin larut :D
Kami berjalan pulang. Sebagian menuju stasiun, sebagian berencana pesan taksi online. Tapi kami sama-sama berjalan kaki keluar menuju pintu utara, lalu ke arah barat lagi. Lumayan padat jalannya. Yang mengherankan di luar stadion asap rokok kembali langsung membumbung memenuhi udara, padahal sebelumnya kan sudah dirazia ya? Dan masih banyak penjual pernak-pernik, malah yang sebelumnya tidak kelihatan seperti gantungan kunci dan stiker meja.
Butuh sekitar 20-30 menit sampai akhirnya kami mendapatkan taksi online. Padat dan 50% lebih tinggi dari tarif normal, bok.. Pikiran kami yang lapar hanya bisa pasrah dan beli jajanan pinggir jalan untuk mengganjal perut. Yang jelas, tampak wajah-wajah puas para penggila bola yang habis menyaksikan langsung permainan timnas yang cukup apik, yang kemarin-kemarin cuma ditonton di televisi. Katanya, “terima kasih RCTI”.
Sekian gaes... Mungkin belum semuanya diceritakan, tapi mudah-mudahan cukup tergambar yhaa aktivitas ber-GBK-nya.. Saya mendukung teman-teman yang ingin memberi dukungan pada timnas, baik secara moral maupun material (tidak langsung, misalnya beli tiket). Yakinlah perbuatan baik dan bermanfaat tidak melulu baca buku dan mengaji surat. Banyak hal yang jika kita niatkan, bisa jadi pahalanya lebih besar. Hehe, wallahua’lam bish shawwab.. Wassalamualaikum ww, yaw ^^