one of my favorite poems of imam al-haddad, written after the passing of his beloved wife
seen from Jamaica
seen from China
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from United States

seen from Canada

seen from Canada
seen from China

seen from Canada

seen from Canada

seen from United States
seen from T1
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Türkiye
one of my favorite poems of imam al-haddad, written after the passing of his beloved wife
— Pertarungan Tak Terlihat —
───────────────────────────────────────
“Sering kali manusia tidak berhenti karena kehilangan keinginan. Mereka berhenti karena kehilangan harapan bahwa keinginannya mungkin tercapai.”
— Absurdismee
───────────────────────────────────────
Kita mungkin sering mengira bahwa manusia bergerak karena keinginan.
Kalau ingin bahagia, maka ia akan mengejar kebahagiaan.
Kalau ingin sembuh, maka ia akan berusaha sembuh.
Kalau ingin hidupnya berubah, maka ia akan mulai berjalan.
Masalahnya, batin manusia tidak dirancang sesederhana itu.
Ada orang yang sangat ingin bahagia, namun tidak sanggup menghadapi prosesnya.
Ada orang yang bersedia berjuang, namun tidak lagi percaya bahwa perjuangannya akan membawanya ke mana-mana.
Dan ada orang yang diam bukan karena tidak ingin, melainkan karena harapannya telah terlalu lama kalah.
Kita sering kali mencampurkan tiga hal yang sebenarnya berbeda. Dalam bahasa modern, kita mungkin menyebutnya sebagai keinginan, kesediaan, dan harapan. Menariknya, tradisi tasawuf sejak lama mengenal struktur batin yang tidak jauh berbeda: himmah, mujahadah, 'iffah, raja', dan khidmah.
───────────────────────────────────────
1. Ingin (Wanting/همة)
Keinginan adalah bagian yang paling mudah. Hampir semua manusia ingin hidup yang lebih baik. Ingin dicintai. Ingin tenang. Ingin terbebas dari penderitaan. Namun keinginan sering kali hanya menunjukkan arah hati. Ia belum tentu mampu menggerakkan langkah.
Dalam pandangan tasawuf, ini disebut himmah :
توجّه القلب بكليته إلى المقصود
"Pemusatan seluruh perhatian hati kepada tujuan yang dituju."
Himmah bukan sekadar keinginan biasa. Ia adalah dorongan batin yang membuat seseorang merasa terpanggil menuju sesuatu.
───────────────────────────────────────
2. Bersedia atau mau berjuang (Willingness/مجاهدة , عفة)
Bersedia berarti menerima harga yang harus dibayar. Para ulama menjelaskan mujahadah sebagai:
حمل النفس على ما تكره فيما يرضي الله
"Memaksa diri melakukan sesuatu yang berat demi sesuatu yang diridhai Allah."
Sedangkan 'iffah sering dipahami sebagai:
كف النفس عما لا يليق
"Menahan diri dari hal-hal yang tidak patut."
Jika himmah adalah tenaga, maka mujahadah membuat manusia tetap bergerak ketika lelah. Sedangkan 'iffah membuat manusia tidak keluar jalur ketika tergoda.
Di titik ini banyak manusia berhenti.
Kita menginginkan hasilnya, tetapi belum tentu siap menghadapi prosesnya.
Kita ingin sembuh, tetapi tidak ingin terluka lagi.
Kita ingin berubah, tetapi tidak ingin meninggalkan hal-hal yang membuat kita nyaman.
───────────────────────────────────────
3. Harapan atau kemungkinan yang dirasakan (Perceived Possibility/رجاء)
Imam al-Ghazali menjelaskan raja' sebagai:
ارتياح القلب لانتظار محبوب في المستقبل
"Ketenangan hati karena menantikan sesuatu yang dicintai pada masa yang akan datang."
Harapan bukan sekadar berpikir positif. Ia adalah keyakinan bahwa langkah yang kita ambil masih memiliki kemungkinan untuk sampai ke tujuan.
Ketika harapan runtuh, manusia sering kali berhenti bergerak. Bukan karena tidak menginginkan tujuannya, melainkan karena tidak lagi percaya bahwa tujuan itu mungkin untuk dirinya.
Namun masalahnya, ketiga kondisi ini tidak selalu berjalan searah.
Kita ingin banyak hal. Namun tidak selalu bersedia membayar harganya. Dan meskipun bersedia, tidak selalu percaya bahwa semua itu masih mungkin untuk diraih.
Ketika kita melihat seseorang mandeg atau "menyerah", biasanya label yang paling cepat kita lemparkan adalah malas, tidak punya ambisi, atau kurang berniat.
Tapi mari coba kita lihat dengan lebih jernih. Sebab bisa jadi penilaian itu lahir dari posisi kita yang kebetulan sedang memiliki ketiga hal tersebut dalam keadaan selaras. Kita lupa bahwa tidak semua orang sedang berdiri di titik yang sama.
Kita mungkin sulit menyadari bahwa ketika salah satu dari tiga hal itu hilang, langkah manusia sering terhenti—tak terkecuali diri kita sendiri.
───────────────────────────────────────
Dan tidak semua langkah yang terhenti lahir dari kemalasan; sebagian lahir dari harapan yang perlahan kehilangan tempat untuk pulang.
────────────────────────────
Dalam banyak tradisi tasawuf, ada satu keadaan lagi yang disebut dengan khidmah (خدمة).
Biasanya khidmah diterjemahkan sebagai pengabdian atau pelayanan. Namun jika dilihat lebih dalam, khidmah bukan sekadar tentang melayani sesuatu di luar diri. Ia juga tentang kesediaan untuk tetap hadir di dalam kehidupan.
Tetap bangun ketika hati sedang lelah.
Tetap berjalan ketika arah terasa kabur.
Tetap melakukan apa yang mampu dilakukan hari ini.
Mungkin karena itulah terdapat ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali:
من علمني حرفا فقد صيّرني عبدا
"Siapa yang mengajariku satu huruf, maka ia telah menjadikanku sebagai hamba baginya."
Bukan karena kehinaan. Melainkan karena adanya kerelaan untuk melayani sesuatu yang dianggap bernilai. Di titik ini, khidmah menjadi bentuk tertinggi dari kesediaan.
───────────────────────────────────────
Dan kehidupan adalah guru yang paling sering kita lupakan. Padahal lewat luka dan prosesnya, ia mengajari manusia huruf demi huruf takdir.
───────────────────────────────────────
Setiap kali manusia memilih untuk tetap berjalan—meski tertatih, meski bingung, meski tidak sepenuhnya mengerti ke mana arah hidup membawanya—mungkin ia sedang berkhidmah kepada guru yang bernama kehidupan.
Dan mungkin di sinilah letak sesuatu yang terasa tragis sekaligus indah tentang manusia: bahwa tidak semua bagiannya utuh, tidak semua harapannya hidup, tidak semua keyakinannya tetap menyala. Namun ia tetap berkhidmah kepada kehidupannya.
Khidmah adalah alasan mengapa seorang ibu yang depresi tetap bangun pagi untuk membuatkan sarapan anaknya.
Khidmah adalah alasan mengapa seseorang yang patah hati tetap berangkat kerja di tengah kereta komuter yang padat.
Khidmah adalah alasan mengapa seorang mahasiswa yang hampir menyerah tetap membuka bukunya sekali lagi.
Khidmah adalah alasan mengapa seseorang yang kehilangan arah masih sanggup berkata:
"Aku akan mencoba lagi besok."
Kadang keinginan melemah.
Kadang upaya retak.
Kadang ketahanan goyah.
Kadang harapan hampir padam.
Namun manusia tetap berjalan semampunya. Tetap bangun di pagi hari. Tetap menyapa orang yang dicintainya. Tetap mencoba hidup meski tidak sepenuhnya mengerti untuk apa.
Bukankah itu tragis sekaligus indah?
───────────────────────────────────────
Sebab kita mungkin tak akan pernah benar-benar tahu bahwa di balik satu keputusan yang terlihat sederhana, sering kali manusia sempat mengalami pertarungan panjang yang tak terlihat di antara keinginan, kesediaan, dan harapan.
───────────────────────────────────────
Dan mungkin yang paling layak kita kagumi bukanlah mereka yang selalu kuat. Melainkan mereka yang tetap berjalan meski tidak seluruh bagian dirinya sedang baik-baik saja.
Mereka yang tetap berkhidmah kepada kehidupannya—meski kadang harus berjalan dengan bagian-bagian yang tak sepenuhnya sempurna.
Allah has always shown me what the path is and my what he wants for me. And it’s fly…I have to stop being selfish and share my gift.
An increase in knowledge should be matched with an equal or greater increase in practice.
-A Translation and Commentary of Riyād al-Sālihīn, Volume 1
The Qur’an changes you, changes your personality, elevates you, refines your reactions without you realizing it, either by necessity or choice. This is when you adhere to it, devote yourself to it, and draw from its sweetness.
''How is it that those people who are most beautiful pray at night?'
‘Because they are alone with the All Mercuful who covers them with light from His Light!"
- Hasan Ibn Ali
''To be deprived of prayer would be a greater loss for me than to be deprived of being heard and granted.
Prayer can be classified as an intimate conversation between man and God, as an exchange of words of love that console the afflicted heart even if they are not immediately answered.
It is the language of yearning for the beloved!"
“The heart also needs to breathe, and the breath of the heart is none other than the remembrance of God.”
― Hamza Yusuf, Purification of the Heart
Translation and Commentary of Imam al-Mawlud's Matharat al-Qulub. Signs, Symptoms and Cures of the Spiritual Diseases of the Heart:
1 of 2 | Purification of the Heart by Shaykh Hamza Yusuf
2 of 2 | Purification of the Heart by Shaykh Hamza Yusuf