Mencintaimu adalah Jatuh Terindah, Melupakanmu adalah Patah Terparah.
Pernah ada yang memberikan tangan untuk saling bertautan, tapi sekarang hanya menjadi sebuah cerita kusam.
Pernah ada yang berjanji untuk selalu disamping meskipun sekarang hanya proyeksi diri saja yang bersanding.
Pernah ada yang berkenan untuk melakukan apa saja tetapi yang dilakukan ternyata pergi begitu saja tanpa pejelasan dengan sejuta tanya yang membuntutinya.
Pernah ada yang mengucap untuk tak meninggalkan tapi malah menelantarkan tanpa sebuah pesan.
Pernah ada yang berujar agar tetap bersama disaat hujan sedang mendera sembari menunggu pelangi tiba, nyatanya ia malah memilih pergi dan membiarkan basah sendiri.
Aku masih ingat ketika kali pertama aku jatuh, saat kau melemparkan tawa yang menurutku itu tawa terbaik yang pernah kutemu, yang mampu meruntuhkan isi kepalaku.
Tapi sekarang, ia menghilang, menyisakan sebuah retakan patah yang menjerit derita parah.
Hai puan, aku masih menunggumu, masih dengan perasaan yang sama ketika pertama bertemu. Masih tercetak jelas ketika debar dalam dada yang menderu mengencang saat mata kita saling beradu. Ah.
Mungkin aku tak paham sampai kapan aku harus membohongi kepala bahwa kamu sudah tiada. Menyuntikkan rindu dengan puisi agar jeritannya tak perlu merusak hari.
Mencintaimu adalah jatuh terindah, melupakanmu adalah patah terparah.
Semoga kamu baik-baik saja.