Rasa sakit itu masih ada. Meskipun aku berusaha menutupi atau mengalihkannya. Namun, luka itu tidak pernah hilang sebab aku tidak pernah berusaha untuk menyembuhkannya.
Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin berada dalam situasi seperti ini. Aku juga tidak pernah menyetujui siapa pun untuk menaruh luka. Namun, aku sadar, aku hanya manusia yang tinggal di tempat bernama dunia. Semua kemungkinan bisa terjadi, sedih atau bahagia bisa kita rasa. Mungkin itu yang biasa manusia katakan sebagai bumbu dalam kehidupan.
Salahku yang sejak awal tidak pernah berusaha untuk sembuh. Aku terus mengatakan pada diri bahwa aku baik-baik saja. Padahal semua itu hanya kebohongan. Siapa yang bisa baik-baik saja ketika sesuatu yang dia anggap sebagai kebahagiaannya, harus direnggut paksa?
Aku yakin, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah terluka. Meski tidak semua orang yang benar-benar terpengaruh oleh luka-luka itu. Ada orang-orang yang dapat menemukan cara untuk menyembuhkan lukanya. Namun, banyak pula yang sulit untuk lupa bahwa dia punya luka. Tidak benar-benar mengerti bagaimana menyembuhkannya, bahkan mengatasnamakan luka untuk bisa membalas rasa sakit itu. Berharap dengan membalas, luka itu akan mereda. Apakah benar begitu?
Namun, ada yang lebih berbahaya lagi. Seseorang yang tidak berusaha menyembuhkan lukanya, tetapi mencoba menutupinya, lalu bersembunyi di balik kata 'aku baik-baik saja'. Mungkin sekilas kita merasa orang seperti itu adalah orang yang kuat. Nyatanya, dia hanya berpura-pura. Siapa yang bisa menjamin suatu saat luka itu tidak muncul kembali? Sebab sejak awal bukankah luka itu tidak pernah sembuh? Lebih berbahaya lagi jika dia tidak hanya menyimpan satu luka.
Kita pikir tersenyum adalah kamuflase terbaik. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja adalah cara paling tepat. Rasanya tidak ada waktu untuk memperbaiki, menyembuhkan, atau sekadar memberi ruang pada diri sendiri. Dunia seolah berjalan terlalu cepat, sehingga kita tidak punya waktu jeda. Nyatanya, kita yang tidak mau berhenti sejenak untuk melihat diri. Namun, terkadang sibuk menghakimi takdir atau keadaan yang tidak sejalan. Sampai akhirnya setiap hal berjalan sama dan tidak ada yang benar-benar selesai.
Setiap dari kita memang punya cara yang berbeda untuk menyelesaikan luka. Namun, rasanya lebih banyak dari kita yang lebih memilih berlindung di balik kata-kata “Aku baik-baik saja”. Kita tidak ingin orang lain terbebani oleh luka-luka kita. Juga tidak bisa jika terus berlarut-larut terus-menerus dengan luka yang seolah tidak ada habisnya. Sayangnya, kita juga tidak punya cara yang pasti untuk sembuh dari rasa sakit yang ada. Meyakinkan diri dan orang lain bahwa semua dalam keadaan baik adalah cara paling instan yang kita punya. Sampai akhirnya, kita kehilangan diri kita sendiri.
Bukannya kita tidak pernah bertanya pada diri sendiri, “Benarkah semuanya baik-baik saja?” Hingga kita lupa, kapan terakhir kali senyuman paling tulus pernah kita tunjukkan? Kapan rasa bahagia yang menenangkan hati benar-benar kita rasakan? Selain kesenangan-kesenangan sesaat yang menjadi pelarian di saat penat dan sesak datang beriringan.
Padahal kita ini hanya manusia, makhluk yang tidak sempurna. Tidak pernah bisa situasi dan kondisi selalu ideal. Ada kalanya kita tidak merasa semua berjalan baik, begitu pun hati kita, dan baiknya kita menerimanya. Tidak harus kita memaksa diri untuk selalu mampu dan kuat. Sebab meski lisan berkata baik-baik saja, ada bagian diri yang terus tergerus dan rapuh, hingga rasanya hampir runtuh. Namun, betapa lihainya kita bersembunyi, membentengi diri. Seolah kita kuat, padahal bisa hancur kapan saja.
Di sisi lain, ada di antara kita yang bukannya tidak ingin mengekspresikan diri. Hanya saja, keadaan tidak mendukung. Situasi tak mengizinkan. Ada yang tidak diperbolehkan untuk menangis, dibungkam dari keluhan, dan diabaikan rasa sakitnya. Hanya boleh baik-baik saja, walau perasaannya dijungkirbalikkan. Jika kata lain selain 'baik-baik saja' diucapkan, segala macam label akan disematkan padanya. Terkadang disebut tidak bersyukur, terlalu banyak mengeluh, egois, tidak bisa memahami keadaan, atau bahkan dianggap manja.
Padahal merasa sedih atau kecewa itu wajar. Siapa di dunia ini yang tidak pernah merasakannya? Jika setiap luka yang datang kita hanya harus diam, tidak berarti luka itu hilang. Nyatanya, luka tersebut hanya akan terus menumpuk. Akhirnya, akan ada satu momen ketika semuanya meledak tidak terkendali. Sebab berlindung di balik kata 'baik-baik saja' dengan benar-benar merasa baik itu tentu berbeda. Jika kata-kata itu hanya sebagai kamuflase perasaan yang sesungguhnya.
Padahal sering kali seseorang tidak langsung menyadari bahwa dirinya sedang memendam luka. Ia hanya merasa lebih mudah marah, lebih sensitif, mudah lelah secara emosional, atau merasa hampa tanpa tahu penyebabnya. Luka yang tidak diberi ruang untuk dipahami perlahan mencari jalannya sendiri untuk muncul.
Sungguh, kita ini boleh menangi, boleh sesekali merasa tak baik perasaannya, merasa kecewa dan ingin marah. Kita boleh memberi ruang untuk merasakan dan menuntaskan perasaan itu terlebih dahalu. Namun, tidak berlarut-larut di dalamnya. Bukankah ada Allah yang selalu mendengar setiap keluh kesah? Bukankah ada Allah yang akan menolong kita? Kenapa kita ragu bahkan untuk sekadar mengekspresikannya di hadapan Allah?
Selain itu, ada banyak cara untuk menyalurkan keresahan hati daripada terus memendamnya. Kita bisa menulis jurnal, bercerita kepada orang yang kita percaya, atau bertemu profesional seperti psikolog jika beban emosional kita sudah terlalu berat. Bukan dengan terus bersembunyi, menutupi, dan menumpuk semua luka, lalu memaksakan tersenyum dan menganggap semua akan baik-baik saja. Bahkan, kita berusaha meyakinkan orang lain bahwa kita tidak apa-apa.
Betapa berat beban yang dipikul jika kita terus melakukannya. Entah sampai kapan kita bisa terus bertahan dengan semua itu. Mungkin juga kita sudah sangat merasakan efeknya. Perasaan tidak tenang, mudah marah bahkan meledak-ledak, melampiaskan pada hal lain yang bisa jadi merugikan diri sendiri dan orang lain, atau sangat sensitif dan mudah tersinggung. Bahkan, di banyak waktu kita menjadi seseorang yang terlalu sering lari dari masalah dan sulit berkomunikasi.
Apa yang tampak sebagai ketegaran terkadang bukan tanda bahwa seseorang sudah sembuh, melainkan tanda bahwa ia sedang berusaha bertahan. Dalam psikologi, keadaan seperti ini memiliki penjelasannya sendiri.
Dalam psikologi, ada yang disebut sebagai Defense Mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Ketika seseorang merasa luka yang dirasakannya terlalu berat, pikiran terkadang menciptakan perlindungan agar tidak tenggelam dalam rasa sakit tersebut. Beberapa bentuk yang mungkin muncul, seperti denial (penyangkalan), yaitu meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Repression (represi), menekan pengalaman menyakitkan ke alam bawah sadar. Atau rationalization (rasionalisasi), mencari alasan logis untuk menutupi luka emosional. Sehingga, di beberapa momen, kalimat "aku baik-baik saja" bukan ditujukan kepada orang lain, melainkan kepada diri sendiri.
Karena itu, tidak semua orang yang berkata "aku baik-baik saja" sedang berbohong kepada orang lain. Sebagian dari kita mungkin sedang berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa kita masih mampu bertahan, meski di dalam hatinya ada bagian yang belum benar-benar pulih.
Memang ada kalanya kita merasa tak perlu berbagi dengan siapa pun. Sebab takut responsnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau kita memang tidak ingin bergantung pada manusia. Kita memilih bersabar daripada mengeluh di hadapan manusia. Sebagaimana kisah nabi Ya’qub yang berkata dalam Al-Qur’an,
"Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah."
Kita memilih terlihat baik-baik saja di hadapan manusia, lalu mencurahkan segalanya kepada Allah. Sebab kita yakin Allah akan menolong kita dan tidak akan pernah menghakimi kita
Akan tetapi, yang harus kita pahami adalah ada perbedaan antara sabar dan memendam. Sabar adalah mengelola luka dengan benar, sedangkan memendam adalah membiarkan luka tinggal sendirian di dalam dada. Kalimat "aku baik-baik saja" terkadang menjadi batas tipis di antara keduanya.