"Perjuangan dan pengorbanan para ulama dalam belajarnya, menjadi bukti nyata bahwa ilmu ini manis didunia dan akhiratnya." Pengorbanan Dimata kita, Surga Dimata mereka(Ulama').
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from United States

seen from Russia
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Netherlands
seen from Indonesia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Switzerland
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
"Perjuangan dan pengorbanan para ulama dalam belajarnya, menjadi bukti nyata bahwa ilmu ini manis didunia dan akhiratnya." Pengorbanan Dimata kita, Surga Dimata mereka(Ulama').
11 Februari Kelahiran 2 Ulama Besar Kalimantan Selatan
InfokomBanserNU- Ditanggal 11 Februari Ini Ada 2 Ulama Besar Kalimantan Selatan Tanggal Lahirnya Sama Akan Tetapi Tahunnya Berbeda,Yaitu Pertama Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani/Abah Guru SekumpuL). Dan Yang Kedua Adalah Guru Ibad(K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini).
1- Sedikit Manaqib Alhm.Guru DiSekumpuL. 11 Februari 1942 Adalah Kelahiran Ulama Besar Ditanah Banjar dan Juga Seorang Auliya Allah,Beliau Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani). Beliau Adalah Dzurriyat Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari(Datu Kalampayan).Pangkat Beliau Sejak Kecil Sudah Diangkat Menjadi Wali Qutub.dan Beliau Mempunyai Kerajaan Tersendiri Didalam Surga.Yang Mengisi Kerajaan Beliau Adalah Orang Yang Beliau Pilih Tentunya Para Pecinta Beliau. Beliau Dilahirkan DiKampung Tunggul Irang Sebrang Martapura. Nama Ayah Beliau Adalah H.Abdul Ghani bin H.Abdul Manaf. Nama Ibu Beliau Adalah Hj.Masliyah binti H.Mulya. Dari Segi Keturunan,Kakek Beliau(H.Abdul Manaf)Adalah Dzurriyat Datu Kalampayan(Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari). Sedangkan Nenek Beliau(Salbiyah)Ada Garis Keturunan Dari Sunan Giri(Maulana Ainul Yaqin). Diantara Guru Beliau Adalah Paman Beliau Sendiri Yaitu Guru Semman Mulya dan Guru Bangil(Guru Syarwani Abdan). Nama Beliau Sewaktu KeciL Adalah Qusyairi. Beliau Mempunyai 2 Orang Putera Yang Bernama H.Muhammad Amin Badali dan H.Ahmad Hafi Badali.Mudah2an Keduanya Panjang Umur,Sehat Badan dan Dimudahkan Segala Urusan,,Aamiin. Alhm.Guru DiSekumpuL Wafat Pada Tanggal 9 Agustus 2005 Bertepatan Tanggal 05 Rajab 1426 H. Walaupun Beliau Sudah Meninggalkan Kita Semua Akan Tetapi Jasa2 Beliau Selalu Kita Kenang. Dan Ditanggal Kelahiran Beliau Ini Sepatutnya Kita Bersyukur Berharap Berkat dan Syafa'at Beliau Semoga Terkumpul Diakhirat Bersama Beliau Berkat Cinta Kepada Beliau. 2-Sedikit Manaqib Guru Ibad. Nama beliau K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini bin K.H.AbdurRahman bin H.Zainuddin bin AbdusShamad bin Abdullah aLbanjari. Orang Martapura biasa memanggil beliau Guru Ibad. Beliau dilahirkan pada tanggal 11 Februari 1937 M/29 Dzulqo'dah 1355 H didesa Tunggul Irang Martapura. Ayah beliau bernama K.H.Ahmad Zaini,sedangkan Ibu beliau bernama Hj.Jannah. Diantara Guru2 beliau dikalimantan adalah K.H.Husein Qodri(Kakak Kandung Beliau) K.H.Muhammad Sya'rani Arif K.H.Muhammad Semman Mulya K.H.Muhammad Salim Ma'ruf K.H.Badruddin adalah orang yang pertama kali yang membawakan Maulid aLhabsy Simtudduror dikalimantan yang mana beliau dapat izin dari guru beliau,akan tetapi beliau menyerahkannya kepada K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani(alhm.guru disekumpul)untuk mengembangkannya kekalimantan khususnya kalimantan selatan sampai sekarang ini. Kyai Falaq Bogor pernah menyerahkan Selempang warna coklat kepada Guru Ibad.Kyai Falaq menyuruh Guru Ibad untuk mengurusi dipemerintahan.maka dari itu K.H.Badruddin sering menjabat dipemerintahan pada masa itu. K.H.Badruddin juga pernah memimpin pesantren darussalam martapura periode ke-7 tahun 1976-1992. Beliau wafat pada tanggal 23 Desember 1992/28 Jumadil Akhir 1413 H Beliau dimaqomkan dipemaqoman alkah keluarga didesa Tunggul Irang,Martapura berdampingan dengan Kakek,Ayah dan Saudara2nya. Mudah2an Berkat Rasulullah,Para Auliya dan Orang2 Sholeh,,Segala Dosa dan Kesalahan Dzohir Bathin Seumur Hidup Diampuni Allah,Qobul Segala Hajat,Selamat Dunia Akhirat,Husnul Khatimah dan Masuk Surga Bighoiri Hisaab,,Aamiin..!!! #K.H.Badruddin bin H.Ahmad Zaini #K.H.Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani Read the full article
JARINGAN ULAMA DAN PESANTREN SUNDA YANG TERLUPAKAN
InfokomBanserNU- Dibanding dengan jaringan ulama dan pesantren Jawa, pengetahuan kita mengenai jaringan ulama dan pesantren Sunda amat sangat sedikit. Hanya para peneliti tertentu saja yang mengetahuinya. Masyarakat umum, apalagi di luar Sunda, hampir tidak mengenalnya secara baik dan benar. Beberapa hari kemarin saya dan sejumlah dosen UNUSIA Jakarta berkesempatan mengunjungi makam para ulama Sunda dan pesantrennya. Kami memulai perjalanan dari Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasik, dan berakhir di Ciamis. Banyak hal yang kami dapatkan, bahkan sebagiannya terdengar mengejutkan. Misalnya soal peranan KH Abdullah bin Nuh yang seringkali diklaim oleh HTI sebagai ulama yang mendukung khilafah. Setelah membaca tulisan beliau sendiri yang kami dapatkan di pesantren Al-Ghozali, Bogor, klaim tersebut ternyata menipu. Secara jelas dan tegas beliau menyatakan Pancasila adalah "jalan tengah" bagi Indonesia. Sementar itu, di Cianjur kami menziarahi makam KH Ahmad Syathibi yang lebih dikenal sebagai Mama Gentur. Meskipun setiap haulnya diziarahi ribuan orang, banyak orang, apalagi generasi milenial, tidak lagi mengenalnya. Padalah beliau adalah salah satu simpul utama ulama Sunda pada awal abad ke-20. Pandangan keagamaannya yang khas masih tercermin dalam aturan di sekitar pemakamannya hingga sekarang. Para peziarah tidak boleh membawa hape melewati gerbang yang gambarnya bisa dilihat di bawah. Memahami konstelasi keagamaan di Jawa Barat, khususnya Priangan, hari ini tidak bisa dilakukan tanpa memahami jaringan ulama dan pesantrennya. Sayang banyak hal belum tergali. Keberadaan pesantren Fauzan di Garut, misalnya, jarang diekspos oleh media. Kajian-kajian akademis juga melupakannya. Padahal kita tidak akan mengerti mengapa terjadi ketegangan di Garut ketika terjadi pembakaran bendera HTI dua tahun lalu jika tidak tahu bagaimana peranan penting pesantren Fauzan di sana. Dalam amatan saya, tidak ada pesantren yang lebih gagah berani membela NU di Priangan melebihi pesantren Fauzan. Masih banyak hal lain yang sesungguhnya ingin saya ceritakan. Di Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, kami juga mendengarkan informasi menarik. Dalam pengakuan pengasuhnya, karena dulu almarhum KH Choer Affandi sebagai pendiri pernah bergabung dengan DI (Darul Islam), maka sekarang terdapat stigma terhadap mereka. Seolah-olah Miftahul Huda anti-NU, padahal, menurut KH Abdul Aziz Affandi, pengasuhnya sekarang, "kami ini Nahdliyyin!" Insya Allah saya dan teman-teman UNUSIA akan menuliskan cerita perjalanan yang sebenarnya terlalu singkat itu. Termasuk dalam hal ini temuan-temuan mengenai kesalahpahaman terhadap "Islam Nusantara" di sebagian masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Semoga ini bisa menambah pengetahuan, meski sedikit, tentang jaringan ulama dan pesantren Sunda yang terlupakan. Amin Mudzakkir (Ansor Kebunjeruk) Read the full article
K.H. Zubair Dahlan
K.H. Zubair Dahlan dilahirkan pada tahun 1323H di daerah pesisir pantai, Tepatnya, di Desa Karangmangu, Sarang Rembang. Suatu Daerah yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beliau adalah putra ke-2 dari Kyai Dahlan dan Ibu Nyai Hasanah. Pada masa kecilnya, beliau tumbuh dan berkembang keilmuwannya di bawah bimbingan ayahandanya. Dalam permasalahan ta'alum (pendidikan), beliau belajar membaca Al-Qur'an dan ilmu-ilmu dasar agama Islam langsung di bawah pantauan kakek beliau, Kyai Syua'ib yang sudah masyhur dengan ke'alimannya. Sehingga pada umur yang relatif sangat muda (6 tahun), beliau sudah dapat membaca Al-Qur'an dengan baik disertai dengan tajwid-tajwidnya.
K.H. Zubair Dahlan
Kehidupan Semasa Kecil
K.H. Zubair Dahlan dilahirkan pada tahun 1323H di daerah pesisir pantai, tepatnya, di Desa Karangmangu, Sarang Rembang. Suatu daerah yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beliau adalah putra ke-2 dari Kyai Dahlan dan Ibu Nyai Hasanah. Pada masa kecilnya, beliau tumbuh dan berkembang keilmuwannya di bawah bimbingan ayahandanya. Dalam permasalahan ta'alum (pendidikan), beliau belajar membaca Al-Qur'an dan ilmu-ilmu dasar agama Islam langsung di bawah pantauan kakek beliau, Kyai Syua'ib yang sudah masyhur dengan ke'alimannya. Sehingga pada umur yang relatif sangat muda (6 tahun), beliau sudah dapat membaca Al-Qur'an dengan baik disertai dengan tajwid-tajwidnya. Sejak kecil beliau terkenal dengan kecerdasannya, serta memiliki himmah yang kuat untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama. Dalam bimbingan kakeknya, beliau dapat mempelajari bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Adapun dalam bidang sastra dan gramatika Arab, beliau dibimbing langsung oleh ayahandanya. Dalam bidang ilmu fiqih beliau menghatamkan kitab Taqrib dari paman beliau, Kyai Ahmad bin Syua'ib. Sedangkan kitab Fathul Wahab beliau mengaji di bawah bimbimgan Kyai Fathur Rohman bin Kyai Ghozali.
Rihlah K.H. Zubair Dahlan dalam Mendalami Ilmu Agama
Kehausan beliau dalam mendalami pengetahuan ilmu agama tidak cukup hanya di daerah kelahiran saja. Bertepatan pada usia ke-17 beliau pergi ke Makkah Al- Mukarromah bersama dengan kakek dan neneknya, Kyai Syua'ib beserta istri. Beliau tinggal di sana selama tiga tahun bersama pamannya, Kyai Imam Kholil. Dalam kesempatan ini, beliau menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari para ulama' Al-Harom As-Syarif. Diantaranya, Kyai Baqir Al-Jokjawy (Yogyakarta). Dari Kyai Baqir ini, beliau mendalami ilmu-ilmu Hadis, Tafsir Jalaalain, Sarah Imam Al-Mahally dan lain-lain. Dan dari Syekh Al 'Alamah Hasan Al-Yamany, putra Syekh Sa'id Al-Yamany, beliau mempelajari ilmu gramatika Arab, misalnya, Syarah Matan Al-Jurumiyyah, Syarah Al 'Alamah Kafrawi dan lain sebagainya. Sehingga pada suatu ketika beliau pernah disuruh gurunya untuk mengi'robi suatu lafaldz مررت بزيد ,ضرب زيد عمرا beliau berkata, "Marortu fi'il madli mabni sukun, ta' merupakan dlomir yang mabni dlomah yang statusnya menjadi fa'il dari مرّ . Dari kejadian itulah beliau diberi julukan oleh gurunya dengan julukan "Zubair Al- Kuffy".
Selang beberapa waktu berlalu, beliau kembali ke tanah Jawa bersama sang paman, Kyai Imam Kholil. Namun, pendalaman ilmu agamanya tidak cukup hanya sampai di situ saja. Meskipun sudah belajar di Makkah, beliau masih melanjutkan berguru kepada Syekh Al 'Alamah Kyai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang. Di bawah bimbingan Kyai Faqih, beliau mempelajari berbagai bidang ilmu, diantaranya, kitab Tafsir, Jam'ul Jawami', Syarah Ummul Barahin (bidang aqidah). Pada kesempatan ini, beliau mendapatkan ijazah dari gurunya ini, yang termaktub dalam suatu kumpulan, yang diberi nama "Kifayatul Mustafid". Di sini dicatat sanad-sanad Kyai Zubair dari jalur Syaikh Muhammad Mahfud bin Abdullah At Turmusy.
Pada tahun 1371H, beliau berangkat ke Makkah Al-Mukarromah lagi bersama para jamaah haji dari Indonesia untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Pada waktu ini, beliau bertemu dengan seorang yang 'alim, yang mulia Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliky. Dalam kesempatan ini beliau mengikuti majlisul ilmi yang diasuh Sayyid Alawy, yang bertempat di Babussalam (pintu yang berada di tempat sa'i). Beliau sangat kagum dengan apa yang disampaikan oleh Sayyid Alawy, karena penyampain Sang Sayyid disampaikan dengan bahasa yang fushah (ejaan yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab) dan ta'bir-ta'bir yang bagus. Dan pada waktu haji itu juga, beliau bertemu dengan seorang yang 'alim dari Indonesia yang telah menetap di Makkah, Syeikh Al 'Alamah Ustadz Yasin Bin Isa Al Fadany. Di sela-sela pertemuan yang singkat itu, beliau di ijazahi oleh Syaikh Yasin seluruh kitab yang telah beliau pelajari (Ijazah Muthlaq).
Kepribadian, Husnul Huluq Dalam Berprilaku
K.H. Zubair merupakan salah satu figur yang patut sebagai teladan kita semua, khususnya para santri. Di antara sekian banyak sifat-sifat beliau, ada beberapa yang menonjol, yaitu ketekunan dalam memperdalam pengetahuan agama, sifat lemah lembut dan mengasihi orang yang lemah dan orang-orang fakir. Selain itu, beliau juga sangat senang dengan santri, berpegang teguh dengan sunah-sunah dan sejarah-sejarah ulama' salafus sholih. Beliau juga sosok yang sangat menjauhi bid'ah-bid'ah yang melenceng dengan ajaran-ajaran syari'at Islam. Walaupun dengan kebencian ini, beliau akan mendapat gunjingan maupun celaan dari orang yang tidak menyukai apa yang dilakukan.
Setelah perjalanan panjang dalam pencarian pengetahuan agama ke berbagai daerah. Bertepatan dengan umur 23 tahun, beliau mulai ikut berpartisipasi mengajar di Pon-pes di daerah kelahirannya (Sarang). Santri-santri di sana sangat antusias ingin belajar kepadanya, dengan bukti pada waktu mengajar, tempat pengajian selalu penuh. Beliau mengaji meliputi kitab-kitab yang kecil, seperti Matan Taqrib, Jurumiyyah, Aqidatul Awam. Dan juga ada kitab-kitab yang besar seperti Jamiul Jawami', Tafsir Baidlowi, beserta kitab-kitab karya Imam Al-Mahalli.
Seluruh umur K.H. Zubair dicurahkan semuanya untuk mengajar ilmu-ilmu agama Islam. Dalam rutinitas tiap bulan Romadlon, beliau mbalah (membaca) Tafsir Jalalain. Prilaku ini merupakan kebiasaan tiap tahun. Menginjak umur yang makin sepuh (60 tahun), beliau lebih banyak membaca kitab-kitab di bidang tasawuf seperti kitab Minhajul 'Abidin, Kitab Hikam, dan Kitab Ihya' Ulumuddin yang menemani dan mengiringinya sampai beliau wafat.
Keluarga K.H. Zubair Dahlan
Pada usia 24 tahun, beliau menikah dengan putri sang paman (dari ibu), Mahmudah binti Kyai Ahmad bin Syua'ib. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai oleh Allah lima putra dan putri. Tapi, semuanya meninggal pada waktu masih kecil, kecuali satu yang masih hidup sampai sekarang, yaitu Syaikh K.H. Maimoen Zubair. Selang berapa tahun kemudian istri beliau meninggal. Tepatnya pada bulan Jumadil Akhir tahun 1358 H. Kemudian beliau menikah lagi dengan Aisyah binti Kyai Abdul Hadi dari keluarga Burna. Pada pernikahan kedua ini, beliau di karuniai lima putri, Halimah, Sai'dah, 'Afifah, Sholihah, Salamah, dan satu putra, yaitu K.H. Ma'ruf Zubair.
Karya-Karya K.H. Zubair Dahlan
Dalam kesibukannya setiap hari, KH. Zubair masih menyempatkan diri untuk mengarang beberapa kitab. Diantaranya, Kitab Manasik Haji, Nadlom Risalah As Samarqondiyah yang diberi nama Al-Qolaid Fi Tahqiqi Ma'na Isti'aroh, dan beberapa Nadloman mengenai Rumus-Rumus Fuqoha'. Beliau juga membuat beberapa Sya'ir mengenai etika, hisab dan lain sebagainya. Misalnya sya'ir dalam hal kesabaran dalam urusan rizqi:
لاَ تَعْجَلَنَّ فَلَيْسَ الرِّزْقُ بِالْعَجَلِ * اَلرِّزْقُ يَأْتِيْ بِلَا رَيْبٍ مَعَ الْأَجَلِ
فَلَوْ صَبَرْتُمْ لَكَانَ الرِّزْقُ يَأْتِيْكُمْ * لَكِنَّهُ خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ
Artinya;
Janganlah kalian tergesa-gesa tentang urusan rizqi, Karena rizki tidak datang dengan tergesa-gesa tanpa keraguan.
Apabila kalian bersabar, niscaya rizqi akan mendatangi kalian. Tetapi manusia diciptakan dengan (bertabiat) tergesa-gesa.
Pulang Ke Rahmatullah
Seperti keseharian yang dijalankan, yaitu mengajar ilmu-ilmu agama. Sehingga bertepatan dengan bulan Sya'ban, atas permintaan sebagaian santri, beliau meneruskan pembacaan kitab Ihya 'Ulumuddin juz ke-4. Kitab ini Alhamdulillah beliau khatamkan pada permulaan sepuluh hari terakhir pada bulan Sya'ban (21 sya'ban). Kemudian pada bulan Ramadlon, seperti rutinitas tiap bulan Ramadhan sebelumnya, beliau mbalah (membaca) kitab Tafsir Jalalain. Dan ini merupakan kitab terakhir yang dibaca sebelum wafat. Tiba-tiba pada tanggal 10 Romadlon beliau mengalami sakit panas. Sakit ini, makin lama semakin bertambah hingga akhir hayatnya. Ini bertepatan dengan terbenamnya sang surya pada malam Selasa setelah maghrib hari ke-15 bulan Ramadlon tahun 1389H, beliau wafat pada umur yang ke-65, hidup dengan sederhana dan meninggal dalam kesedarhanaan pula
(يعيش فقيرا ويموت فقيرا)
Semoga K.H. Zubair Dahlan mendapat rahmat dari Allah dan di tempatkan di surga Al-firdaus. Amin ya robbal 'alamin.
Sumber: http://www.ppalanwar.com/news/341/93/
KH.M.Mubassyir Mundzir
Kediri, suatu kawasan di wilayah Propinsi Jawa Timur,telah lama dikenal sebagai salah satu tempat penggemblengan dan penggodogan, kawah candradimuka, pencetak kader-kader handal dalam bidang keilmuan agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya Pesantren yang tersebar di daerah ini, baik di wilayah Kota maupun Kabupaten, di kota, dan terlebih lagi di kawasan pedesaannya. Sebutlah di antaranya Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren
Lirboyo, Pesantren Al-Falah Ploso, Pesantren Al-Ihsan Jampes dan lain sebagainya. Pesantren-Pesantren tersebut umumnya memiliki kekhususan (dalam hal pengajaran dan pengamalan) dalam bidang-bidang tertentu, walaupun akhirnya sama-sama bermuara pada pendalaman Ilmu-ilmu Agama Islam.
Sementara itu, di sebelah barat alun-alun kota Kediri, setelah menyeberangi Kali Brantas, terdapat suatu kawasan yang kental dengan nuansa Islami.Kawasan itu dikenal dengan nama Bandarkidul. Di wilayah Bandarkidul ini,terdapat sediitnya lima Pesanrtren yang berafiliasi pada RMI (Rabithatul Ma’ahid Al-Islamiyyah), suatu organisasi/Asosiasi Perhimpunan Pesantren di bawah naungan NU (Nahdlatul Ulama). Salah satu diantara lima Pesantren itu adalah Pondok Pesantren Tahfidhul Qur-an Ma’unah Sari.
Sesuai dengan nama yang disandangnya,Pesantren ini adalah merupakan suatu Lembaga Pendidikan yang menyediakan program menghafalkan al-Qur-an (bil-Ghaib), disamping juga tersedia program pengajian Al-Qur-an Bin-Nadhar (tidak menghafal). Pesantren ini diharapkan mampu menelorkan alumnus-alumnus yang merupakan generasi-generasi penghafal Al-Qur-an,yang berjiwa dan berakhlaq Qur-any. Atau dengan kata lain, insan hafidh al-Qur-an, lafdhan wa ma’nan wa ‘amalan. Sanad / Silsilah Alqur-an-nyapun muttashil kepada Nabi Muhammad SAW. Dari berbagai sumber informasi yang ada, Pesantren ini didirikan pada tahun 1967 oleh KH.M.Mubassyir Mundzir, seorang ulama kharismatik dan terkenal pada masa itu. Pada awal berdirinya, Pesantren ini lebih mengkhususkan diri pada bidang Tashawwuf, terutama peng-’Istiqomah’-an sholat berjamaah dan wirid/dzikir. Hal ini berjalan kurang lebih selama lima tahun. Pesantren inipun pada saat itu hanya menerima santri Putera.
Barulah, pada tahun 1973, setelah beliau menikah, Pesantren ini menerima santri puteri. Dan mulai pada tahun itu pula, Pesantren ini mulai membuka Program Pengajian Al-qur-an Bil-Ghoib (hafalan). Hal ini adalah karena isteri beliau,ibu Nyai Hj.Zuhriyyah adalah merupakan seorang Hafidhah(penghafal) Al-Qur-an.Lebih dari itu, beliau juga merupakan puteri dari Ulama terkenal, KH.Munawwir Krapyak Jogjakarta,yang selain seorang Hafidh, juga termasyhur sebagai Perintis Pesantren Tahfidh al-Qur-an di Indonesia, seorang kampiun dalam bidang Ilmu-Ilmu Al-Qur-an dan seorang ahli Qira-ah Sab’ah.
Seiring dengan berjalannya sang waktu, Pesantren Ma’unah Sari pun terus berkembang, baik dari segi jumlah santri, program pengajian, dan juga lingkungan pendidikan yang semakin representatif.Namun begitu,khusus untuk Pengajian Al-Qur-an bil-Ghaib, masih terbatas pada kalangan Santri Puteri, dibawah asuhan Ibu Nyai Hj. Zuhriyyah Mundzir.
Pada tahun 1989,muassis (pendiri) Pesantren, KH. M. Mubasyir Mundzir wafat. Dengan iringan tangis pilu para santri dan khalayak masyarakat yang merasa sangat kehilangan, beliau dimakamkan di belakang masjid Pesantren Ma’unah Sari.
Sebelum wafat, karena beliau tidak dikaruniai putera, beliau telah memberikan wasiat yang berkaitan dengan regenerasi Pengasuh Pesantren. Dan sesuai dengan wasiat beliau, yang disaksikan oleh Ulama-ulama sepuh, tongkat estafet Pengasuh diamanatkan kepada K. R. Abdul Hamid Abdul Qadir yang saat itu dikenal dengan sebutan Gus Hamid. Beliau adalah putera dari KHR.Abdul Qadir Munawwir, Krapyak, kakak dari Ibu Nyai Hj.Zuhriyyah. Dengan kata lain, K. R.Abdul Hamid adalah keponakan Ibu Nyai Hj.Zuhriyyah Mundzir. Dan dengan demikian,tercapailah cita-cita dari Pendiri,yang menginginkan Pesantren yang didirikannya kelak tumbuh dan berkembang menjadi tempat bagi para santri yang ingin menghafal Al-Qur-an. Hal ini adalah karena Kyai Abdul Hamid juga merupakan seorang penghafal Al-Qur-an (Hafidh) dan menguasai pula Qira-ah Sab’ah.
Selanjutnya,dibawah asuhan dan bimbingan Kyai Abdul Hamid bersama Ibu Nyai Hj.Zuhriyyah, Pondok Pesantren Tahfidhul Qur-an Ma’unah Sari-pun semakin tumbuh dan berkembang. Latar belakang dan asal para santri juga terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, dan berasal dari berbagai pelosok Nusantara, termasuk Papua (Irian Jaya), Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Sumatera, dan lebih-lebih dari Pulau Jawa. Mulai saat itu pula, dibuka Program Pengajian Al-Qur-an bil-Ghaib untuk santri Putera.
Diantara para santri ini,banyak pula diantara mereka yang merupakan alumnus Pesantren-Pesantren kenamaan,seperti Pesantren Lirboyo dan Ploso, keduanya di Kediri , Pesantren Tegalrejo Magelang, Pesantren Langitan Tuban, dan lain sebagainya. Dengan berkumpulnya para alumnus Pesantren-pesantren tersebut,tidaklah mengherankan apabila selain mengikuti kegiatan-kegiatan wajib, terutama menghafal al-Qur-an, kerapkali terjadi diskusi-diskusi ala Bahtsul Masa-il, sebagai salah satru wujud pengembangan dari Ilmu-ilmu yang mereka peroleh di Pesantren mereka sebelumnya. Namun begitu, bagi mereka yang kebetulan belum pernah mengenyam pendidikan Pesantren sama sekali, tidak perlu berkecil hati, karena dari para alumnus Pesantren tadi, mereka bisa memperoleh arahan dan bimbingan, melalaui Madrasah Al-Mundziriyyah di Pesantren ini, yang mengajarkan pelajaran dasar yang sangat penting, sebagai bekal kelak di kemudian hari. Kalaupun masih kurang puas, mereka bisa mengaji di Pesantren-pesantren sekitar, termasuk di Pesantren Lirboyo.
Selain itu, diantara para santri juga tidak sedikit yang merupakan jebolan Perguruan Tinggi, sehingga mereka bisa menularkan ilmu dan pengalaman positif kepada rekan-rekan mereka sesama santri. Hal ini dirasa penting, terutama dalam kaitannya untuk menata dan mengatur manajemen organisasi Pesantren, agar lebih solid dan efisien.
sumber:https://zidniagus.wordpress.com/
BIOGRAFI PENGASUH DAN SEJARAH BERDIRINYA PESANTREN "FATHUL 'ULUM"
A. Riwayat hidup Pendiri (K.H. Abdul Hanan Ma'sum)
Beliau dilahirkan pada tahun 1953M di Boto Putih Kec. Canggu , sebuah desa Agraris yang berada di sebelah utara Pare dan termasuk wilayah Kediri. Ayahnya bernama Ma'sum seorang penjual kelapa dan ibunya bernama Siti Nu'mah seorang penjual kue Onde-onde. Beliau nomor 3 dari 6 bersaudara yaitu Khozin, binti, Abdul Hanan, istiqomah, Habib dan Romli Anwar. Sejak kecil beliau sudah nampak rajin dan tekun serta ta'at kepada orang tuanya. karena di lahirkan dan hidup dalam lingkungan yang penuh dalan kesederhanaan, sejak kecil dituntut untuk membantu orang tua dengan mengembala kambing, merumput (Angon) serta memelihara hewan piaraan lainnya antara lain ayam, Itik dalan lain-lain.
B. PERJALANAN MENUNTUT ILMU
seperti kebanyakan anak-anak pada masa itu, beliau juga sekolah di sekolah rakyat (SR, sekarang SD) di desa Canggu, kemudian beliau meneruskan di Madrasah Wajib Belajar (MWB) sampai tingkat MTT kurang lebih selama 8 tahun dan tamat pada tahun 1965. dengan tekat yang kuat dan penuh semangat biarpun hanya gantung kepuh (pakean nempel di badan) setelah menamatkan di SR dan MWB dalam usia kurang lebih 12 tahun, beliau mulai melangkahkan kakinya ke Pondok Raudlotul Ulum Kencong yang di asuh oleh Romo K.H. Ahmadi dan Romo K.H. Zamrozi Syairozi. di Pesantren inilah beliau banyak menimba ilmu selama kurang lebih 15 tahun selain itu beliau juga pernah mengikuti pengajian kilatan di Pesantren-pesantren lain, diantaranya PP. Lirboyo, PP Sarang, PP Futuhiyah Mranggen, PP Batukan, PP Langitan dll.
C. KETEKUNAN DAN KEMANDIRIAN
Dalam pandangan sesama kawan santri, Abdul Hanan muda dikenal sebagai santri yang tekun dan sangat ta'zhim (hormat kepada guru). sebagai santri beliau mempunyai jiwa sosial dan loyalitas yang tinggi, baik kepada kawan sesama santri maupun kepada Pesantren yang telah membimbing dan mendidiknya. sikap loyalitas beliau antara lain sebagai tukang sampu, penimba kolah, Pengajian Al-Qur'an dan juga merangkap sebagai bendara. setelah didasari dengan ketekunan dan keseriusan beliau di tunjuk sebagai kepala madrasah dan dewan Hakim, di samping itu beliau juga mengurusi lampu-lampu untuk penerangan Pondok Pesantren. untuk menopang kebutuhannya dalam menimba Ilmu, setelah Biaya dari rumah non aktif (Putus), beliau menjadi buruh juru tulis Al-Fiyah. keadaan ini berlangsung kurang lebih selama 9 tahun dan disamping itu beliau melakukan ritual Riadloh antara lain: Puasa ngrowot, Puasa Mutih dan Ziarah ke Makam-makam 'Ulama dan Auliya'. bahkan beliau pernah selama 3 tahun tidak pernah meninggalkan Shalat Fardlu secara berjama'ah, dilanjutkan dengan wiridan setiap pagi bersama Romo K.H. Ahmadi.
D. DARI PESANTREN KE PELAMINAN
Atas dorongan Guru beliau dan persetujuan Orang Tua serta Keluarga, dalam Usia kurang lebih 27 tahun pada bulan Maulud tahun 1980M terjadi peristiwa penting yakni pernikahan beliau dengan Siti Munawwarah, dara ayu putri dari Bapak Haji Anwar asal desa Kwagean untuk dijadikan pendamping hidup dalam berjual dan menyelami samudra kehidupan.
E. PENDIRI DAN PENGASUH PESANTREN
Setelah melaksanakan pernikahan, untuk sementara waktu beliau tinggal di rumah mertua kurang lebih selama 2 tahun. Dari Sinilah embrio Fathul Ulum tumbuh yang bermula dari ras simpati teman-teman untuk berguru atas dara kelebihan dan keistimewaan beliau. diceritakan salah seorang santri bernama Imam Mawardi dan Abdul Karim membuat prosur (surat edaran) tanpa sepengetahuan beliau. dan berkat brosul ini para santri berdatangan sedikit demi sedikit hingga mencapai 96 santri, diisi dengan kajian kitab kuning sebanyak 40 kitab. pengajian ini berjalan kurang lebih selama 11 bulan. dengan semakin bertambahnya satri dan kurangnya sarana dan prasarana yang memadai akhirnya beliau berinisiatif untuk pindah ke Kwagean bagian Utara.
Karena sudah pisah dengan dari orang tua dan mertua tanggung jawab beliau menjadi ganda, baik terhadap sandang papan dan pangan keluarga maupun terhadap rutinitas pengajian bagi para santri. untuk bisa menopang semua kebutuhannya dan keluarga disamping tetap menjalankan rutinitas pengajian, beliau berjualan singkong koreng sampai bisa membeli ayam kampung hingga berlanjut dapat membeli ayam horen yang jumlahnya + 400 ekor. dan dengan modal itulah beliu dapat membeli sepetak tanah yang akhirnya jadilah Pondok Pessantren tercinta ini.
F. ANGRENG MONUMENTAL
Meskipun sudah mempunyai santri, beliau belum mempunyai tempat tinggal yang permanen. untuk sementara waktu beliau membuat gubuk yang sangat sederhana yang atapnya terbuat dari teple (ayaman dari daun kelapa). Namun 15 hari kemuadian bilau membuat angreng (sekarang ada di depan Dlalem dengan permanen). Di angreng ini beliau menetap selama kurang lebih 3 tahun. Sedangkan gubuknya diberikan kepada santri untuk dijadikan santri.
G. EVOLUSI FATHUL 'ULUM
Miftahul 'Ulum demikian awal mula nama Pondok Pesantren kita, Miftahul sebagai perlambang Pondok yang pertama kali berdiri di Kwagean, dan 'Ulum diambil untuk Tabarrukan pada PP. Roudlotul Ulum Kencong. Dikarenakan ada kesamaan nama dengan Miftahul Ulum Jombangan, akhirnya namanya diganti menjadi Fathul 'Ulum. tidak jauh berbeda dengan nama pesantren yakni nama Madrasah Diniyah Futtuhiyah, sebuah lembaga Pendidikan yang masih dalam naungan Pondok Pesantren yang sama-sama dari Fi'il Madli FATAHA, disamping Tafa'ulan dengan PP Futtuhiyah Mranggen Jawa tengah yang diasuh oleh Romo K.H. Muslih bin Abdurrahman selaku guru beliau mengikuti pengajian Ramadhan, juga cocok dengan hasil Istiqoroh beliau.
REFERENSI
1. Bapak K.H. Romdli Anwar adik beliau
2. Mbah Nyai Siti Nu'mah Ibu beliau
3. Tim Memori sang Patih
4. Mutiara seribu Ba'it
KH Muhammad Shiddiq (Mbah Shiddiq Jember)
A.HIDUP YANG ISTIQOMAH Kyai Shiddiq atau lebih dikenal dengan julukan Mbah Shiddiq. adalah seorang tokoh panutan. Mungkin, tidak banyak tokoh seperti beliau, dimana semua putranya yang masih mencapai usia muda/dewasa telah menjadi kyai dalam arti yang sebenarnya. Demikian pula para menantunya Putera-putranya yang sejak usia muda telah menjadi Kyai. antara lain: KH. Mansur, KH. Achmad Qusyairi, KH Machmud, KH. Mahfudz Shiddiq, K.H. Abdul Halim Shiddiq, KH. Abdullah bin KH. Umar, KH. Muhammad bin KH. Hasyim dan KH. Dhofir Salam. Keberhasilan tersebut tentu dipengaruhi pula oleh pola kehidupan sehari-hari dimasa hayatnya. Mungkin kita bertanya, bagaimana pola kehidupan Kyai Shiddiq sehingga Allah memberinya taqdir dengan dikaruniainya keturunan yang selanjutnya menjadi ibarat mutiara-mutiara Ternyata, Kyai Shiddiq adalah sosok yang sangat "istiqomah", yaitu: tekun, telaten, ajeg, terus-menerus dengan tidak bosan-bosan dan mengamalkan apa saja yang dapat diamalkan. Dalam Surat Fushilat disebutkan: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami Allah" " keniudian beristiqamah (meneguhkan pendirian-pendirian mereka tentang iman, melakukan kewajiban dan menjahui larangan-laranganNya), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan sorga yang telah dijanjikan A lloh kepadamu, (di dunia lewat rosul- rosul-Nya). Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia (dengan mengilhamkan kebenaran dan kebaikan kepadamu), dan akhirat (dengan pemberian syafa'at dan kemudahan). dimana kamu memperoleh yang kamu inginkan (dari segala kenikmatan) dan memperoleh pula yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penvayang ". Hampir setiap hari Kyai Shiddiq selalu bangun pada jam 3 malam untuk sholat sunat tahajjud, riyadhah maupun sholat� sholat sunnah lainnya. Menjelang subuh, kyai keliling pondok membangunkan santri. Beliau keliling sambil membawa tongkat penjalin, damar ublik (obor) dan teko berisi air. Dengan tongkatnya beliau ketok pintu-pintu pondok para santri.Terkadang kyai membangunkan santri dengan cara menabuh blek gembreng, sehingga bersuara gaduh dan memekakkan telin�ga. Bahkan setiap santri yang terlelap tidurya, pasti akan menjadi sasaran guyuran air ceret yang selalu dibawanya. Sesudah adzan (santri bernama Ryas yang ditugaskan sebagai Mu'adzin), kyai sendiri selalu memimpin pujian (dzikir) sebelum sholat subuh, setelah sebelumnya kyai melaksanakan sholat Qobliyah terlebih dahulu. Setelah berzikir/pujian kemudian melakukan sholat jamaah Subuh. Untuk pedoman atau prinsip hi dup yang mudah diingat oleh anak cucu dan santrinya, Kyai Shiddiq memerintahkan Kyai Halim (putranya) menulis bebeapa dalil di tembok mussholla. tulisan yang ada ditembok sebelah atas pengimaman yaitu hadits sbb: "Sebaik-baik perbuatan umatku adalah membaca .41 Quran dengan menyimak?melihat". Imam Al Ghozali menjelaskan dalam Ihya' Uluumuddin: Bahwa keutamaan orang yang membaca Al Quran dengan melihat/menyimak�seraya merenungkan maknanya� adalah lebih baik dari pada dengan cara tidak melihat/menghafal. Membaca Al Quran dengan melihat tersebut memiliki 3 manfaat yaitu: Membaca, menyimak dan merenungkan artinya. Sedangkan dalam membaca Al Quran seraya menghafal hanyalah mendapat satu manfaat yakni membaca saja. Disisi tembok sebelah kanan atas terdapat tulisan yang dikutip dari Idtab Jauharul Tauhid: "Semua kebaikan itu terdapat pada pengikutan �kepada�orang-o terdahulu. Dan semua keburukan itu ada pada reka-reka orang kemudian� Imam Al Ghozali memberikan argumentasi tentang diatas yakni karena orang salaf (terdahulu) telah memiliki kelebihan dari pada orang kemudian (Kholaf). Kelebihan ada pada 3 hal: a. lebih faham (Mam) b. lebih hati-hati (Wara') c. lebih tajam pandangan hatinya (Abshar) Disisi tembok sebelah kiri atas terdapat tulisan yang dikutip dari kitab kifayatul Atqiyak: "Kamu sungguh jangan meninggalkan sholat berjamaah yang keutamaan pahalanya setinggi 27 derajat" Banyak sekali manfaat Sholat jamaah. Dalam kitab Dzurotun Nasihin Rasulullah bersabda: "barang siapa melakukan sholat ( lima waktu berjamaah akan memperoleh lima hal yaitu kesatu ia tidak akan mengalami kemiskinan didunia, kedua dibebaskan oleh Allah dari azab kubur, ketiga: menerima kitab catatan amalannya dengan tangan kanan, keempat; akan melalui shirot secepat kilat dan kelima akan dimasukkan surga tanpa hisab dan azab". Dalil di atas mempertegas sabda Rasul sbb: "Tiap tiga orang yang bertempat didesa dan pegunungan lalu mereka tidak melakukan sholat jama 'ah, maka mereka akan dipermaikan syetan". B. AURAT AMALIYAHNYA Pada umumnya, wiridan baru akan selesai sampai surya muncul agak tinggi, baru kemudian kyai masuk ke "kamar khusus" di sebelah utara tempat imam di musholla. Di "Kamar khusus" itulah tempat Kyai Shiddiq menyepi, beribadah sholat sunnat dan lain-lain. Santri tak seorangpun yang berani masuk kamar tersebut. Karena dalam "kamar khusus" itu Kyai Shiddiq melakukan sholat Dluha dan sholat-sholat sunnah lainnya. Selesai sholat Kyai biasanya melanjutkan dengan mengaji Al-Qur'an dan membaca dalailul khairot. Selain sebagai seorang hafids, Kyai Shiddiq sangat istiqamah menghatamkan Alqur'an setiap minggu. Secara runtut, batas-batas bacaan Al-Qur'an dalam seminggu sebagai berikut: 1. Hari Jum'at membaca Al Fatihah s. d Al-Maa idah 2. Hari Sabtu membaca Al-An' am s.d At-Taubah 3. Hari Ahad membaca Yunus s. d Maryam 4. Hari Senin membaca Thaha s.d Al-Qashash 5. Hari Selasa membaca Al-Ankabut s.d Shaad 6. Hari Rabu membaca Az-Zumar s.d Ar-Rakhman 7. Hari Kamis membaca Waqi'ah s. d An-Naas Sekitar pukul 08.00 sampai jam 09.00 pagi, Kyai mengajar Fasholatan dan Al-Qur'an. Kitab Fasholatan yang diajarkan adalah hasil karangan beliau senchn'. Biasanya ketika mengajar Fasholatan dan AI-Qur'an banyak menggunakan cara-cara sorogan. Usai sorogan Fasholatan dan Al-Qur'an, barulah Kyai masuk ke ndalem untuk sarapan pagi. Setelah itu, Kyai masih meneruskan kembali sholat-sholat sunnah, mengaji Al-Qur'an dan membaca Dalail. Baru pads sekitar jam 10.00 sampai jam 12.00 siang Kyai Shiddiq mengajar ngaji kitab kuning. Banyak kitab yang beliau ajarkan, namun demikian Kyai membaginya menjadi: 1. Kitab-kitab yang tetap (permanen) diajarkan. Bila kitab ini sudah selesai lalu diulang kembali dari awal (dijadikan wiridan). Kitab-kitab yang tetap ini antara lain: a. Fatchurrahman Kitab Fatchurrahman ini berisi materi Tauhid yang pokok (semacam Aqidatul Awam) dan fiqih (semacam Safinatun Najah). Kitab ini ditulis oleh beliau sendiri dan diwajibkan bagi santri menghatamkannya sebelum ngaji kitab lainnya (kitab standard awal). b. Kitab Fiqh antara lain - Safinatun Najah - Sullam Taufiq - Taqrib c. Kitab Tasawuf antara lain - Bidayatul Hidayah - lhya' Ulumuddin d. Kitab Tafsir Jalalain e. Kitab Shohih Bukhori 2. Kitab-kitab yang tidak tetap (temporer) antara lain a. Kitab-kitab Alat antara lain - Alfiyah Kitab Alfiyah terjemahan berbahasa Madura ini ditulis ketika mondok di Bangkalan. - Ajurumiah - Imrity b. Kitab Tasawuf antara lain - Nashoihud Diniyah - Adabul Mar'ah yang ditulis dalam bahasa Jawa. c. Kitab Rojabiyah d. Kitab Bifadlol dan lain-lain. Dalam pengajian kitab kuning ini, Kyai Shiddiq banyak menggunakan cara weton/bandongan. Cara Weton adalah cara pengajian kitab yang berasal dari istilah jawa, karena pada umumnya waktu pengajian disesuaikan dengan waktu-waktu tertentu seperti usai waktu sholat, dan sebagainya. Secara teknis, dalam pengajian cara weton ini Kyai membaca dan menerangkan kitab yang diperuntukkan secara massal. Para santrinya memperhatikan kitabnya sendiri sambil membuat catatan-catatan (tentang arti maupun keterangan dari kyai). Selesainya pengajian, Kyai Shiddiq makan siang bersama� sama keluarga dan khaddamnya. Kemudian mengerjakan sholat Dzuhur secara berjama'ah. Sebelum sholat dzuhur, bersama� sama melakukan dzikir/pujian dan sholat sunnah Qobliyah. Selesai sholat, lalu wiridan dan yang bacaannya lebih pendek dari dzikir ba'da subuh. Disambung dengan sholat sunnah Ba'diyah dzuhur dan mengajar ngaji Al-Qur'an dan Fasholatan. Santri yang dibolehkan ngaji Al-qur'an adalah yang sudah lulus (fasih/tartil bacaan) Syahadati, Fatihati, Tahiyyati, Sholati, adzan dan lqamah. Bila bacaan masih belum tartil tetap masih harus mengaji Fasholatan saja. Selesai mengajar, barulah Kyai Shiddiq istirahat (tidur) sebentar. Begitu bangun, Kyai Shiddiq melakukan sholat sunnah berkali-kali, mengaji Al-Qur'an dan membaca dalail. Amalan sholat sunnah yang istiqamah dilakukannya 100 rakaat dalam sehari-semalam serta mengkhatam dalail (matane) sehari sekali. Waktu ashar tiba, beliau sholat sunnah berkali-kali dan para santri membaca syi'ir "Aqidatul 'Awam". Lalu sholat jama'ah Ashar dan Dzikir. Dzikir ba' da sholat Ashar sama dengan dzikir ba'da sholat subuh. Kemudiandilanjutkan dengan pengajian kitab Ihya 'Ulumudin dan Shohih Bukhori". Selesai mengajar, Kyai masuk ndalem melanjutkan mengaji Al-Qur'an dan dalail sampai masuk waktu Maghrib. Sebelum sholat jama'ah Maghrib, bersama-sama santri membaca pujian. Dzikir ba'da sholat Maghrib sama dengan dzikir bada subuh. Selesai berdzikir dilanjutkan sholat sunnah Ba'diyah dan ngaji. pengajian ba'da sholat Maghrib adalah AI-Qur'an dan Fasholatan yang teknisnya diatur sebagai berikut: 1.Santri dewasa dan tartil bacaannya harus membaca Quran 1 juz, sehingga dalam sebulan sudah harus hatam. Tempat mereka di dalam musholla. 2.Santri bocah harus ngaji Al-Qur'an dan Fasholatan di luar langgar. Mereka diajar Badal Kyai yaitu Haji Baidlowi (lurah pondok asal Madura) dan Abdul Azis. Selesai ngaji (tanpa turun dari langgar) lalu bersama-sama pujian qobliyah sholat Isya' dan sholat sunnah rawatib.Kemudian melaksanakan sholat Isya' berjama'ah dan dilanjutkan dengan wiridan dan sholat sunnat rowatib. Wiridannya sama dengan wirid ba'da sholat Ashar. Di ndalem Kyai Shiddiq melakukan sholat sunnat berkali-kali, ngaji Qur'an dan dalail sampai "sare" (tidur). Khusus pada malam Jum'at ba'da maghrib, kyai Shiddiq memimpin bacaan Barzanji. Dan pada malam Senin ba'da Maghrib, membaca Diba'. Semula pemba�caan Diba' dilakukan malam Jurn'at dan Barzanji pada malam Senin. Suatu saat ketika sedang memimpin pembacaan (pada malam Senin) itu, tiba-tiba Kyai Shiddiq melihat kehadiran Rasulullah Saw hadir dan berdiri di pintu. Spontan, Kyai Shiddiq merobah bacaannya dengan Diba'. Maka sejak peristiwa inilah, pembacaan Diba' dilakukan setiap malam Senin dan malam Jum'at untuk Barzanji. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Rotibul Haddad (Rotib Sayyid Abdullah Alawi Al-Haddad). Aktivitas mengajar Kyai Shiddiq yang sangat padat itu dilakukan tatkala telah banyak santri yang ngaji pada beliau. Sebelumnya, Kyai Shiddiq membagi waktunya dengan berda�gang sebagai ma'isahnya (mata pencahariannya hidupnya). Kegiatan mengajar yang full tersebut membuat Kyai Shiddiq harus mengalihkan perhatian dan' aktivitas berdagang pada santrinya dan putra-putranya. Suatu waktu, Mbah Shiddiq akan berdagang kain sarung, songkok, dan lain-lain ke Arjasa. Nampaknya Kyai terlambat di stasiun kereta api, sehingga kereta yang pagi sudah berangkat. Menurut keterangan kepala stasiun, kereta berikutnya baru akan berangkat jam 10 siang. Ketika ditunggu kereta berikutnya, Kyai Shiddiq bertemu seorang Penghulu yang rumahnya di depan stasiun. Penghulu tersebut menawarkan jasa, agar Kyai Shiddiq berkenan menunggu kereta di rumahnya saja. Menjelang jam 10.00 Kyai Shiddiq minta idzin untuk pamit,dan tanpa diduga temyata Penghulu tersebut memberi salam �tempel satu rupiah (serupiah saat itu, kira-kira sama nilainya dengan Rp 100. 000,� sekarang/thn 2007). "Lho, kok sompean. shodagah satu rupiah pada saya. Maka saya nggak jadi ke Arjasa. Lha Wong niat saya ke Arjasa tersebut untuk mencari untung satu rupiah ini", kata Mbah Shiddiq pada Penghulu itu, kemudian beliau pulang. Namun demikian, sebelum pulang, uang itu dihabiskan untuk belanja urusan dapur, karena memang Kyai Shiddiq sendirilah yang selalu berbelanja urusan dapur ke pasar. bukan Nyai. Tiba di ndalem, beliau tertidur karena kepayahan Dalam tidumya,, beliau bermimpi bertamu ke rumah Penghulu tadi. Di sana beliau disuguhi hidangan babi. Ketika bangun. kagetlah Kyai Shiddiq dan cepat-cepat memerintahkan santri untuk membuang semua "hasil belanja dapur tersebut" Nampaknya, Kyai Shiddiq terus dijaga oleh Allah SWT dari makanan basil perbuatan haram karena sifat wiro'i beliau. Wiro'i adalah sikap yang selalu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti makruh dan subhat (tidak jelas, apakah dibolehkan oleh agama atau tidak), terlebih lagi haram yang jelas dilarang. Mbah Siddiq tidak berkenan mengajar kitab menggunakan papan tulis, sebab ayat-ayat Al-Quran yang ditulis papan yang kemudian dibapus.. berjatuhan. Ini kan sama dengan menelantarkan lembaran Mushaf yang robek Kyai Shiddiq juga sangat perhatian terhadap penampilan or�ang. Pada suatu hari Kyai Yusuf dari Madura sowan kepada Kyai Shiddiq. Kyai Yusuf tetap membiarkan rambutnya agak panjang (gondrong) dan kumisnya lebat hingga melebihi bibir. Setelah bersalaman, langsung beliau berkata: "Poron panje�nengan eparingah ilmu/maukah kau kuberi ilmu? "Alhamdulillah ?" jawab, si tamu dengan suka citanya. Lalu Kyai Shiddiq berkata: "Tak sahe panjenengan Kyahe, ngobuh obuk/Tidak baik bagi kyai, memelihara rambut". Kemudian beliau berikan gunting dan Kyai Yusuf diminta menggunting rambutnya saat itu juga. Semua anak dan menantu serta santri� santrinya diwajibkan oleh Kyai Shiddiq "menggundul rambut" kepala. Yang diperkenankan/disunnahkan hanyalah memelihara janggut. Bahkan, Kyai Muhammad bin Hasyim (menantunya) dimarahi Kyai Shiddiq karena mernelihara rambut sedikit seperti tentara di kepalanya. Demikian pula dengan merokok, Kyai Shiddiq kurang senang jika ada orang/tamu apalagi santri ataupun anaknya yang merokok di hadapan beliau. Kyai Mahfudz Shiddiq pernah merelakan sak celananya bolong terbakar, karena menyimpan rokok yang sedang menyala, tatkala Kyai Shiddiq menemuinya. Kyai Shiddiq memang kurang senang ada yang merokok, ketika masih ngaji pada Kyai Abdurrohim, Sepanjang Sidoarjo. Sebagaimana keblasaannya di pondok, Kyai Shiddiq selalu mengisi jeding Kyai Rohim pada pagi buta. Suatu hari, selesai mengisi jeding, Kyai Shiddiq pergi ke sungai sambil merokok klobot. Sedang asyik merokok, menyebabkan ketinggalan Sholat berjama'ah Subuh. Kyai Shiddiq akhirnya bersembunyi takut kena marah Kyai Rohim karena tidak berjama'ah. Sejak peristiwa itulah, Kyai Shiddiq berjanji menghindari merokok. "Tak ada barang yang melebihi kejelekan merokok. Demi Allah aku mengharamkan diriku merokok" katanya. Mbah Shiddiq memiliki sikap, kesenangan dan perilaku sebagai benikut: I. Ahli silaturrohim, khususnya pada para Sayyid/Habib, `Aulia' dan Ulama. Diantara kesenangan bersilaturohmi ini antara lain '. a. Selalu gembira dan bersyukur bila kedatangan tamu, bahkan selalu menghidangkan makan pada tamunya. b. Senang mengawinkan jejaka-gadis. c. Bila silaturrohmi pada orang miskin, hanya minta air putih saja. 2. Mengerjakan hal-hal yang sunnah antara lain : a. Sholat-sholat sunnah, ngaji Alqur'an, Dalail dan selalu berdzikir "Bagi orang-orang yang berakal (yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan telanjang ". (QS AIi Imron: 190-191) b. Memotong rambut, kumis dan kuku pada hari. Kamis. c. Membersihkan sisa-sisa nasi yang dimakan. Bahkan selalu menjilat tangan, bila selesai makan. Itu menunjukkan syukur terhadap nikmat/karunia Allah Swt. �Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu". (QS Ibrohim: -7) d. Saat makan, beliau selalu mencicipi garam sebelum dan sesudahnya. karena ini disunnahkan oleh agama. Pada suatu hari, Kyai Shiddiq, Kyai Yasin (Pasuruan) dan Kyai Nu'man (Lumajang) sedang makan jambu. Ada di antara 2 kyai itu yang, berkomentar "tidak manis-nya jambu tersebut. Spontan Kyai Shiddiq menegur: "Yang menentukan manis-tidaknya jambu ini adalah Allah. Jambu ini merupakan nikmat Allah pada kita. Jadi wajib bagi kita mensyukurinya. d. Mematikan lampu pakai kipas (tidak dltiup). 3. Menjauhi hal-hal yang makruh, muru'ah dan Haram, misal a. Merokok b. Tidak suka melihat orang lain memiliki rambut, kumis dan kuku yang panjang. c. Marah bila tahu ada orang, kentut sambil tertawa. d. Marah, bila tahu laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya bertemu muka. e. Dalam bepergian selalu menghindari lewat depan gereja. f. Tidak membolehkan Kusir mencambuki kudanya. g. Tidak senang musik/lagu-lagu, misal .- gambus. 4. Mendo'akan anaknya, cukup dengan memohon agar kelak menjadi orang yang bertaqwa. 5. Yang sangat diperhatikan pada anak dan santrinya adalah sholat. Bila putranya tak nampak dalam sholat berjama'ah, maka akan diusut sedetailnya tentang "kenapa tidak sholat jama'ah". 6. Dan lain-lain.
Menurut beberapa informasi, Kyai Shiddiq 4 kali bertemu dengan Rasulullah Saw dan berkali-kali bertemu Rasulullah dalam mimpi. Sulit sekali ditakdirkan bertemu Rosulullah SAW kecuali Waliyullah. Imam Ghozali berkata "bertemu Rasulullah secara Ya Qodlo maka ia memiliki kasyqf'. Sayyid Ahmad Al Badawi ra. berkata: -Syarat yang harus di perbuat oleh orang yang ingin menjadi Waliulloh adalah benar benar dalam syari'at. Ada dua belas tanda-tanda yaitu : 1. Benar-benar mengenal Allah Swt (yakni, benar benar mengerti tauhid dan mantab iman keyakinan kepadaAllah). 2. Benar-benar menjaga perintah Allah Swrt. 3. Berpegang teguh pada sunnah Rasulullah Saw. 4. Selalu berwudhu (jika berhadas segera memperbarui wudhu�) 5. Rela menerima hukum qadla' Allah SWT. dalam suka duka. 6. Yakin terhadap semua janji Allah Swt. 7. Putus harapan dari semua apa yang ada di tangan manusia 8. Tabah. sabar menanggung bebagai derita dan gangguan orang. 9. Rajin mentaati perintah Allah SWT 10. Kasih sayang terhadap semua makhluq Allah SWT 11. Tawadlu, merendah diri terhadap yang lebih tua atau lebih muda. 12. Selalu menyadari bahwa setan itu musuh utama, sedang sarang setan itu dalam hawa nafsu dan selalu berbisik mempengaruhi. C. PEMAKAMAN TURBAN CONDRO Kyai Shiddiq, akhirnya wafat pada hari Ahad Pahing jam 17 40 tanggal 2 Romadlon 1533H (9 Desember 1934 M) pada usia +80 tahun. Saat jenazah, disemayamkan di ndalem Talangsari, datanglah 11 orang yang menawarkan tanahnva sebagai makam beliau. Sebelas orang itu antara lain: 1 . H. Ilyas, Gebang 2. Sadinatun, Gebang 3. Sa'id, Gebang 4. Riynah, Gebang 5. Samiroh, asal Bulu Tuban 6. Amir, asal Bulu Tuban 7. Sakiman, asal Bulu Tuban 8. KH. Yusuf, asal Bulu Tuban (mertua Kyai Shiddiq) 9. H. Anwar, Jatian � Pakusari 10. H. Abdul Hamid, Rowo - Wirowongso. 11. H Samsul Arifin, Talangsari. Namun agar adil maka akhirnva dilotre/diundi sebanyak 3 kali. Ternyata undian jatuh pada tanah H. Samsul Arifin di Turbah - Condro. Ribuan orang melayat Mbah Shiddiq menuju peristirahatannva di turbah Condro Jember. Hingga sekarang, banyak kaum muslimin ziarah di maqam Kyai Shiddiq. Para penziarah selalu membaca Al-qur'an. Tahlil dan bertawassul pada beliau. Kyai Shiddiq bagaikan "mutiara", yang menurunkan banyak mutiara, menyinari kegelapan kota Jember. GARIS KETURUNAN MBAH SIDDIQ 1. KH. Muhammad Shiddiq 2. bin Raden Pangeran Mas Sayyid KH. Abdullah (Lasem) 3. bin Raden Pangeran Sayyid KH. Sholeh (Raden Tirto Widjoyo, Lasem) 4. bin Sayyid KH. Asy�ari (Raden Pangeran Asyri, Lasem) 5. bin Sayyid KH. Muhammad Adzro�i (Raden Pangeran Bardla�i, Lasem) 6. bin Sayyid KH. Yusuf (Raden Yusuf, Pulandak Lasem) 7. bin Sayyid Abdurrachman (Mbah Sambu) 8. bin Sayyid Muhammad Hasyim (sunan Ngalogo) 9. bin Sayyid Abdurrachman Basyaiban (Mangkunegoro III) 10. bin Sayyid Abdullah 11. bin Sayyid Umar 12. bin Sayyid Muhammad 13. bin Sayyid Achmad 14. bin Sayyid Abu Bakar Basyiban 15. bin Sayyid Muhammad Asy�adullah 16. bin Sayyid Hasan At - Taromi 17. bin Sayyid Ali 18. bin Sayyid Muhammad Al Faqih Muqoddam 19. bin Sayyid Ali 20. bin Sayyid Muhammad Shohibi Mirbat (Zafar, Hadramaut) 21. bin Sayyid Ali Khaliq Qosim (Tarim, Hadramaut) 22. bin Sayyid Alwi (Bait Zubair, Hadramaut) 23. bin Sayyid Muhammad (Bait Zubair, Hadramaut) 24. bin Sayyid Alwi (Samal, Hadramaut) 25. bin Sayyid Abdullah Ubaidillah (Al - Ardli Burt Hadramaut) 26. bin Sayyid Ahmad Al - Muhajir (Basra Tarim, Hadramaut) 27. bin Sayyid �Isa An Naqib (Basrah, Iraq) 28. bin Sayyid Muhammad An - Naqib (Basrah, Iraq) 29. bin Sayyid Ali Al �uraidi (Madinah) 30. bin Sayyid Ja�far Ash - Shodiq (Madinah) 31. bin Sayyid Muhammad Al - baqier (Madinah) 32. bin Sayyid Ali Zainal Abidin (Madinah) 33. bin Sayyidina Husein 34. binti Fatimah Az Zahroh (Isteri Sayyidina Ali Al - Murtadlo) 35. bin Rosulullah Muhammad SAW (sumber :Buku Biografi Mbah Siddiq)
kirim ke teman | versi cetak
Riwayat Syeh Ahmad Jauhari Umar (Penyebar Kitab Manakib Jawahirul Ma’ani)
Kitab Manaqib JAWAHIRUL MA’ANI adalah manaqib (riwayat hidup yang menceritakan tentang Sulthonul Auliya’ Syech Abdul Qodir Al Jilani (ada yang menyebut Al Jaelani). Mulai dari Kelahirannya, perjalanan beliau menuntut ilmu, karomah-karomahnya sampai pada wafatnya. Kitab Manaqib ini di susun oleh seorang ulama Almarhum Almagfurillah KH. Ahmad Jauhari Umar. Dulu beliau pemimpin Pondok Pesantren Darus Salam, Pasuruan Jawa Timur. KH. Ahmad jauhari umar mengajarkan dan ‘mengijazahkan’ manaqib ini kepada para murid-murid beliau. Dari murid-murid beliau inilah manaqib ini akhirnya tersebar luas ke seluruh nusantara bahkan mungkin sampai ke negara tetangga juga. Di dalam kitab manaqib (pada halaman belakang) tersebut juga di jelaskan manfaat dari manaqib tersebut dan cara pengamalannya. Misalnya : Supaya bisa mendapatkan ilmu Laduni , luas rezki maka setiap hari membaca wirid Ya Badii’ 946x di lanjutkan membaca manaqib Jawahirul Ma’ani tersebut. Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilahirkan pada hari Jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 jam 02.00 malam, yang keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta. Tempat kelahiran beliau adalah di Dukuh Nepen Desa Krecek kecamatan Pare Kediri Jawa Timur. Sebelum berangkat ibadah haji, nama beliau adalah Muhammad Bahri, putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq. Meskipun dilahirkan dalam keadaan miskin harta benda, namun mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau mengaku masih keturunan Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati, dan dari sang ibu beliau mengaku masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo. Pada masa kecil Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik oleh ayahanda sendiri dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantaranya adalah menghafal kitab taqrib dan maknanya dan mempelajari tafsir Al-Qur’an baik ma’na maupun nasakh mansukhnya. Masih diantara kedisiplinan ayah beliau dalam mendidik adalah : Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangga dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuit kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangga. Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilarang merokok dan menonton hiburan seperti orkes, Wayang, ludruk dll, dan tidak pula boleh meminum kopi dan makan diwarung. Pada usia 11 tahun Syaikh Ahmad Jauhari Umar sudah mengkhatamkan Al-Qur’an semua itu berkat kegigihan dan disiplin ayah beliau dalam mendidik dan membimbing. Orang tua Syaikh Ahmad Jauhari Umar memang terkenal cinta kepada para alim ulama terutama mereka yang memiliki barakah dan karamah. Ayah beliau berpesan kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar agar selalu menghormati para ulama. Jika sowan (berkunjung) kepada para ulama supaya selalu memberi uang atau jajan (oleh-oleh). Pesan ayahanda tersebut dilaksanakan oleh beliau, dan semua ulama yang pernah diambil manfaat ilmunya mulai dari Kyai Syufa’at Blok Agung Banyuwangi hingga KH. Dimyathi Pandegelang Banten, semuanya pernah diberi uang atau jajan oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar. Sebenarnya, Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah menganut faham wahabibahkan sampai menduduki posisi wakil ketua Majlis Tarjih Wahabi Kaliwungu. Adapun beberapa hal yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar pindah dari faham wahabi dan menganut faham ahlussunahdiantaranya adalah sebagai berikut : 1. Beliau pernah bermimpi bertemu dengan kakek beliau yaitu KH. AbduLlah Sakin yang wafat pada tahun 1918 M, beliau berwasiyat kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar bahwa yang benar adalah faham ahlussunah. 2. Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah bertemu dengan KH Yasin bin ma’ruf kedunglo kediri, pertemuan itu terjadi di warung / rumah makan Pondol Pesantren Lirboyo Kediri yang berkata kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar bahwa Syaikh Ahmad Jauhari Umar kelak akan menjadi seorang ulama yang banyak tamunya. Dan ucapan KH Yasin tersebut terbukti, beliau setiap hari menerima banyak tamu. 3. Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah berjumpa dengan Sayyid Ma’sum badung Madura yang memberi wasiyat bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar banyak santrinya yang berasal dari jauh. Dan hal itu juga terbukti. 4. Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan KH Hamid AbdiLlah Pasuruan, beliau berkata bahwa kelak Syaikh Ahmad Jauhari Umar akan dapat melaksanakan ibadah haji dan menjadi ulama yang kaya. Dan terbukti beliau sampai ibadah haji sebanyak lima kali dan begitu juga para putera beliau. Hal tersebutlah yang menyebabkan Syaikh Ahmad Jauhari Umar menganut faham ahlussunah karena beliau merasa heran dan ta’jub kepada para ulamaahlussunah seperti tersebut di atas yang dapat mengetahui hal-hal rahasiaghaib dan ulama yang demikian ini tidak dijumpainya pada ulama-ulama golongan wahabi. Dalam menghadapi setiap cobaan yang menimpa, Syaikh Ahmad Jauhari Umar memilih satu jalan yaitu mendatangi ulama. Adapun beberapa ulama yang dimintai do’a dan barokah oleh beliau diantaranya adalah : 1. KH. Syufa’at Blok Agung Banyuwangi. 2. KH. Hayatul Maki Bendo Pare Kediri. 3. KH. Marzuki Lirboyo Kediri. 4. KH. Dalhar Watu Congol Magelang. 5. KH. Khudlori Tegal Rejo Magelang. 6. KH. Dimyathi Pandegrlang Banten. 7. KH. Ru’yat Kaliwungu. 8. KH. Ma’sum Lasem. 9. KH. Baidhawi Lasem. 10. KH. Masduqi Lasem. 11. KH. Imam Sarang. 12. KH. Kholil Sidogiri. 13. KH Abdul Hamid AbdiLlah Pasuruan. Selesai beliau mendatangi para ulama, maka ilmu yang didapat dari mereka beliau kumpulkan dalam sebuah kitab “Jawahirul Hikmah”. Kemudian beliau mengembara ke makam – makam para wali mulai dari Banyuwangi sampai Banten hingga Madura. Sewaktu beliau berziarah ke makam Syaikh Kholil Bangkalan Madura, Syaikh Ahmad Jauhari Umar bertemu dengan Sayyid Syarifuddin yang mengaku masih keturunan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA. Kemudian Sayyid Syarifuddin memberikan ijazah kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar berupa amalan ‘MANAKIB JAWAHIRUL MA’ANY’ dimana amalan manakib Jawahirul Ma’any tersebut saat ini tersebar luas di seluruh Indonesia karena banyak Fadhilahnya, bahkan sampai ke negara asing seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Pakistan, tanzania, Afrika, Nederland, dll. Syaikh Ahmad Jauhari Umar pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam segala hal. Bahkan ketika putera beliau masih berada di dalam kandungan, beliau diusir oleh keluarga isteri beliau sehingga harus pindah ke desa lain yang tidak jauh dari desa mertua beliau kira-kira satu kilometer. Ketika putera beliau berumur satu bulan, beliau kehabisan bekal untuk kebutuhan sehari-hari kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar memerintahkan kepada isteri beliau untuk pulang meminta makanan kepada orang tuanya. Dan Syaikh Ahmad Jauhari Umar berkata, “Saya akan memohon kepada Allah SWT”. Akhirnta isteri beliau dan puteranya pulang ke rumah orang tuanya. Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat duha dan dilanjutkan membaca manakib Jawahirul Ma’any. Ketika tengah membaca Manakib, beliau mendengar ada orang di luar rumah memberikan ucapan salam kepada beliau, dan beliau jawab di dalam hati kemudian beliau tetap melanjutkan membaca Manakib Jawahirul Ma’any hingga khatam. Setelah selesai membaca Manakib, maka keluarlah beliau seraya membukakan pintu bagi tamu yang memberikan salam tadi. Setelah pintu terbuka, tenyata ada enam orang yang bertamu ke rumah beliau. Dua orang tamu memberi beliau uang Rp 10.000, dan berpesan supaya selalu mengamalkan Manakib tersebut. Dan sekarang kitab manakib tersebut sudah beliau ijazahkan kepada kaum Muslimin dan Muslimat agar kita semua dapat memperoleh berkahnya. Kemudian dua tamu lagi memberi dua buah nangka kepada beliau, dan dua tamu lainnya memberi roti dan gula. Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar selalu melaksanakan pesan tamu-tamu tersebut yang menjadi amalan beliau sehari-hari. Tidak lama setelah itu, setiap harinya Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah senanyak Rp. 1.500 hingga beliau berangkat haji untuk pertamakali pada tahun 1982. Kemudian pada tahun 1983 Syaikh Ahmad Jauhari Umar menikah dengan Sa’idah putri KH As’ad Pasuruan. Setelah pernikahan ini beliau setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 3.000 mulai tahun 1983 hingga beliau menikah dengan puteri KH. Yasin Blitar. Setelah pernikahan ini Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.11.000 sampai beliau dapat membanun masjid. Selesai membangun masjid, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 25.000 hingga beliau membangun rumah dan Pondok Pesantren. Setelah membangun rumah dan Pondok Pesantren, Syaikh Ahmad Jauhari Umar tiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp.35.000 hingga beliau ibadah haji yang kedua kalinya bersama putera beliau Abdul Halim dan isteri beliau Musalihatun pada tahun 1993. Setelah beliau melaksanakan ibadah haji yang kedua kalinya pada tahun 1993, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp 50.000 hingga tahun 1995 M. Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar melaksanakan ibadah haji yang ketiga kalinya bersama putera beliau Abdul Hamid dan Ali Khazim, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah sebanyak Rp. 75.000 hingga tahun 1997. Setelah Syaikh Ahmad Jauhari Umar menunaikan ibadah haji yang keempat kalinya pada tahun 1997 bersama putera beliau HM Sholahuddin, Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi rizki oleh Allah setiap hari Rp. 200.000 hingga tahun 2002. Kemudian Syaikh Ahmad Jauhari Umar berangkat haji yang ke limakalinya bersama dua isteri dan satu menantu beliau, Syaikh Ahmad Jauhari Umar setiap hari diberi rizki oleh Allah SWT sebanyak Rp. 300.000 sampai tahun 2003 M. Di Pasuruan, Syaikh Ahmad Jauhari Umar mendirikan Pondok Pesantren tepatnya di Desa Tanggulangin Kec. Kejayan Kab. Pasuruan yang diberi nama Pondok Pesantren Darussalam Tegalrejo. Di desa tersebut Syaikh Ahmad Jauhari Umar diberi tanah oleh H Muhammad seluas 2.400 m2 kemudian H Muhammad dan putera beliau diberi tanah oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar seluas 4000m2 sebagai ganti tanah yang diberikan dahulu. Sejak saat itu Syaikh Ahmad Jauhari Umar mulai membangun masjid dan madrasah bersama masyarakat pada tahun 1998. namun sayangnya sampai empat tahun pembangunan masjid tidak juga selesai. Akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar memutuskan masjid yang dibangun bersama masyarakat harus dirobohkan, demikian ini atas saran dan fatwa dari KH. Hasan Asy’ari Mangli Magelang Jawa Tengah (Mbah Mangli – almarhum), dan akhirnya Syaikh Ahmad Jauhari Umar membangun masjid lagi bersama santri pondok. AlhamduliLlah dalam waktu 111 hari selesailah pembanginan masjid tingkat tanpa bantuan masyarakat. Kemudian madrasah-madrasah yang dibangun bersama masyarakat juga dirobohkan dan diganti dengan pembangunan pondok oleh santri-santri pondok Maka mulailah Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengajar mengaji dan mendidik anak-anak santri yang datang dari luar daerah pasuruhan, hingga lama kelamaan santri beliau menjadi banyak. Pernah suatu hari Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengalami peristiwa yang ajaib yaitu didatangi oleh Syaikh Abi Suja’ pengarang kitab Taqrib yang mendatangi beliau dan memberikan kitabtaqrib dengan sampul berwarna kuning, dan kitab tersebut masih tersimpan hingga sekarang. Mulai saat itu banyak murid yang datang terlebih dari Jawa Tengah yang kemudian banyak menjadi kiyahi dan ulama. Silsilah Syaikh Ahmad Jauhari Umar : a. Dari ayah beliah adalah sbb : 1. Syaikh Ahmad Jauhari Umar bin 2. H. Thohir/Muhammad Ishaq bin 3. Umarudin bin 4. Tubagus Umar bin 5. AbduLlah Kyai Mojo bin 6. Abu Ma’ali Zakariya bin 7. Abu Mafakhir Ahmad Mahmud Abdul qadir bin 8. Maulana Muhammad Nasiruddin bin 9. Maulana Yufus bin 10. Hasanuddin Banten bin 11. HidayatuLlah Sunan Gunung Jati bin 12. AbduLlah Imamuddin bin 13. Ali Nurul ‘Alam bin 14. Jamaluddin Akbar bin 15. Jalaluddin Syad bin 16. AbduLlah Khon bin 17. Abdul Malik Al-Muhajir Al-Hindi bin 18. Ali Hadzramaut bin 19. Muhammad Shahib Al-Mirbath bin 20. Ali Khola’ Qasim bin 21. Alwi bin UbaidiLlah bin 22. Ahmad Al-Muhajir bin 23. Isa Syakir bin 24. Muhammad Naqib bin 25. Ali Uraidzi bin 26. Ja’far As-Shadiq bin 27. Muhammad Al-Baqir bin 28. Imam Ali Zainal Abidin bin 29. Imam Husain bin 30. Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti 31. Sayyidina Muhammad RasuluLlah SAW. b. Silsilah Syaikh Ahmad Jauhari Umar dari Ibu : 1 Syaikh Ahmad Jauhari Umar bin 2 KH Thahir bin/Moh Ishaq bin 3 Umarudin bin 4 Tuba bin 5 H. Muhammad Nur Qesesi bin 6 Pangeran Bahurekso bin 7 Syeh Nurul Anam bin 8 Pangeran Cempluk bin 9 Pangeran Nawa bin 10 Pangeran Arya Mangir bin 11 Pangeran Pahisan bin 12 Syekh Muhyidin Pamijahan bin 13 Ratu Trowulan bin 14 Ratu Ta’najiyah bin 15 Pangeran Trowulan Wirocondro bin 16 Sulthan AbduRrahman Campa bin 17 Raden rahmat Sunan Ampel bin 18 Maulana Malik Ibrahim bin 19 Jalaluddin bin 20 Jamaludin Husen bin 21 AbduLlah Khon bin 22 Amir Abdul Malik bin 23 Ali Al-Anam bin 24 Alwi Al-Yamani bin 25 Muhammad Mu’ti Duwailah bin 26 Alwi bin 27 Ali Khola’ Qasim bin 28 Muhammad Shahib Al-Mirbath bin 29 Ali Ba’lawi bin 30 Muhammad Faqih Al-Muqaddam bin 31 AbduLlah AL-Yamani bin 32 Muhammad Muhajir bin 33 ‘Isa Naqib Al-basyri bin 34 Muhammad Naqib Ar-Ruumi bin 35 Ali Uraidzi bin 36 Ja’far Shadiq bin 37 Muhammad Al-baqir bin 38 Ali Zainal Abidin bin 39 Husein As-Sibthi bin 40 Sayyidatinaa Fatimah Az-Zahra bin 41 Sayyidina Muhammad RasuluLlah SAW. Meskipun beliau telah berpulang ke RahmatuLlah semoga Beliau mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya, dan berkah beliah selalu mengalir kepada kita semua….Amin