tak ada apa-apa
suatu waktu saya pernah bertanya tentang apa sebenarnya kita. lalu kamu tak berucap apapun. berdalih bahwa hari sudah malam dan saya harus segera pulang. dan untuk kesekian kalinya, antara kamu dan saya tak memiliki titik terang.
di kesempatan yang lain, saya bertanya lagi perihal perhatian-perhatian kecilmu. kamu berdalih lagi bahwa itu masih wajar. bahwa saya berhak mendapatkan itu. bahwa sudah seharusnya seorang pria memperlakukan wanita seperti itu. sekali lagi, semua semakin abu-abu.
hingga kesempatan itu datang lagi. tentu hal yang pasti, harus saya peroleh. saya bertanya lagi perihal yang sama. kamu berdalih –lagi. saya memaksa sedemikian rupa. lalu kamu pun menjawab dengan santai:
“kita teman. dan akan menjadi teman. saya hanya senang seperti itu. memperlakukanmu selayaknya wanita. tidak apa kan?”
terkadang, begitulah nasib kami -para wanita. terlalu perasa. padahal tak ada apa-apa.












