mustahil.
Aku bertemu denganmu dalam mimpiku malam tadi; kita habiskan waktu berdua dan melakukan banyak hal yang memang seharusnya menjadi kebiasaan atau keseharian kita pada saat ini—jika seandainya aku, kita, bertahan.
Dalam mimpiku, meski memang tak begitu banyak, tapi kulihat ada yang berubah darimu. Tidak, bukan berarti aku menyangsikan hal itu. Kau masih tetap kau, masih wanita yang aku kenali dan yang aku kagumi.
Ya, namanya mimpi, pasti yang teringat hanya patahan-patahan saja, tak akan menjadi cerita utuh dan yang kuingat kini memang tak begitu banyak. Meskipun begitu akan aku tuliskan di sini, biar mimpiku malam tadi menjadi bagian lain dari ingatanku tentang kau.
Yang masih teringat dari mimpiku, tepat pada saat aku menulis ini, adalah kita yang menghabiskan waktu hanya sebagai teman saja. Yang terjadi hanyalah kita saling berbagi cerita tentang ke mana hidup mengantarkan kita. Meskipun begitu, aku cukup bahagia akan temu yang meskipun semu.
Lagi, karena itu hanyalah mimpi, kau hilang tiba-tiba. Atau mungkin aku yang berpindah tanpa sadar? Entahlah, mungkin itu tak harus benar-benar aku pikirkan. Yang tentu saja aku bisa pikirkan adalah bagaimana jika pada suatu saat nanti waktu membawa kau ke hadapanku? Apa yang akan kukatakan?
Ah sudahlah, hal itu pun sebenarnya tak usah aku khawatirkan, karena secara matematis memang mustahil kita akan berpapasan lagi—dalam mimpi maupun kenyataan.















