Pagi-pagi sarapan semangkuk ucapan rasa sakit hati.
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

gracie abrams
official daine visual archive
Claire Keane
sheepfilms
Not today Justin
Keni
Today's Document

roma★
Color Me Curious

Origami Around
macklin celebrini has autism

Love Begins

oozey mess

ellievsbear

@theartofmadeline
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
taylor price

blake kathryn
art blog(derogatory)
seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Morocco

seen from Indonesia
seen from Saudi Arabia

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Canada
seen from Germany

seen from United States

seen from Norway

seen from Bangladesh
seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
@bersenantiyasa
Pagi-pagi sarapan semangkuk ucapan rasa sakit hati.
Pemain Cadangan
Aku suka kok, jadi pemain cadangan. Duduk-duduk santai di pinggir lapangan menyaksikan permainan. Baru kalang kabut ketika dipanggil mengganti pemain yang habis masa pakainya. Aku senang menjadi pemain cadangan. Tak banyak dilirik, tak banyak dikomentari. Kecuali kalau aku berganti peran menjadi pemain utama. Tapi bagaimanapun, peran utamaku adalah pemain cadangan. Bukan berarti aku tidak berlatih dengan keras. Bukan pula artinya aku punya kemampuan yang lebih rendah. Aku cuma ... cadangan. Cadangan ya cadangan. Bukan yang pertama, bukan yang dielu-elukan dunia. Jika boleh, aku mau jadi pemain cadangan selamanya dan jika boleh lagi, aku mau jadi pemain cadangan yang sama sekali tidak turun ke pertandingan. Aku tahu kedengarannya menyia-nyiakan, tapi tiada seorang pun yang lebih dulu bertanya apakah sejak awal aku ingin bergabung dalam permainan ini. Maka bila bisa memilih, aku suka jadi pemain cadangan. Turun nanti-nanti saja saat diperlukan. Banyak menonton, mengamati, dan menyemangati. Kadang kala menjadi pemain cadangan itu tidak buruk juga. Masih bagus aku belum melepas seragamku dan malah kabur keluar arena. Jadi pemain utama itu bagus, tapi bagus lagi bila jadi pemain utama di pertandinganku sendiri.
Senantiyasa, 2026.
Imagine finding the love of your life
Imagine getting to keep them
Gugup
Katanya, bagus jika kita merasa gugup sebelum melakukan sesuatu karena artinya sesuatu itu penting untuk kita dan kita peduli. Kita mengkhawatirkannya karena kita peduli. Ya, aku benar-benar peduli dengan apa yang akan kuhadapi sebentar lagi. Makanya aku gugup sekali. Apa ya, yang akan terjadi? Apa ya, yang akan kulakukan? Apa ya, yang akan mereka katakan? Aku sungguh gugup. Separuh perasaan itu juga berasal dari malu sebab kejadian sebelum ini sebenarnya kurang baik karena ulahku sendiri, hanya saja tertutupi cerita lucu yang sangat menggelitik. Jadi, gugupku yang sekarang mungkin berlipat dari gugup yang kurasakan bila aku tidak merasa malu (menepuk dahi). Namun, tidak apa. Pada sesi jalan kaki hari ini, aku mengambil waktu untuk duduk, menarik napas agak panjang, merenung, dan berusaha meyakinkan diri. Aku ingat tiga tahun lalu aku mengalami momen yang mirip dan aku merasa mestinya aku mampu memberikan performa yang jauh lebih baik andai aku tidak berperang dengan diriku sendiri. Sekarang, situasinya sudah membaik. Harusnya. Semoga sudah. Semoga memang membaik dan masa-masa yang akan segera kuhadapi ini benar menjadi periode yang jauh lebih berkesan. Aku memang gugup, tapi aku tahu aku akan belajar. Belajar itu menyenangkan, kan? Apa ya, yang akan terjadi? Sesuatu yang menyenangkan. Apa ya, yang akan kulakukan? Mempelajari banyak hal baru yang menyenangkan. Apa ya, yang akan mereka katakan? Semoga kata-kata yang menggugah sekaligus menyenangkan.
Senantiyasa, 2026.
Adakah Ruang untukku di Dunia
Apakah masih ada ruang yang tersisa untukku di dunia? Bahkan ketika aku merasa ciut, aku tetap ragu apakah jawabannya adalah iya. Dunia ini ... terlalu besar hingga aku yakin tak akan pernah sanggup menyusurinya inci demi inci sekaligus terlalu sesak oleh bermacam rupa manusia bersama seluruh pencapaian hebatnya. Terlalu luas untuk dijelajahi setiap jengkalnya, terlalu sempit untuk napas lambat hangat milikku menyelip di antaranya. Masih adakah tempat untukku di dunia bila apa-apa yang membuatku takut sesungguhnya adalah celah untuk diriku menumbuhkan keberaniannya. Apakah aku berhak ada di dunia jika alur nadiku tak tentu arahnya. Apakah dunia mau menerimaku. Apakah sungguh ada sisi bumi yang boleh dan senang-senang saja aku tinggali. Adakah cercah matahari yang gembira saat menyinariku. Adakah udara yang bersedia kuambil oksigennya agar darah mengalir dan lebih lama beberapa detik lagi pada usiaku. Adakah nyamuk yang pasrah kutepuk sebab dia lebih dulu menggigitiku. Adakah tanah yang justru tersenyum ketika kuinjak, kutekan-tekan, kulompati di atasnya dengan kakiku. Adakah angin yang berkenan membawa sejuk. Adakah pohon yang antusias mendengarkan ocehanku. Adakah ruang untukku di dunia di mana aku bisa bicara apa saja soal hari yang terasa berat dan hati yang terasa ringan. Masih adakah porsi untukku bertahan di sini. Sulit. Sulit sekali agar aku percaya bahwa ada tempat untukku di dunia. Merasa asing, merasa tak cukup, merasa kecil. Aku paham yang kecil-kecil pun ada perannya. Tak apa bila memang tiada lagi ruang yang tersisa bagiku di dunia. Mungkin aku dapat menciptakan duniaku sendiri. Boleh dia sepi, boleh dia ramai, boleh dia aneh. Boleh dia beruntung, boleh dia runtuh, boleh dia berdiri tegak lagi. Mungkin aku tak punya bagian di dunia ini, maka bolehlah kiranya kubuat dunia lain yang riang berseri menyambutku penuh arti.
Senantiyasa, 2026.
Orang selalu sangka kemenangan itu mesti lantang, diraikan dengan tepukan dan sorakan. Sedangkan ada kemenangan yang hadir dalam diam. Tiada saksi. Tiada penghargaan. Tiada siapa pun tahu bahawa hari itu, seseorang memilih untuk tidak membalas, memilih untuk memaafkan, memilih untuk terus mendoakan. Bagi manusia, mungkin tiada apa yang berlaku. Tetapi di sisi Allah, mungkin itulah kemenangan yang paling besar.
Syurga juga tidak dibina dengan tepukan manusia. Ia dibina dengan amal yang kadang-kadang tidak pernah dilihat oleh sesiapa.
Kerana ada perkara yang memang tidak memerlukan dunia menjadi saksi.
Cukuplah Allah menjadi saksi.
Apa yang Menangis Perbuat Padamu
Menangis membuat matamu bengkak seperti kulit bagian atas dan bawahnya terisi lebih banyak lemak. Menangis membuat ingus terus-menerus mengalir dari hidungmu, sehingga kamu mesti menyekanya terus-menerus menggunakan tisu. Karena itu, kulit tepat di bawah lubang hidungmu menjadi merah dan iritasi. Kadang-kadang, kamu percaya bahwa hal-hal konyol adalah hal-hal yang kamu tangisi. Lain waktu, kamu yakin bahwa apa pun alasanmu menangis adalah sesuatu yang tak bisa menjadi alasan masuk akal sebab menangis sesungguhnya tak memerlukan alasan. Menangis membuat kepalamu pusing, tetapi tiada yang mengajarimu bahwa kepeningan itu harus disisihkan sementara kamu harus lanjut berjalan. Menangis membuat dadamu naik turun dan jiwamu kelelahan. Menangis umumnya membuatmu menjadi lebih lega ketimbang menahan air mata menggumpal membentuk penat di hati dan kepala. Sembari melangkah, kamu menatap cermin yang menunjukkan dengan jelas kamu yang terlihat seperti seseorang yang sangat menderita. Namun, hei. Kamu selalu menyadari bahwa sosok di hadapanmu tampak begiiitu, begiiitu, begiiiiiiitu cantik. Kamu tak tahu alasannya, tetapi kamu benar-benar jauh lebih cantik dari biasanya. Matamu yang masih basah berkilau. Kelopak mata, pucuk hidung, dan bibirmu berkilau. Ya, mungkin kulitmu glowing karena minyak. Namun, sungguhan. Kamu terheran-heran bagaimana mungkin menangis membuatmu berkali lipat lebih memesona. Aku tersenyum menyaksikan kamu yang akhirnya mengerti. Meski menangis membuat dirimu terlihat amat merana, menangis juga membuat kecantikanmu muncul dengan hebat untuk menghibur hatimu yang lara.
Senantiyasa, 2026.
Barangkali Harapanku Berhak Terwujud
Barangkali doa-doaku pantas terkabul. Salah satu upaya utamaku untuk menciptakan gaya hidup sehat adalah membiasakan tubuh bergerak alias berolahraga. Bukan (dan tak selalu perlu) olahraga berat berdurasi lama. Kegemaranku ialah yang termudah dan termurah: berjalan kaki di sore hari. Inginnya kulakukan setiap hari. Namun, aku sadar diri. Sesekali aku mempunyai kesibukan lain, kadang kala hujan memilih turun di waktu tersebut, kadang kala aku rasanya tidak cukup bertenaga, kadang-kadang aku memang malas saja. Hari ini aku sudah berencana pergi jalan sore dengan setelan andalanku, yaitu baju jersey, celana training, dan kerudung instan. Tak lupa sepasang sepatu olahraga yang dulu kehadiran pertamanya diantar kurir menjadi sesuatu yang kutunggu-tunggu. Ssst, sampai sekarang pun aku masih sering bangga mengenakannya di kedua kakiku. Aku sudah mengunci pintu. Aku sudah menyiapkan daftar putar untuk menemani langkahku. Aku sudah menyisihkan dahaga dengan meminum segelas air. Aku sudah membungkus kaki dengan sepasang kaus kaki. Sayang, baru saja aku hendak memakai sepatu yang kubanggakan itu, hujan turun. Cukup deras serta cukup membuat kedua bahuku turun. Yaaah. Hujan. Memang sejak siang mendung dan panas berganti peran. Sebelum aku berangkat memang mendung sudah bersarang. Mendung kan, tak harus hujan dan kupikir sedikit saja kemauan untuk bergerak adalah sesuatu yang patut kumanfaatkan. Aku memutuskan membuka kembali pintu dan menyimpan kembali kaus kaki. Hujan rupanya tidak turun begitu lama. Namun, aku telanjur tak berniat lagi dan rasanya sudah terlalu sore untuk pergi. Aku diam-diam membisikkan harapan dalam hati. Semoga hujan turun sekali lagi. Agar perasaan bersalahku tidak berolahraga hari ini mempunyai justifikasi. Barangkali doa yang kupanjatkan pantas terkabul. Dan doa adalah harapan. Barangkali harapan yang bahkan tak kuucapkan itu, hanya terbisik pelan dalam batinku, layak terjelma. Lantas hujan turun sekali lagi pada waktu yang sekiranya aku berangkat jalan aku masih ada di jalan. Aku tak menyukai rencanaku batal tanpa peringatan. Kalau bisa, aku tak perlu berteduh di tengah jalan. Tapi doa sekecil apa pun tetap berpeluang disetujui Tuhan. Hujan turun sekali lagi dan rasa bersalahku berkurang. Terlepas apakah harapanku terwujud atau tidak pada akhirnya, barangkali harapan-harapanku tetap berkesempatan menjadi kenyataan.
Senantiyasa, 2026.
Kupu-Kupu Putih di Teras Rumah
Aku sedang mengepel teras pagi ini ketika seekor kupu-kupu putih kecil terbang meliuk melewati rak sepatu. Sebuah senyum kecil spontan terbit di wajahku seiring kupu-kupu itu menghilang dari pandanganku. Kemunculannya hanya beberapa detik saja, tapi cukup untuk mengundang harapan mampir ke hatiku. Bila benar kupu-kupu di rumah adalah pertanda tamu akan datang, kuharap tamu yang baiklah yang akan datang. Bagaimana jika tamu tersebut berwujud perasaan bahagia yang mampir dengan penuh sukacita? Si kupu-kupu putih tidak masuk ke rumah. Apakah tamunya hanya akan duduk-duduk sejenak di teras tanpa masuk ke ruang tamu? Ah, tak mengapa. Bahagia berkenan singgah sebentar saja sudah bagus. Bahagia bersedia datang saja sudah baik. Sebentar atau lama keduanya baik. Aku tahu betul dia tak mungkin di rumahku selamanya. Namun, kelak ketika dia memutuskan menyudahi masa berkunjungnya, aku akan mengingat kenangan indah yang kami buat bersama. Meski dia tidak berkehendak hadir selamanya, aku tahu suatu saat dia akan kembali. Di teras, di ruang tamu, di mana saja ruangan di rumahku yang dia mau. Seperti seekor kupu-kupu yang hanya kulihat sekejap, aku yakin aku akan melihatnya lagi. Barangkali bukan di teras, melainkan di halaman. Atau di dapur. Di bawah pohon yang ditanam Bapak. Di sela pot kembang Ibu. Kupu-kupu putih pengundang harapan itu akan kembali. Keadaan baik pasti datang lagi.
Senantiyasa, 2026.
Saat Hidup Terasa Lambat
Kehidupan terasa berjalan lambat. Kakiku melangkah seperti semut dari sudut pandang manusia. Kadang kala aku khawatir sebenarnya aku cuma jalan di tempat. Selain lambat, hidupku juga terasa berantakan. Aku tak begitu menyukainya, keberantakan itu. Seolah ada jutaan hal yang terasa penting yang ingin kulakukan, tapi satu suara di pojok kepalaku bilang mustahil aku mampu melakukan semuanya. Aku pun bingung dan pada akhirnya tak berbuat apa pun. Sementara waktu menolak peduli atas kebimbanganku.
Kadang kala, jalan di tempat selama beberapa saat bisa membantu tubuh menjadi lebih sehat. Namun, aku tahu tidak baik jika sesuatu dilakukan secara berlebihan.
Hidupku rasanya bergulir dengan lambat dan pelan. Hari berganti hari dan aku sulit menemukan perubahan signifikan apa yang telah terjadi pada diriku. Aku sukar menentukan langkah pasti apa yang akan kuambil. Aku tak punya cerita-cerita baru untuk dikisahkan pada orang lain sebab kehidupanku seperti begini-begini saja.
Aku hanya dapat berharap. Semoga berjalan lambat bukanlah suatu masalah. Aku masih ingin menjadi bermanfaat setidaknya untuk diri sendiri. Berbuat baik pada diri juga pada orang lain. Belajar sedikit-sedikit. Melakukan kegiatan yang aku senangi. Menciptakan sesuatu yang membanggakan untukku meskipun butuh waktu yang lama, meskipun lambat.
Senantiyasa, 2026.
Menjadi Bijaksana
Aku ingin menjadi seseorang yang bijaksana. Orang yang cerdas, orang yang bertindak setelah mencoba memahami situasi sesungguhnya. Menjadi bijaksana juga berarti menjadi hati-hati, tak terburu-buru membuat keputusan sebelum mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan aku percaya, untuk menjadi bijaksana, aku perlu menginternalisasi pemahaman bahwa semua hal yang terjadi tak terjadi tanpa alasan. Ada tujuan di balik setiap pertemuan, ada makna di balik setiap kejadian. Aku ingin menjadi bijaksana dan sebelum itu, aku ingin benar-benar paham bahwa peristiwa seburuk apa pun yang terjadi di luar keinginanku akan memberiku pelajaran berharga. Mungkin aku tidak akan pernah menjadi seseorang yang bijaksana di setiap kesempatan, tapi kurasa niat dan upaya untuk mencapainya adalah sesuatu yang membanggakan.
Senantiyasa, 2026.
petuah bapak
di usia keempat belas, saat aku masih mengerti sedikit saja soal dunia (sekarang juga masih), bapak berpesan.
"nduk, tidak pernah ada perjuangan yang kecil. pejuang sejati, adalah mereka yang bertahan sampai akhir.
jangan khawatir bila perjuanganmu tidak cukup besar. tetap teguhlah ada di jalan yang benar. dan ingat satu hal: bersabar. atas apa pun yang terjadi, ikat dia di tulang-tulangmu, rasa sabar.
terakhir, jangan lupa pesan bapak tempo hari: dunia ini ladang belajar. tidak perlu takut salah atau malu, ya. apa lagi memikirkan perkataan manusia. manusia itu, cepat lupa perihal apa pun selain dirinya."
di usia kedua puluh sembilan, baru tebersit di pikiranku bagaimana bapak mampu merangkum begitu banyak pembelajaran hidup dalam petuah sepuluh barisnya. satu per satu lompatan aku ambil, tidak sekali pun perkataan bapak tidak berlaku atasnya.
hari ini cuma satu di antara sekian hari yang telah dan mungkin akan kujalani. meskipun bapak tidak selalu di sini. kata-katanya adalah obor setiap langkah yang kutiti.
"baik pak, bertahan sampai akhir."
dan kugenggam erat-erat nyalanya.
senantiyasa, 2024.
jalan-jalan ke taman kota
"nona ayo kita jalan-jalan ke taman kota!"
di taman kota ada sepeda yang bisa kita sewa. terkadang bannya kempeees, tapi tenang saja ada tukang tambal tidak jauh dari sana. di taman kota ada air mancur yang semburannya menutupi awan-awan. ada banyak sekali burung merpati, memakan roti yang diberi cuma-cuma oleh pengunjung dermawan. kita bisa jajan krepes jasuke es krim! yang asin ada seblak ceker ... terlalu wah sebenarnya untuk wisata singkat dengan bajet minim. kita juga bisa makan malam di angkringan nasi soto pecel lele pecel ayam pecel sapi ... kenapa di dunia tidak ada pecel sapi, sih?
tapi bagian paling seru dari taman kota itu adalah perpustakaannya!!! ya, benar!!! kesukaanmu kan!!! di situ kita boleh masuk, duduk, dan membaca buku apa saja yang sedang tidak dibaca orang. jangan baca buku orang nona, nanti dia marah. baca saja yang sedang jadi pengangguran. ingat-ingat. kalau baca di perpustakaan taman kota, kita tidak perlu buru-buru nona. semua waktu ada di saku kita.
laluuu kita bisa santai di lapangan rumput. hijau dan bersih. walau ramai karena semua senang yang hijau dan bersih. bisa duduk, berbaring, bersandar di bahuku juga boleh. kemudian ketika waktu sudah makin mepet senja, kita pulang! ke rumah masing-masing hehehe.
aku mengantarmu sampai depan rumahmu dan melambai pada ibumu yang suka menyuruhku mampir bertamu. "terima kasih sudah menemani si nona!" katanya berseru.
aku cuma tersenyum sebelum kembali mengegas sepeda.
aku tahu kamu tahu bahwa kita tidak pernah ke mana-mana.
ditulis oleh tuan, (bukan untuk dibaca ibunya nona) semoga bapak ibu dan adik-adikmu bahagia.
senantiyasa, 2024.
entah rabu yang kapan, seingatku aku pernah bertanya, "kenapa ya, hidup suka ngajak bercanda?" kamu jawab sambil bersandar pada tiang ring basket sore itu, "ya biar seru lah. asik kan diajak bercanda, bisa ketawa-ketawa." aku menoyor pundakmu, mencibir, "dih." kamu hanya tertawa. pada waktu yang nyaris menyentuh senja itu, kita sama-sama menoleh pada langit, warnanya tidak jelas karena bercampur antara kuning oranye biru ungu merah muda hitam putih, tapi kita di sana. diam saja menyaksikan fenomena alam yang luput kita sadari, berlangsung setiap hari. "kamu gimana kabarnya" aku baru ingat di sepanjang obrolan kita sejak tadi, tidak pernah pertanyaan perihal itu terlontar baik dariku maupun darimu. aku menoleh demi melihatmu yang tatapannya enggan beranjak dari cakrawala. "baik." "bohong". duh, aku tidak kaget sih, saat itu, cuma sedikit heran bisa-bisanya kamu bilang aku bohong karena aku sudah susah payah menutupinya. "hah?" "jangan bohong," katamu. "siapa yang bohong? kamu tanya kabarku kan, aku jawab aku baik." langit sore itu, warnanya masih tidak jelas. meski tidak jelas, indah adalah kata yang paling mendekati untuk mendeskripsikannya. "kamu tahu?" aku menoleh sungguhan kali ini dan rupanya kamu pun menoleh menatapku. "kabar paling baik adalah kabar yang jujur." begitulah. itu memang rabu yang sudah lama berlalu, tapi masih boleh kan, aku mengingatnya walau kini tidak harus pada rabu satu bulan atau satu tahun sekali kita berjumpa? "tentu saja tidak apa-apa," kamu yang akan menjawab. "kan, kita sudah sama-sama."
senantiyasa, 2023.
bicara tentang ekspektasi rasanya satu paket dengan kecewa pun sakit hati. ya karena memang demikianlah semesta bekerja, siap berharap artinya siap pula terluka. manusia, pada banyak hal yang akan datang bahkan pada manusia lainnya, diletakkannya harapan terbesar dengan suara kecil di sudut hati bahwa kelak keinginannya akan terwujud, jerih payahnya akan terbayar.
justru sebab masa depan tidak pernah menjadi bagian dari kehendak kita, berpandangan akan banyak hal sebaiknya sewajarnya saja. tidak perlu berlebihan, tidak perlu kekurangan. sebagian orang yang berprinsip seperti ini akan terlihat cuek, tidak peduli, atau buruk dalam mengapresiasi. mereka bukan kurang mampu mengapresiasi, melainkan sudah cukup merasakan sesuai kapasitas diri. mungkin inilah seni untuk tidak melekatkan diri pada semua hal di dunia yang sejatinya hanya sementara.
senantiyasa, 2022.
suatu waktu di masa depan, mungkin bekerja menyiapkan pesanan di sebuah kedai kopi sederhana akan menyenangkan. menjaga meja kasir pun tidak apa-apa. paling tidak aku bisa melihat manusia dengan berbagai ragamnya mampir dan melontarkan, "americano, satu." atau "caramel latte less ice meja nomor 5, ya." setidaknya aku bisa mengamati entah siapa laki-laki atau perempuan yang duduk di meja paling ujung di sudut ruangan sembari membolak-balik halaman buku bacaan. atau barangkali akan jadi hal menarik pula memandangi sepasang suami-istri, kakak-adik, ayah-anak yang sedang bercengkerama, membicarakan cerita baik hari itu. di kepalaku, hari-hari demikian bisa terasa membosankan, tetapi sebagaimana langit yang begitu-begitu saja selalu tampak indah bahkan pada gelapnya, tidaklah mustahil untukku menemukan keindahan yang sama pada polosnya kehidupan.
senantiyasa, 2022.