Jadi, ternyata memang ada hal-hal yang harus diregulasi ketika pemantiknya datang. Ikhtiar supaya langkahku lebih ringan lagi, lebih banyak bersyukur lagi dan lebih bisa fokus ke hal-hal yang terjadi saat ini. Karena memang, ternyata merasakan perasaan yang sama tiap pemantiknya datang, padahal udah bertahun-tahun lamanya berlalu itu ga enak banget. Apalagi kalau akhirnya malah orang yang ga tau apa-apa akan kejadian itu, misalkan anak-anakku jadi terkena imbasnya. Misalnya, aku jadi badmood, jadi marah-marah atau jadi ga fokus main sama mereka karena sedih, overthinking dan lagi ngerasain perasaan ga enak lainnya. Bener-bener ga enak banget.
so, aku mau melepaskan perasaan itu... terutama yang sering banget pemantiknya dateng ke aku.
Kali ini adalah tentang pertemanan. Ini adalah secara general yang paling banyak memantik aku. Setelah kemarin tentang mimpi. Kayanya pertemanan ini adalah topik yang masih belum selesai di aku.
Menurut aku, berteman harusnya menyenangkan, berteman harusnya tidak mengikat, berteman harusnya tidak menyedihkan dan seharusnya orang yang berteman itu bisa saling mengatakan hal-hal yang baik aja. Even ada hal yang ga baik, seharusnya bisa disampaikan dengan baik. Aku tidak menafikan kalau berteman itu ga akan ngerasain kecewa, khawatir, sakit hati dan teman yang sempurna itu adalah kemustahilan.
Sebelum fokus ke temennya, aku akan fokus ke diriku sendiri. Seperti apa aku di dalam sebuah pertemanan?
Aku bisa berteman dengan siapa aja asalkan ada sesuatu yang sama denganku. Contoh teman pulang saat sekolah, teman satu eskul, teman kerja kelompok, teman satu frekuensi kesukaan, teman satu pandangan, teman satu visi, teman kajian, teman satu komplek. Ternyata banyak ya. Kalau begitu, kita coba break down lagi.
Aku adalah orang yang biasanya nyaman dengan mereka yang bisa ramah, tapi kalau engga ramah biasanya aku juga jadi ikutan diam aja. Tapi diamnya bukan karena engga suka, hanya diam saja, tidak mengganggu dan mengusik, fokus dengan keadaan sendiri. Sebenernya aku juga suka berkenalan dengan orang yang baru. Aku suka mendengar pengalaman orang dan aku jadikan sebagai insight baru. Tapi kekurangan aku adalah terkadang ga bisa mendengarkan cerita yang sama berulang-ulang (orang tuaku pengecualian) apalagi sampai curhat sesuatu yang sangat sedih dengan lama dan panjang, tapi ketika diberikan pandanganku terhadapnya beliau ga berkenan atau hanya mengangguk-angguk aja tapi tidak melakukan apa-apa dan terus menerus larut dalam kesedihannya.
tapi kalau dipikir ulang, mungkin saja ada yang salah dengan cara berpikirku ya? Coba kita berpikir dengan sudut pandang yang berbeda dengan memecah alasan terkait kekuranganku yang diatas. Oke, pertama mungkin kataku yang "tidak melakukan apa-apa" aga sedikit keliru. Bisa jadi tanpa sepengetahuanku beliau juga berusaha banyak, namun qodarullah Allah masih mengujinya dalam hal tersebut lagi, tentunya semua ini terjadi dengan hikmah-Nya, yang mungkin aku juga belum tau apa hikmah-Nya tersebut. Kedua, tentang "terus menerus larut dalam kesedihannya", yah kita coba berpikir secara jernih, mungkin memang itulah perasaannya yang sesungguhnya, atau perasaan yang ingin diperlihatkannya, entah mana yang betul, tapi mari menjadi orang yang berusaha untuk mendo'akan yang baik-baik terhadapnya.
Banyak hal-hal menyenangkan ketika berteman itu, diantaranya jadi punya cerita seru padahal ga mengalaminya secara langsung, jadi nambah pengetahuan dan juga wawasan dari apa yang beliau ceritakan itu, kemudian jadi punya seseorang yang bisa diajak tukar pikiran tentang suatu masalah. Yang lainnya lagi, jadi ga ngerasa sendiri, ketika merasakan suatu keadaan atau perasaan yang sama.
Sebenernya selagi beliau mengatakan hal yang baik kepadaku, bersikap baik, dan yang paling penting adalah bisa menjaga amanah. Maka, seterusnya aku juga mau berteman dengannya tanpa melihat baju yang dikenakan, rumah yang ditempati, pemikiran yang dimiliki, dan lain-lainnya yang bersifat personal. Istilahnya mah kamu mau flexing tas mahalmu atau mobil mahalmu itu di depanku, ya sok bae, yang aku lihat tetep kamu yang pada saat kita saling berbicara.
Tapi, kalau kamu udah mulai berkhianat, katanya janji, tapi batal. Sekali dua kali, aku maafkan, kalau udah berkali-kali. Aku yang minta maaf. Apalagi kalau udah ada perbedatan yang sampai harus mengatakan sesuatu yang panjang dan berat juga. Kata-kata yang menyudutkan, playing victim, aku yang mungkin terlihat polos ini, juga punya hati. Mungkin 2 tahun, 4 tahun, aku belum merasa toxic nya. 6 tahun aku tetap maafkan dan kembali lagi seolah ga ada apa-apa. Tapi setelah merasakan hormon hamil dan menjadi ibu.. aku rasa, aku harus berubah.