Bagiku, air mata lelaki lebih membuat iba daripada air mata wanita. Entah karena aku terlahir sebagai perempuan dan memahami betapa kuatnya kami atau hanya sesederhana ini semua pandangan dari si sakit terhadap sosok yang setia mendampingi selama ini.
Dalam hidup, aku pernah berada di dua posisi itu: si sakit dan si pendamping.
Namun sampai saat ini aku tak tahu posisi mana yang paling menyakitkan.
Ketika aku menemani ayahku dalam tahun-tahun panjang sakitnya, mengorbankan masa mudaku yang semestinya riuh dengan rapat, organisasi, acara kemahasiswaan, atau pun mengantri bioskop, aku mendapati betapa tersiksanya seorang pesakit: Jam-jam panjang di rumah sakit, cuci darah rutin yang porsinya semakin meningkat, pantangan makanan yang semakin panjang daftarnya, dan keterbatasan aktivitas fisik yang membuat bosan. Semua itu pasti tak mudah. Maka aku mencurahkan kasih sayangku pada ayah. Menjadikan sejawatnya iri karena memiliki aku sebagai putri yang perhatian dan penyayang.
Tapi kini, setelah aku menjadi si pesakit dan mengorbankan kehidupan banyak orang, aku merasa sangat menderita. Hidup dengan bergantung pada orang lain sungguh tidak menyenangkan. Aku benci menjadi beban. Aku benci diriku yang lemah. Tapi aku juga lelah. Lelah menjadi kuat. Lelah berpura-pura baik-baik saja. Tapi kemudian aku melihat tangis itu. Deritanya pasti lebih besar dariku. Berapa banyak waktu dan tenaganya yang terpakai untuk merawatku? Harusnya ia hidup dengan bahagia. Menikmati senja dengan seporsi udang bakar madu di meja, menelusuri sudut-sudut kota yang asing, mendengarkan rayuan ombak di tepi pantai. Bukannya di sini, mengkhawatirkan masa depanku yang entah bagaimana, menangisi kondisiku yang rentan. Maka aku tak boleh menyerah. Ayah berkata hidup adalah perjuangan. Dan di sinilah aku, dalam sakit yang mendera punggung dan kepalaku, aku bertahan. Entah aku atau dia yang menang, kupastikan aku tak akan pergi tanpa perlawanan.
Aku adalah pejuang.














