Malam itu seperti tak ada beda dengan malam lain nya. Kamu masih orang yang sama. Masih dengan senyum yang sama, yang selalu kurindukan setiap malamnya. Bahkan dari 10 tahun yang lalu, jika kamu masih memerlukan pengakuan itu.
Didalam mobil yang menembus padatnya tol dalam kota, kita saling berbagi cerita. Baik itu keseharian mu dan aku, maupun tentang mimpi mimpi kita. Rencana rencana yang memang kita susun bersama, dari sekarang hingga kita punya anak nanti. insya allah :)
Entah dari mana awal pembicaraan itu, tiba tiba kau berkata seperti ini, "aay, kamu terlalu santai tau! Kayaknya ini yang bikin aku masih ragu sama kamu ". Bodohnya aku, tak kutanyakan lebih jauh apa maksudmu. Sampai aku mengantarkanmu pulang dan kau dijemput adikmu, tak sekalipun teringat olehku keraguanmu tadi
Sampai rumah seperti biasa, dengan ditemani omelan ibuku karna anak laki lakinya, untuk kesekian kalinya dalam sebulan ini, pulang lebih dari tengah malam, aku mulai merapihkan barang dan membersihkan badan yang seharian kemarin terpapar polusi ibu kota. Dan seperti biasa, ritual sebelum tidur yang aku lakukan, berbaring dikasur sambil memikirkan kembali semua hal yang terjadi hari ini.
Sampai pada suatu moment, aku teringat dengan ucapanmu, didalam mobil tadi malam. Kau mulai meragukan usahaku untuk menjadi suamimu! Untuk menjadi imam mu!
Kau tau, hal yang paling kutakutkan didunia ini? ketika orang orang terdekatmu, yang peduli denganmu, yang tulus menyangimu, mulai meragukan integritas dan kapabilitasmu. Entah untuk urusan apapun dan dalam hal apapun. Kau tau? Seketika itu juga aku merasa menjadi orang yang kerdil dan kecil.
Maaf aay, kalau aku terlihat tidak serius dan terlalu santai. Tapi bukankah sudah kuceritakan semua usaha dan project ku padamu. Bahkan yang kedua orang tua ku tak tahu pun, kuberitahukan semua padamu. Sebegitu pentingnya arti kamu untuku aay, hingga tak ragu untuku menceritakanya padamu aay.
Ataukah rencana rencana, usaha dan project ku kurang realistis menurut mu aay? Sehingga kamu membuat kesimpulan seperti itu? Jujur aay aku tak bisa membaca hati dan fikiran manusia. Namun satu yang bisa kupastikan aay, jika untuk menikahimu aku harus kembali ke rutinitas orang orang yang bekerja dari jam 9 sampai jam 5 sore, di ibu kota sana, dengan mengorbankan semua mimpi dan usahaku selama ini, jawabanku dua kata aay. Aku Rela. Karena tahukah kau aay?
"Mimpiku menjadi seorang bos, tak lebih besar dari menjadi suami yang baik untukmu"
Maaf, karna terlalu pengecut untuk memberitahukan mu langsung tentang hal ini. Kamu tau dompet yang kupakai hadiah dari temanku saja ngambekmu luar biasa aay :)
Anyway, aku sadar pada akhirnya semua adalah takdir allah kan aay. Jika pada akhirnya aku bukanlah orang yang akan menemanimu, di sisa hidupmu, insya allah itu bukan karena aku tak baik untukmu ataupun sebaliknya. Tapi memang namaku tak tertulis untukmu, di lauh mahfuz sejak azali lagi.
Atau mungkin, makin dekat kamu dengan aku, makin jauh kamu dengan penciptamu aay. Semoga tak seperti itu ya. Kuharap. Wallahualam :)