Kepayahan Dalam Menulis (Secara Akademik)
Saya sedang beres-beres drive dan melihat file lama. sial, ternyata tugas akhir saya hampir hampir saja menjadi jurnal - tapi tidak jadi. Penyebab utama adalah kepayahan saya dalam menulis. Kedua, waktu itu saya baru memulai karier pekerjaan sehingga kesulitan mengatur waktu.
Padahal waktu itu kondisinya sudah disupport oleh dosen pembimbing tugas akhir saya, dibantu oleh 2 senior yang akan membantu parafrase, meningkatkan metode penulisan yang benar - tapi apalah daya sepertinya tabrakan waktu dengan awal mula berkarier sungguh menjadi momok.
Kalau-kalau waktu itu saya diberi sedikit waktu dan ketabahan dalam menghadapi situasi yang overwhelming, mungkin sekarang saya bisa melihat nama saya di sebuah jurnal. setidaknya saya jadi punya catatan penulisan akademik yang baik dan terpublikasi.
Mungkin waktu memang tidak mempertemukan saya saat itu dengan penulisan akademik. Mungkin saat itu, waktu sedang berencana untuk menggembleng saya menjadi desainer arsitektural yang cepat dan produktif.
Tapi toh nasi sudah menjadi bubur - penyesalan itu pasti ada, tidak bisa saya pungkiri, dan tentunya perlu saya telan bulat-bulat jika mengingatnya lagi. Namun jika ada satu hal yang boleh saya kutuk sekaligus saya beri masukan adalah kemampuan menulis untuk mahasiswa arsitektur.
Secara pribadi saya merasa mahasiswa arsitektur itu hanya fokus diajarkan mendesain. Tapi jika disuruh menarasikan apa yang didesain - mereka lemah. Apa itu metode penulisan? Alih alih diajarkan di seluruh fakultas teknik, mahasiswa arsitektur kampus saya malah hampir tidak kenal.
Kadang saya berfikir, apakah proses iterasi desain terkadang bisa membuat kekacauan dalam berfikir sehingga kita (mahasiswa arsitektur) kesulitan jika disuruh mengerjakan sesuatu dengan runut? Dalam hal ini menarasikan desain kita.
Atau proses berfikir yang terlalu cepat di kepala dan terlalu sering loncat kesana kemari dalam mencari ide sehingga lagi lagi membuat kekacauan dalam menuangkan tulisan secara runut tentang desain yang kita kerjakan?
Atau memang mayoritas merasa desainnya sangat subjektif dan kurang scientific based, yang penting "it works!" dan terlihat bagus, sehingga untuk menarasikannya secara ilmiah, jadi mentok?
Entahlah - seandainya saya bisa mengulang waktu akan saya pelajari dengan benar bagaimana metode penulisan akademik yang baik, hahaha.
PS: Menurut saya pribadi sebenarnya skripsi saya belum sebagus itu untuk metode penulisannya. Tapi yasudahlah, saya udah lulus juga 🙂