WAKAF PERASAAN
Hari itu, ketika pertengahan Magrib menemui Isya aku berada di depan bangunan jalan Wastukecana, tempatnya tak jauh dari Balai Kota.
Lalu lalang kendaraan pun masih sibuk dengan bisingnya, namun aku tak terlalu memperdulikannya.
Sebab telingaku telah kusediakan untuk mendengar bagaimana kesibukan dia setiap harinya.
Aku rindu jika setiap kali melewati jalan Baleendah, aku rindu melihat sikapnya yang seringkali pura-pura biasa saja. Aku rindu yang menjadikan hari ini tak seperti biasanya. Dan aku pun semakin rindu ketika patah hati yang dengan kenyataannya Ia tak melakukan apa-apa.
Aisyah, adzan Isya Masjid Agung Al-Ukhuwwah ini suaranya begitu menenangkan. Aku ingin mengajakmu kemari, meskipun hanya sekadar menertawakan anak-anak yang tengah berlari-lari. Atau bisa juga pembicaraan kita lebih serius lagi, maksudku seberapa lama lagi: aku pantas kamu panggil suami.
Maaf jika aku selancang ini, rinduku memang tengah tak terkendali semacam banjir-banjir di Kota Bandung tempo hari. Namun yang jelas aku berharap bisa mengajakmu berkeliling ke tempat-tempat seperti ini.
Tempatnya menentramkan khususnya bisa senantiasa mengingat Tuhan.
Aisyah, juru parkir disini pun ramah-ramah. Apalagi pengunjung yang sempat ikut beribadah, aku berbicang banyak dengannya katanya, "Tidak ada yang lebih nikmat ketika seharian penat, lalu beristirahat untuk menunaikan sembahyang dan bersiap-siap pulang menemui seseorang yang di sayang."
Aku mendengarnya sedikit geli, sebab paman itu berbicara seakan lupa bahwa ubannya sudah menjadi.
Tapi begitulah cinta, tak mengenal usia. Seperti rasa cinta yang berada di dalam dada, entah di balasnya masih berumur panjang. Atau mungkin tak lama lagi kamu akan bersedia membalasnya.
Aku tetap menantikannya, semoga kamu baik-baik saja disana. Seperti aku yang baik-baik saja mencintaimu dengan semestinya.
-HaddiHidayat, Tengah bersembunyi di Bandung.

















