Individual Merefleksi Diri
Singkatnya kalo merefleksikan Sociological Imagination dari C. Wright Mills, ketika individu mendapati masalah kemudian menuliskannya dalam diary maka masalah tersebut cukup menjadi Personal Trouble namun ketika masalahnya dipublikasikan di media sosial seperti Twitter misalnya, kemudian orang-orang yang mengikutinya tahu masalah tersebut hingga mungkin terpengaruh: maka masalah tersebut akan melebar menjadi Public Issu.
Aku ingin sedikit berkisah dari Negeri nun jauh di sana. Ada seorang Shogun yang sangat brengsek bernama Nanami. Dulu ia pernah menjabat sebagai Wakil Shogun di wilayah kecil Mitsufu. Sebuah wilayah yang sangat berpengaruh pada masanya. Singkat cerita ia sekarang telah ditunjuk Kaisar menjadi Shogun di wilayah yang jauh lebih besar, sebuah provinsi di timur. Ia juga telah memiliki dua Daimyo, Nara dan Daisuke serta beberapa Samurai di bawahnya seperti Daiki, Hikaru, Yoshiaki, dan Junichiro.
Di sisi lain Kaisar bertanggung jawab untuk memilih Shogun berikutnya, maka diadakanlah sayembara yang menentukan kemampuan para Samurai. Karena si Shogun brengsek pernah dikhianati Samurai bernama Junichiro. Maka Shogun Nanami mempersulit Junichiro dengan menyurati tegami, sebuah dokumen berisi 24 pasal catatan hitam. Salah satu pasalnya membandingkan jumlah korban yang dibunuh Yoshiaki lebih banyak ketimbang Junichiro.
Singkat cerita Junichiro bercerita pada samurai terdekatnya Daiki, tentu Daiki tidak ingin terlalu ikut campur. Junichiro kemudian bercerita pada Hikaru. Hikaru sebenarnya bukanlah samurai sejati, bahkan ia tidak lulus pada masa pendidikan samurai. Hikaru hanya beruntung karena terikat darah dengan keluarga Kaisar. Sehingga dengan bodohnya saat mendengar cerita Junichiro, Hikaru menganggapnya sebagai masalah yang sangat serius. Segera Hikaru bercerita pada kakaknya Danno, seorang Daimyo di wilayah kecil Hakufu. Sebagai seorang kakak, Danno tentunya akan membantu Hikaru.
Lantas Danno segera menyurati Kaisar. Kaisar dengan bijaknya akan mempertimbangkannya terlebih dahulu, kemudian memberikan akses yang sama rata pada Junichiro. Sejak saat itu Junichiro sangat dekat dengan Hikaru, Hikaru yang bodoh dan penyendiri tentunya senang dengan kehadiran Junichiro disisinya.
Kisah beranjak bertahun-tahun kemudian. Junichiro telah lolos menjadi kandidat Daimyo selanjutnya. Hal ini diperkuat ketika Yoshiaki lebih memilih menjadi Daimyo di wilayah kecil yang baru saja dibentuk yaitu Sachiko. Junichiro lantas meminta Hikaru untuk bertukar Katana sebagai lambang keterikatan. Hikaru yang bodoh tentu menerima Katana tersebut sebagai suatu kehormatan. Petaka tidak dapat dihindarkan, ternyata Katana yang telah ditukar sejatinya telah memiliki tuan sebelumnya.
Si bajingan Junichiro lantas menyalahkan Hikaru sebab tidak bertanya asal usul Katana tersebut. Pemiliknya murka, namun si Bajingan Junichiro tidak sekalipun berada di pihak Hikaru. Tetap dia menyalahkan Hikaru, sebab katanya Hikaru itu bodoh mau bertukaran Katana tapi tidak paham asal usulnya.
Hikaru lantas akan melakukan Harakiri segera, guratan luka di perutnya seperti depresi berat. Selayaknya remaja masa kini yang depresi berat mengonsumsi obat-obatan. Hmm masalah yang tadinya hanya pribadi bisa juga ya merugikan orang lain? Apakah si Hikaru akan mengeluarkan ususnya dengan Harakiri yang menyakitkan? sepertinya kisah ini masih jauh, aku juga tidak tahu akhirnya seperti apa. Nantikan saja. (Udah segitu)
Tambah dikit. Kisah di atas adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, hajat, dan kejadian yang tertulis adalah hasil imajinasi penulis atau penggunaan secara fiksi. Segala kemiripan dengan individu nyata baik hidup maupun wafat, atau kejadian nyata adalah murni kebetulan belaka. Namun semoga selalu ada pesan moral dibaliknya.